Irma Sukma Ayu adalah penari termashur di desanya. Dia gadis cantik dengan sejuta pesona, penampilannya di atas panggung selalu ditunggu dan dinanti para penggemarnya.
Irma adalah gadis cantik yang anggun, tutur bahasanya lemah lembut dan sangat ayu. Sehingga ia menjadi kesayangan seorang Juragan Muda bernama Tama Sutha Jaya, sang pemimpin group ronggeng tempat Irma menari.
Namun, kisah cinta mereka tidaklah berjalan mulus. Irma yang ayu ternyata dicintai oleh makhluk tak kasatmata juga. Laki-laki itu harus bersaing secara sengit demi membebaskan Irma dari pengaruh sang Raja Jin penguasa hutan larangan yang memang sudah lama mengincar Irma sejak dia masih bayi merah.
Lantas bagaimana kisah mereka, dan ada Misteri apa yang tersimpan dari seorang penari ronggeng dari Desa Renggong ini? Yuk, Cekidot!
***
Don't forget, Gais!
Like, komen, love and givenya, ya
Thank you😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niti Susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Danu Aji duduk di samping bapak tua itu dengan hanya di halangi oleh satu meja kecil berbentuk bundar sebagai pemisah, Danu Aji menarik dan melepas napasnya lelah.
"Bapak pasti tahu apa yang sedang Danu pikirkan?" tanya Danu Aji tanpa menoleh kepada Ki Agung Kusumo.
Ki Agung Kusumo tersenyum kecil, ia sangat paham kebingungan apa yang sekarang putranya rasakan. "Musnahkan seluruh anak-anak keturunan jin Saba, maka kekuatannya sedikit demi sedikit akan berkurang," jelas Ki Agung Kusumo serius.
"Bapak benar, dalam mimpi juga jin itu berbicara kalau anak-anak yang tercipta dari hubungan dirinya dan Irma itulah sumber kekuatannya yang terus menambah kekuatan makhluk itu," batin Danu Aji hatinya membenarkan perkataan bapaknya.
"Iya," ucap Ki Agung Kusumo, seakan tahu apa yang Danu Aji katakan dalam hatinya.
"Lalu bagaimana kita bisa menemukan tempat tinggal Irma sebenarnya?" tanya Danu Aji yang kini menoleh ke arah bapaknya.
"Dengan musnahnya anak keturunan jin itu, maka kekuatan jin itu juga akan menipis, begitu juga kekuatan tabir penutup yang ia gunakan untuk menutup di mana Irma berada. Bapak akan bisa menembusnya nanti," ucap Ki Agung Kusumo merasa yakin.
Danu Aji hanya menganggukkan kepalanya mengerti. "Bagaimana keadaanmu, lukamu cukup parah, karena memaksakan tubuhmu untuk menggunakan ajian itu dengan keadaan tubuhmu yang sedang terluka," lanjutnya.
"Aku sudah sedikit membaik sekarang," jawab Danu Aji di samping Ki Agung Kusumo. "Bagaimana dengan Tama?" lanjutnya bertanya, sejak penyerangan yang hampir merenggut nyawa laki-laki itu, Danu Aji memutuskan untuk membawanya ikut serta ke rumah bapaknya agar mendapat penanganan segera, mengingat luka-luka yang Tama dapat cukup serius.
"Pergilah temui dia, Danu Aji. Keadaannya masih lemah, tapi luka-lukanya sudah cukup mengering, bapak sudah memberikan ramuan kepadanya agar luka-kukanya cepat mengering," jelas Ki Agung Kusumo.
"Baiklah, aku ke ruang pengobatan dahulu," pamit Danu Aji, Ki Agung Kusumo mengangguk.
Danu Aji berdiri dan beranjak menuju ruang pengobatan di mana Tama dirawat di sana. Saat sampai di ruang pengobatan, Danu Aji segera membuka pintu ruangan itu. Tama tengah tertidur pulas di atas tempat tidur dengan luka-luka yang mulai mengering di mana-mana. Kasihan lelaki itu, karena cinta ia sampai harus menderita dan terluka karena ia bersaing dengan makhluk yang tak kasatmata.
"Apa kau baik-baik saja, Juragan Tama?" tanya Danu Aji saat sampai di samping tempat tidur Tama, lantas Tama tersadar dan tersenyum.
"Ah, kamu Danu." Tama tersenyum seraya meringis karena luka yang masih terasa nyeri. "Aku sudah membaik, terima kasih sudah sudi merawatku di sini," lanjutnya, seraya berusaha ingin mendudukkan tubuhnya.
"Jangan terlalu banyak bergera," cegah Danu Aji pada Tama. "Juragan Tama masih lemah, tetaplah berbaring," pinta Danu Aji.
"Kenapa bahasamu terlalu formal sih, Danu? Tak usah memanggilku juragan, kau cukup panggil aku Tama. Dan kau sepetinya lebih tua dariku, apa boleh aku memanggilmu kakang?" tanya Tama penuh harap.
Danu Aji tak menjawab. "Aku tak memiliki siapa pun di dunia ini, kedua orang tuaku meninggal pada saat aku masih remaja, mereka memang meninggalkan kekayaan yang mungkin tak bisa habis sampai tujuh turunan, tapi kau tahu? Aku begitu kesepian, hanya Irma. Irma gadis yang aku cintai dan aku berharap Irma menjadi istriku kelak, menemaniku hingga ajal menjemput," ucapnya, tatapan Tama menerawang jauh menatap langit-langit rumah, sungguh ia sangat memiliki harapan besar untuk bisa bersanding dengan gadis itu.
"Apa kau tahu apa yang sudah menimpa pada Irma, Tama? Kau boleh memanggilku apapun yang kau suka." Danu Aji tersenyum, begitu juga Tama.
"Iya, Kang. Irma ditawan oleh jin jahat yang mencintai Irma," jawab Tama tidak seratus persen yakin.
"Sejak bayi, Irma sudah disiapkan untuk jadi pendamping seorang jin, raja jin penguasa hutan larangan sebelah timur itu," tandas Danu Aji, dan Tama terkejut mendengarnya.
"Apa? Tidak mungkin, Kang." Tama tak percaya dengan apa yang dikatakan Danu Aqji.
"Irma dilahirkan tidak sempurma waktu itu, sehingga membuat kedua orang tuanya gelap mata, mereka berani bersekutu dengan makhluk itu dengan syarat Irma harus menjadi istrinya di saat Irma berumur 20 tahun," jelas Danu Aji.
"Lalu apa yang paman Agus dan bibi Ratna lakukan, apa mereka mensetujuinya, perjanjian laknat itu?" tanya Tama sedikit geram.
"Tentu saja, kau pikir saat ini Irma menghilang karena apa? Ini sudah berlangsung lama, karena aku gagal. Gagal untuk menyelamatkan dia, aku ceroboh menganggap remeh makhluk terkutuk itu," sesal Danu Aji kembali dengan rasa bersalah di wajahnya.
"Kenapa paman dan bibi mensetujuinya?" tanya Tama tak habis pikir.
"Karena jin itu menjebak mereka, jin itu membuat paman Agus dan bibi Ratna harus menerima syaratnya, karena mereka sudah sampai di tempat itu, dan masuk ke wilayah kekuasaannya. Tidak ada yang keluar hidup-hidup tanpa membuat perjanjian," jelas Danu Aji kembali, membuat Tama menghela napas kasar.
"Kasihan sekali Irma," ucap Tama lirih.
"Apa kau tetap mencintai Irma, setelah tahu keadaan Irma seperti ini Tama?" tanya Danu Aji memastikan.
Tarma terdiam sejenak. "Apa kau juga mencintai Irma, Kang Danu?" tanya Tama balik bertanya.
"Kau ini, kenapa balik nanya!" sungut Danu Aji.
"Karena kulihat, kau begitu perhatian pada Irma, kau begitu terpukul dengan apa yang menimpa Irma, apa kau mencintainya?" cecar Tama menekankan lagi.
"Itu hanya perasaanmu, tentu aku perhatian dan terpukul dengan apa yang Irma alamai, karena itu karena aku yang tidak bisa menjalankan amanat dari kedua orang tuanya, aku gagal dan aku kecewa pada diriku sendiri," jelas Danu Aji lantas menundukkan wajahnya, menutupi perasaan yang sesungguhnya.
Tama tersenyum. "Ternyata aku salah, Danu Aji tidak mencintai Irma, syukurlah," btin Tama merasa lega. "Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri, Kang Danu. Ini sudah takdir, dan kau jangan khawatir, apapun yang terjadi pada Irma, aku tetap menerimanya dan tetap mencintainya. Aku terlalu menyayangi Irma, Kang," ucap Tama seraya tersenyum.
Danu aji hanya terdiam menatap wajah Tama yang sedang tersenyum menatap sisi ruangan lain. Perasaan Danu Aji sedikit tertusuk mendengar pengakuan laki-laki di hadapannya ini, ia mulai meragukan cintanya pada Irma, saat melihat cinta Tama yang begitu besar dan tulus pada Irma.
Moga ajj darah yg d hisap gk sampe ketelen ma tama.dibuang s3mua
kayak logat batak ajj ya.
Apa athor nya rang medan ya????
tadi terdengar suara rintihan ratna kesakitan waktu dukun nya mo tiba.
lah saat mo lahiran malah teriakanny gak kedengaran sampe luar karna ruangan d kasih peredam suara.klo cerita jaman segitu.apa ya udah ada redam suara.🤦♀️🤦♀️