Di lelang gelap, seorang gadis dijual kepada penawar tertinggi. Pembelinya adalah Hendra Wirakusuma, mafioso yang ditakuti seisi kota, dingin, berbahaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang ia mau.
Sekar tak punya siapa-siapa lagi. Ia dikhianati keluarganya sendiri dan kini terkurung di rumah pria yang seharusnya paling ia takuti. Namun di balik tatapan dan tangan yang berlumur dosa itu, ada sisi Hendra yang tak pernah dilihat orang lain.
Antara bahaya, rahasia, dan perasaan yang tumbuh tanpa izin, mampukah Sekar bertahan? Dan sampai di mana seorang mafioso rela melangkah demi satu perempuan yang ia beli?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Valéria Bezerra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apakah Mereka Tidak Bersalah?
Di gudang...
POV Mirna
"Kamu harus membantuku."
POV Jarot
"Kamu gila? Kalau dia membela gadis itu sampai segitunya, lalu tahu aku konon memaksamu menjualnya, dia bisa membunuhku."
POV Agnes
"Bilang saja ada orang lain yang mengancam Mama. Sekar itu bodoh, dia tidak akan membiarkan Hendra mencelakai siapa pun gara-gara dia."
POV Jarot
"Entahlah... Bisa kita bilang itu salah paham, yang dicari gadis lain dan bukan dia, kami mengancam keluarga yang salah dan menculik gadis yang salah."
POV Mirna
"Bagus. Dan begitu sampai di sini, kamu melihat dia bukan gadis yang dicari tapi tetap berharga, jadi kamu memutuskan menahannya."
POV Agnes
"Ayo kita ke sana."
POV Jarot
"Eits, eits... sabar, Manis. Bahas bayarannya dulu. Aku dapat berapa dari ini?"
POV Mirna
"Jangan bodoh. Hendra itu miliarder. Kalau Agnes berhasil menaklukkannya dan menikah dengannya, kami bisa memberimu apa pun yang kamu mau."
POV Jarot
"Bagus... tapi jangan lama-lama, atau kubuat dia tahu semuanya."
POV Mirna
"Iya, iya... ayo cepat." Kami berangkat ke mansion.
Bel pintu berbunyi...
POV Agnes
"Hai, ganteng..." Aku memasang senyum menggoda, tapi ia sama sekali tidak melirikku.
POV Hendra
"Ngapain kamu di sini, Jarot?"
POV Jarot
"Hendra, aku datang untuk meluruskan satu urusan keluarga ini. Mereka mencariku, menjelaskan keadaan dan memintaku bicara. Sebenarnya aku tidak mau datang, aku tidak peduli masalah keluarga orang. Tapi mereka bercerita tentang kebaikan gadis yang terseret karena kesalahan, jadi aku luluh dan kemari. Sekar bukan gadis yang dipesan. Yang dicari itu gadis lain yang sangat mirip dengannya, tapi anak buahku salah, mengancam keluarga yang salah, dan menculik gadis yang salah. Begitu dia sampai di sana, kami lihat dia juga berharga. Meski kamu tidak suka ikut campur, kamu tahu bagaimana dunia perdagangan perempuan bekerja, apalagi kalau kami menemukan seorang perawan. Kami akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya."
POV Hendra
"Ya, aku tahu betul betapa kotornya kalian dan bagaimana kalian bisa menyakiti sebuah keluarga sampai mereka menyerah. Kadang bahkan si gadis sendiri menyerahkan diri demi menyelamatkan keluarganya."
POV Sekar
"Hendra, jadi itu benar... mereka tidak bersalah?" Aku bertanya penuh harap.
POV Hendra
"Mungkin, Sekar." Kutatap mereka dengan curiga. Aku akan pura-pura percaya dan menyelidiki semuanya sampai tuntas.
POV Mirna
"Sayangku, bagaimana mungkin kamu mengira kami tega melakukannya padamu dengan sukarela? Kapan kami pernah memperlakukanmu dengan buruk?"
POV Sekar
"Keadaannya memang berkata lain, Bibi, tapi kalian memang tidak pernah memperlakukanku dengan buruk."
POV Agnes
"Sepupu, sekarang tinggal kita bertiga. Kita tidak boleh berjauhan. Setelah meninggalkanmu di sana, kami berusaha segala cara untuk menemukan dan menyelamatkanmu, tapi tidak berhasil." Aku pura-pura menangis.
POV Sekar
"Tidak apa-apa. Pada akhirnya aku baik-baik saja dan semuanya sudah jelas. Kita mulai dari awal." Aku tersenyum.
POV Jarot
"Nah, karena keluarga sudah berkumpul, aku pamit." Aku pergi.
POV Mirna
"Kita juga pulang, Agnes? Kita harus mengosongkan rumah."
POV Sekar
"Maksudnya?"
POV Agnes
"Ah..." Kutatap ibuku tak mengerti, tapi segera paham. "Kami terpaksa menjual rumahnya, Sepupu. Ayahku meninggalkan utang yang harus kami lunasi."
POV Sekar
"Lalu kalian tinggal di mana?"
POV Mirna
"Belum tahu, Sayang, tapi pasti ada jalan." Aku tersenyum lemah dan pura-pura sedih.
POV Sekar
Kutatap Hendra, dan ia langsung membaca tatapanku.