Lanjutan dari novel BUKAN MENIKAHI CEO TAPI MENIKAH DENGAN SEORANG PELAYAN.
Semuanya masih menjadi misteri.
Revan, Revin, Reon dan Carlos memutuskan untuk pergi ke negara S dan menemukan seseorang yang mencoba untuk melukai keluarga mereka.
Dengan kepintaran yang menurun dari sang ayah, membuat mereka mudah untuk mencari petunjuk akan keberadaan orang tersebut.
Tapi siapa sangka, jika keputusan yang mereka ambil, malah membawa mereka pada penderitaan penuh dengan siksaan.
"Melindungi keluarga adalah keputusanku, melindungi wanita yang ku cintai juga adalah keputusanku, maka aku akan membunuh siapapun yang ingin menganggu ketenanganku dan juga keluarga." Revan Li.
"Rahasiaku hanya aku yang tahu, aku tidak menyangka kepergianku untuk meninggalkanmu demi menyelamatkan keluarga, justru membuatku percaya, bahwa hanya kau yang ditakdirkan untukku, maka aku akan menunggumu dewasa," Revin Li.
"Aku akan menyelesaikan semuanya dengan cepat, dan ketika aku pulang, aku akan membuatmu menjadi milikku selamanya," Carlos Sia.
"Ldr lagi, Ldr lagi. Tapi aku tidak masalah, karena aku percaya bahwa kau akan setia, tunggu aku kembali kesana, dan aku akan segera mengikatmu untuk berada disisiku selamanya," Reon Sang.
penasaran yuk liat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBALIK
Pukul 6:25 pagi.
Arian, Reana dan Ana sudah berada dimeja makan untuk sarapan.
"Kenapa mereka berdua belum turun juga?" ucap Ana bertanya pada kedua orang di meja makan.
Arian dan Reana hanya mengangkat bahu mereka tanda tidak tahu.
"Reana bisa ...," ucap Ana yang terhenti kala melihat Revin turun dari tangga dan mendekati mereka.
"Pagi, Dad, Mom dan Reana," ucap Revin dengan senyum diwajahnya kemudian melihat tempat duduk sang kakak yang masih kosong.
"Brother mana?" tanya Revin yang penasaran, karna tumben sang kakak belum duduk dimeja makan dan juga tidak membangunkannya tadi.
"Revin, Coba kamu lihat Revan dikamarnya apakah sudah bangun atau belum!" ucap Ana membuat Revin mengernyitkan alisnya bingung.
'Brother belum bangun? masa sih?' ucap Revin dalam hati kemudian bangkit dari duduknya lalu berjalan menaiki tangga.
Revin mengetuk pintu kamar Revan tapi sama sekali tidak mendapat jawaban dari dalam, karna penasaran, Revin pun membuka pintu dan masuk perlahan ke dalam kamar.
Revan terkejut dengan apa yang ia lihat, dimana sang kakak masih tertidur ditempat tidur.
Revin berjalan mendekat dengan raut wajah terkejut.
'Kerasukan jin apa ini, sampai belum bangun sampai sekarang!' ucap Revin dalam hati kemudian memperhatikan sang kakak yang masih tertidur pulas.
Tiba-tiba sebuah ide untuk menjahili kakaknya singgah diotaknya, dengan senyum devil, Revin berjalan perlahan dan membuka selimut bagian bawah kakaknya dan bersiap untuk menarik kaki sang kakak.
Saat Revin ingin menarik kaki Revan, tiba-tiba kaki Revan menendang hingga terkena wajah Revin yang membuatnya berteriak.
"ADUHH, MUKAKU!" teriak Revin yang berhasil membangunkan Revan dari tidurnya.
Revan terduduk diatas tempat tidur dan kemudian menatap Revin yang sedang memengang wajahnya.
"Ribut banget sih, kamu ngapain dikamarku, ngangu tidur aja," ucap Revan santay membuat Revin mengepalkan tangannya kesal.
"Brother ini sudah mau jam 7, mau tidur bagaimana lagi!" ucap Revin mulai meninggikan suaranya.
Revan terkejut kemudian menoleh kearah jam diatas meja disamping tempat tidur yang sudah menunjukkan pukul 6:27 pagi.
Revan segera beranjak dari tempat tidurnya dan lari kearah kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
'Sia**n, mukaku,' umpat Revin dalam hati dengan mengelus wajahnya yang mendapat cap telapak kaki Revan.
Dua belas menit kemudian.
Kini mereka semua berkumpul dimeja makan untuk sarapan. Revan nampak masih sedikit kacau dengan rambut yang sedikit basah dan dasi yang belum ia kenakan dan tidak lupa jaketnya yang berada dipunggung kursi.
Arian, Ana dan Reana menatap tidak percaya pada Revan yang baru saja bangun telat tidak seperti biasanya, sedang Revin masih dengan wajah datarnya dan perasaan kesalnya pada sang kakak.
Selesai makan, Revan, Revin dan Reana berpamitan untuk segera pergi ke sekolah.
Revan dengan cepat memasang dasinya beserta memakai jaketnya lalu keluar dari rumah untuk segera pergi mengantar Reana lalu ke sekolahnya.
Lima belas menit kemudian.
Revan menghentikan motornya tepat di depan gerbang sekolah Reana, Reana turun dan Revan pun segera menancap gas menuju ke sekolahnya.
"Kakak kenapa ya? tumben tadi pagi bangun telat?" ucap Reana bertanya pada dirinya sendiri.
Sepuluh menit kemudian.
Revan memarkirkan motornya diparkiran sekolah kemudian segera mematikan mesin motornya dan turun lalu berlari kearah kelas dengan cepat.
Revan segera mendudukkan dirinya di kursinya dengan sesekali menghembuskan nafasnya membuat Reon yang berada disebelahnya menjadi bingung.
"Kamu kenapa, Van?" tanya Reon yang penasaran apa yang membuat sahabatnya itu terlihat seperti masih mengantuk.
"Tidak apa-apa," ucap Revan singkat menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
"Jangan bilang kalau kamu tidur telat tadi malam?" tebak Reon membuat Revan menghembuskan nafasnya.
Reon yang mendengar Revan menghembuskan nafasnya mengerti, jika hal yang ia katakan barusan benar adanya.
Tadi malam Revan tidak bisa tidur, di karenakan gagal keluar rumah untuk menyelesaikan urusannya lantaran dilarang oleh sang ayah.
Revan baru tertidur saat jam menunjukkan pukul 3 subuh dan kemudian di bangunkan dengan suara teriakan Revin yang memekakkan telinganya.
Bel masuk sekolah pun berbunyi dan pelajaran pun dimulai.
Entah mengapa Revan sedikit tidak konsen mendengar penerangan guru di dalam kelas, perlahan-lahan mata Revan tertutup dan kemudian tertidur.
Reon terkejut saat melihat Revan yang tertidur disebelahnya lalu menoleh pada guru yang sedang menerankan di depan.
Guru begitu fokus menerankan sampai tidak menyadari jika Revan tidur di kelas.
'Astaga, apakah orang disebelahku ini benar-benar sahabatku yang dicap anak paling pintar di sekolah dan tidak pernah tidur dikelas, sepertinya ini akan masuk dalam sejarah,' ucap Reon dalam hati dengan melirik Revan tidak percaya.
Bel istirahat pun berbunyi tapi Revan belum juga terbangun dari tidurnya, Reon menatap lekat wajah sahabatnya itu.
'Ternyata Revan kalau tidur itu seperti anak kucing yang polos ya, tapi sayang kalau sudah terbangun akan menjadi singa yang siap menerkam mangsanya kapan saja,' ucap Reon dalam hati dengan mengelengkan kepalanya.
Seseorang masuk ke dalam kelas Revan dan Reon lalu mendekati meja mereka.
"Hay, Reon!" ucap seseorang dibelakang Reon.
Reon terkejut mendengar suara yang begitu familiar di telinganya ia pun menoleh dan terkejut mendapati Liona berdiri dibekakangnya dengan senyum diwajahnya.
"Liona! kamu ngapain disini, bukannya kemarin kamu udah mau pulang?" ucap Reon yang hanya dibalas cekikikan oleh Liona.
Para siswa dan siswi yang masih berada didalam kelas terkejut mendengar Reon yang berbicara panjang lebar pada seorang siswi.
"Aku minta sama ayah buat pindahin aku ke sini kemarin, dan dia setuju," ucap Liona dengan tersenyum manis pada Reon.
"Bagaimana kalau kita ke kantin aja, aku lapar, Yang," ucap Liona manja berhasil membuat siswi dikelas itu melongo bahkan mulut mereka sedikit terbuka.
Reon pun mengangguk kemudian keluar dari kelas meninggalkan Revan yang masih tertidur.
"Astaga, pangeran Reon sudah ada yang punya,"
"Tidak apa-apa kita masih punya Pangeran dingin Revan,"
begitulah ucapan para siswi dikelas itu dan kemudian menatap Revan yang tertidur pulas tanpa beban.
Mereka semua terkesima melihat wajah polos Revan yang begitu menawan.
Rania masuk ke dalam kelas Revan, lalu berjalan mendekati meja Revan dan terkejut saat melihat pria itu sedang tertidur pulas, Rania berjalan hingga berdiri di samping meja Revan.
'Dia lagi tidur, mungkin sebaiknya aku datang nanti saja, tapi kalau di lihat-lihat dia terlihat begitu tampan saat tertidur seperti ini,' ucap Rania dalam hati menatap wajah Revan.
Rania menundukkan wajahnya hingga hanya beberapa senti saja dari wajah Revan, Rania tersenyum dan tiba-tiba Revan mengangkat kepalanya dan ....
Para siswi dikelas itu terkejut melihat apa yang terjadi.
yg menjadikan anak-anak nya seperti seorang temen, dan aku juga suka dengan anak-anak Arian mereka sangat menghormati orang tua terutama ibu... sukses untuk karya mu Thor
makanya revin gak suka
tp ap motiv nya
hmmm
makin penasaran