[Proses Revisi]
Empat orang gadis memiliki kemampuan yang semua orang tidak miliki, melihat mahluk halus? melihat masa depan? melihat masalalu? merasakan aura disekitar? Mengerikan bukan? Tentu saja. Siapa yang baik-baik saja ketika memiliki kemampuan tersebut.
Kadang melihat sesuatu yang mengerikan itu sangat melelahkan.
Tapi semua itu membaik ketika mereka bertemu dengan Kakak senior di sekolah barunya, memiliki aura yang notabenenya mereka butuhkan selama ini.
Bagaimana kisah cinta mereka dan kisah mereka dengan para mahluk tak kasat mata?
On IG: @ry_riuu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GALAU
KRING.. KRINGG..
"Huft.. Baru jam pertama."ujar Ivy sambil mendudukkan badannya. Diikuti dengan Kakak seniornya sambil meluruskan kakinya yang sejak tadi sudah kesemutan.
"Vi, berdiri nanti gurunya liat. Gimana kalau ditambah hukumannya."sahut Echa yang dari tadi tak membuka suara.
"Gurunya juga pasti lagi sibuk Ca."ucap Ivy yang sedang mengusap keringatnya.
"BARA."teriak seseorang dari arah belakang.
Semua langsung menoleh ke asal suara yang dapat memecahkan gendang telinga tersebut.
"Wah Bar gak bener nih."ujar Nathan yang juga melihat kedatangan orang yang tidak dia inginkan. Bara hanya menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.
"Bisa pecah ini gendang telinga."sambung Azka.
"Wah Ratu and the geng datang, selamat untuk kalian."sahut Gavin.
Echa melihat kedatangan Ratu dan teman-temannya sambil membawa air minum ditangannya.
"Nih buat kamu."ujar Ratu sambil memberikan air minum pada Bara.
Bara hanya menatap air minum itu lalu melihat kearah samping tempat Echa masih berdiri. Echa pun menatap Bara dengan tatapan sedih, menyesal, dan sakit. Echa langsung membuang muka sambil terus menghormat pada bendera bersama dengan Hanin dan Riana.
Hanin dan Ivy pun melihat adengan yang sama seperti yang dilakukan Ratu pada Bara.
Hanya Riana yang mengamati tatapan teman-temannya itu terutama Ratu.
"Kalian!! kenapa duduk?"teriak seseorang.
Mereka langsung bergegas berdiri sambil menghormati Bendera. Ya itu Guru yang tadi pagi menghukum mereka semua.
"Ratu kenapa kamu disini?"tanya Guru tersebut dengan suara yang tinggi.
"Ratu mau nemenin calon nya Ratu Bu."jawab Ratu.
"Shasha juga mau nemenin Nathan."sahut Shasha.
"Kau juga mau temenin Azka."ucap Kayla
Mereka hanya memutarkan bola matanya malas, mereka jengah dengan sikap Ratu dan teman-temannya ini.
"Kamu mau dihukum disini?"tanya Guru itu.
"Asalkan sama Bara gak papa Bu."jawab Ratu.
"Kamu gak takut apa kulitnya item? Nanti perawatannya lama lagi mau?"tanya Guru itu
"Eh, iya Bu Ratunya Bara kan gak boleh item." ujar Ratu dengan nada penuh penekanan sambil tersenyum sinis kepada Echa.
Bara hanya diam tak membalas perkataan tersebut dia hanya menatap Echa yang sejak tadi diam saja.
"Kamu pergi dari sini."ujar Guru tersebut pada Ratu dan teman-temannya.
"Baik Bu Alin yang cantik. Titip Bara ya takutnya ada yang gak tau kalau Bara itu cuman milik Ratu." sahut Ratu sambil berlalu pergi.
Jika saja ini gudang seperti kemarin Echa akan menangis sejadi-jadinya saat ini, baru saja dia ingin melupakan semua itu namun malah diingatkan kembali siapa dirinya saat ini untuk Bara.
"Kalian senior tapi gak tau malu banget mau ibu tambah lagi hukumannya?" tanya Guru yang tadi dipanggil Bu Alin oleh Ratu.
"Enggak Bu udah cukup."jawab Nathan yang sejak tadi menyesuaikan matanya dengan cahaya matahari.
"Buat kalian bertiga silahkan keluar barisan. Hukuman kalian sudah selesai."ujar Bu Alin sambil melihat kearah Riana, Hanin dan Echa.
"Loh Bu kok Vivi gak disebut?"tanya Ivy.
"Karna kamu awalnya."jawab Bu Alin.
"Ca, jangan tinggalin Vivi sendiri, temenin Vivi ya Ca."ujar Ivy.
"Caca kan udah bilang. Udah dikasih tau juga."ucap Echa sambil menyesuaikan matanya dengan pantulan sinar matahari.
"Nin, An temenin Vivi ya sebentar aja. Kan engga banget cewe sendirian dihukum."sahut Ivy.
"Kalian boleh pergi."ujar Bu Alin.
"Bye, Bye Vivi."ucap Hanin dan Riana kompak.
Sedangkan Echa berlalu pergi tanpa berpamitan dengan Ivy. Tanpa melihat kearah Bara.
Saat ini mereka sedang berada di kantin karena percuma saja jam pelajaran sudah berlalu dia puluh menit sejak Echa di bebaskan hukuman tersebut.
"Ca, Hanin kan udah bilang jangan sekolah." ujar Hanin.
"Ca, kalau suka ungkapin aja, jangan di pendem, Ana yakin Kak Bara juga pasti suka sama Caca."sambung Riana.
"Iya Ca, barengan sama Hanin mau ga?"tanya Hanin diselingi tawa.
"Caca gak mau ada masalah."jawab Echa sambil mengaduk makanannya yang sejak tadi masih utuh dan bahkan tak tersentuh.
"Ca, masalah itu ada di setiap kehidupan itu ujian dari Tuhan seberapa kuat kita menghadapi semua ini. Caca kan udah pernah ngadepin yang lebih parah daripada ini. Ana bakal selalu dukung Caca kok. Selama Caca bisa tertawa lepas Ana bakal jadi tameng buat jaga Caca."jelas Riana sambil mengusap air mata yang baru saja menetes.
"Hanin juga bakalan jadi orang pertama yang maju kalau ada yang jahatin Caca, asalkan Caca percaya sama Hanin."sambung Hanin sambil mengelus pundak Echa.
"Makasih dukungannya, Caca jadi gak enak kalian baik banget sama Caca."ujar Echa sambil tersenyum.
"Caca bakal perjuagin apa yang Caca mau, selama ini Caca udah banyak mengalah."sambung Echa yang langsung dibalas senyuman oleh Riana dan Hanin.
Echa sudah memantapkan hati untuk memperjuangkan apa yang selama ini dia khawatirkan yang selama ini diinginkan oleh hatinya.
"Caaa!!"teriak seseorang memenuhi seisi kantin.
"Kak Gavin ada apa?"tanya Echa.
"Ivy, dia pingsan. Sekarang dia di UKS "jawab Gavin dengan suara khas orang yang sudah berlari sangat jauh.
"Ivy!!"ucap mereka bertiga yang langsung berlari menuju UKS.
Sesampainya di UKS mereka melihat Ivy yang sedang terbaring dengan wajah yang sudah pucat dan keringat yang membanjiri pelipisnya.
"Kak Azka Vivi kenapa?"tanya Hanin panik.
"Dia sempet bilang pusing, kita suruh duduk tapi dia gak mau. terus beberapa menit udah ngomong itu dia pingsan."jawab Azka.
"Vivi gak apa-apa tenang aja, dia cuman dehidrasi aja."sambung Bara.
Hanin dan Riana langsung melihat kearah Echa. Mereka memberikan isyarat pada Echa agar memberikan minum pada Bara. Echa yang mengerti langsung pergi ke kantin untuk membeli minum sedangkan Bara hanya menatap kepergian Echa.
Bara langsung duduk di sofa yang berada di UKS tersebut sambil mengelap keringat di kening dan pelipisnya.
Beberapa menit kemudian Echa datang ke UKS sambil membawa beberapa air minum. Echa membangikan minum tersebut pada Kakak seniornya itu.
"Makasih Ca."ujar Azka yang hanya dibalas anggukan oleh Echa.
Echa mendekat kearah Bara sambil memberikannya minum.
"Nih."ujar Echa. Bara mengambil minum yang diberikan Echa.
"Ca dari tadi Bara galau mulu, mikirin Caca."ujar Azka. Echa hanya tersenyum menanggapi perkataan tersebut sedangkan Bara tidak menghiraukan perkataan tersebut.
"Mau duduk?"tanya Bara sambil menggeser kan Badannya. Echa hanya menganggukan kepala sambil tersenyum sebagai tanda persetujuan.
Hanin duduk dengan Nathan di sofa sebelah Echa sedangkan Riana dan Gavin duduk disofa sebelah Bara.
setelah 3 thun lalu aku baca 3 kali, tahun ini baca lagi yng ke empat saking bagusnya ni cerita 😍😍
di baca deh, di jamin bakalan nagih 🥳👍
saking suka buat nama panggilan jdi caca🤭
but thanx ya.....lanjut ghostvilla......bye²
Othorr TANGGUNG JAWAB!!!😭😭😭😭
di online pengen ad yg jual tp semua nihil
hbsnya greget sma lnjutnn si teror