NovelToon NovelToon
PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Anak Genius
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Badai Sebelum Peluru Berbicara

Bab 25: Badai Sebelum Peluru Berbicara

​Detik-detik terakhir melodi waltz mengalun dengan keanggunan yang terasa mencekam. Di dalam dekapan Adrian, Aline merasakan setiap serat otot di tubuh sang mafia ikut menegang. Adrian bukan pria bodoh; insting tempurnya yang telah terasah selama belasan tahun di dunia bawah pasti telah menangkap anomali dari perubahan gerak-gerik para pengawal klan Valerius di perimeter aula.

​"Aline," bisik Adrian, suara baritonnya mendadak berubah menjadi sangat rendah dan teramat tajam, kehilangan seluruh nada dingin yang biasa ia gunakan saat menginterogasi pelayan. "Begitu musik ini berhenti, kau berjalan ke arah meja anak-anak. Ambil tangan mereka, ikuti Rendra lewat pintu keluar darurat di balik panggung. Jangan menoleh ke belakang, jangan urusi barang bawaanmu. Paham?"

​Aline mengerjapkan matanya, memaksa setetes air mata cemas buatan keluar di sudut pelupuk matanya untuk mempertahankan topeng kegugupannya. "T-Tuan Besar... ada apa toh? Kok wajah Tuan seram sekali?"

​"Lakukan saja apa yang kukatakan jika kau ingin tetap hidup," potong Adrian ketat. Ia menghentikan langkah dansanya tepat saat ketukan musik terakhir mereda.

​Dengan satu dorongan halus namun tegas, Adrian melepaskan pinggang Aline, membiarkan gadis itu melangkah tergesa-gesa kembali ke meja VIP depan. Namun, Aline tidak menuju ke meja untuk bersikap pasrah. Jam tangan pintarnya kembali bergetar pelan, menerima koordinat visual titik buta (blind spot) yang dikirimkan oleh Kenzo dari bawah meja.

​Gila. Gaun sutra kustom ini terlalu ketat di bagian paha. Aku tidak akan bisa melakukan tendangan busur atau sapuan bawah jika harus bertempur dengan kain sepanjang ini, batin Aline, matanya melirik ke arah pintu toilet wanita yang berada tak jauh dari koridor samping panggung.

​Aline mempercepat langkahnya, berpura-pura memegang perutnya dengan wajah pucat seolah-olah ingin muntah akibat syok. "Nona Muda... Kak Aline ke kamar mandi sebentar ya, perut Kakak mulas sekali..." cicit Aline saat melewati kursi Keira.

​"Cepat, Kak! Waktunya tinggal tiga puluh detik!" bisik Kenzo dengan nada suara yang teramat rendah tanpa mengubah posisi duduknya yang tegak, jemarinya masih menari di atas layar ponsel.

​Aline melesat masuk ke dalam toilet wanita yang mewah dan sepi. Begitu pintu kayu tebal itu tertutup, sosok gadis desa yang canggung lenyap seketika. Aline menegakkan punggungnya, wajahnya mendingin bagai es kutub. Dengan gerakan kilat yang teramat efisien, ia meraih ujung bawah gaun sutra hitam mahalnya.

​SREEEKKK!

​Dengan kekuatan otot lengannya, Aline merobek kain sutra mahal itu dari batas lutut hingga ke paha atas sisi kiri, menciptakan belahan tinggi yang memberikan ruang gerak bebas bagi kaki-kakinya untuk melakukan manuver tempur tingkat tinggi. Ia melepas sepatu hak tinggi yang menyiksa kakinya, menyembunyikannya di balik tempat sampah, dan memilih bertelanjang kaki di atas lantai marmer yang dingin—memastikan cengkeraman kakinya ke lantai akan seimbang 100%.

​Sementara itu, di dalam aula utama, Abraham Valerius perlahan melangkah menaiki undakan panggung dengan senyuman kemenangan yang teramat pekat. Ia memegang sebuah mikrofon emas, bersiap memberikan pidato sambutan sebagai ketua penyelenggara jajaran korporasi.

​"Para hadirin yang terhormat," suara Abraham menggema melalui pengeras suara ruangan. "Terima kasih telah menghadiri malam yang luar biasa ini. Namun, sebelum kita melanjutkan ke acara utama... saya rasa kita perlu melakukan sedikit... pembersihan terhadap hama-hama yang terlalu lama menguasai kota ini."

​Mendengar kalimat bersandi tersebut, Adrian Dirgantara langsung meraba bagian dalam jas tuksedonya, bersiap menarik senjata api semi-otomatisnya. Rendra dan sepuluh pengawal klan Dirgantara di sudut ruangan serentak meletakkan tangan mereka di balik mantel.

​Namun, Abraham Valerius memberikan kode kedipan mata yang sangat cepat ke arah ruang kontrol atas.

​KLIK.

​BZZZT—

​Dalam sekejap mata, seluruh lampu gantung kristal raksasa dan pencahayaan dekoratif di dalam aula utama padam total. Kegelapan gulita yang pekat langsung menelan ruangan luas tersebut, memicu jeritan histeris instan dari ratusan tamu sosialita yang panik dan mulai berlarian tak tentu arah di dalam kegelapan.

​Di tengah kekacauan suara jeritan dan pecahan gelas yang tersenggol, sebuah bunyi yang paling ditakuti di dunia bawah menggema dengan sangat nyaring dari empat sudut pintu masuk aula.

​CHAK-CHAK!

​Suara kokangan serentak dari belasan senjata otomatis laras pendek milik pasukan khusus klan Valerius memotong keheningan malam, siap memuntahkan badai peluru berdarah ke arah barisan depan tempat keluarga Dirgantara berada.

1
M. T🌻
aku mampir ya thor, semangat. jangan lupa mampir juga👍☺
gendiz: terimakasih 🙏 aaasiiiaaappp
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!