Penyesalan selalu ada di belakang, itulah yang di rasakan pria yang sekarang hidupnya berantakan.
Terlebih setelah dia melakukan kesalahan besar dalam hidupnya, “sudah ku katakan jangan pernah berani meninggikan suaramu padaku!” Bentak Nanang.
“Terus aku harus apa, selalu diam melihatmu menyakitiku, kamu tidak menafkahi ku aku diam, tapi berselingkuh kamu tak tau diri mas!” Jawab Sari marah.
Plak...
Sebuah tamparan di berikan pria itu, sedang sari merasa sudah tak bisa tahan lagi.
“Ceraikan aku mas, aku tak mau hidup dengan pria menyebalkan seperti mu!!” kata satinyang marah.
Apa yang di pilih Sari benar?
Atau keputusan ininakan di sesali keduanya?
Atau pilihan ini baik untuk mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kisah rahasia
setelah melakukan pembunuhan kejam itu, mang Ijong tiba-tiba membawa anak-anaknya pergi dari desa.
dan begitulah juragan Wawan kehilangan sosok panutan dalam dirinya, satu tahun dua tahun juragan Wawan muda memang terlihat harmonis dengan Wiwit.
tapi nyatanya pria itu tak pernah bahagia, terlebih Wiwit yang selalu memaksa dan meminta haknya jadi seorang istri.
tapi beruntung perekonomian juragan maju pesat dan usahanya mulai banyak, dan dia mendengar jika mang Ijong sudah meninggal dunia dan mencari putra dan putri mang Ijong.
Sari menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dia dengar, "lihat sepertinya kamu tak percaya dengan yang aku katakan,"
"bukan tak percaya mbak, tapi aku tak mengira kakek ku bisa melakukan itu, padahal ibu bilang jika kakek itu orang yang sangat baik," kata Sari yang masih tak percaya.
"itulah Sari, tak sepenuhnya orang yang kita lihat baik itu memang sempurna," kata Adelia yang hanya tersenyum.
tak terduga juragan Wawan datang dan kaget melihat satu sedang berada di rumah Adelia.
"wah lihatlah orang yang baru kita bahas datang, kamu kesini bukannya ini jadwal istri tua mu?" tanya Adelia melihat sosok pria itu.
"ah aku malas di sana, dan tak ku sangka ada sari disini, bagaimana kabarmu nduk?" tanya juragan Wawan yang memang nampak masih muda.
"Alhamdulillah baik pak, ah dari di sini memang lagi main," jawabnya sedikit cangung.
"sudah mas di sini dulu sama sari ya, biar aku buatkan minum, kalian ngobrol saja," kata Adelia yang pergi.
"baiklah, sama camilannya juga ya kalau bisa," kata juragan Wawan yang memang nampak begitu ceria.
"aduh satu jadi gak enak ini, jadi ganggu waktu ayah," gumam sari
"kenapa tak enak sih nduk, kita juga tetap keluarga, bagaimana keadaan mu, bagaimana luka yang di buat oleh Nanang,apa sepenuhnya sudah sembuh," tanya juragan Wawan yang kasihan melihat Sari.
"Alhamdulillah sudah ayah, tapi jika ayah terus disini apa ibu tak akan marah? Sari takut mbak Adelia yang akan teluka," tanya Sari.
juragan Wawan langsung menyandarkan kepalanya di sofa, "kamu memang benar nduk,ibumu pasti marah, terlebih aku memang lebih menyayangi Adelia karena dia adalah wanita pilihan ku sendiri," jawab pria itu.
"tenang saja sari, aku bukan wanita lemah yang akan takut saat di tantang, kalau masalah ibumu aku bisa melawannya," jawab Adelia dengan sombong.
"aku malah takut mtlihat mbak yang begitu, soalnya seperti air yang tenang, takutnya ibu memiliki rencana untuk menghancurkan mbak, terlebih telah membantuku untuk lepas dari mas Nanang,"
"tak usah khawatir nduk,jika bukan Adelia, ayah juga pasti akan memintamu untuk bercerai dengan Nanang," kata juragan Wawan yang menikmati kopinya
"Alhamdulillah kalau begitu, sekarang Sari pamit dulu ya, dan mbak Adelia serta ayah tolong nikmati waktunya," pamit Sari yang mencium tangan juragan Wawan.
Adelia mengantar Sari pergi,dan kemudian wanita itu menuju ke rumah Fendi untuk mengambil uang kue dan nasi bakar.
bahkan Sari berniat menjual tanah yang berada di sekitar rumah dari Fendi untuk di brlikan tanah di samping rumah orang tuanya.
"bagaimana mas, apa tanahnya sudah laku, karena orangnya sudah minta pembayaran?" tanya Sari sopan pada pria itu.
"belum bisa dek, nunggu bulan depan,jika kamu sangat perlu aku bisa memberikan separuh dulu," tanya Fendi.
"tidak perlu, sebenarnya aku juga punya tapi aku hanya malas ke bank saja, ya sudah biar nanti aku kasih dp dulu orangnya," kata Sari yang tersenyum lembut.
"ya Allah anak cantik ibu, dari tadi atau baru datang?" tanya Bu sami dengan ramah saat melihat sari.
"baru datang Bu, ibu satu mana?" tanyanya dengan suara yang ceria juga
"biasa,ada arisan di rumah Bu RW, tadi ibu ketemu ibu Wiwit,ya Allah nduk... ibu mu sekarang sepertinya sedang banyak pikiran ya, karena ibu lihat dia sedikit kurus dan murung," kata Bu Sumi.
"iya Bu, sebenarnya sari sudah tau dari beberapa tetangga di samping rumah, ibu sedih melihat Yuni yang sudah dua kali mencoba mengakhiri hidupnya, mas Fendi...." kata sari yang langsung di potong
"tidak, aku tak ingin menikahi gadis angkuh itu, karena aku akan menikahi wanita yang aku cintai," kata Fendi tegas.
"tapi sampai kapan mas melajang, ibu pasti juga ingin segera mengendong cucu dari mas," kata Sari mencoba membunuhnya.
"sampai kamu siap menikah dengan ku," jawab Fendi melihat Sari.
"kalau begitu kamu akan jadi bujangan tua, karena aku belum kepikiran untuk menikah," jawab Sari yang membuat Fendi terkejut.
"ibu tolong Carikan wanita yang bisa menjadi istri yang tepat untuk mas Fendi, karena saya tak ingin menikah, permisi," kata Sari yang langsung berpamitan pergi.
"tunggu Sari, kamu tak bisa melakukan ini padaku," kata Fendi dengan menahan tangan sari.
"maaf mas, tapi ini keputusan ku aku tak bisa berubah tangga lagi setelah semua yang tejadi, dan untuk mas, maaf mulai besok saya tak menitipkan kue lagi di sini dan terima kasih atas semuanya," kata Sari dengan sopan yang langsung pergi dari tempat itu.
Fendi pun tak mengira jika dia di buang bahkan tak di berikan kesempatan untuk menunjukkan keseriusannya.
Bu Sumi menenangkan putranya yang nampak syok itu, "bagaimana Bu, aoa salahku hingga dia membuang ku seperti ini?" tanya Fendi.
"kamu tak akan Fendi, hanya saja menjalin hubungan baru setelah kegagalan yang begitu menyakitkan, mungkin membuat nak Sari takut untuk melangkah maju dalam hidupnya," kata Bu Sumi memberikan pengertian.
"tapi aku hanya mencintainya dan tak mungkin aku bisa menikahi wanita lain Bu."
Bu Sumi hanya bisa memeluk putranya, bukan dia merasa senang melihat penderitaan dari putranya.
tapi yang sebenarnya dia memang kurang menyukai sosok Sari,bukan karena dia akan jadi janda di usia muda, melainkan karena sari berteman dengan Adelia yang baru dia ketahui adalah madu dari Bu Wiwit temannya.
Sari sampai di rumah, dan membawa semua kotak-kotak bekas risol dan kue lainnya.
karena dia sekarang hanya melayani pemesanan secara on-line, sebab dia mulai kelelahan dengan kegiatannya sendiri.
terlebih juragan Wawan sudah mengembalikan dia sawah yang dulu di pinjamkan oleh mang Ijong pada keluarga sari.
jadi sekarang dia akan fokus membantu orang tuanya mengelola sawah.
ya Sari tak ingin cuma berpangku tangan, dia juga tak ingin terus bersandar pada seseorang, terlebih dia terus akan menumbuk hutang Budi yang tak bisa dia balas dan Sari tak menyukai ini.
"mbak sedang memikirkan apa? kenapa sedih begitu?" tanya Tata.
"tidak ada apa-apa, sekarang kamu sedang di marahi atau sedang di hukum, karena ketahuan bolos kemarin," kata sari tersenyum meledek kearah adiknya itu.