Pernikahan tanpa didasari dengan rasa cinta, vivi tidak pernah membayangkan akan menikah kontrak dengan BOSSnya yang super jutek dan galak itu..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri wahdania Wahda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33
Seiring berjalannya waktu, Rendi makin perhatian dan lebih banyak menemani istrinya di rumah ketimbang ke kantor. Ia sesekali ke kantor hanya untuk mengecek hasil kerja Rara yang kini menjadi asistennya sekaligus pengganti dirinya dalam mengurusi kantor.
Tidak terasa, kehamilan Vivi sudah sembilan bulan dan tinggal menghitung hari Vivi akan melahirkan anak pertamanya. Rendi kini mulai standbay 24 jam jika sewaktu waktu Vivi membutuhkan dirinya.
Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam, Vivi membangunkan Rendi karena ia merasa perutnya mulai sakin, Rendi yang mendengar suara Vivi langsung terbangun.
"Kenapa sayang ?" Tanya Rendi.
"Perutku sakit mas." Jawab Vivi.
"Bagian mana yang sakit sayang? jangan jangan kamj sudah mau melahirkan, kita ke rumah sakit sekarang yah." Ujar Rendi panik.
"Kata dokter kan, seminggu lagi mas. Mungkin hanya sakit perut biasa." Ujar Vivi.
"Dokter kan hanya memprediksi sayang, pokoknya kamu siap siap sekarang. Jangan sampai kamu beneran mau melahirkan, dan walaupun kamu hanya sakit perut biasa kita harus ke rumah sakit sekarang." Ujar Rendi.
"Iya deh, Mas." Ujar Vivi.
"Sini aku papah, sayang. Pelan pelan jalannya." Ujar Rendi sembari membantu Vivi berjalan menuju parkiran.
Di perjalanan ke rumah sakit, perut Vivi terasa makin sakit dan sudah akan pingsan rasanya. Keringat bercucuran dari dahinya.
"Sayang, kamu baik baik saja ? sebentar lagi kita sampai yah." Ujar Rendi yang terus menenangkan Vivi.
"Mas, sakit." Ujar Vivi dan tidak terasa air bening jatuh di sudut matanya menahan rasa sakit yang pertama kalinya ia rasakan.
"Ia sayang, sebentar lagi kita sampai." Ujar Rendi yang berusaha menahan rasa panilnya demi menenangkan sang istri. Tangannya memegang tangan Vivi sedangkan satunya menyetir, sembari tetap fokus melihat ke arah jalan. Dan sesekali menengok istrinya yang duduk kesakitan di sampingnya.
Setelah sampai di rumah sakit, Vivi di bawa ke ruang berasalin. Vivi di periksa oleh dokter, sedangkan Rendi terus memegang tangan Vivi dan sesekali mengusap keringat istrinya itu. Ia merasa tidak tega melihat istrinya kesakitan, Ia teringat sewaktu dirinya pernah menyakiti hati wanita yang tulus mencintainya dan rela kesakitan demi melahirkan anaknya.
"Pak Rendi, bisa bicara sebentar." Ujar Dokter.
"Ia Pak." Ujar Rendi mengalihkan pandangannya dari Vivi.
"Istri bapak biar di tangani oleh perawat dulu, bapak bisa ikut aku ke ruangan. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan." Ujar sang dokter.
"Iya, Pak." Ujar Rendi.
"Sayang, aku di panggil dokter.." Ujar Rendi yang terus mengusap kepala istrinya.
"Iya, Mas. Jangan lama ya." Ujar Vivi.
Rendi kemudian mengikuti langkah dokter ke ruangannya, ia merasa tidak tenang meninggalkan Vivi di ruangan. Sesampainya di ruangan sang dokter, Rendi di persilahkan duduk.
"Begini Pak Rendi, istri bapak akan susah melahirkan normal." Ujar Dokter memulai percakapan.
Deg!
Jantung Rendi seketika seakan berhenti memompa saat mendengar perkataan sang dokter.
"Aku menyarankan agar nyonya Vivi menjalankan di operas caesar, di karenakan ia memiliki panggul yang terlalu kecil yang biasa di sebut dengan Disproporsi Cephalopelvic. Akan berbahaya jika nyonya Vivi melahirkan normal." Ujar Dokter menjelaskan.
"Baiklah, Dok." Ujar Rendi menyetujui karena memang tidak ada jalan lain.
"Baiklah, jika bapak setuju. Kami akan melakukan operasi." Ujar sang Dokter.
Vivi segera di pindahkan di ruang operasi, dan dokter memulai operasi caesar. Sedangkan Rendi menunggu di balik pintu ruang operasi dengan gelisah. Ia tidak henti hentinya berdoa keselamatan istrinya. Setelah melakukan operasi selama satu jam, akhirnya Dokter dan Rendi bisa bernafas lega. Karena operasinya berjalan lancar.
Pagi harinya, Vivi terbangun dan mendapati suaminya tertidur sambil duduk tepat di sampingnya sembari memegang tangannya. Rendi terbangun setelah merasakan ada pergerakan kecil dari tangan istrinya.
"Kamu sudah bangun, sayang." Ujar Rendi dengan suara khas baru bangun.
"Aku mau lihat Anak kita, Mas. Semalam aku gak sempat melihatnya." Ujar Vivi.
"Baik lah, sayang. Kamu baring saja, kata dokter kamu tidak boleh banyak bergerak." Ujar Rendi sembari mencium kening istrinya.
"Kamu tunggu di sini, aku ambil anak kita dulu." Ujar Rendi yang di jawab dengan senyuman oleh Vivi.
Tidak lama Rendi kembali ke ruangan istrinya sembari menggendong sang buah hatinya.
"Sayang, liat deh. Gagah kan, mirip aku." Ujar Rendi sembari membaringkan sang anak di samping istrinya.
" Iya, Mas." Ujar Vivi.
" Makasih ya, Sayang. aku sangat bahagia." Ujar Rendi tanpa terasa air matanya jatuh karena terharu.
"Kenapa Mas menangis ?" Tanya Vivi.
"Aku menangis bahagia sayang." Jawab Rendi, Vivi ikut bahagia dan tersenyum ke suaminya.
"Mas sudah memikirkan nama untuk anak kita belum ?" Tanya Vivi.
"Sudah dong, sayang. Namanya Davine Pratama. Bagaimana bagus gak, sayang ?" Tanya Rendi.
"Davine Pratama, bagus." Ujar Vivi.
Mereka akhirnya hidup bahagia setelah lika liku perjalanan cinta mereka yang cukup rumit. Kebahagiaan makin terasa lengkap setelah kehadiran Davine Pratama yang mempunya Arti Davine adalah Cinta sedangkan Pratama sendiri di ambil dari nama sang ayah yang mempunyai arti anak pertama.
*End.
Baca juga yuk novelku yang berjudul **My Boss Is Ice Cold.
Terima kasih yang sudah setia membaca**.
Mungkin ada yang bertanya kenapa kok gak di ceritain proses kehamilannya. Menurutku jika terlalu lama menuliskan kebahagiaan dalam novel tanpa ada ada campur tangan antagonis itu rasanya hambar. Karena Menurutku cerita akan hidup jika di bumbui dengan perselisihan, karena tidak mungkin memunculkan lagi karakter antagonis maka aku memutuskan untuk mengakhiri ceritanya.
**Maaf jika masih banyak kekurangan dalam novel ku ini***.