Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.
Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.
Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.
Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.
Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 1 : PROLOG
PROLOG 1
“Aku yakin kau tahu bagaimana rumahku,” gumam Angie pelan lalu terdiam untuk memikirkan kata selanjutnya.
“Lingkungannya kumuh, dan aku juga tidak punya banyak uang. Aku ingin lebih fokus mengembangkan media sosialku, tapi kalau terus tinggal di sana rasanya sulit. Aku sempat berpikir untuk pindah, mencari tempat tinggal yang lebih nyaman. Sayangnya, aku tidak punya uang untuk itu.” Angie yang berbaring dalam dekapan Riven memainkan jemarinya di dada pria itu.
Riven tersenyum tipis. Ia merangkul tubuh mungil kekasihnya lebih erat, menikmati aroma rambut panjang yang lembut itu.
“Aku suka saat kau menghabiskan uangku untuk hal-hal yang memang kau perlukan,” ujarnya santai. “Salon mana yang kau datangi kali ini? Aku suka wanginya.”
Riven mengambil beberapa helai rambut Angie dan menciumnya pelan.
Bukannya menjawab, Angie justru bergerak malas seolah ingin menjauh dari pelukan itu.
“Kenapa?” Riven terkekeh kecil sembari menarik kembali tubuh Angie ke dalam ke dakapannya.
“Kalau memang ada yang kau inginkan, katakan saja. Tidak perlu berputar-putar seperti ini.”
Angie memalingkan wajahnya.
“Aku akan membelikanmu sebuah rumah. Bagaimana? Kau senang?” Bujuk Riven pada akhirnya.
Kedua mata Angie membesar.
Riven meraih ponselnya yang tergeletak di meja samping tempat tidur. Jarinya bergerak cepat mengetik beberapa pesan sebelum kembali meletakkan benda itu.
“Aku sudah meminta orang untuk mencari beberapa lokasi yang cocok. Kalau nanti kau punya waktu luang, aku akan menemanimu melihatnya langsung.”
Senyum Angie langsung merekah. Ia memeluk Riven erat tanpa menyadari bahwa keinginannya baru saja terwujud hanya lewat beberapa ketukan jari pria itu.
“Malam ini kau menginap di sini, kan?” Pinta Riven.
Senyum Angie perlahan memudar. Ia melepaskan pelukannya dan menunduk.
“Hm… kau tahu ayahku, kan?” katanya pelan.
”Hari ini hari Sabtu. Biasanya dia pulang lebih cepat. Aku harus segera pulang.”
Riven mengernyit.
“Aku takut dia marah lagi dan melampiaskannya pada Ibu. Setiap hari Sabtu dia biasanya minum bersama teman-teman kerjanya.”
Keheningan sejenak memenuhi ruangan. Angie mengira Riven kecewa karena tidak ada jawaban apapun.
“Aku janji, Sabtu depan aku akan menginap di sini,” lanjut Angie sambil tersenyum meminta pengertian.
“Bukan itu yang kupikirkan.”
Angie menatap Riven bingung.
“Apa aku perlu membereskan ayahmu?” Tanya Riven.
Kening Angie langsung berkerut.
“Membereskan?”
Riven menatap lurus ke depan.
“Kalau dia terus menyakiti ibumu, aku bisa memastikan dia tidak akan melakukannya lagi.”
Untuk sesaat, Angie tidak tahu harus menjawab apa.
————
PROLOG 2
Sebuah BMW XM berhenti di bahu jalan, sengaja mengambil jarak beberapa puluh meter dari pekarangan rumah itu.
Riven turun. Dengan satu gerakan kasar, ia menyentak jasnya, lalu melemparkannya begitu saja ke kursi penumpang. Jemarinya yang gemetar menahan amarah bergerak membuka kancing pergelangan kemeja, menggulungnya terburu-buru hingga ke siku.
Gerakan itu mengekspos lengan bawahnya yang kokoh dengan urat-urat yang menegang. Di pergelangan tangan itu, sebuah jam tangan kronograf mewah, yang nilainya sanggup membeli satu unit rumah real estat, berkilat dingin diterpa cahaya.
Matanya menyipit, menatap nanar bangunan di hadapannya. Rumah yang ia beli atas nama cinta, demi kenyamanan Angelina berselancar di dunia maya sebagai seorang influencer Instagram yang ingin naik daun.
Sepatu kulitnya yang mengilap melangkah lambat membelah kebun kecil nan asri di area teras. Kontras dengan suasana sekitar yang tenang, dada Riven justru bergemuruh hebat.
Sejak sebaris notifikasi itu masuk ke ponselnya saat dirinya baru saja landing di Jepang, oksigen di sekitarnya seolah menguap. Kepalanya dipenuhi dengus kemarahan dan satu tanya yang menuntut jawab.
“Kenapa?”
Menekan paksa badai di dalam dada, ia mendekati pintu utama. Tangan kekarnya terulur, menempelkan ibu jari pada pemindai biometrik. Pintu berdenting pelit, membuka kunci otomatis.
Begitu daun pintu berayun terbuka, sebuah suara lirih langsung menyergap indra pendengarannya.
“Aahh… Ahh… Aaahh…”
Tubuh Riven membeku di ambang pintu. Pandangannya langsung terkunci pada sepasang sepatu Nike putih yang teronggok berantakan di atas lantai jelas itu adalah sepatu pria.
Beberapa langkah di depannya, sepasang heels merah terlempar saling berjauhan. Riven tidak bodoh. Pemandangan itu adalah bahasa universal dari sepasang manusia yang akal sehatnya telah digilas berahi.
Terlalu terburu-buru hingga harus menanggalkan apa pun yang menghalangi kulit mereka untuk saling bersentuhan.
Tanpa melepas sepatu, Riven melangkah masuk. Sol sepatunya berketuk tajam di atas lantai marmer yang dingin, selaras dengan detak jantungnya yang kian berpacu.
Semakin ia mendekat ke arah kamar utama, audio laknat itu terdengar semakin benderang.
“Aahh… Ehmmm… Jaden… Teruskan… Ini enak sekali… Ahhh…”
Desahan itu menghantam gendang telinga Riven seperti godam.
Rahangnya mengatup begitu rapat hingga sendinya ngilu. Kedua tangannya mengepal sempurna, siap menghancurkan apa saja.
Suara yang biasanya mendesah pasrah dalam dekapan hangatnya, kini tengah merintih manja di bawah kungkungan pria lain.
Suara yang biasanya menjadi candu, detik ini bertransformasi menjadi polusi yang paling menjijikkan.
“Aaahhh… Jaden… Aku mau keluar… Aahh teruskan seperti itu… Jangan berhenti…”
“Kau suka? Apa kau sesuka itu?” Suara berat seorang pria menyusup di antara napas yang memburu.
“Kau lebih suka aku atau pacar kayamu itu? Jawab aku, Angie.”
Jaden tidak menunggu jawaban. Pria itu langsung melumat bibir Angelina dengan rakus, membungkam lenguhan wanita itu dalam pagutan kasar.
Kulit mereka yang polos telah basah, mempertemukan peluh yang melebur menjadi satu.
Riven berdiri di balik ceruk pintu yang sedikit terbuka. Matanya memerah menyemburkan kilat murka. Dengan gerakan pelan, Riven mendorong pintu kamar agar terbuka seutuhnya tanpa di sadari oleh mereka yang sedang dilingkupi birahii.
Pria yang tengah mengobrak-abrik miliknya itu bukanlah orang asing.
Riven mengenalnya. Sangat mengenalnya.
Pergulatan panas di atas ranjang itu terus berlanjut. Kulit yang basah oleh peluh saling bergesekan licin, menciptakan bunyi desak yang merangsang. Jaden menghentakkan tubuhnya kian cepat, memburu puncak.
Namun, ketika Jaden mendengus dan tumbang terlalu cepat, raut wajah Angelina seketika berubah masam. Kekecewaan tergambar jelas di matanya.
“Kau cepat sekali…” keluh Angelina, nadanya merajuk sekaligus kesal.
Jaden hanya menyeringai tanpa rasa bersalah, masih mengatur napasnya yang memburu. “Kau terlalu seksi, Angie. Aku sampai tidak bisa menahan diri.”
Sambil mendengus, Angelina bangkit dari ranjang. Berniat mengambil jubah tidur di dalam lemari, langkah polosnya seketika membeku. Seluruh darah di tubuhnya seolah merosot ke kaki saat menangkap sesosok bayangan yang berdiri tegak di ambang pintu kamar.
Pria itu hanya diam, mengawasi mereka dengan tatapan sedingin es.
“Riv…” Kedua mata Angelina membelalak horor.
Suaranya tercekat di tenggorokan.
Jaden yang masih tengkurap di atas kasur tersentak. Ia buru-buru memutar tubuh, ikut menoleh ke arah pintu.
Napasnya tertahan, wajahnya seketika pucat. Dengan kepanikan yang kentara, Jaden melompat turun dari ranjang, menyambar celananya dan memakainya dengan terburu-buru hingga nyaris terjatuh.
“Se… Sejak kapan kau di sini? Bukankah seharusnya kau sedang di…”
“Jepang, maksudmu?” sela Riven tenang.
Pria itu masih setia bersandar di kosen pintu, melipat kedua tangan di depan dada dengan gestur santai, namun auranya begitu mengintimidasi, seolah siap mencekik siapa saja.
“Kupikir, aku kurang memberimu kepuasan untuk masalah ranjang, sampai kau harus mengemis pada temanku sendiri.” Riven menjeda kalimatnya. Pandangannya beralih pada Jaden, menatap pria itu dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan.
“Tapi melihat bajingan ini bahkan tidak bertahan sampai lima menit…” Sebuah tawa hambar dan sinis lolos dari bibir Riven. Ia menggeleng-gelengkan kepala dengan raut jijik yang kentara.
”Seleramu ternyata murahan sekali, Angelina.”
act service riven bnr² bkin meleyott wkw
btw angie mau k rumah tmn yg mana yaa ??
nah kan ditnyain kmu kenapa blum ke kantor