Jessica terpaksa menikah dengan sosok pria yang diinginkan Papa nya agar hidupnya tetap berkecukupan seperti biasanya. Bisnis Sang Papa yang mendadak bangkrut, membuat mereka jatuh miskin dan Sang Papa tak mau Jessica hidup serba kekurangan. Jadi Sang Papa mengatur pernikahannya dengan seorang pria kaya bernama Leo yang merupakan sahabat dari saudara kembar Jessica, Brian.
Jessica ingin menolak pernikahan itu karena dia susah punya seorang kekasih bernama Harry. Selain itu juga, Jessica tidak mau menikahi Leo karena dia tidak pernah mengenal Leo lebih jauh. Bagi Jessica, Leo merupakan sosok pria yang membosankan.
Namun yang terjadi setelah pernikahan justru berbeda. Leo yang dikenalnya membosankan ternyata sosok pria yang sangat manis dan baik, terlebih Leo ternyata pria yang sangat bucin akan dirinya. Tapi Jessica tetap bersikap dingin pada Leo yang bucin itu.
Akankah Leo si suami bucin itu akan meluluhkan hati Jessica istri dingin nya itu?
Untuk kelanjutannya, kuy baca disini.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La-Rayya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Agenda Bulan Madu
Siang harinya, ternyata Leo pulang ke rumah.
Setelah waktu makan siang, Leo memintaku pergi ke ruangan kerjanya. Aku berjalan kesana lalu duduk di sofa yang ada di sudut ruangan itu.
"Jessica, aku sudah merencanakan sebuah perjalanan bulan madu selama 2 minggu untuk kita berdua." Ucap Leo.
Aku cukup terkejut mendengarkan kata 2 minggu.
'Bukankah itu terlalu lama bagi kami untuk berbulan madu?'
"Kau pasti bercanda bukan?" Ucap ku dengan suara yang terdengar tidak percaya.
"Tidak. Itu semua sebenarnya untuk kebaikan kita berdua." Balas Leo padaku.
Aku masih merasa begitu bingung, bagaimana mungkin itu untuk kebaikan kami berdua.
"Kau tahu jika kita berdua sebenarnya tidak mengenal satu sama lain dan kita berdua benar-benar orang asing. Jadi aku berpikir bahwa satu bulan ini akan membuat kita berdua mengenal satu sama lain. Satu minggu sudah berlalu. Aku meminta waktu satu bulan kepadamu, dan tersisa 3 minggu lagi. Jadi aku mau 2 minggu untuk bulan madu." Ucap Leo menjelaskan kepadaku tentang semuanya.
"Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu? Kau memiliki pekerjaan bukan?" Ucapku padanya.
"Aku bosnya, jadi aku bisa meninggalkan pekerjaanku. Dan besok, kita akan menghabiskan malam di rumah keluargamu. Kita berdua bisa langsung pergi ke airport untuk menghabiskan hari kita bersama selama dua minggu tanpa ada gangguan dari orang lain." Ucap Leo.
Jadi semua ini sudah diputuskan, dan aku tidak diberikan kesempatan untuk menolak atau berkomentar akan semuanya. Leo melihat ke arahku dan aku hanya bisa menganggukkan kepalaku untuk meyakinkan bahwa aku setuju dengan rencana itu.
"Baiklah. Aku akan pergi. Tapi kemana tujuannya?" Tanyaku kepada Leo.
"Liburan di sebuah pulau X." Ucap Leo.
"Baiklah. Kita akan pergi ke sana." Ucapku kepada Leo.
Aku dan Leo lalu berjalan keluar dari ruang kerja itu bersama-sama. Saat tengah berjalan kembali ke kamar, Leo melihat ke arahku.
"Ada apa?" Tanyaku.
Leo hanya menggelengkan kepalanya.
"Hmm.... bisakah kita pergi dan mengemasi pakaian kita sekarang?" Tanyaku kepada Leo.
"Baiklah kita akan mengemasi barang-barang kita kalau begitu." Ucap nya.
Kami lalu kembali ke kamar kami dan mulai mengemasi pakaian kami di tas yang berbeda dan saat kami sudah setengah perjalanan mengemasi barang-barang kami, pelayan memanggil kami untuk makan malam.
Kami lalu turun ke lantai bawah untuk makan malam dan kembali lagi untuk mengemasi barang-barang kami lagi. Saat itu sudah tengah malam, saat kami akhirnya selesai mengemasi barang-barang kami dan kemudian tertidur di samping satu sama lain.
...----------------...
Aku terbangun karena mendengar suara alarm dari ponselku. Leo masih tidur dan aku melihat wajahnya jauh lebih tampan saat dia tertidur. Aku tengah mengagumi wajahnya yang berbaring di sampingku dan dia tiba-tiba terbangun dengan sebuah senyuman dan menyapa aku.
"Selamat pagi." Ucapnya.
Kami lalu menatap satu sama lain untuk beberapa saat.
"Selamat pagi." Balas ku.
Aku lalu bangun dari atas tempat tidur dan menyegarkan diriku dengan mandi. Setelah beberapa saat kemudian, aku berjalan keluar dari kamar mandi, sementara Leo masih tampak berbaring di atas tempat tidur dengan menyilangkan kakinya.
"Apa kau tidak berencana untuk bangun dari atas tempat tidur itu?" Ucapku bertanya kepadanya.
"Aku mau bangun. Tapi tubuhku terasa mati rasa karena pelukanmu sepanjang malam." Ucap Leo menggodaku.
Aku sedikit terkejut mendengarkan ucapannya itu, karena aku merasa bahwa aku tidak memeluknya semalam dan itu tidak mungkin terjadi karena aku tetap berada di sisi tempat aku tidur.
"Jangan buat alasan tidak masuk akal. Aku tidak memelukmu tadi malam dan kau bisa lihat bahwa aku masih berada di sisi tempat aku tidur saat aku terbangun pagi ini." Ucap ku seraya menggantung handuk rambut yang aku gunakan kembali ke rak.
"Itu karena aku membantumu untuk tidur dengan nyenyak dan mulai melepas mu di pagi hari agar kau tidak akan merasa malu." Ucapnya kembali dengan nada yang terdengar menggoda aku.
"Jika kau pikir bahwa itu akan terasa memalukan, kau seharusnya tidak membicarakan topik seperti ini." Ucapku.
Leo hanya tertawa. Dia benar-benar kekanakan dan aku tahu bahwa ini belum akan berakhir. Jika aku tidak memaksanya untuk segera masuk ke dalam kamar mandi, maka dia akan terus berusaha menggodaku.
Aku berjalan mendekat ke arahnya dan menariknya untuk duduk dengan tegap.
"Mati rasa di tubuhmu itu akan segera pergi setelah kau masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi. Pergilah sana... Ayo cepat." Ucapku dengan memaksanya supaya segera mandi.
"Baiklah sayang, aku akan kembali dalam waktu beberapa detik." Ucapnya dan berdiri dari atas tempat tidur dan langsung memberikan kecupan kilat di bibirku lalu berlari dengan cepat ke arah kamar mandi.
Sebelum aku bisa memproses apa yang tengah terjadi, pintu kamar mandi sudah tertutup dan aku mendengar suaranya tertawa dari dalam sana. Itu adalah ciuman pertama yang aku rasakan di bibirku.
Aku lalu mengetuk pintu kamar mandi dan dia pun bertanya kepadaku.
"Apalagi sekarang Sayang?" Ucapnya.
"Hei.... kau bahkan belum menyikat gigimu dan kau berani-beraninya untuk memberikan ciuman itu di bibirku..." Ucapku.
Dia kembali tertawa kecil.
"Aku akan keluar dan bicara denganmu sayang."
Dia kembali menggunakan kata itu untuk memanggilku.
'Ada apa dengannya itu? Kenapa dia terus memanggilku sayang?'
Pikiran itu membuat aku merona. Aku merasa begitu kekanakan.
Setelah selesai mandi kami pun turun ke lantai bawah sekitar jam 07.30 dan kami membawa 4 tas untuk perjalanan bulan madu kami.
Setelah itu, aku dan Leo pun keluar dari dalam rumah dengan perasaan bahagia.
Bersambung...