Mala, jatuh cinta pada pria amnesia yang ditolong ayahnya. Mereka saling jatuh cinta dan menikah. Ketika ingatannya kembali, sang suami tidak pernah lagi pulang ke rumah Mala.
Penantian Mala berakhir dan dia memutuskan merantau ke kota. Dia bertemu dengan suaminya yang ternyata adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
Bagaimana Mala akan bersikap dan kesalahpahaman apa yang membuat sang suami tidak pernah kembali?
Bagaimana si kecil Gala ketika tanpa sengaja bertemu sang ayah?
Dapatkah sang suami mendapatkan cinta Mala kembali, dan bersaing dengan pria-pria yang mengejar Mala?
Jawabannya ada disini, yuk baca selengkapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eni pua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menginap
Mal UGMa datang ke rumah Dicko sepulang kerja. Mala sudah kangen dengan Gala dan celotehnya yang lucu. Rumah Dicko tampak sepi karena kata bibik mereka bertiga sedang pergi berbelanja untuk besok. Ternyata dia terlambat menyiapkan keperluan Gala.
Mala menunggu sambil menonton TV di ruang keluarga. Tubuhnya yang lelah sudah bekerja seharian direbahkannya di sofa panjang. Matanya mulai tak bisa menahan kantuk yang tiba-tiba datang menyerangnya. Mala tertidur hingga tidak menyadari Dicko, Gala dan Bu Sri sudah kembali.
"Ayah Dicko, Gala senang sekali. Mainan ini sangat bagus," kata Gala sambil berjalan disamping ayahnya.
"Yang penting anak ayah suka, lain kali kita beli mainan yang model lain," kata Dicko sambil tersenyum gembira.
Langkahnya terhenti ketika dia melihat Mala sedang tertidur di ruang keluarga.
"Ststst, ibumu sedang tidur, jangan berisik ya." kata Dicko pada Gala.
Gala hanya mengangguk dan mereka bertiga berjalan perlahan melewati Mala.
"Bawa masuk sama nenek ya? Ayah mau membawakan selimut untuk ibumu," kata Dicko pelan karena takut membuat Mala terbangun.
Gala mengikuti neneknya hingga ke dapur untuk meletakkan beberapa barang kebutuhan sehari-hari. Kemudian mereka menuju kamar Gala untuk mencoba mainan baru Gala.
Sementara Dicko mengambil selimut baru di kamarnya lalu diselimutkan ke tubuh Mala yang masih terlelap. Dicko duduk dilantai sambil memandangi wajah manis dihadapannya.Dia menghela nafas berat.
Dicko sadar, sulit baginya untuk masuk dalam hidup Mala sebagai Dicko. Dicko dan Gama mungkin orang yang sama, akan tetapi yang dicintai Mala adalah Gama bukan Dicko.Tapi bagaimanapun juga Dicko tidak patah semangat untuk mendekati Mala demi Gala dan juga dirinya sendiri.
Tak terasa hari sudah mulai malam. Mala masih tetap terbuai dalam mimpinya hingga melewatkan makan Malam.Hal itu membuat Gala bertanya pada ayahnya.
"Ayah, ibu belum makan."
"Iya Gala, tapi ibu masih tidur jadi biarkan saja. Nanti ibu kaget jika dibangunkan.Jika kamu ngantuk, minta sama nenek untuk temani Gala tidur ya? Biar ibu, ayah yang urus," kata Dicko setelah melihat Gala juga sangat lelah bermain seharian.
"Ayah, tolong jaga ibu. Gala masuk tidur dulu," pinta Gala.
Dicko mengangguk pelan untuk membuat Gala agar secepatnya pergi tidur. Dicko melihat kearah Mala yang masih tertidur lelap. Dicko menyandarkan kepalanya di dekat Mala. Saat mulai diselimuti rasa kantuk, Mala mulai terbangun karena perutnya terasa lapar.
Mala sangat kaget ketika melihat Dicko bersandar di dekatnya. Mala membangunkan Dicko karena takut jika dibiarkan tidur dengan posisi duduk akan membuat tubuhnya pegal-pegal jika bangun.
"Dicko, bangun," kata Mala sambil mengguncang bahu Dicko pelan.Akan tetapi Dicko hanya bergerak sebentar lalu balik tidur lagi.
"Hei, bangun."
Mala tidak menyerah, dia perlahan menepuk-nepuk bahu Dicko dengan kencang membuat Dicko langsung terbangun. Dia kaget dan Mala juga ikut kaget.
"Ada apa?!" tanya Dicko sambil melihat ke sekeliling dan berakhir dengan melihat kearah Mala yang tersenyum melihatnya.
"Mala, kenap kamu tertawa? Apa ada yang lucu?!" tanya Dicko.
"Tidak, tapi aku lapar, kata Mala sambil memegangi perutnya.
"Benar juga. Dari tadi sore kamu belum makan," kata Dicko.
"Dari tadi sore? Berarti sekarang udah malam?" tanya Mala kaget.
Rupanya Mala sudah ketiduran di rumah Dicko sejak sore tadi.
"Aku pulang aja deh," kata Mala sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Ayo, aku temani kamu makan dulu."
Mala menurut saja kata Dicko karena memang dia sudah lapar. Sementara di dapur sudah tersedia berbagai macam makanan kesukaan Mala. Mala duduk sambil menelan ludah melihat semua makanan itu.
"Aku panaskan dulu sebentar," kata Dicko.
"Kenapa nggak minta bibik saja?!" tanya Mala karena tidak yakin Dicko bisa memanaskan makanan itu.
"Kasihan bibik, dia pasti sudah tidur karena kecapekan sudah bekerja seharian. Aku bisa kok, nggak percaya?" tanya Dicko sambil tersenyum.
"Baiklah aku percaya saja," jawab Mala sambil bersandar di kursi.
Dicko mulai memanaskan semua makanan itu dengan lincah membuat Mala kagum dan tersenyum manis padanya. 'Seperti dalam drama saja. Dia terlihat penuh pesona.' kata Mala dalam hati.
"Tengteng, semua sudah siap dimakan. Silahkan tuan putri Mala mencoba masakan hamba," goda Dicko membuat Mala makin melebarkan senyumnya.
"Terimakasih, aku benar-benar lapar. Aku makan sekarang ya?!" kata Mala sambil mencoba ayam kremes yang menggoda selera.
"Tentu, semua makanan ini memang disediakan untuk kamu. Habiskan saja jika sanggup," kata Dicko sambil tersenyum.
Mala tidak membalas perkataan Dicko. Dia asyik mengisi perutnya yang kosong sambil merasakan nikmatnya ayam kremes kesukaannya. Jika sudah begini, siapapun tak bisa mengganggunya.
Dicko memandangi Mala yang sedang asyik makan dengan senyum yang tiada henti. Dicko senang melihat wanita yang dicintainya terlihat senang dengan apa yang dia siapkan.
Setelah kenyang, Mala masih berniat ingin pulang. Namun dia bingung, mau pulang naik sepeda tetapi takut karena jalanan pasti sangat sepi.
"Mala, tidurlah disini. Hanya tinggal beberapa jam saja menjelang pagi. Kau tidurlah di kamar Gala, dia pasti akan sangat senang sekali kamu tidur disampingnya," kata Dicko.
Mala terdiam sesaat sebelum menyetujui ucapan Dicko.
"Baiklah, malam ini aku akan tidur disini," kata Mala.
Malam yang hanya tinggal beberapa jam lagi, membuat Mala memutuskan untuk menginap di rumah Dicko.
***
Pagi yang cerah, udara yang terasa menyegarkan dan penuh harapan. Hari ini, mereka akan pergi ke taman bermain di pusat kota. Persiapan sudah dilakukan oleh Bu Sri untuk semua keperluan Gala. Mala membantu Gala mandi dan berganti pakaian.
Mala yang tidak sempat pulang ke tempat kostnya bingung karena dia tidak memiliki pakaian ganti untuk pergi jalan-jalan. Dicko menyadari kebingungan Mala kalau mendekatinya.
"Mala, aku antar kamu pulang ganti pakaian dulu biar cepat. Lagian pergi sekarang juga masih terlalu pagi," kata Dicko menawarkan diri.
"Boleh, kalau aku naik sepeda pasti kelamaan. Gala ikut tidak?" tanya Mala.
"Kayaknya enggak, dia lagi asyik bermain dengan mainan barunya. Tadi aku sudah tanya dia, katanya dia tidak ikut," jawab Dicko.
Dicko mengantar Mala dengan mobil agar mereka bisa cepat sampai ketempat kostnya Mala. Dan juga bisa segera balik kembali ke rumah Dicko.
Selama perjalanan, Mala tampak diam. Demikian juga dengan Dicko. Mereka tampak sangat canggung dan saling menjaga diri masing-masing karena takut melakukan kesalahan.
Sampai ditempat kostnya, Mala terkejut karena ternyata disana ada Bara yang sedang menunggunya. Bara juga kaget ketika melihat Mala pulang bersama Dicko. Bara dan Dicko saling berpandangan dan saling beradu kekuatan mata. Mereka bertarung dalam diam.
andra : Sakitnya mencintai sepupu ku,,
saat nya bu shella dan pak reno bahagia...
cepet halalin y pak reno... 😘
tiga kali apa ngga cape mala,,😁😁