Aku berusaha tegar , berusaha untuk tidak menangis saat dalam pelukan Agung . Meski sakit tapi aku tidak boleh lemah di hadapannya, agar tidak lebih membebani dia .
Perlahan tapi pasti Kereta yang saya tumpangi mulai berjalan meninggalkan Agung yang masih berdiri di tempat terakhir dita bersama . Dan meninggalkan semua kenangan yang kita ciptakan selama satu minggu saya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Ho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Haikal dan Sindi.
Satu minggu setelah gue kembali Jakarta akhirnya hari ini gue harus kembali pulang untuk datang ke pernikahan Haikal Dan Sindi. Setelah beberapa kalai usaha yang di lakukan Haikal dan Sindi ternyata tidak menggentarkan Niat pak Budi untuk menikahkan Anaknya dengan Haikal anak dari temannya. Sekarang Haikal hanya bisa pasrah menerima kenyataan kalau dia harus menikah di usia yang masih mudah dan bukan dengan orang yang dia cintai.
" Gung gue menyerah dengan semua ini " pesan dari Haikal saat gue sedang di kereta api untuk pulang.
" Maksud lo menyerah bagaimana ? "
" iya Gue cape harus terus berontak menentang perjodohan gue " jawab Haikal lagi.
" mungkin memang ini saatnya lo belajar menerima kenyataan kal. Sindi perempuan baik baik gue yakin dia bisa menjadi yang terbaik buat lo "
" tapi gue tidak yakin gung. "
" sekarang lo memang tidak ada pilihan lain lagi selain mengikuti apa yang di katakan orang tua lo. Lo bertahan semampunya saja Kal ."
" Maksud lo ? " tanya haikal
" Maksud gue lo besok menikah dengan Sindi , selanjutnya mau bagaimana hubungan kalian terserah tuhan saja mau membawanya ke mana " jawab gue menjelaskan
" Lo bener Gung. Yang penting sekarang gue sudah mengikuti kemauan orang tua gue . Selanjutnya kita lihat saja nanti " kata agung mengakhiri percakapan.
Gue kembali menyenderkan punggung di kursi kereta yang di ikuti Ayu menyenderkan kepalanya di bahu hue . Ya Kepulangan gue kali ini membawa Ayu untuk menemani gue ke datang ke pernikahan Haikal. Gue tidak ingin terlihat menyedihkan dengan datang hanya seorang diri.
" Yu terima kasih ya sudah mau ikut dengan aku "
" Iya Gung . Malahan aku senang sekalian jalan jalan " jawab Ayu tersenyum
" ya sudah kamu tidur . Nanti kalau sudah sampai stasiun saya bangunin "
" Siap komandan " kata ayu kemudian memejamkan matanya.
Sementara gue sama sekali tidak bisa tidur karena membayangkan Sindi yang harus menikah dengan teman gue sendiri. Meskipun sudah bisa merelakan tapi masih ada sedikit rasa cemburu dan sakit hati ketika mengingat semuanya.
Sekarang sudah jam enam pagi. Gue dan Ayu masih di dalam bis untuk menuju ke rumah . perjalanan masih lumayan lama sedangkan pernikahan Haikal akan dimulai pukul delapan Hari ini. Gue takut tidak bisa datang tepat waktu karena vue sudah janji pada Haikal untuk jadi saksi pernikahannya dengan Sindi.
Sesampainya di rumah ternyata tidak ada siapa siapa karena Emak sama bapak pasti sudah pergi ke acaranya Haikal. Jadi dengan buru buru gue dan Ayu langsung pergi ke rumah Sindi tempat acara berlangsung..
" Kamu tidak apa apakan tunggu di sini sebentar. Aku harus menepati janji jadi saksi pernikahan dulu " kata gue kepada Ayu..
" Iya Gung aku tunggu di sini saja " jawab sindi dengan santai.
Ini karma atau apa ? Sehingga gue harus menjadi saksi pernikahan pacar gue sendiri . Gue sadar kalau gue sudah menduakan Sindi di belakang dia tapi Jati gue juga tulus Untuk dia. Tapi tuhan tidak membiarkan Gue menunggu terlalu lama untuk merasakan sakit hati yang Sindi rasakan.
" Saya terima Nikah dan kawinnya Sindi Ananta Bin Budi Hartono dengan maskawin seperangkat Alat solat dan Emas dua puluh gram di bayar kontan "
" Sah " Kata penghulu yang menikahkan Haikal dan sindi yang di sambut dengan Kata Alhamdulillah oleh semua tamu yang hadir.
Gue sempat melihat kearah sindi. Wajahnya sangat jelas tidak memancarkan aura bahagia di hari pernikahannya. begitu juga dengan Haikal di tersenyum hanya pura pura hanya untuk formalitas saja.
Setelah rangkaian acara akad nikah selesai gue kembali ke belakang untuk menemui Ayu.
" Sudah ? " tanya Ayu keta gue sampai di hadapannya.
" Iya sudah. Tinggal resepsi " jawab gue sambil duduk di samping Ayu. Tatapan gue masih tertuju pada Haikal dan Sindi yang sedang duduk di kursi pelaminan tanpa ekspresi bahagia. Gue jadi merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan Haikal dari perjodohan ini.
" Gung kamu oke.? " tanya sindi lagi dengan nada cemas
" Ya ya aku baik baik saja " dengan tatapan masih tertuju ke pelaminan.
" Kamu tau yu? Laki laki itu Haikal . Dia adalah sabat aku dari kecil. Sekarang dia sedang menerima ujian dalam hidupnya." gue melanjutkan ucapan gue.
" maksud kamu.? " tanya Ayu pemasaran.
" Iya Haikal adalah Laki laki yamg di jodohkan dengan Sindi oleh kedua orang tuanya." jawab gue .
Rait wajah Ayu berubah jadi terkejut karena mendengar ucapan gue.
Pantas saja malam itu keadaan kamu sangat kacau. Ternyata kamu di khianati oleh dua orang sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
Gue hanya tersenyum sinis ketika mendengar ucapan Ayu. Seolah mengingat kembali kejadian malam itu.
Gue dan Ayu sudah berada di Antrian untuk bersalam dan mengucapkan selamat kepada Haikal dan Sindi.
" Kamu tidak apa apa kan gung.? " tanya Ayu
" Aku baik baik saja Yu . Tenang saja " jawan gue menenangkan Ayu.
Haikal menatap gue dengan tatapan yang tidak bisa gue artikan . Matanya berkaca kaca tapi bibirnya tersenyum . gue bis membayangkan bagaimana kacaunya perasaan Haikal sekarang
" Kal Gue ngak tau sekarang harus mengucapkan selamat atau memberikan kata semangat buat buat lo . Tapi yang harus lo tau kapanpun lo butuh gue . Gue pasti ada buat lo " kata gue saat sedang berada di depan Haikal
Gue bisa merasakan Airmata haikal membasahi pundak gue ketika gye memeluknya dia tidak mengatakan apa apa karena sibuk menenangkan diri dari tangisannya.
" Sin Mas juga tidak tahu harus mengatakan apa saat ini . Mas datang kesini hanya untuk menunjukan kalau Mas sudah bisa menerima semuanya . Semoga ini jadi yang terbaik. Haikal juga orang baik kamu tidak usah khawatir. " kata gue kepada Sindi .
Sindi juga tidak bisa menahan tangisannya ketika sedang berada di pelukan gue. Sebenarnya perasaaan gue juga sama sedihnya seperti mereka . Tapi dengan sekuat tenaga gue tahan untuk tidak menangis di hadapan mereka agar tidak semakin suasana jadi semakin kacau.
Setelah pulang dari Acara pernikahan Haikal dan Sindi gue tidak langsung mengajak Ayu pulang ke rumah. Tapi gue ingin menenangkan diri ke bukit dekat pantai yang pernah gue kunjungi dengan Haikal dan Sindi. Diatas bukit gue menikmati setiap hembusan angin laut yang menerpa wajah dan tubuh gue seperti membelai untuk memberikan ketenangan .
" Ayu jangan tinggalkan aku " kata gue sambil menyandarkan kepala di bahu Ayu.
" Selama kamu masih ingin aku ada di sisimu . Aku tidak akan pernah pergi meninggalkan kamu apapun alasannya " jawab sindi sambil membelai lembut rambut gue. Rasanya lumayan memberikan rasa nyaman setelah pergolakan batin selama di Aca pernikahan Haikal dan Sindi.
demi ortu mu kamu tega sm kami, kmu nikah lagi, aq dan 2 anak mu trlantar Gung,, uuuhhg kalo inget masa" itu pingin tak.bejek" kamu Guuunggg... hadeeeuuuhh