NovelToon NovelToon
I'M Pregnant

I'M Pregnant

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Balas Dendam / Badboy / Tamat
Popularitas:153k
Nilai: 4.8
Nama Author: Lee Junhee

Bagaimana jadinya kalau kau yang menjadi pelampiasan dendam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lee Junhee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sadar tempo lalu

Carissa dan Rizal sedang berbelanja bahan bulanan di sebuah minimarket. Rizal yang bertugas mendorong troli sesekali menguap lebar. Ia lelah dan masih mengantuk, tetapi Carissa memaksanya untuk ikut. Kekasihnya itu tidak akan berhenti berteriak di telinganya sampai ia bersiap ditemani.

"Apa Rayhan sudah menghubungimu lagi?" tanya Carissa seraya memasukkan margarin, saus tomat, serta beberapa pack spageti.

"Dua hari ini belum. Kenapa?"

"Aku mengkhawatirkan mereka aku takut Lisa masih menolak Rayhan."

Rizal mengelus puncak kepala Carissa, kemudian mengecup keningnya. "Jangan khawatir, percaya pada Rayhan. Aku yakin dia bisa meluluhkan hati Lisa. Kalau begitu, apa kau bisa mendorong troli ini ke kasir? Aku ingin mencari kopi kalengan. Mataku benar-benar mengantuk."

Carissa mengangguk.

Rizal beranjak meninggalkan Carissa, lalu mencari lemari pendingin yang menyediakan kopi dingin. Jika pria itu tidak meminum kopi, mungkin ia akan tetap mengantuk saat nanti menyetir mobil. Tadi Carissa telah menyetir saat ke sini, dan tidak mungkin saat pulang nanti wanita itu bersedia menyetir lagi.

Tepat ketika Rizal akan membuka lemari pendingin yang telah ditemukannya, tangan lain juga menggapai gagang lemari pendingin tersebut. Pria itu menoleh dan mengerjap melihat orang di sampingnya.

"Oh, Rizal!"

"Yitian?"

***

Rizal, Carissa, dan Yitian duduk saling berhadapan. Rizal masih menyimpan kekesalan pada pria yang duduk tenang di hadapan mereka saat ini. Namun,Carissa bersikeras mengajak Yitian sarapan bersama. Ia juga mempunyai beberapa hal untuk ditanyakan.

"Jadi, kau selalu mengunjunginya di sana? Apa keadaannya baik-baik saja?" tanya Carissa. Ia bertanya perihal Lisa.

Yitian mengangguk. "Lisa baik-baik saja, Rissa. Maafkan aku karena tidak memberitahu kalian. Aku tidak ingin mengingkari janjiku pada Lisa. Ia sangat membenci Rayhan saat itu."

Rizal mendelik. “Lisa tidak membenci Rayhan. Ia hanya memberi Rayhan pelajaran!"

Sadar nada Rizal agak meninggi, Carissa menyikutnya. Kemudian, ia tersenyum kaku pada Yitian. "Maaf."

"Tidak apa-apa, Rissa. Lagi pula aku tadi mengatakan saat itu, bukan saat ini. Aku bisa melihatnya sendiri," ujar Yitian seraya menahan senyuman.

Carissa dan Yitian mengernyit.

"Apa maksudmu, Tian?" tanya Carissa.

"Saat ini Lisa telah jatuh cinta pada Rayhan. Terakhir aku ke sana, aku bertemu dengan Rayhan. Aku sempat berkelahi dengannya dan Lisa menolak menjauh dariku. Rayhan pun pergi. Di sanalah aku melihat Lisa telah jatuh cinta pada Rayhan. Aku tidak ingin sok tahu, tetapi aku bisa merasakan kalau sebenarnya Lisa tidak ingin melihat Rayhan pergi lagi meninggalkan kehidupannya. Aku cukup tahu diri jika Lisa tidak pernah membalas cintaku karena yang sebenarnya yang ada di hatinya adalah Rayhan. Dia hanya menolak menyadarinya karena Rayhan telah banyak membuatnya menderita."

Baik Rizal maupun Carissa termenung mendengar ucapan Yitian. Pria itu benar. Tidak mungkin Lisa terus-terusan membenci Rayhan sebab pria itu sudah bersungguh-sungguh merubah sifat jahatnya. Lagi pula yang paling terpenting, Rayhan adalah ayah dari anak yang dikandung Lisa.

"Aku ingin meminta maaf kepada Kalian. Karena aku tidak pernah membuka mulut, kalian mencari Lisa dengan susah payah. Sekarang takdir telah mempertemukan Rayhan dan Lisa kembali. Aku ikut berdoa untuk kebahagiaan mereka," tambah Yitian lagi.

Carissa tersenyum sangat tulus kemudian menepuk-nepuk tangan Yitian dengan gaya bersahabat.

"Aku sangat-sangat berterima kasih, Tian. Kami juga meminta maaf padamu."

***

Linda menggantikan Rayhan untuk menemani Lisa di kamar rawat, sementara Rayhan  mengurus biaya administrasi rumah sakit. Lisa sudah diperbolehkan pulang sore ini. Dokter memberitahu kepada Rayhan agar lebih ekstra perhatian terhadap kesehatan Lisa.

Tentu saja pria itu bersedia.

"Kak, aku langsung ke sini setelah Rayhan mengirimiku pesan kemarin. Maaf, aku tidak ada di sampingmu saat itu terjadi,” ujar Linda dengan wajah memelas.

Lisa tersenyum kecil seraya mengacak-acak rambut Linda.

"Tidak apa-apa, Linda. Kau tidak harus selalu di sampingku. Lagi pula kita tidak tahu kapan musibah itu akan terjadi."

Linda menarik tangan Lisa kemudian menggenggamnya hangat. Lisa hanya bisa tersenyum pada gadis itu.

"Lega sekali rasanya bisa melihatmu dengan Rayhan tidak bertentangan kali ini.  Jika dilihat dari pandanganku, Rayhan memang telah menyesali perbuatannya padamu dulu, Kak. Dia memperlakukanmu dengan tulus."

Komentar Linda membuat Lisa terdiam. Kali ini ia setuju dengan gadis itu. Rayhan  memang berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, bayangan masa lalu di saat Rayhan menyiksanya terus menghantui ketika ia berusaha mulai membuka hati pada pria itu. Hingga Lisa berpikir, apakah yang terjadi sekarang pada Rayhan hanyalah sekedar mimpi indahnya atau bukan.

"Kak, maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu berpikir," ujar Linda yang menyadari perubahan raut muka Lisa.

"Ah, tidak apa-apa Lin. Aku tidak memikirkan hal itu saat ini," sangkal Lisa.

Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Rayhan masuk dengan senyum semringah di wajahnya. Lisa sengaja membuang pandangannya, tidak ingin terpesona oleh wajah yang tersenyum bagaikan malaikat itu.

Linda berdiri dari duduknya dan menunggu Rayhan mendekati mereka. "Apakah sudah selesai, Rayhan?"

"Sudah, Linda. Terima kasih sudah menjaga Lisa," ucap Rayhan seraya sedikit membungkuk.  Linda segera melambai-lambaikan tangannya.

"Ah, tidak perlu berterima kasih. Lagi pula kau hanya pergi sebentar. Jadi, sudah boleh pulang sekarang? Kebetulan aku menyetir sendiri ke sini."

***

Semua karyawan yang berdiri di koridor menuju ruangan presiden direktur di Andira Group membungkuk rendah selagi seorang wanita berjalan di tengah-tengah mereka. Wanita itu siapa lagi kalau bukan Rana.

Sejak kematian Aksa Andira, Rayhan yang mengambil alih jabatan ayahnya dan posisi Rana hanya sebagai pemegang saham kedua terbesar di sana. Kini Rayhan telah lebih dari satu bulan meninggalkan tugasnya kepada wakil direktur perusahaan tersebut yaitu Rian, yang tidak lain adalah orang kepercayaan ayahnya. Selain itu masih ada sekretaris Daniah yang membantu Rian.

Kedua orang itu heran melihat Rana memasuki ruangan yang biasanya ditempati Rayhan. Lantas mereka segera menyusul Rana, ingin tahu apa maksud wanita itu. Rian dan Daniah  tahu persis bagaimana hubungan Rana dengan atasan mereka.

"Selamat pagi, Nyonya Andira!" ucap Rian dan Daniah serentak.

Rana hanya mengangguk angkuh, kemudian mengitari meja Rayhan. Sejenak, kedua kaki tangan Rayhan saling melempar pandangan. Wanita itu datang secara tidak resmi dan sepertinya tanpa seizin Rayhan. Mereka tahu, jika Rana bukanlah pemegang saham di sana, Rayhan pasti sudah memasukkan namanya ke daftar blacklist perusahaannya.

"Aku dengar perusahaan ini hampir pailit, benarkah?" tanya Rana tanpa basa-basi.

Mendengar itu Rian mendengkus.

"Anda salah, Nyonya. Justru sebaliknya, perusahaan ini berhasil aku selamatkan dua minggu lalu. Kami telah menandatangani kontrak selama satu tahun bersama perusahaan minyak terkemuka di Saudi Arabia. Tuan Rayhan memang belum mengetahuinya karena kami menghormati privasinya."

Daniah menyunggingkan senyuman ketika melihat ekspresi terkejut Rana. Perusahaan ini memang hampir jatuh jika saja perusahaan minyak yang dimaksud Rian tidak menandatangani kontrak kerja mereka, dan sepertinya hal itu telah mengecewakan Rana.

Rana berdeham, kemudian berusaha bersikap tenang, wanita itu duduk di kursi Rayhan, lalu tersenyum-senyum sendiri.

"Oh, baguslah kalau begitu. Sebenarnya aku menyayangkan hal itu tidak diberitahukan padaku. Sebab aku adalah pemegang saham di perusahaan ini, dan mungkin kalian lupa kalau aku masih berstatus istri mendiang Tuan Andira," ujar Rana.

"Maafkan saya. Lain kali kami akan memberitahu Anda. Lagi pula kami yakin kalau Anda pasti senang dengan kabar baik ini.”

Rana tersenyum sinis. “Maksud kedatanganku kemari ingin menggantikan Rayhan untuk sementara waktu. Urusan pribadinya telah menyita banyak waktunya. ‘Kan lebih baik kalau aku yang mengurus.”

Rian dan Daniah terperanjat. Rana, wanita yang sangat dibenci Rayhan akan duduk sementara di kursi presdir? Itu tidak boleh terjadi.

"Maafkan kami, Nyonya. Akan tetapi hal ini harus menurut persetujuan Tuan Rayhan." Daniah angkat bicara.

Rana mendengkus, "Kalian tidak tahu posisi kalian apa? Hanya bawahan! Aku adalah ibunya, istri dari ayahnya. Tentu saja aku mempunyai hak untuk berada di sini."

"Tapi, Nyonya--”

"Aku juga mempunyai hak untuk memberhentikan pekerja. Apa kalian mengerti? Jadi, tutup mulut kalian dan biarkan aku bekerja dengan tenang!"

***

"Apa? Rana  mengambil alih pekerjaanku?!" seru Rayhan tertahan. Ia hampir saja membanting ponsel yang sedang digenggamnya itu. Namun, sepertinya pembicaraan dengan Rian lebih penting daripada membanting ponsel.

“Iya. Tuan Muda. Apa Anda bisa secepatnya kembali ke sini? Kami takut Rana tidak benar mengurus perusahaan ini.”

Rayhan pun bimbang. Tidak mungkin ia kembali sekarang sebab kondisi Lisa tidak terlalu sehat. Wanita itu sering mengeluh sakit saat malam tiba. Terkadang tubuhnya panas atau kakinya mengalami kram. Pria itu benar-benar tidak bisa meninggalkan Lisa, kecuali wanita itu bersedia ikut dengannya ke Jakarta.

"Rian, aku akan menghubungimu lagi nanti. Aku akan berusaha kembali ke Jakarta. Akan tetapi jika tidak, aku minta padamu dan para staf lain untuk mengawasi Rana."

Rian menghela napas. “Baiklah, saya mengerti. Selamat malam, Tuan Muda.”

"Terima kasih."

Rayhan termenung seraya memutar-mutar ponsel di tangannya. Malam ini, pria itu  mendapatkan dua kabar sekaligus. Kabar baiknya adalah Rian berhasil menyelamatkan perusahaan mereka dari ancaman bangkrut, dan kedua Rana mengambil alih pekerjaannya.

Sebenarnya apa maksud wanita itu? Rayhan yakin Rana ingin menyalahgunakan kekuasaan.

"Rayhan!"

Rayhan tersentak mendengar rintihan dari kamar Lisa. Pria itu segera berlari ke dalam sana. Sudah satu minggu sejak Lisa pulang dari rumah sakit, Rayhan menginap di rumah wanita itu. Meskipun Lisa telah mengusirnya, tetapi pria itu bersikeras untuk tetap tidur di kursi ruang tengah. Ia takut terjadi apa-apa di malam hari pada Lisa. Nah benar saja, wanita itu selalu mengeluh sakit perut atau kram di malam hari. Sungguh keras kepala, pikir Rayhan.

Sampai di dalam kamar, Rayhan melihat Lisa sedang meringis kesakitan sambil bersandar pada kepala ranjang. Kedua kakinya ditekuk lebih tinggi, tetapi tampak kaku. Rayhan tahu, pasti Lisa mengalami kram kaki lagi. Ini sudah kedua kalinya. Tanpa berkata apa-apa, pria itu berlari ke dapur untuk mengambil air hangat serta handuk kecil.

Lisa merasakan perutnya menegang, membuat napasnya sedikit sesak. Belum lagi kakinya yang kaku tiba-tiba. Ia menggigit bibir bawahnya ketika mencoba menggerakkan kakinya. “Ugh.” Lisa mengeluh lagi.

"Aku datang!" seru Rayhan saat memasuki kamar Lisa. Ia meletakkan satu ember air hangat dekat ranjang lalu duduk di samping Lisa.

Rayhan merangkul Lisa, kemudian meluruskan tubuhnya pelan-pelan. Terang saja wanita itu sering kram, tubuhnya semakin berat.

"Kau bisa duduk tegak? Kalau begitu, masukan kakimu ke dalam ember,” perintah Rayhan  lembut. Ia membantu memasukkan kedua kaki Lisa ke dalam air hangat. Wanita itu meringis lagi, kehangatan air itu membuatnya terkejut. Rayhan duduk di lantai kemudian dengan perlahan memijat betis Lisa satu persatu.

Melihat keadaan Lisa yang seperti ini mustahil bagi Rayhan untuk meninggalkannya sendiri. Baginya, kesehatan Lisa adalah yang utama. Ia *******-***** lembut kaki Lisa yang sedikit membengkak saat ini. Kakinya begitu halus dan putih, membuat tangan pria itu ingin berlama-lama di sana.

Lisa memperhatikan Rayhan dari atas. Pijatan pria itu membuat kakinya semakin nyaman.

"Sudah lebih baik?" tanya Rayhan. ia mendongak tiba-tiba sehingga Lisa tidak sempat mengalihkan tatapannya. Mau tidak mau wanita itu mengangguk.

"Su-sudah."

Rayhan tersenyum. Entah mengapa Lisa tidak dapat mengalihkan pandangannya dari tatapan teduh pria itu. Ia terhanyut sekaligus tersesat di sana. Cintanya kepada Rayhan mulai tumbuh. Sebenarnya ia tidak tahu kapan rasa cinta itu tercipta di hatinya. Selama ini, ia tetap bersikeras untuk membenci pria itu karena telah menghancurkan hidupnya. Namun, ada satu hal yang terlewati oleh perasaan peka Lisa.

"Lisa?" panggil Rayhan.

"Hm?"

"Jangan menyuruhku pergi darimu lagi. Aku benar-benar tidak sanggup melakukannya."

Lisa tertegun. Wanita itu melihat ada kesungguhan di mata Rayhan ketika mengucapkan hal itu. Matanya berkaca-kaca, terlihat sangat rapuh baginya.

"Aku akan melakukan apa saja asalkan tetap berada di sisimu, di sisi anakku. Aku tidak akan membiarkan kalian kesulitan sedikit pun. Aku harus menjadi seorang ayah yang sigap untuk anakku dan ... dan seorang kekasih yang mendampingi wanita yang dicintainya. Aku mohon, biarkan aku tetap di sisimu,” ungkap Rayhan lagi.

Lisa menelan ludah. Tidak ada kalimat yang bisa dikatakannya. Sekali lagi, pria itu telah membuat pertahanannya runtuh. Ia mulai meyakini hatinya bahwa yang dirasakannya sekarang bukanlah benci.

"Kau boleh berada di dekatku asal kau tahu batasan-batasanmu, Rayhan."

"Terima kasih, Lisa."

Lisa merasa kakinya sudah terasa normal seperti semula. Ia mengisyaratkan agar Rayhan menyudahi pijatannya.

Rayhan membantu Lisa berbaring dan mengeringkan kakinya dengan handuk, kemudian meletakkan bantal tinggi di bawah kaki Lisa.

Lisa tidak lepas memandangi ketelatenan Rayhan dalam mengurusnya. Ia menyembunyikan senyuman saat pria itu mengambil krim penghangat di dalam lemari obat.

"Kau pasti ingin mengolesi perutku lagi seperti tempo hari. Tidak mau!" seru Lisa. Rayhan berhenti di tempat dengan sebotol krim penghangat di tangannya.

"Kau tahu dari mana? Aku berpikir kau tertidur," goda Rayhan, lalu duduk di tepi ranjang.

Wajah Lisa memerah.

Saat perutnya kram beberapa hari yang lalu, Rayhan mengolesi perutnya dengan krim penghangat ketika ia tidak sanggup membuka mata. Saat itu, Lisa tidak tidur. Ia sadar kalau pria itu sedang mengusap-usap perut buncitnya. Yang membuatnya malu pada diri sendiri, Lisa tidak menolak sama sekali, ia bahkan menikmatinya. Rayhan menyangka Lisa tidur, tetapi kenyataannya wanita itu justru menikmati skinship mereka.

"A-aku memang tidak sepenuhnya tidur. Sebenarnya aku ingin melarangmu, tetapi saat itu kepalaku pusing sekali!" sanggah Lisa.

Rayhan menaikkan sebelah alisnya. “Benarkah? Lalu, apakah sekarang kau ingin aku melakukannya lagi?"

Sebuah bantal melayang ke kepala Rayhan.

"Enak saja. Biar aku yang mengolesinya sendiri. Sekarang keluar dari kamarku!"

***

Tok, tok, tok.

Rizal mendongak dari dokumen yang dibacanya, ketika pintu ruang kerjanya diketuk dari luar. Sejurus kemudian, pintu itu terbuka tanpa menunggu komando darinya terlebih dahulu. Bukan sekretarisnya ternyata, melainkan David. Pria itu tersenyum lebar padanya.

"Selamat sore, Zal!"

"Ternyata kau, masuklah!" sahut Rizal.

David menutup pintu di belakangnya, kemudian menghampiri meja Rizal. Rizal langsung menyambut David dengan pelukan hangat. Akhir-akhir ini mereka jarang sekali berkumpul sebab David tidak pernah lepas dari istri serta buah hati mereka yang baru berusia dua bulan. Rizal bisa melihat aura kebahagiaan dari wajah tampan sahabatnya. Tanpa disadarinya, ia pun membayangkan bagaimana wajah Rayhan saat anaknya lahir kelak. Pria itu terkekeh sendiri.

"Kenapa? Apa yang membuatmu tertawa? Apa ada sesuatu yang lucu?" tanya David dengan kening berkerut.

Mereka duduk di sofa yang berada di dalam ruangan itu. Rizal menghentikan kekehannya, yang tertinggal hanyalah senyuman manis yang tulus.

"Tidak. Aku cuma membayangkan bagaimana ekspresi Rayhan ketika anaknya lahir nanti. Tampang bocah itu pasti sangat konyol," ungkap Rizal. Mendengar itu David ikut tersenyum.

"Kau benar, Zal. Ah, aku merindukannya. Apa semuanya berjalan lancar di sana?"

Rizal mengangkat bahu. “Tidak tahu. Terakhir Rayhan menghubungiku saat Lisa masuk rumah sakit karena pendarahan. Dia sangat keterlaluan karena memberitahu kalau Lisa baik-baik saja hanya lewat pesan singkat. Ah,  sepertinya dia tidak ingin diganggu. Hehe."

"Aku harap Lisa bersedia menerima Rayhan. Bagaimanapun, anak mereka membutuhkan seorang ayah. Jangan sampai seorang anak kecil yang tidak berdosa menanggung akibat buruk dari kelakuan ayahnya sendiri," ungkap David serius.

Rizal mendengkus, lalu tertawa pelan. "Astaga, dengarlah seorang ayah berbicara," ledek Rizal.

"Aku benar, bukan? Kau belum merasakan saja betapa bahagianya mempunyai malaikat kecil."

"Baiklah, aku percaya padamu. Kapan-kapan aku dan Carissa akan mengajak anakmu jalan-jalan. Bolehkah?"

"Tentu saja. Ah, berbicara tentang Carissa, kapan kalian akan menikah? Ayolah Zal, kalian saling mencintai. Sudah waktunya kalian menikah. Apalagi yang kalian tunggu? Apa masih menunggu Rayhan menyelesaikan masalahnya?"

Rizal tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan David. Ia memang ingin segera menjadikan Carissa istrinya, tetapi kesusahan Rayhan saat ini membuatnya ragu. Hatinya tidak tenang jika menikah, sementara Rayhan masih menderita karena penyesalannya.

"Aku akan menikah jika Rayhan telah berhasil membuat Lisa kembali padanya."

David mengangguk paham. Pria itu bangga akan rasa kesetiakawanan Rizal pada Rayhan. Ia berharap keduanya mendapatkan kebahagiaan yang sama seperti yang di alaminya saat ini.

"Kalian adalah sahabat-sahabatku yang hebat. Mari kita berdoa untuk si bocah tengik itu. Semoga dia berhasil menjadikan Lisa sebagai istrinya."

BERSAMBUNG ....

1
yuiwnye
semangat Han 💪🏼💪🏼🤪🤪
yuiwnye
tidur di pos keamanan
Khanza Safira
halo thor aku mampir, awal yang menarik untuk cerita nya
Shuhairi Nafsir
Liza bodoh mau ditungguin lagi apa. Pergi aje Dari rumah itu Dari diri mu disakiti. Biarkan Rayyan kapok dan menyesal diatas perbuatan nya
Agustina Kusuma Dewi
ending nya cukup bagus. begitulah realita bila tidak sesuai prediksi, jiwa akan terguncang tidak menerima kenyataan adanya.

tetaplah sesuai jalur Allah, pastinya kebahagian akan selalu menghampiri kita, sekalipun badai tozan menhpaskan n mengombang ambingkan jiwa.. tp pastinya Allah, memberikan reqard atas ujian yg telah kt jalani, baik d dunia n d akhirat, ada balasanya.

ttp semangat k.. storymu spt realita kt dunia, ini penuh dg fatamorgana bila kita tidaj kuat iman.

ttp bersyukur dg apa yg kt puny, jaga diri..
cha yo.. 😘😍😘😍😘😍😍😘😍😘😍
Agustina Kusuma Dewi
sahabatan yg baek baek
Agustina Kusuma Dewi
apa an k othor aminion..
wis ga paham, terlalu saintis, yg ku tau air ketuban.. krn q ngalami pas anak ke 2.wkkwkwkw🤣😂😆😅😄😃😁😁
Agustina Kusuma Dewi
aamiin
Agustina Kusuma Dewi
ademmmmm.. eh salah.. hangatnya hati ini.. 🙂🙂🙂🙂🙂
Agustina Kusuma Dewi
kau adalah bpk anak q.. ray..
Agustina Kusuma Dewi
awas lo.. ray.. bila hbs nih bucin akut.. lisa.. tinggalen jal.. ben kayak cacing kepanasan mosternya..
Agustina Kusuma Dewi
yang ada rasa cembokur akutt.. silahkan melampiaskan.. emang enak sok.. 😏😏😏😏
Agustina Kusuma Dewi
bala bantuan... maju.. ✋✋✋
Detrieni Gemar Putri
kahhhh.... ku kira Reyhan on lagi.... rupanya tidak 😂😂😂😂😂😂
reecka
payah iih,, Lisa lemah bgt!!
reecka
kasian lisaa
reecka
aq menangis dipart ini . kasian Lisa.. mudah2an si Rayhan dapet azab
Ronawati Bend
ahirnya happy anding terimakasih thor.... karyamu selalu ok.
Destiny
ceritanya mirip banget drama Thailand sawan biang
🔵♨ˢᶜ༄⃞⃟⚡ˢ⍣⃟ₛ as⏤͟͟͞R¢ᖱ'D⃤zc❖
ayo bos cari lisa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!