"Aku sudah menikah. Hubungan kita cukup sampai di sini, Athena."
Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah mencintai bule tampan yang kutemui di Pulau Dewata—Alexandre Kendrick Demitry.
Dia yang kupikir masih lajang, ternyata sudah menikah dan sekarang istrinya sedang hamil. Aku hanya dijadikan simpanan yang akhirnya dibuang begitu saja.
Kendati demikian, aku masih saja mencintainya. Tak peduli sedalam apa luka yang ia berikan, harapanku masih tertuju padanya. Bahkan, sampai aku menikah dengan lelaki lain pun, tetap Kendrick yang menjadi pemilik hati.
Entah akan bagaimana akhir cinta ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Ke Bali
Karena dalam beberapa saat Mas Alfa tidak mengucap satu kata pun, akhirnya kupanggil dia dengan pelan. Lantas, ia mulai menatapku sambil membuka suara.
"Aku terserah kamu saja, Sayang. Mana enaknya, kerja di sini atau di kota. Apa pun pilihanmu, aku sangat berterima kasih, karena kamu mau berkorban demi keluarga ini."
Mungkin jawabannya cukup manis, tapi jujur aku merasa miris. Inginku bukan kata 'terserah', melainkan larangan agar aku tidak pergi. Bagaimanapun juga kami suami istri, rasanya tidak nyaman jika tinggal terpisah.
Namun, jawaban 'terserah' barusan, bagiku malah seperti bentuk persetujuannya atas saran Bu Mirah.
"Baiklah, kalau gitu aku akan mencoba nyari kerjaan di kota. Mudah-mudahan ada yang nggak terlalu jauh dan gajinya lumayan tinggi." Akhirnya, dengan agak berat hati aku mengiakan saran mertua.
Setelah mencapai ujung perbincangan, aku dan Mas Alfa kembali ke kamar, yang kini pindah ke lantai bawah, karena kondisinya yang tidak memungkinkan naik turun tangga.
Sambil menjaga Binar yang asyik bermain boneka, aku meraih ponsel dan menilik satu per satu nama yang ada di daftar kontak. Memikirkan mana kiranya yang bisa membantuku mencari lowongan.
"Rencanaya kamu mau kerja di mana?" tanya Mas Alfa, sepertinya sejak tadi memperhatikan gerak-gerikku.
"Belum tahu, Mas. Tergantung nanti dapetnya di mana," jawabku sambil menghubungi salah satu teman sekolah yang kini ada di Surabaya.
Namun sayang, di tempatnya tidak ada lowongan untukku.
Cukup lama aku berselancar di dunia maya, telepon sana-sini demi mencari jalan untuk mengais rezeki. Bukan hanya menghubungi teman lama, melainkan juga Mas Abercio dan Mbak Yuna. Kalau saja ada teman di luar kota yang membutuhkan tenaga.
Akan tetapi, usahaku tidak membuahkan hasil. Sampai dua hari belum ada yang memberiku pekerjaan. Sungguh menguji kesabaran.
"Kenapa kamu nggak telfon Karin saja? Waktu itu dia nawarin kerjaan untuk Alfa, mana tahu sekarang ada kerjaan untuk kamu. Lumayan, kan, di sana gajinya tinggi," ujar Bu Mirah usai bertanya mengenai rencanaku bekerja.
"Bisnisnya Mbak Karin jual beli properti, Ma. Yang dibutuhkan orang yang ahli keuangan dan marketing. Aku nggak bisa, Ma," tolakku secara halus.
Sebenarnya bukan tidak bisa, melainkan aku yang tak mau berurusan dengannya, sekalipun hanya urusan pekerjaan.
"Ya sudah kalau begitu," ujar Bu Mirah dengan raut wajah yang tampak enggan.
Aku mengembuskan napas berat, lantas beranjak dan berjalan menuju kamar. Tak lama kemudian, Mas Alfa menyusulku.
Tanpa bicara apa pun, aku fokus dengan ponsel dan menghubungi satu kontak yang sejak awal kuhindari—Bu Naya. Bukan tidak suka pada orangnya, melainkan menghindari tempat tinggalnya. Pulau Bali, kalau bisa jangan ke sana lagi. Aku tak mau bertemu masa lalu yang sudah menancapkan banyak luka. Namun, sikap Bu Mirah barusan membuatku tak punya pilihan lain.
'Selamat malam, Bu. Bagaimana kabarnya? Maaf mengganggu. Saya mau tanya, apa di sana ada lowongan kerja, Bu? Saya mau bekerja lagi.'
Tak lama setelah kukirimkan pesan panjang itu, Bu Naya membalasnya.
'Malam juga, Athena? Aku baik, kamu sendiri bagaimana?'
'Kebetulan ada, tapi bukan di toko seperti dulu, melainkan baby sitter.'
Antara lega dan kecewa aku membaca balasan tersebut. Lega karena ada juga lowongan, kecewa karena tempatnya di Bali. Dari sekian banyak kota, kenapa harus Bali?
'Boleh tahu berapa gajinya, Bu?'
Balasku, lagi.
'Lima juta. Tapi, jika kamu mau merangkap sebagai ART, nanti akan ada tambahan lagi.'
Mataku melebar ketika membaca baris kata yang dikirim Bu Naya. Lima juta untuk baby sitter, ini sangat tinggi. Perkiraanku hanya tiga jutaan, tapi ternyata ... apa ini yang namanya rezeki?
Namun, takdir macam apa ini? Tempat yang kuhindari, justru menjadi tempat pertama yang memberikan tawaran menggiurkan.
"Kenapa, Sayang?" tanya Mas Alfa membuyarkan renunganku.
"Mmm, ini, barusan aku chat Bu Naya, nanya kerjaan di sana. Ternyata ada, jadi baby sitter merangkap ART, gajinya lima juta," jawabku.
"Di mana?"
"Bali."
Hening, tidak ada jawaban lagi. Aku tak tahu apa yang Mas Alfa pikirkan.
"Gimana?" tanyaku sesaat kemudian.
"Aku terserah kamu."
Aku mengembuskan napas panjang, "Sebenarnya aku mau mencari yang lebih dekat, tapi ... Mama tadi___"
Aku mencoba mengungkit sikap Mama.
"Maafin mamaku ya." Hanya itu jawaban Mas Alfa.
"Ya nggak apa-apa. Ya udah, kuterima aja tawaran Bu Naya." Akhirnya aku mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Hatiku terlalu sesak karena tidak ada pembelaan sedikit pun dari Mas Alfa, sepertinya dia setuju-setuju saja dengan sikap Bu Mirah.
'Baik, Bu, saya terima kerjaan ini. Lusa saya akan berangkat ke sana.'
_______
"Mama pergi dulu ya, Sayang, kamu baik-baik di rumah sama Papa dan Nenek," pamitku pada Binar, dengan berurai air mata.
Hari ini, aku berangkat juga ke Bali. Dengan diantar Mas Abercio ke terminal. Aku sengaja menggunakan bus karena lebih hemat biaya.
"Ini sedikit uang untuk peganganmu di sana. Jangan lupa kabari aku kalau udah sampai. Jika ada kesulitan lagi, jangan ragu untuk ngomong," ujar Mas Abercio ketika kami sampai di terminal. Tatapannya lembut, penuh kasih sayang.
"Aku ada masih pegangan, Mas. Ini simpan aja untuk keperluan Mas dan Mbak Yuna." Aku menolak tiga lembar uang ratusan ribu yang ia sodorkan.
"Nggak apa-apa, ambil aja. Aku dan Yuna udah setuju untuk ngasih ini ke kamu."
Alhasil, aku tak menolak lagi. Selain Mas Abercio yang berulang kali meyakinkanku untuk menerimanya, kuakui aku juga butuh uang itu karena terus terang yang kubawa tidak banyak.
"Makasih banyak ya, Mas, doain moga kerjaanku lancar di sana. Aku titip Binar ya, sering-sering tengok dia. Maaf, selama ini aku banyak ngrepotin Mas." Kupeluk erat satu-satunya kakak lelakiku, yang sekian lama berperan sebagai pengganti Ayah.
"Doaku selalu menyertaimu, Athena. Udah jangan cengeng, malu dama Binar," jawabnya sembari mengusap punggungku.
Setelah perpisahan haru itu berakhir, aku masuk ke dalam bus jurusan Bali. Dengan hati yang teriris sakit, juga air mata yang berulang kali menetes tanpa permisi, aku menikmati setiap guncangan bus yang mulai melaju meninggalkan terminal.
Setelah menghabiskan waktu sekitar 13 jam, aku tiba juga di Bali. Aku langsung menuju rumah Bu Naya, yang sejak dulu alamatnya tidak berubah.
Namun, aku sedikit terkejut ketika disambut oleh anak beliau. Keadaannya hamil besar, aku lantas berpikir, "Lalu bayi siapa yang harus kuasuh?"
"Oh, Athena, silakan masuk! Duduklah dulu sambil menunggu sopir yang akan mengantar," ucap Bu Naya, membuatku mengernyitkan kening.
"Mengantar ke mana, Bu?"
"Ke rumah calon majikanmu. Itu bukan aku yang mencari baby sitter, tapi rekan kerja. Tenang saja, orangnya juga baik kok. Kuncinya hanya jujur dan sopan." Jawaban Bu Naya membuatku mengerjap cepat.
Sudah sampai di sini, ternyata aku salah paham. Kukira bekerja pada Bu Naya sendiri, tapi ternyata malah pada orang lain. Sekarang harus bagaimana? Tidak mungkin aku menolak dan pulang, membuang-buang uang namanya.
"Udahlah, udah terlanjur. Mudah-mudahan orang itu juga sebaik Bu Naya," batinku dengan sedikit cemas.
Sekitar sepuluh menit kemudian, sopir yang dimaksud Bu Naya tiba juga. Aku pun bergegas pergi menuju rumah calon majikan. Sepanjang jalan tak henti-hentinya aku memanjatkan doa, berharap ada kemudahan atas niatku ini.
Setelah menghahbiskan waktu sekitar setengah jam, mobil yang kutumpangi berhenti di depan rumah tiga lantai, sangat megah dan mewah. Berulang kali aku berdecak kagum menatap bangunan itu.
"Kita sudah sampai," ucap sopir sambil membuka pintu mobil.
"Terima kasih, Bli," jawabku, lalu ikut keluar.
Sopir tak langsung meninggalkan tempat, dia lebih dulu memencet bel dan menemaniku berdiri di depan gerbang menunggu sang pemilik rumah.
Tak lama kemudian, keluarlah pria dewasa dengan rambut cokelat terangnya. Mata hijau dan hidung mancung yang sangat familiar bagiku. Tidak! Tubuhku membeku dalam beberapa saat. Demi apa aku dipertemukan lagi dengan dia. Kendrick!
Bersambung...
tengkyu & teruslah berkarya../Rose/
Karena dia msh muda tp untunglah dia cepat sadar keburukan sifatnya itu,
Move on athena, lihatlah ke alfa..