Di usianya yang ke 27 tahun, Nattan sama sekali tidak berniat untuk menikah dan membina sebuah rumah tangga seperti pria normal pada umumnya.
Sang ibu yang notabene ingin segera memiliki menantu dari putra bungsunya, beberapa kali berusaha untuk menjodohkannya dengan beberapa gadis pilihannya yang berakhir dengan penolakan Nattan.
Hingga suatu hari saat ia berniat baik untuk menolong seorang gadis yang kala itu hampir dilecehkan oleh dua orang preman, justru malah membawanya pada sebuah tanggung jawab yang besar seumur hidupnya.
Terpaksa Menikahi Gadis SMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mawarjingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Uring-uringan
Anggia berdecak, seiring dengan menghilangnya punggung kekar milik suaminya dibalik pintu.
Nattan benar-benar terlihat biasa saja, layaknya tidak pernah terjadi sesuatu apapun, berbeda dengan Anggia yang begitu gelisah, malu!
Ya, tentu kejadian semalam membuat nya merasa sangat malu, bagaimana tidak, semalam adalah pengalaman pertamanya melakukan hubungan suami istri.
"CK, sebenarnya mas Nattan itu terbuat dari apa sih? benar-benar jenis yang sangat langka, dan aku benar-benar sangat tidak beruntung memilikinya." gerutu Anggia yang kemudian memilih melanjutkan kembali aktifitas sebelumnya.
*
"Pagi semua, sudah siap untuk meeting pagi ini?" ujar Nattan dengan raut wajah yang tampak berbeda dari biasanya.
"Siap pak." jawab serentak dari beberapa staff yang akan mengikuti meeting pagi ini.
"Baik, kita mulai sekarang!"
Nattan tampak fokus, saat salah satu kepala Divisi dibagian pemasaran mulai menjelaskan langkah awal mereka untuk menarik perhatian para pelanggan dengan produk baru yang akan mereka luncurkan satu minggu lagi.
"Bagaimana pak, apakah ide saya bisa diterima, atau saya perlu memikirkan ide lain."
"Pak Nattan?" ulang Denny yang merupakan kepala divisi tersebut, saat Nattan tak kunjung menjawab pertanyaan nya.
"Cantik!" jawab Nattan tanpa sadar, membuat seluruh staff yang berada diruang meeting saling menatap satu sama lain dengan tatapan bingung.
"M-maksud pak Nattan bagaimana ya pak?"
"Ehmm, maaf! maksud saya, ide kamu cukup bagus dan masuk akal, jadi saya rasa produk kita akan laku pesat dalam kurun waktu yang cukup singkat." jelas Nattan yang kemudian menghela napas berat, ia merutuki dirinya sendiri bisa-bisanya ia tiba-tiba teringat wajah Anggia yang beberapa kali merintih dibawahnya, saat mereka sedang melakukan penyatuan mereka untuk yang pertama kalinya tadi malam.
*
Hari ini Nattan benar-benar tidak fokus bekerja, karena seluruh pikirannya teralihkan pada sosok Anggia, bahkan setiap ia membuka lembaran dokumen yang dikerjakannya di mata Nattan semua itu hanya berisi dengan bayangan wajah Anggia.
"Arggghh, sialan! beraninya dia menghancurkan konsentrasi ku, dia pikir dia siapa?" Gerutu Nattan, seraya memijat dahinya yang terasa berdenyut.
Pada akhirnya seharian berada dikantor waktunya hanya diisi dengan uring-uringan saja, tak ada satupun pekerjaan yang mampu ia selesaikan.
Tepat pukul tiga sore ia memutuskan untuk segera pulang dan meminta Mellisa asistennya untuk merapikan mejanya yang masih berantakan.
Sesampainya di rumah Nattan dibuat geram, saat mendapati Anggia tengah mengobrol didepan gerbang rumahnya bersama seorang pemuda yang tentu masih ia ingat dengan jelas siapa pemuda tersebut.
Begitu pemuda itu pergi, Nattan segera turun dari mobilnya, dan berlari mengejar langkah Anggia yang hendak memasuki rumah.
"Lho mas Nattan udah pulang?" tanya Anggia, begitu ia menoleh setelah mendengar derap langkah cepat dibelakangnya.
"Kenapa? tidak suka saya pulang siang."
"B-bukan begitu, cuma aneh aja biasanya kan_"
"Biasanya saya pulang malam, jadi kamu bisa bebas bertemu dengan laki-laki manapun dibelakang saya, begitu?"
"Maksud mas Nattan apa sih?"
"CK, kamu memang pandai mengeles dan berakting."
"Mas! mas Nattan bisa nggak sih nggak ngata-ngatain saya terus, seenggaknya kalau punya masalah mas Nattan jelaskan apa kesalahan saya, kalau mas Nattan nggak menjelaskan bagaimana saya bisa tahu."
"Tidak usah pura-pura Anggia, tanpa perlu saya jelaskan pun harusnya kamu tahu apa kesalahan kamu."
"Percuma ya ngomong sama mas Nattan." Anggia berlari dengan kedua mata berkaca-kaca, beginikah respon Nattan setelah mendapatkan apa yang menjadi sesuatu berharga miliknya.
''Anggia tunggu, mau kemana kamu?" Nattan berlari kembali mengejar Anggia yang hendak memasuki kamar sebelah.
"Tunggu Anggia." Nattan mencekal pergelangan tangan Anggia saat ia berhasil mengejarnya.
"Apalagi sih mas? saya mau mengerjakan tugas."
"Tugas? tugas apa?" tanyanya dengan nada yang tidak seketus sebelumnya.
"Ini." Anggia menunjukkan sebuah buku yang sejak tadi berada ditangan kirinya.
"Bukannya tadi kamu libur?"
Anggia terlihat menghela napas, kemudian mengusap kasar air matanya yang tiba-tiba terjatuh.
"Barusan Glenn yang nganterin, harusnya sih Dita yang nganter, tapi dia buru-buru karena harus menemani neneknya kerumah sakit buat Chek Up."
"Jadi, tadi itu_"
"Iya, dia cuma nganterin buku ini, bukan sengaja ingin bertemu, sekarang mas Nattan bisa lepaskan tangan saya? saya harus_"
Ucapan Anggia tenggelam, saat Nattan membungkam bibir Anggia dengan ciuman yang cukup lama dan menghanyutkan.
"Maaf soal tadi, saya hanya_ nggak suka kamu dekat-dekat dengan laki-laki lain." ujar Nattan seraya mengusap lembut bibir bawah Anggia yang sedikit membengkak menggunakan ibu jarinya.
"Jangan temui laki-laki manapun selain saya."
Deg!
Anggia mengerjap gugup, dengan tubuh mematung saat mendengar ucapan Nattan yang terdengar serius dan tidak dibuat-buat.
*
*