NovelToon NovelToon
Temui Aku Di Sisi Lain

Temui Aku Di Sisi Lain

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen School/College / Persahabatan / Penyeberangan Dunia Lain / Light Novel / Tamat
Popularitas:13.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ripley

Namaku Protagonis, umur 16 tahun, follower IG hanya sampai dua digit angka, seorang anak SMA biasa. Tapi aku punya rahasia yang hanya aku yang tahu.

Bayangkanlah sebuah tempat yang terbentang sebuah padang perdu seantero mata memandang. Tanah subur, gunung sempurna lancip, juga hantu gentayangan.Tempat ini memang penuh hantu gentayangan atau kami sebut sebagai Yoma.Sebuah tempat dimana seluruh hal mistis di dunia menjadi kenyataan, itulah dunia bernama Sisi Lain. Tempat rahasiaku seorang.

Suatu hari, aku menemukan fakta bahwa tidak hanya aku seorang yang mengetahui rahasia dunia Sisi Lain. Mulai hari itu, duniaku berubah 180 derajat. Aku menjelajahi Lawang Sewu, bertarung melawan Genderuwo, dan masih banyak lagi petualangan yang aku alami di Sisi Lain.

Ikuti kisahku bersama teman-temanku, Nadla si Gadis Antagonis, Antara si Ilmuwan Gila, Mahendra si Buaya Darat, Anje si Dewi Pemarah, Sally si Kanjeng Ratu, dan si Konyol Zoya dalam mengarungi misteri dunia Sisi Lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ripley, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21 - Otherside

Pandanganku silih berganti. Cepat, berubah dari kereta tanpa rel yang melayang di angkasa, larik-larik komet merah kuning dan hijau, rasi bintang cancer, kemudian sekarang adalah lautan bintang.

Indahnya, gumamku. Tubuhku terus turun dan turun, jatuh hingga kedalaman dunia tiada akhir. Tapi apakah aku bisa mencintainya. Ini lautan, sesuatu yang aku benci.

Aku benci lautan. Debur ombak yang melenakan telinga, aroma air dengan kadar garam tinggi, dan dunia kelam tanpa cahaya di kedalaman laut terdalam, semua mengingatkanku akan rasa sakit itu.

Kilas cahaya putih meledak di punggungku, pecahan kaca melayang di depan mataku. Kami jatuh bersama ke dalam kegelapan. Tubuhku seakan menghantam mozaik adegan yang berputar itu, dan sekarang aku berada di dalam salah satu adegannya.

Tubuhku mendarat pada tumpukan kapuk, tempat tidur murahan yang berlubang matrasnya. Kepalaku masih tak mampu memproses apa yang terjadi.

Petir menggelegar di luar sana. Aku menoleh, jendela kaca memperlihatkanku tiga anak kecil itu tengah asik bermain. Sendirian di hutan limba, pada malam penuh petir yang saling sahut menyahut. Mereka menatapku balik. Mata memelas dan marah.

"Hey, ade jangan ke sana, di sana curam!"

"Ayo-ayo!"

"Cepat, dia datang!"

Berderap langkah kaki itu kemari, tergesa dan cepat.

Segera aku bangkit, mengedarkan pandang ke sekeliling dan tak ada yang mampu aku gunakan untuk dijadikan senjata. Tempat ini hanya kamar bobrok rumah yang biasa kalian lihat di film horror tanah air.

Pandanganku silih berganti antara jendela dengan pintu yang bergedor-gedor.

"Kemana? Apa yang harus aku lakukan?"

"Kak, mana kuncinya?" suara gadis itu kian dekat.

"Ada di papa dek, ambil aja, papa sudah tiada kok."

Tidak ada waktu meragu, aku harus pergi dari sini. Dentam angin menampar pintu membuatku tersadar apa yang dapat aku lakukan. Jendela itu terkunci, sial. Aku harus menghancurkannya, dengan kursi atau tanganku sendiri.

Pintu menggebrak-gebrak heboh. Gagang pintu berputar laun. Daun pintu membukakkan diri. Mereka masuk. Mujurnya aku sudah lenyap dari tempat itu.

"Kemana dia kak?"

Begitu suara lembut tapi mengerikannya. Dari kejauhan saja suaranya membuatku takut. Tapi, entah mengapa sebagian kecil hatiku merasa kasihan kepada mereka.

Bukan waktunya memikirkan hal itu, aku harus mencari Sang Masinis atau portal kembali sesegera mungkin. Yang lain pasti mencariku. Tapi mereka tidak mencariku.

Tersaruk-saruk, aku tetap berusaha bangkit dan berlari. Kilas cahaya menyambar batu seperti patung itu. Aku terguling, berputar cepat bagikan kayu gelondong dan kemudian berhenti tatkala sesuatu sedingin es itu menahan tubuhku.

Aku menengadah. Pancar mata lesu itu menerawang setiap pergerakan kecilku. Dia masih anak-anak, invalid dengan kaki tangan tak keruan.

"Kak, halo kak, kamu bisa liat aku? Kak?" tangannya membelai pipiku. "Bisa sucikan aku kak? Tolong beri aku doa kak, aku takut."

"Menyingkir, enyahlah," ucapku kasar sementara tanganku menepisnya.

"Kak ..."

Suaranya memelas, aku yakin bocah bajang¹ di belakangku menunjukkan mata berkaca-kaca. Nadanya terlalu menyakitkan hatiku.

Tidak ada waktu memikirkannya, dia bukan urusanku.

Sekali lagi aku jatuh terguling, mendarat dalam posisi menelenkup miring. Kepalaku pusing terbentur sulur dan akar pohon. Aku tak yakin apa yang kulihat. Dia, makhluk setengah manusia setengah ayam. Lucu tapi mengerikan dan menyandu. Dia meneleng dan melambai.

"Ayo beli ke bakso di kedai tuanku, jamin bikin nagih!" Langkah kaki janggalnya berhenti di depan hidungku. "Mau beli?"

"Pergi!"

"Kembali lagi sini kapan-kapan Manis!"

Suaranya entah mengapa membuatku ingin tetap bersamanya. Ini, ini seperti jampi-jampi. Tidak, aku tak boleh terhipnotis olehnya. Aku harus kabur, secepat mungkin kembali dan bertemu... mereka?

Lariku terhenti, napasku rasanya menyakitkan. Berat dan menusuk pernapasanku. Sekelebat siluet hitam mencuat dari semak belukar. Dia pria berwajah janggal. Mulutnya vertikal garis, lidahnya menjulur keluar mirip kadal. Mata merah mesum dan tangan lebih panjang dari kakinya.

Lidahnya menyentak, menyambar leherku. Tubuhku terangkat, kakiku tak lagi menapak. Sial, aku tak bisa bernapas.

"Main yuk, bentar aja," mulutnya mengeluarkan liur menjijikkan.

Tanganku terlalu lemah untuk melepaskan cengkraman lidah menjijikkan makhluk itu. Wajahnya kian dekat.

"Perlahan saja kok." Mulutnya sudah berada tepat di depan mataku.

Petir menggelegar di depan sana. Keajaiban terjadi lagi. Dewi Fortuna memihakku sekali lagi.

"Lepaskan dia." Mahendra melepaskan tembakan, menghujani peluru ke tubuh lelaki mulut vertikal itu.

Zoya menghantam kepala ganjil Yoma itu. Matanya pecah, paku menghunjam kepalanya. "Hey Pak Tua, lawan gua kalau berani!"

Akhirnya aku terbebas. Jatuh menghantam tanah masih lebih baik daripada lendir aneh lidah dari Yoma di hadapanku.

Yoma menjijikkan itu mengalihkan pandang kepada Zoya dan Mahendra.

"Sekretaris cepatlah!" Zoya mengulurkan tangannya, membantuku bangkit. Bunga api berpendar di belakangku; Mahendra melepaskan tembakan, Yoma menjijikkan memekik.

"Terima kasih," kataku hangat. Aku meraih tangan Zoya kemudian berlari mengikuti si Konyol bergerak.

"Endra sudah cukup, kita kabur." Anje menyaut di sisi seberang pohon tumbang.

Rupanya Anje dan yang lain menungguku di sana. Wajah berpeluh dan lesu. Antara dan Sally tampak lemas. Mereka terluka. "Sel kau baik-baik saja?"

"Lumayan, masih lebih baik aku dari pada kamu Ay."

Nadla muncul dari balik bayang-bayang. "Prontagonis, bantu Sally bangun, aku bantu Dr. Madlad. Cepat, kita harus pergi dari sini." Ia menoleh. "Endra, sudah cukup!"

Bunga api padam di belakangku padam. Mahendra mengejar kami sekuat tenaga. "Aku datang!"

Kami berlari dan berlari. Kemana pun yang bisa kedua kaki ini bawakan, asalkan jauh dari tempat ini. Terlalu banyak Yoma di sekitar sini. Banyak yang ingin aku tanyakan, tapi sekarang bukan waktunya.

Sally menarik tubuhku, aku terdiam.

"Bentar Ay, sakit dada gua."

"Tidak apa, biar aku gendong dirimu Sel." Aku melingkarkan tangan Sally ke leherku, mengangkat tubuhnya.

"Mana bisa, tubuhmu kecil gitu membawa gua."

"Biar aku bantu."

Anje melingkarkan tangan Sally yang satunya, kami pun kembali berlari dan berlari lagi dan berhenti lagi. Mencuat sosok anak tak berkepala. Ia menanti kami.

"Belok, belok, ke sana!" sahut Nadla.

"Kak, mohon doanya kak,"

Aku bisa menukik dan menghindarinya dengan mudah kalau aku tak sedang membopong Sally. Mujurnya Anje menyangga beban Sally, kami jadi lebih mudah berbelok.

"Jangan dengarkan, cepat lari aja!" Zoya heboh di belakangku. "Anjrit, dia itu!! Dia di sini!!!"

Seantero kami, di kiri kanan kami mencuat satu persatu makhluk tak karuan. Tanpa wajah, tanpa tangan kaki, kepala ayam, dan yang mengejutkan Zoya adalah makhluk putih tinggi berjas hitam. Slenderman.

Aku celingak-celinguk seperti maling tertangkap basah kuyup. Tidak, masih ada harapan. Di depan sana, sebelah selatan tepat dekat pohon beringin, sebuah cahaya ungu bersinar menyilaukan netra. Itu portal.

Wakil Ketua menyadari keberadaan portal. Segera dia maju terdepan menerobos kerumunan dengan dramatis, menghantam kepala Yoma menggunakan Pindad SS2. Zoya membantunya dari arah samping.

"Cepat masuk!!!"

Tanpa disuruh pun aku akan melompat masuk. Berdesir lembut di belakangku, suara portal yang menyusut.

Lantai panil menyejukkan menyambut kami.

"Safe!!!" Nadla merebahkan diri.

"Napas buatan!!!" desah Sally.

"Aku juga butuh napas buatan. Prontagonis!!!!"

Kami juga ikut merebahkan diri. Lega rasanya sudah sampai di dunia nyata. Beberapa menit rehat sejenak rasanya nikmat sekali. Dadaku kembang kempis. Aku menengadah ke langit lalu tersadar akan kegilaan yang aku dan teman-temanku lakukan ini, memegang senjata dan devais aneh nan ajaib tepat di depan banyak orang. Benar, di depan banyak orang!

Entah sihir atau keajaiban apa, kami muncul tiba-tiba di tengah istana megah. Aku menebak ini ada di Uzbekistan.

Sorot mata menyelidik membuatku tak enak, ingin rasanya membenamkan wajah pada bantalan empuk untuk menutup wajahku yang memerah. Pandanganku terpusat pada satu spot aneh.

Aku menelan ludah. Segera kujejalkan pijakan, siap meluncur. Alasannya bukan karena sorot mata mencela orang-orang, melainkan karena makhluk putih tinggi tak berwajah itu tengah memandangku lamat-lamat sembari berjalan laun kemari.

"Lari!!!"

Kami berlari lagi, lagi dan lagi. Mengarungi padang pualam, istana, berhenti untuk bernapas dan berlari lagi memasuki portal menuju dunia Sisi Lain.

Gelap dan dingin menjalar, begitu kesan pertama yang kudapatkan. Gunung sempurna lancip menyambut kami di depan sana, jauh di sisi seberang padang perdu ini.

"Sumpah, udah oy, capek gua, istirahat bentar." Sally merebahkan diri, menarik tubuhku dan Anje agar ikut berbaring bersama. Wajah Sally merah padam, mirip buah persik.

"Sally?" tanyaku terengah.

"Napas buatan Ay."

"Tidak bisa, aku juga perlu napas berharga ini." Aku merentangkan tangan, memandang kegelapan langit Sisi Lain.

Entah bagaimana Slenderman itu mampu mengikuti kami ke dunia nyata. Sepertinya kami lebih aman dari Slenderman bila berada di Sisi Lain. Begitu kupikir, tapi ternyata tidak. Sisi Lain malah lebih berbahaya, terlebih bila malam hari. Di sini, bahaya yang lebih besar jauh menanti kami. Nadla, biang kerok itu.

"Kemana sekarang?" ungkap Nadla penasaran. "Petualangan mana lagi yang menunggu?"

"Entah, mungkin kita ikuti saja devais Antara," desah Mahendra. "Ya 'kan bro?"

Antara berpaling. "Baterainya habis, kita tak bisa kemana-mana." Suaranya hampir hilang.

"Serahkan padaku!" ucap Nadla mantap sembari menjentikkan jari.

Aku tak pernah mendapati perkataan "serahkan padaku" yang sangat amat membuatku takut.

Coba tebak apa yang dilakukannya? Benar pembaca yang budiman, atau pemirsa di rumah. Nadla berteriak sekuat tenaga memanggil roh nenek moyang.

"Slendermannnnnnnn! Kami di sini!!!!"

Dan begitulah, kita sekarang kembali ke episode awal.

"Sial. Berapa lama lagi?" tanyaku ketus.

Tanganku sudah terasa lemas. Bukannya membantu, teman-teman di belakangku malah adu teriak mengenai portal.

"Tidak, tidak, tidak, kita bisa mati jika masuk ke sana," ucap Mahendra sambil menutup kembali portal.

"Kita juga bisa mati di sini." Antara menahan tangan Mahendra menutup portal.

"Jangan tolol Antara! Mana bisa kita selamat lewat portal itu?"

"Mana bisa pula kita selamat darinya selain lewat portal itu?"

Tanganku semakin lemas, sementara aungan makhluk di balik pintu semakin melengking keras.

"Ges, sampai berapa lama lagi?" tanya Zoya yang membantuku menahan pintu.

Gemeretak kayu terdengar di seluruh gubuk. Teman-temanku yang lain di belakang sana berteriak histeris. Tapi tetap Mahendra dan Antara belum beres berdebat. Mujurnya, Anje datang tepat waktu.

PLAK!PLAK! Anje menampar Antara dan Mahendra.

"Apa-apaan?" Mahendra dan Antara berseru bersamaan.

"Gua duluan! Minggir kalian berdua!" Tanpa pikir panjang Anje langsung melompat ke dalam portal dan seketika sosoknya menghilang dari pandangan.

Hilangnya Anje mendamaikan suasana. Antara dan Mahendra berdamai. Walau bagus, justru saat itulah jantungku terasa mau copot.

BRAKK!!!!

Terdengar dentuman hebat. Daun pintu terbanting keras dan aku terhempas jatuh, begitu pula dengan Zoya. Kami berdua menatap ngeri makhluk hitam tinggi dengan kepala putih bersih itu.

"Demi Bapak Zeus!" gerutu Zoya.

Slenderman berhasil menerobos masuk. Adrenalinku terpacu.

Masih dalam keadaan terbelalak, Mahendra dan Antara pun tak ada pilihan lain selain melompat masuk ke dalam portal. Setelah mereka, Nadla, dan Sally yang terluka pun langsung melompat masuk ke dalam portal. Mereka satu persatu hilang dari pandangan. Tinggal bersisa Aku dan Zoya.

"Jangan tinggalin watashi ges!" Zoya merangkak bangkit.

"Sial," gerutuku pada tangan dan kakiku yang mati rasa.

WUTH!!!WUTH!!!

Slenderman memukul udara. Aku berhasil menggelinding menghindar. Tanganku yang mati rasa terasa hidup di saat menegangkan ini, aku langsung bangkit dan berlari melompat masuk, Zoya mengikutiku. Aungan Slenderman terdengar melengking keras seketika sayup-sayup terdengar dan kemudian hilang.

Aku tak tahu apa yang ada di balik portal itu. Sesuatu berbahaya yang pastinya karena Mahendra bersikukuh tak mau masuk ke dalam portal. Kuharap saja Dewi Fortuna masih di pihakku.

WUTH!!!WUTH!!! Angin berkesiur di telingaku. Aku mengerjap. Oh Tuhan, ini lebih buruk dari yang kuduga.

Pandanganku langsung disambut langit biru juga gumpalan awan putih di langit. Sebuah pulau terlihat di hadapanku, mencuaT di tengah laut. Tak jelas terlihat oleh mataku bangunan yang berdiri di pulau sana, sesaat seperti model Jepang. Dan udara di sini terasa sedikit berbeda dengan di permukaan. Lebih ringan.

Seantero sekolah pasti tidak pernah menyangka kami terbang melenting di ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut. Menembus awan-awan, menyaksikan pemandangan pulau Okinawa dari ketinggian ribuan meter tanpa persiapan apa-apa. Aku mengerti mengapa Mahendra bersikeras tak ingin masuk portal, karena rupanya pintu keluar portal itu berada di langit.

Di sini tidak jauh lebih baik dengan gubuk tadi, malah rasanya jantungku berhenti berdetak. Aku membuka mulutku, berteriak sekuat-kuatnya.

"Kita akan mati!" teriak Mahendra yang suaranya tiba-tiba melengking tinggi.

Sally berteriak histeris, tangan dan kakinya bergerak-gerak cepat. Keadaannya ditiru oleh Antara. Atau lebih tepatnya mereka berdua kompak ketakutan dalam keadaan sama. Anje seorang yang tenang fisiknya, tapi tidak dalam mentalnya. Matanya memancar ketakutan.

Sementara itu, Nadla, biang kerok ini semua malah tertawa keras. Suaranya bergema di ketinggian, wajahnya menyeringai licik.

Ingin sekali rasanya aku menabok Nadla, berbicara "Bodoh sekali dirimu!" pada telinganya, tapi aku terlalu sibuk berteriak histeris seperti yang lain.

Nadla memutar tubuhnya di udara kemudian terbang cepat di depanku. "Seru sekali bukan?" teriaknya

Aku mengerutkan dahi, entah karena ketololan Nadla atau karena hembusan angin yang mendorong seperti palu, tapi aku tak mau berdusta, petualangan ini memanglah seru. Jantungku berdebar-debar.

1
Katsumi
udah April loh ini /Doge/
Quinnela Estesa
😔 tulisan kak Ripley kadang bikin orang harus baca dua kali. metafora dari kata anak bebek kayak gini loh yang bikin orang yang suka baca cepet kayak aku jadi pusing kadang😄
^_^: bacanya jan coba artiin tiap kalimat tiap kata. dihayati aja gess. Ripley juga kadang suka enggak paham waktu baca novel orang, ada kata" baru sama metafora aneh", tapi Ripley bisa bayangin ini tuh apa tanpa tahu arti kalimatnya lewat perasaan gitu. ya intinya gitu gess
total 1 replies
Quinnela Estesa
lebih enak dibangun di atas tanah sengketa antara anak yatim sih🤣
/Scowl/
Story
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
🌀 SãñõõR 💞
jadi itu ya wewe gombel... aku pikir sama seperti kunti.../Chuckle/
🌀 SãñõõR 💞
anime jejepangan /Grin/
🌀 SãñõõR 💞
kata nyetrik bikin aku inget ladi gaga😆
🌀 SãñõõR 💞
ok lanjuttt
Story
Slenderman kah?
Story
Aturan tanda koma.
Quinnela Estesa
kuntilanak harusnya hanya patuh sama Kuntilanak Hitam aja. itu ratunya Kuntilanak soalnya.
^_^: iya sih harusnya begitu, cuman ini Sisi Lain bukan dunia biasa
total 1 replies
Quinnela Estesa
ada Prontagonis, ada Antagonis, ada bendahara, ada sekretaris, ada npc. yang paling gampang diingat cuman Zoya aja. yang lain gak tahu deh mau ngapain mereka.
Quinnela Estesa
semoga mereka masuk ruang BK semua😊
^_^: ide bagus
total 1 replies
Quinnela Estesa
bukan artis tapi dikejar2😟
Story
sejumpun apa sejumput?
^_^: yang betul sejumput ya. kebiasaan Ripley emang, bikin kata-kata baru plesetan dari kosakata dasar
total 1 replies
Story
Fourth Wall Awareness
Story
Kenapa gk dispasi.
Story
Atau sama deng.
^_^: hmmmmm ^_^
total 1 replies
Story
Hampir sama dengan nama asliku. /Sweat/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!