NovelToon NovelToon
KAU DI HATI KU

KAU DI HATI KU

Status: tamat
Genre:Cintapertama / CEO / Berondong / Pengganti / Tamat
Popularitas:2.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: Reny Rizky Aryati, SE.

Kisah seorang ratu yang bereinkarnasi ke masa depan menjadi gadis biasa yang lugu untuk menebus segala dosanya yang telah lalu akibat kegemarannya yang suka berperang dan membunuh ribuan orang dalam perang kerajaan yang di pimpinnya.

Bertemu seorang pria berondong yang bodoh yang tak sengaja ia temukan di depan toko roti tempatnya bekerja.

Ternyata pria tersebut seorang CEO Amnesia yang tidak diketahui identitas pribadinya sampai CEO Amnesia itu mendapatkan ingatannya kembali setelah jatuh dari toilet.

Tetapi CEO itu hanya mengingat wanita lain dan menganggap gadis itu sebagai pengganti wanita lain itu.

Bagaimana kisah kasih ideal mereka akankah keduanya bersama dan menikah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 KEJUTAN BARU

Batang Dewi mulai bersiap-siap pagi itu untuk pergi karena dia berencana mengunjungi Toko Roti Italia 1912.

Diusapkannya serum Lava Bee ke arah wajahnya hingga bersinar-sinar membuat wajah Batang Dewi cerah.

Dia tidak lupa membubuhkan riasan tipis di wajahnya serta lipstik merah muda ke atas bibirnya yang merekah indah.

Diliriknya jam tangan di pergelangannya lalu bergegas cepat meraih tas tangan dari atas meja riasnya.

''Aku akan pergi ke toko tempatku dulu bekerja, rajawali'', kata Batang Dewi.

''Kau akan pergi kesana hari ini, apa kamu berencana kembali bekerja lagi dan meninggalkan pria bodoh itu ?'', sahut rajawali sistem.

''Tidak mungkin jka aku meninggalkannya sekarang karena aku telah terikat kontrak perjanjian pertunangan yang akan kami langsungkan bulan ini'', kata Batang Dewi.

''Lalu untuk apa ratu besarku ini kesana ? Jika tidak untuk bekerja kembali disana ?'', sahut rajawali sistem.

''Aku hanya ingin bertemu dengan teman-temanku disana karena aku merasa pikiranku mulai terasa berat dan tertekan, rajawali...'', jawab Batang Dewi.

''Bagaimana jika aku ikut bersamamu Ratu Batang Dewi?'', kata rajawali sistem.

''Ayolah, rajawali ! Berhentilah menyebutku dengan sebutan ratu besar lagi ! Aku sekarang bukanlah ratu suatu kerajaan Semenanjung lagi !'', ucap Batang Dewi.

''Tapi hal itu merupakan kenyataan besar dan sulit untuk diubah dari mu, Batang Dewi. Kau memanglah reinkarnasi seorang ratu besar dan akan tiba saatnya kamu kembali menjadi ratu di kerajaan milikmu !'', kata rajawali sistem.

''Itu sudah lama sekali, ratusan tahun silam yang telah menjadi fosil purbakala lama dan tidak mungkin kembali lagi...'', sahut Batang Dewi.

Batang Dewi mengambil mantel dari atas kursi lalu mengenakannya karena hari ini udara mulai terasa dingin.

Pada awal-awal musim dingin memang cuaca akan berubah-ubah tidak menentu, terkadang dinginnya biasa saja terkadang ekstrem.

Batang Dewi langsung membuka pintu kamarnya seraya berkata kepada rajawali sistem.

''Kau tidak perlu ikut denganku karena aku hanya pergi sebentar kesana, aku hanya ingin membeli roti dari toko itu lalu kembali pulang kemari...''

''Baiklah, terserah padamu saja, aku hanya mematuhi semua yang kamu ucapkan padaku, sebagai rajawali pengawalmu, aku hanya melaksanakan tugasku yang diembankan padaku dari langit !'', kata rajawali sistem.

''Aku mengerti itu, rajawali sistem...'', sahut Batang Dewi bergegas pergi dari dalam kamarnya.

Hanya tinggal rajawali sistem yang berada di ruangan kamar tidur yang luas dan diam mematung di atas meja.

Rajawali sistem mengubah wujudnya menjadi sebuah patung rajawali.

Terlihat Batang Dewi bergerak turun melewati anak-anak tangga rumah menuju ke arah bawah sembari menenteng tas di tangannya.

''Kau akan pergi kemana ?'', ucap seseorang dari arah belakang Batang Dewi.

Seorang wanita bergaun jingga cerah dengan rok motif bunga matahari berdiri tepat dibelakang Batang Dewi sembari melipat kedua tangannya.

Menatap tajam Batang Dewi dengan dinginnya.

Ketidaksukaan yang ditunjukkan oleh wanita itu terlihat jelas dari raut wajahnya yang mulai dimakan usia.

''Bibi Donna Cara...'', sapa Batang Dewi setengah terkejut.

''Kau akan kemana pagi sekali ? Apa kamu sudah meminta ijin pada Magani Ogya ?'', ucap wanita bernama Donna Cara.

''Emmm..., aku belum meminta ijin padanya, bibi...'', sahut Batang Dewi.

''Kau harus tahu peraturan yang ada di rumah ini karena setiap orang disini wajib untuk meminta ijin jika hendak keluar rumah !'', ucap Bibi Donna Cara.

''Maaf, bibi...'', sahut Batang Dewi. ''Aku hanya keluar rumah sebentar saja...'', sambungnya dengan wajah tertunduk.

''Aku tidak memerlukan alasan apapun darimu karena sesuai peraturan di rumah besar ini bahwa kamu sebagai tamu disini harus meminta ijin jika keluar dari rumah ini !'', kata Donna Cara dingin.

Batang Dewi terdiam hanya menundukkan kepalanya tanpa menatap Donna Cara yang jelas-jelas menunjukkan sikap kurang senangnya pada Batang Dewi.

Jari-jemari tangan Donna Cara yang kuku-kukunya berhiaskan cat merah tua dengan cincin berlian yang tersemat cantik di jarinya bergerak seperti gerakan mengetuk menandakan wanita itu tidak dalam keadaan sabar.

Donna Cara membuang mukanya dari Batang Dewi yang diam tidak menjawab ucapannya sedangkan dari arah tangga rumah terlihat Magani Ogya turun sembari mengancingkan jas warna hitamnya.

''Pagi, Bibi Donna Cara !'', sapa Magani Ogya seraya mencium pipi wanita itu.

''Pagi, anakku sayang ! Bagaimana tidurmu malam ini ?'', kata Bibi Donna Cara dengan tersenyum.

''Rupanya aku memerlukan bantuan psikolog untuk membuatku merasa nyaman dan santai setelah peristiwa tidak enak itu menimpa ku, bibi...'', sahut Magani Ogya.

''Psikolog !? Kalau begitu bibi akan menghubungi psikolog di rumah sakit milik kita saja, menurutmu itu idea yang bagus atau tidak ?'', kata Donna Cara sambil mengusap punggung Magani Ogya.

''Tidak usah dan aku ucapkan terimakasih padamu, bibi ! Karena aku telah membuat janji khusus dengan psikolog pribadiku'', sahut Magani Ogya.

Pria muda berwajah tampan itu melirik ke arah Batang Dewi lalu bertanya padanya.

''Apa kamu akan pergi keluar ?''

Batang Dewi terdiam tanpa menghiraukan ucapan Magani Ogya lalu cepat-cepat meraih pegangan pintu dan membukanya.

Dia bergegas keluar dari dalam rumah tanpa mengucap sepatah katapun sembari berlari menuruni tangga yang ada di teras rumah.

''Batang Dewi !'', panggil Magani Ogya terkejut.

''Tunggu, Magani Ogya !'', cegah Bibi Donna Cara.

''Apa bibi ?'', sahut Magani Ogya.

''Biarkan saja dia pergi dari sini jika memang dia merasa tidak betah tinggal di rumah ini, Magani Ogya ! Dan itu bukanlah kesalahan kita jika dia pergi dari sini, nak !'', ucap Bibi Donna Cara menahan tangan Magani Ogya.

''Tidak, bibi. Dia tidak tahu daerah disekitar rumah ini. Dan dia bisa tersesat jika aku tidak menemani dia !'', sahut Magani Ogya.

Magani Ogya berusaha melepas pegangan tangan Bibi Donna Cara dari lengannya dan bergegas keluar dari rumah.

''Magani Ogya ! Tunggu, bibi bilang !'', teriak Bibi Donna Cara.

''Tidak, bibi Donna Cara ! Aku harus mengejar Batang Dewi !'', jawab Magani Ogya.

''Ogya !!!'', panggil Donna Cara penuh emosi.

Wanita paruh baya itu terlihat berdiri dengan kedua tangan mengepal erat di depan pintu rumah seraya menatap tajam ke arah Magani Ogya yang berlari cepat mengejar Batang Dewi.

''Sialan ! Dia benar-benar sialan !'', ucap Donna Cara marah. ''Apa dia tidak pernah mendengar ucapanku !? Seharusnya dia belajar banyak dari kejadian yang dia alami tempo hari !?'', sambungnya.

Donna Cara tidak dapat berbuat banyak ketika melihat keponakannya berlari mengejar Batang Dewi yang telah pergi.

Dia hanya pasrah menerima bahwa keponakan tersayangnya yang merupakan kebanggaannya kini tidak lagi mematuhi perkataannya. Dan berubah menjadi seorang pembangkang yang terang-terangan membantah Donna Cara.

Tap... Tap... Tap...

Terdengar langkah lari dari Magani Ogya saat mengejar Batang Dewi yang terlebih dahulu berjalan di depannya.

Tampak Batang Dewi melangkah menuruni jalan di sepanjang jalan rumah Magani Ogya yang sangat luas sembari merapatkan mantel yang dia kenakan saat ini.

''Batang Dewi ! Tunggu !'', panggil Magani Ogya dengan nafas terengah-engah.

Batang Dewi menolehkan kepalanya ke arah Magani Ogya yang tengah berlari mengejar dirinya.

''Apa maunya lagi sekarang ?'', gumam Batang Dewi sembari berdecak pelan. ''Apa dia tidak pernah berhenti mengejarku ?''

''Batang Dewi !'', panggil Magani Ogya sambil membungkukkan badannya dengan nafas tersengal-sengal. ''T--tunggu !!!''

''Kenapa kamu mengejarku ? Kemana mobilmu, apa kamu menjualnya ?'', tanya Batang Dewi dengan mimik wajah kesal.

''Tidak bisakah kamu bertanya satu per satu padaku ?'', sahut Magani Ogya mencoba berdiri meski nafasnya terengah-engah sehabis berlari.

''Apa itu perlu aku katakan ?'', kata Batang Dewi. ''Kenapa kamu mengejarku ?''

Batang Dewi kembali melanjutkan langkah kakinya tanpa menunggu Magani Ogya menjawabnya.

''Tunggu !'', sahut Magani Ogya seraya menahan tangan Batag Dewi cepat.

''Apa !?'', ucap Batang Dewi tersentak dan berusaha menepiskan pegangan tangan Magani Ogya darinya. ''Lepaskan tanganmu dari aku, Magani Ogya !''

''Tidak ! Tidak ! Tidak !'', sahut Magani Ogya sembari menggelengkan kepalanya. ''Kamu akan pergi kemana tanpa memberitahukan padaku rencanamu itu ?''

''Aku mau ke Toko Roti Italia 1912... Untuk membeli roti disana... Kau tahu jika rumahmu ini tidak tersedia menu sarapan bagi orang asing !?'', kata Batang Dewi acuh tak acuh. ''Jadi... Tolong lepaskan tanganmu dariku karena aku mau pergi kesana, membeli sepotong roti buat mengganjal isi perutku ini !'', sambungnya.

''Wow !? Panjang sekali penjelasanmu, nona !'', sahut Magani Ogya. ''Aku hanya butuh jawaban singkat darimu, kemana kamu akan pergi ?''

''Sudah aku katakan bahwa aku hanya ingin ke Toko Roti Italia 1912 untuk membeli roti !'', jawab Batang Dewi.

''Apa kamu berencana ingin menemui pria itu ?'', tanya Magani Ogya.

''Pria itu !? Apa maksud perkataanmu itu ? Pria apa ? Pria mana ?'', sahut Batang Dewi mulai emosi.

''Pria pemilik Toko Roti itu ! Apa kamu merindukannya ?'', ucap Magani Ogya.

''Apa yang kamu maksud Baldovino Elio !?'', sahut Batang Dewi seraya mengangkat alisnya ke atas. ''Dia ? Dia yang kamu maksudkan !?'', sambungnya.

''Ehk !?'', gumam Magani Ogya berganti bingung. ''Aku tidak tahu namanya !?''

''Katakan saja semuanya padaku apa yang ingin kamu katakan ! Dan anggap saja jika aku bukan perempuan baik-baik menurut pikiranmu !!!'', sahut Batang Dewi.

Batang Dewi menginjak kaki Magani Ogya kuat-kuat seraya mengibaskan tangannya agar tangan Magani Ogya terlepas dari tangannya.

''Aku mau pergi sekarang ! Dan jangan ikuti aku lagi !'', ucap Batang Dewi sambil memalingkan mukanya dari Magani Ogya.

''Dengar dulu perkataanku ini, Batang Dewi !'', sahut Magani Ogya dengan terburu-buru menggenggam erat tangan perempuan itu.

''Apa lagi, Magani ? Aku lapar sekarang ? Kamu tahu jika bibimu tidak pernah membiarkan aku makan atau menyentuh apapun di rumahmu itu !?'', kata Batang Dewi.

''Kau lapar ?'', ucap Magani Ogya tertegun.

Batang Dewi hanya menatap ke arah Magani Ogya dengan ekspresi datar tanpa mengucap kata sepatahpun.

''Oh !?'', Magani Ogya tampak kebingungan lalu berkata kembali. ''Bagaimana jika aku mentraktirmu sekarang ?''

''Kamu akan mentraktirku makan pagi !? Dimana ? Di rumahmu ? Tidak, tidak, aku sebaiknya mencari makanan di tempat lain saja !'', sahut Batang Dewi.

''Bukan seperti itu, aku akan membuatkanmu sebuah toko roti khusus untukmu agar kamu tidak peelu lagi pergi ke toko roti yang dulu tempatmu bekerja...'', kata Magani Ogya.

''A--apa !? Kamu mau membelikanku sebuah toko roti ? Kamu jangan berlebihan, Magani Ogya, lagipula aku tidak pandai mengatur manajemen toko !'', jawab Batang Dewi. ''Lupakan saja rencanamu itu ! Aku lebih baik bekerja sebagai penjual roti Italia saja karena aku tidak menjamin toko pemberianmu akan laris manis di tanganku !?''

Batang Dewi melanjutkan langkah kakinya tetapi dengan cepat Magani Ogya menarik kembali tangan Batang Dewi lalu membawanya ikut bersama dengannya menuju ke sebuah mobil yang terparkir di area halaman rumah.

1
kura kura ninja
dia kerjaannya bengong aja mulai dari awal cerita... sebel sama karakter bibi lampir ini
kura kura ninja
terkadang tak semua harus sama pendapatnya ya
kura kura ninja
kejutan...
kura kura ninja
lah, nih biang keladi atas keretakan hubungan Barang Dewi sama pria amnesia itu keknya ya
kura kura ninja
status barang dewi ini gimana juga kelanjutannya kenapa justru Magani berpaling dari mukanya
kura kura ninja
kagak pusing kau thor... /Facepalm/
kura kura ninja
sehat selalu thor...
Zhen
aku mencintaimu thor...
Zhen
akhirnya dia punya toko roti sendiri sesuai dengan keahliannya
Tnaba Heart
gua suka sama karya ini soalnya terasa di Italia gitu hidup beneran suasananya
Zhen
lancar jaya thor
Zhen
semoga jadi juaranya ya
Zhen
semangat thor...
Zhen
eh, ada sistemnya juga
Zhen
Syukur juga dia dapat pekerjaan baru setelah bereinkarnasi yang ke berapa ya thor kalo boleh tahu
Zhen
oh dia kan tukang roti disini pas dia reinkarnasi
Zhen
rasanya sedih jadi Batang Dewi jadi penasaran baca endingnya
Zhen
kasihan dia tapi sampai amnesia gegara patah hati
Zhen
Cowok amnesia, sakit dia
Zhen
dah, ketemu cowok gila rupanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!