Seorang pria dewasa dengan Depresi Pascatrauma. Ia selalu menolak perjodohan dengan berbagai alasan. Hingga suatu hari, sebuah berita buruk memaksanya untuk menikah.
Siapa yang akan Ia pilih?
Akan menyembuhkan, atau membuat Depresi itu semakin menjadi-jadi dan tak akan pernah sembuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayang kotak bekalnya.
"Hah? Jadi, bukan karena perhatian, tapi karna sayang kotak bekalnya? Astaga!" geram Nisa dalam hati.
Mereka berpisah, ketika Nisa telah tiba di tempat kerjanya. Abi pun memberikan tas itu kembali, dan masuk ke ruangan pribadinya.
Nisa menghela nafas. Bersiap untuk mendengarkan berondongan pertanyaan dari para rekan nya. Tapi yang paling Ia takutkan adalah, ketika justru Dita yang datang dengan wajah sinisnya.
"Kamu, kenapa bisa semobil sama Pak Abi? Terus, Pak Abi kenapa bawain tas kamu? Ada hubungan apa kalian? Apa diam-diam, kalian sudah saling kenal?" berbagai pertanyaan muncul, dan Nisa masih begitu takut untuk menjawabnya.
"Jawab Nisa, kenapa diem aja?" desak Febi. Dan Nisa tahu, jika Febi menyimpan rasa untuk Bosnya itu. Pastinya, Febi akan sangat kecewa dan sakit hati.
Suara langkah kaki terdengar datang. Langkah yang begitu anggun dengan hentakan yang sempurna. Di iringi satu langkah kaki lagi di belakangnya. Tampak begitu tergesa-gesa, menuju sebuah ruangan. Dan mereka, berhenti sejenak, tepat di ruangan Nisa bekerja.
"Selamat pagi, Pak Alex, Bu Dita." sapa semuanya.
Hanya Nisa, diam dan tampak begitu canggung. Apalagi, ketika Dita menajamkan pandangan tepat kearahnya. Jantungnya langsung bergetar dengan begitu kuat, hingga keringat dingin nya pun muncul dari sela dahinya.
Untung saja, hal itu tak berlangsung lama. Alex langsung menariknya masuk ke dalam ruangan itu. Tapi Nisa, semakin mendapat tatapan aneh dari yang lain.
"Kamu kenapa sih, Sa?" tanya Feby, sekali lagi.
"Maaf, aku belum bisa bicara. Tunggu Pak Abi saja," pintanya, membuat semua orang makin penasaran.
**
"Apa maksud ucapan mu, Bi?" tanya Alex. Mereka kini duduk bertiga, berhadapan, dalam suasana yang begitu tegang.
"Ya, seperti yang ku katakan, dan yang aku minta. Lakukan dengan baik, karena waktu kita tak banyak." jawab Abi, dengan tatapan yang tampak datar.
"Kau jangan main-main, Bi. Pernikahan bukan sebuah permainan. Kau tak mengenalnya, siapa dia, bagaimana, dari mana asalnya. Kau tak bisa memilih wanita sembarangan. Pendidikannya, dan segalanya." ucap Dita.
"Kenapa? Mama setuju, dan sudah mendukung kami. Ada masalah?" tanya Abi padanya. Dita seketika diam, menahan segala rasa sakit dan perih di hatinya.
"Alex, kau ambil semua data Nisa, dan urus pernikahan kami. Semua harus beres, dan sah secara agama dan negara." pinta Abi.
Alex hanya bisa mengangguk untuk saat ini. Ia tak berani menentang, karena di satu sisi Ia bahagia, ketika Abi memutuskan untuk menikah. Meski, begitu mendadak dan terkesan tergesa-gesa. Ia hanya bisa mendukung, sembari terus mengawasi keduanya.
"Dita, urus surat pengunduran diri Nisa. Dan setelah ini, kau juga harus menghormatinya, seperti ketika kau bersamaku."
"Aku tak janji. Kau tahu, aku tak pernah pandai untuk bersandiwara. Berpura-pura suka, dengan sesuatu yang ku benci." jawabnya ketus..
Abi hanya bisa menatapnya diam. Ia tak tahu, apa yang dimaksud Dita saat itu. Tidak tahu, atau memang tak peka. Bahkan, dengan kejamnya Abi meminta Dita memilihkan gaun pengantin untuk Nisa.
" Kau jahat, Bi!" sergahnya, lalu keluar dari ruangan itu, dengan wajah yang tampak sangat emosi.
"Dia kenapa?" tanya Abi pada Alex.
"Dia... Ehm, entah. Aku tak tahu. Aku pergi, begitu banyak urusanku." pamit Alex, lalu meninggalkan Abi diruangan nya.