[Apakah anda ingin sembuh dan mengangkat semua rasa sakit di tubuh anda?]
"Apa kau mampu melakukannya?"
[Sistem bisa melakukannya. tapi anda harus menerima persyaratan dari Sistem.]
"Apa persyaratan yang harus ku penuhi?"
[Jadilah seorang Host!]
Demi mengangkat rasa sakit yang di alami Damar pasca kecelakaan, pria yang saat itu masih berusia 11 tahun membuat sebuah pilihan yang sangat serius. yaitu mempercayai Sistem yang muncul bagaikan halusinasi.
Dengan Sistem di dalam tubuh Damar, bagaimana dia akan tumbuh Dewasa?
Tertarik? Gas langsung baca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlackRoby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peran Tandur sebagai Bodyguard
Pakaian lusuh yang dikenakan oleh Damar membuat Sung tidak berpikir bahwa dirinya adalah seorang Tuan Muda, kalimat yang belum ia selesaikan sembari menyeringai itu menarik opini publik.
“Benar juga, kalau dia seorang Tuan Muda... Mana mungkin dia akan berpakaian lusuh, ya kan?”
“Dia juga dikawal oleh beberapa orang saja, selain pemuda yang jago bertarung, dua yang lain tidak tampak seperti Bodyguard.”
“Mungkin itu hanya omong kosong yang dikatakan oleh orang-orang itu.”
“Aku juga jadi penasaran, apa anak muda cerdik ini sebenarnya memang seorang Tuan Muda atau bukan,” dalam hati Tuan Rudyanto sambil menopang dagunya.
Mas Tandur menelan ludahnya sendiri setelah mendengarkan pendapat orang-orang sekarang.
“Bagaimana aku mengendalikan situasi ini?”
“Ehhhm!!!”
Secara mengejutkan Damar mendeham dengan keras untuk mengambil semua perhatian, mata orang yang berkerumun kali ini mengarah tepat padanya.
“Kenapa dengan Tuan Mudanya? Aku memang seorang Tuan Muda dari sebuah keluarga ternama.”
“Apa hanya karena aku memakai pakaian lusuh kalian tidak meyakini identitasku?”
Jelas Tandur terkejut mendengar ucapan tiba-tiba dari anak itu. Ketika dia menoleh pada Kepala Desa, Pak Tua itu hanya menganggukkan kepalanya seolah mengatakan kalau dia percaya bahwa Damar memiliki rencana.
“Aku tidak perlu meragukan kecerdasan Damar, anak itu pasti memiliki cara cerdik untuk keluar dari situasi ini,” Pak Suyono meyakininya dalam hati.
“Tuan Preman..., apakah anda ingin mengetahui alasannya?” ucap angkuh Damar pada Sung.
Sung menyeringai kaku, antara merasa ragu dan juga tidak. Dengan berat hati pria itu menganggukkan kepalanya, “I-iya. Katakan padaku! A-apa, apa alasan seorang Tuan Muda dari keluarga ternama mau memakai pakaian lusuh dan kotor seperti itu?!”
“Saya lahir dari keluarga seorang Pebisnis, jadi bisa dibilang saya juga seorang Pebisnis. Kita berdua pebisnis, saat kita mulai berdagang kita akan mengatur sebuah strategi agar apa yang kita perdagangkan dapat laku dan mendatangkan keuntungan.”
“Bedanya, strategi anda adalah dengan mengancam pedagang lain sehingga bisnis mereka beralih ke tangan anda. Dan saya, mengenakan pakaian lusuh ini untuk berbaur dengan konsumen saya.”
“Coba katakan apa yang akan orang-orang pikirkan jika saya memakai pakaian rapi dan terlihat mahal?”
“Semua orang akan berpikir kalau barang dagangan yang adik ini jual juga mahal, apalagi dengan kualitas barang yang bisa di nilai baik hanya dengan melihatnya, maka wajar orang-orang akan berpendapat demikian.”
“Maaf kalau aku harus menyelamu, Adik kecil,” imbuh Haris sembari mengangguk kecil untuk menghormati Damar.
“Tidak masalah, dalam situasi ini saya juga ingin meminta pendapat pada orang lain,” sahut Damar.
“Pola pikir anak muda ini jelas sudah setara dengan orang dewasa, menjadi bijak di usia ini membuatku merasa kalau latar belakang si Tuan Muda memang tidak biasa. Jika ada kesempatan untuk bisa menjalin sedikit relasi, mungkin akan membawa keuntungan untukku,” pikir Tuan Rudyanto.
“Apa anda puas dengan jawaban saya?” tegas Damar sambil menatap tajam mata Sung.
“Sial, tanpa sadar perkataan seorang anak kecil membuatku berkeringat. Bagaimana cara aku menjelaskan hal ini pada Bang Borkar? Kalau benar dia seorang Tuan Muda dari Keluarga Ternama, mungkin bukan pilihan baik untuk terlibat permasalahan dengannya.”
“Anda diam... Apa anda masih belum percaya? Kalau begitu saya tidak punya pilihan, sosok Pemuda di hadapan anda adalah Bodyguard kepercayaan orangtua saya, bahkan jika saya membawa dia seorang diri, itu lebih dari cukup untuk menjamin keselamatan saya.”
“Tandur, dia mungkin akan percaya setelah merasakannya sendiri. Oh ya! Sebisa mungkin aku ingin kau sedikit menahan diri,” ucap Damar, anak muda itu berlagak congkak dengan berbalik ke belakang dan meletakkan tangan di balik punggungnya.
Namun dalam hati, “Mas Tandur..., tolong maafkan aku karena sudah menjadi tidak sopan. Ku mohon jangan memendam rasa kesal padaku.”
“Jika ucapanku membuatnya sakit hati, bisa jadi orang yang terkapar berikutnya adalah aku,” imbuh anak muda itu memejamkan mata karena cemas.
Tandur tersenyum, dia bisa melihat Damar bersandiwara dengan baik jadi untuk memaksimalkan penampilan yang telah ditunjukkan oleh Damar, dia pun memainkan perannya.
“Bodyguard, huh? Ya..., aku tau bagaimana berlagak menjadi seperti mereka,” dalam hati Tandur.
Pria itu membungkuk seraya mengayunkan tangan kanannya ke dada, bersikap layaknya ksatria setia yang selalu tunduk pada rajanya.
“Perkataan Tuan Muda adalah perintah, Tandur yang rendahan ini pasti menjawabnya dengan segenap hati agar Tuan Muda tidak kecewa.”
“Tandur yang rendahan?! Apa?! Mas... Apa kau marah padaku?!” wajah Damar semakin kecut mendengarnya.
“Nah..., karena Tuan Mudaku sudah memberikan perintahnya, maka kau..., harus membantuku untuk menjawabnya.”
Sung terhenyak, badannya menggigil dan langsung mundur perlahan ke belakang.
“Orang ini..., dia bisa menumbangkan Pawan dalam sekali pukul, mungkin tidak akan jauh berbeda jika dia berurusan denganku. Jika aku berakhir seperti Pawan maka reputasiku sebagai Preman yang menguasai Blok ini pasti hancur.”
“Oi..., apa yang kau khawatirkan? Tuan Muda memintaku untuk tidak berlebihan, jadi... Aku akan bersikap sedikit lembut padamu.”
Tandur mendekati Sung sembari meremas tangannya, suara renyah dari tulang jemarinya membuat Sung dan juga Donu semakin berkeringat, terlebih..., seringai Tandur yang menunjukkan ketidaksabaran itu tidak menjaminnya akan menahan diri.
“A-aku percaya!!” seru Tandur
“Ka-kami berdua sekarang mempercayainya. Anak Muda itu adalah seorang Tuan Muda,” tambah anak buah yang bersembunyi di belakangnya.
“Se-sepertinya kami telah menyinggung kalian, ka-kami benar-benar minta maaf.”
“Benar! Kami berdua mengakui kesalahan kami, semua ini salah paham. Tuan Muda..., bisakah anda meredam amarah anda untuk kami?” kata Donu.
Sung yang tak ingin dirinya terlalu dipermalukan akhirnya memilih bersikap ramah. Lekuk kesal pada alisnya berubah seketika menjadi seringai bodoh.
“Ka-kami akan membayarnya. Tidak dengan uang 2 juta, tapi 6 juta. Ba-bagaimana? Bukankah sekarang kita bisa berbisnis dengan jujur?”
Pak Suyono dan Pak Puseli mendelik kegirangan, harganya menjadi lebih tinggi daripada harga yang ditawarkan oleh Damar, jadi kedua Pak Tua itu berharap Damar mau menerimanya.
“Berbisnis dengan jujur, ya?”
Damar sekali lagi berbalik, dia bisa melihat Donu dan Sung kali ini tersenyum padanya dengan begitu rendah hati.
“Hm..., sayang sekali aku tidak ingin berbisnis dengan kalian, bahkan jika 10 juta adalah nilai yang kalian tawarkan.”
Anak muda itu memelototi kedua preman dengan gagah berani, kemudian dengan tegas Damar berkata.
“Penghinaan hari ini..., aku akan mengingatnya!”