NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Bos Dingin

Istri Rahasia Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Perjodohan
Popularitas:772
Nilai: 5
Nama Author: Ristika Rachma

Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.

Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Bisikan di Tengah Kabut

Angin laut menderu kencang seolah meratap pilu, mengguncang papan-papan dermaga tua yang sudah lapuk dimakan waktu dan ombak. Suara gesekan kayu yang saling berbenturan terdengar seperti jeritan yang tertahan di kerongkongan, menambah suasana mencekam yang menyelimuti tempat itu. Sosok bayangan raksasa yang muncul dari balik kabut tebal berdiri diam tak bergerak, namun keberadaannya saja sudah membuat udara di sekeliling kami terasa semakin berat, menekan dada hingga napas terasa sesak dan sulit ditarik.

Cahaya merah yang memancar dari rongga dadanya berdenyut teratur, seirama persis dengan tanda merah di pergelangan tangan Erlan dan kilatan samar yang masih tersisa di dalam dada Dimas yang kini berdiri kaku bagaikan patung tanpa nyawa. Erlan yang baru saja terhempas bangkit kembali dengan susah payah, darah menetes dari sudut bibirnya namun ia tak sekalipun menunduk atau mundur. Dengan langkah tegap meski sedikit terhuyung, ia menempatkan dirinya tepat di antara aku yang masih berada di dalam mobil dan sosok mengerikan itu, seolah tubuhnya adalah benteng terakhir yang sanggup ia dirikan demi melindungiku.

"Tinggalkan dia!" seru Erlan, suaranya lantang membelah deru angin meski sedikit bergetar menahan amarah dan kecemasan yang meluap. "Apa pun yang kau cari, kekuatan apa pun yang kau tuntut... jangan gunakan orang tak berdosa sebagai alat untuk mencapai tujuanmu! Jika kau menginginkan penebusan, maka hadapilah kami berdua, bukan korban lain yang tidak tahu apa-apa!"

Sosok bayangan itu perlahan bergerak mendekat, tidak melangkah dengan kaki, melainkan melayang perlahan seolah terseret arus udara yang ia kendalikan sendiri. Suaranya bergema membelah malam, terdengar seperti ribuan suara yang berbicara bersamaan, ada yang berat, ada yang melengking, ada yang dingin dan hampa.

"Tak ada yang tak berdosa dalam siklus yang kalian paksa berulang ini. Setiap orang yang berdiri di sini telah terikat oleh takdir yang kalian ubah secara paksa. Termasuk kalian yang dengan berani melintasi batas waktu hanya demi memuaskan keinginan hati yang lemah."

Tanpa aba-aba, tubuh Dimas tiba-tiba bergerak sendiri. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke arah langit yang kelabu. Kepingan batu hitam yang sedari tadi ia genggam melayang bebas ke udara, menyatu dengan seberkas cahaya merah pekat yang menancap lurus dari puncak bukit tua hingga membentuk jalur cahaya tebal yang menghubungkan langit, dermaga ini, dan bukit itu menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Di dalam jalur cahaya yang berputar perlahan itu, bayangan-bayangan masa lalu mulai bermunculan dan berputar liar: pertemuan pertama kami yang penuh kecurigaan, perjanjian nikah kontrak yang dingin, hari saat aku terbangun kembali dari kematian, hingga momen di puncak bukit saat kami berjanji untuk tidak berpisah walau dunia runtuh menimpa kami.

"Kau pikir kasih sayang yang kalian miliki cukup kuat untuk mengubah hukum alam yang sudah ada sejak awal penciptaan?" tanya suara itu kembali, kali ini menunjuk tepat ke arahku dengan jari bayangan yang panjang dan tajam. "Kaulah kuncinya, Dian. Kunci yang dua kali kalian putar melawan arah yang seharusnya. Dan setiap kali kau melakukannya, kau merenggut sebagian besar keseimbangan yang seharusnya abadi dan tak tergoyahkan. Sekarang saatnya kau mengembalikannya. Kembalikan apa yang bukan milikmu."

Erlan hendak menerjang maju, namun Dimas bergerak jauh lebih cepat. Dengan kecepatan dan tenaga yang tak mungkin dimiliki manusia biasa, ia mendahului pergerakan Erlan dan menamparnya keras hingga tubuh Erlan terpental ke samping menghantam tumpukan peti kayu tua. Darah segar menetes deras dari sudut bibir dan keningnya, namun matanya tetap tajam menatap sosok sahabatnya yang kini telah berubah menjadi musuh yang mengerikan.

"Dimas... tolong lawan!" seruku tak kuasa menahan tangis yang mulai memuncak membasahi pipi. "Kami tahu kau masih ada di sana! Ingatlah janji persahabatan kita! Ingatlah kebenaran yang kau temukan dengan susah payah! Jangan biarkan dirimu dikuasai kegelapan itu!"

Untuk sepersekian detik yang terasa begitu lama, tubuh Dimas bergetar hebat. Matanya yang tadinya merah pekat dan kosong kini berkedip berkali-kali, seolah di dalam sana sedang terjadi pertarungan dahsyat antara kesadaran aslinya dan kekuatan yang merasukinya. Mulutnya bergetar hebat, dan suaranya terdengar samar terbelah antara suara aslinya yang memohon dan suara entitas yang menguasainya: "Pergilah... selamatkan diri kalian... jangan biarkan dia mengambil... apa yang menjadi milik kalian..."

Namun perlawanan itu segera padam. Dimas kembali tertunduk diam, dan kali ini ia melangkah perlahan mendekat ke arah mobil tempatku berada. Setiap langkah kakinya yang berat terdengar seperti pukulan langsung ke jantungku. Di telapak tangannya kini terbentuk gumpalan asap hitam pekat yang perlahan memadat menjadi cahaya yang menyedot segala cahaya di sekitarnya, seolah siap menyeretku keluar dan menyerahkanku pada takdir yang mereka sebut sebagai "keseimbangan".

Melihat itu, aku tak sanggup lagi diam saja. Dengan berani aku membuka pintu mobil dan melangkah keluar menghadapi badai itu. "Cukup!" teriakku sekuat tenaga hingga suaraku serak. "Jika aku yang kau cari, maka datanglah padaku! Jangan sakiti orang-orang yang tidak bersalah hanya karena kesalahan yang kukira!"

Sosok bayangan itu perlahan menurunkan posisinya, seolah ingin berhadapan langsung denganku setinggi mata. Jalur cahaya di atas kepala kami semakin terang menyilaukan, dan di tengahnya perlahan terbentuk sebuah celah, sebuah pintu gerbang yang memancarkan cahaya putih dan merah bergantian, tempat di mana waktu tampak berhenti berputar dan segala ingatan seolah melayang bebas tanpa pemiliknya.

"Kau mengerti sekarang, bukan?" bisik suara itu tepat di telingaku, seolah ia berdiri tepat di sampingku meski jaraknya masih jauh. "Kemenangan yang kalian raih di puncak bukit dulu hanyalah penundaan sesaat. Keseimbangan tidak pernah benar-benar terpulihkan. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk menagih kembali hutang yang kalian buat. Dan penebusan yang diminta bukanlah sekadar nyawa... melainkan kesempatan terakhir untuk memilih lagi: mengulang siklus yang sama selamanya dalam penderitaan, atau membiarkan semuanya kembali seperti semula, tanpa pertemuan, tanpa cinta, tanpa rasa sakit yang lahir dari kasih sayang itu sendiri."

Tiba-tiba tubuh Dimas tersentak hebat sekali lagi. Ia menoleh ke arahku, dan untuk sekejap mata, tatapan matanya kembali jernih sepenuhnya. Dengan sisa tenaga terakhir yang berhasil ia kumpulkan, ia berteriak sekuat tenaga memecah mantra yang mengikatnya: "Jangan percaya dia! Pilihan itu palsu! Ada pilihan ketiga yang dia sembunyikan !"

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, seberkas cahaya merah menyambar tubuhnya dengan kekuatan dahsyat. Dimas terjatuh terkulai tak berdaya ke atas papan dermaga, dan cahaya merah yang tadinya melingkar di dadanya melayang pergi sepenuhnya, menyatu dengan tubuh sosok bayangan itu hingga wujudnya menjadi semakin kokoh dan mengerikan. Saat itu juga, gerbang cahaya di atas kami terbuka lebar, menarik angin kencang dan segala benda ringan di sekitarnya ke dalam pusaran yang tak berujung.

Erlan merangkak perlahan mendekat ke arahku, tangannya yang penuh darah berusaha meraih tanganku dengan gemetar. "Apa pun yang terjadi nanti... apa pun yang kau lihat atau kau dengar... jangan pernah lepaskan tanganku," bisiknya parau, matanya menatapku penuh janji yang tak terucapkan. "Kita hadapi ini bersama, seperti yang selalu kita lakukan sejak awal. Tidak ada yang berkorban sendirian."

Namun saat pandanganku kembali tertuju pada gerbang yang terbuka lebar itu, aku melihat sesuatu yang membuat darahku terasa membeku. Di sisi lain cahaya itu, aku melihat bayangan kehidupan yang seharusnya terjadi jika aku tidak pernah kembali dari kematian, kehidupan di mana aku tewas muda, Erlan menjalani hidupnya dalam kesepian dan dendam, dan Dimas tumbuh besar dalam kebencian yang salah arah. Namun di sisi lain bayangan itu, aku juga melihat masa depan kami yang lain, kami yang hidup bahagia, namun perlahan meluruh menjadi butiran debu yang tertiup angin tanpa sempat menua bersama.

Dan di tengah kekacauan pikiran itu, satu kalimat Dimas terus berputar tanpa henti: Pilihan itu palsu.

Jika kedua jalan yang ditawarkan sama-sama menyakitkan, sama-sama merenggut separuh jiwa kami... lalu di mana letak kebenarannya? Dan mengapa entitas yang mengaku sebagai penjaga keseimbangan justru terlihat begitu ingin memisahkan kami dengan cara apa pun?

Saat tarikan dari gerbang itu semakin kuat mendekap kami, aku menyadari satu hal yang mengerikan: selama ini kami mengira sedang melawan ambisi manusia dan hukum alam yang keras. Namun ternyata... mungkinkah kami justru sedang dipermainkan oleh kebohongan yang disusun sedemikian rupa agar kami menyerah sendiri? Dan jika pilihan itu memang palsu, apakah kami berani mengambil jalan yang tidak disiapkan untuk kami? Atau kami akan hancur sebelum sempat menemukan jawabannya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!