Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15.
Rafael menarik kembali tangannya dari kening Freya. Wajahnya mengeras, kembali pada ekspresi dingin yang tak tersentuh. Ia merogoh ponsel dari saku celananya, lalu mendial nomor Sean.
Panggilan diangkat pada nada sambung ketiga. Suara berisik musik samar dan tawa seorang wanita sempat terdengar di seberang sana sebelum mendadak hening, digantikan suara Sean yang dibuat seformal mungkin.
"Halo, Papa? Ada apa menelepon malam-malam begini? Apa ada masalah di rumah?" tanya Sean di seberang telepon.
"Istrimu sakit, kamu tidak pulang?" ujar Rafael tanpa basa-basi. Suaranya datar, berat, dan tanpa emosi. "Demamnya sangat tinggi dan dokter baru saja memasang infus. Pulanglah sekarang."
Hening sejenak di seberang sana. Sean terdengar menghela napas, berpura-pura terkejut dan panik.
"Astaga... Freya sakit? Maaf, Paa, tapi malam ini aku baru saja tiba di luar kota. Ada rapat mendadak dan penandatanganan kontrak proyek besar yang tidak bisa ditinggalkan. Aku tidak akan bisa pulang selama satu minggu ke depan."
Rafael menyipitkan matanya yang tajam. Sambil mendengarkan bualan putranya, ingatan Rafael kembali pada foto-foto dari Dimas siang tadi—foto Sean yang sedang membelikan gelang berlian untuk Bianca di apartemen pusat kota.
"Satu minggu? Kau meninggalkan istrimu yang sedang sakit demi pekerjaan?" tanya Rafael dingin, memancing.
"Aku benar-benar tidak punya pilihan, Paa. Ini demi masa depan perusahaan kita juga," dalih Sean, suaranya terdengar penuh sesal yang dibuat-buat. "Lagipula, di rumah kan ada Papa, ada Bi Sofi dan Bi Tina juga. Aku titip Freya pada Papa, ya? Tolong pastikan dia dirawat dengan baik selama aku tidak ada. Aku sangat memercayai Papa."
Sean sama sekali tidak tahu bahwa ayahnya sudah mengetahui seluruh kebusukannya. Dia justru merasa lega karena dengan alibi luar kota ini, dia bisa bebas menghabiskan waktu satu minggu penuh bersama Bianca di apartemen tanpa perlu memikirkan sandiwara di mansion.
Rafael menyunggingkan seringai tipis yang teramat dingin di kegelapan kamar. Ia memilih untuk tetap memakai topengnya, berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang penyiksaan maupun perselingkuhan Sean.
"Baik. Fokuslah pada pekerjaanmu di 'luar kota', Sean. Aku yang akan mengurus istrimu di sini," ucap Rafael dengan penekanan misterius pada kata luar kota.
"Terima kasih banyak, Papa. Aku tutup teleponnya dulu," sahut Sean buru-buru, lalu mematikan sambungan.
Rafael menurunkan ponselnya. Ia menatap layar yang menggelap, lalu beralih menatap Freya yang masih terpejam lemah di atas ranjang.
"Dia menitipkanmu padaku, Freya," bisik Rafael rendah, suara baritonnya menggema penuh wibawa dan kepemilikan yang mutlak.
***
Di sebuah klub malam yang bising dengan dentuman musik yang memekakkan telinga, Sean berjalan kembali menuju sofa VIP setelah menyelesaikan panggilan teleponnya dengan Rafael.
Di sampingnya, Bianca—dengan gaun mini merahnya yang mencolok—menyambutnya dengan senyuman manja.
"Siapa yang menelepon, Sayang? Papa kamu?" tanya Bianca sambil merangkul lengan Sean, mengabaikan tatapan pengunjung lain.
"Iya, si tua bangka itu," jawab Sean ketus, lalu duduk di sofa dan merangkul pinggang Bianca. "Dia bilang Freya sedang sakit di rumah. Ck, menyusahkan saja wanita itu."
Bianca tertawa kecil, jemarinya memain-mainkan kerah kemeja Sean. "Lalu? Papa kamu tidak curiga kalau kamu bohong soal urusan luar kota?"
"Tidak akan," sahut Sean percaya diri, seringai sombong terukir di wajahnya. "Dia percaya begitu saja saat aku bilang ada proyek besar. Lagipula, aku bilang aku menitipkan Freya padanya. Pria tua itu terlalu sibuk dengan urusan masa lalunya untuk mencurigai langkahku."
Bianca merasa menang. Ia mengambil dua gelas minuman dari meja, lalu menyerahkan salah satunya pada Sean. "Kamu benar-benar pandai bersandiwara, Sean."
"Dan kamu tahu betul cara membuatku melupakan semua masalahku, Bianca," bisik Sean dengan nada terikat pesona wanita itu.
"Aku punya tempat yang lebih tenang di dalam, Sayang," bisik Bianca tepat di telinga Sean, lalu melirik ke arah pintu ruang privat VIP di sudut area klub. Ruangan itu kedap suara dan memang disediakan khusus bagi tamu VIP yang menginginkan privasi penuh.
Tanpa membuang waktu, Sean menggenggam tangan Bianca dan membawanya melangkah masuk ke dalam ruangan privat tersebut. Begitu pintu kayu tebal itu tertutup rapat dan terkunci, kebisingan musik di luar langsung meredup, menyisakan keheningan di antara mereka berdua.
Sean langsung menarik Bianca ke dalam pelukannya, melampiaskan rasa rindunya tanpa peduli lagi pada tanggung jawab maupun istrinya yang sedang terbaring sakit di rumah. Bianca menyambut perlakuan itu dengan antusias, membiarkan Sean melupakan segala beban dan sandiwaranya di tempat tersebut. Mereka sepenuhnya larut dalam hubungan terlarang yang mereka ciptakan sendiri.
Namun, di tengah kemabukan mereka atas kebohongan itu, mereka sama sekali tidak menyadari keberadaan sebuah celah kecil di ventilasi atas ruangan.
Di balik kegelapan celah tersebut, sebuah lensa kamera kecil berspesifikasi tinggi milik orang kepercayaan Rafael terus bergerak diam-diam. Kamera itu merekam setiap interaksi, kebersamaan, dan kemesraan terlarang mereka dari awal hingga akhir tanpa terlewat satu detik pun. Bukti kebusukan dan skandal kehancuran Sean kini telah terkunci sepenuhnya.
*
*
*