Candy seorang gadis lulusan SMK harus terjebak dalam sebuah pernikahan dengan seorang CEO muda, Ezza. Lambat laun tanpa disadari cinta mereka perlahan tumbuh sampai lahirlah putra mereka Daffin.
Tetapi restu dari Ibu Ezza tak kunjung didapat sampai ahirnya Candy dijebak ibu mertuanya dan Ezza mempercayai hal itu. Karena merasa sakit hati, Ezza pun menyetujui calon yang dipilihkan ibunya untuk menggantikan posisi Candy sebagai istrinya.
Delima hadir menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Ezza, tetapi ia hanya mengincar harta Ezza. Saat Ezza terjebak rekan bisnis hingga masuk penjara, Delima menjauh.
Saat itulah cinta mereka diuji. Candy yang berjuang demi keluarga besar Hadi Wijaya saat Ezza dipenjara. Ia pun yang memperjuangkan Ezza sampai ahirnya ia bisa keluar dari penjara.
Dengan segala ketulusan cinta Candy akankah mampu mengembalikan kasih sayang dari suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CANDY MULAI CURIGA
Di tengah jalan tak sengaja Candy melihat sate ayam. Entah kenapa hanya dengan melihatnya saja, air liurnya hampir menetes.
Ia pun berkali-kali menelan salivanya. Tak sengaja ekor mata dokter Richard sempat melihat hal tersebut, meski Candy sudah menutupinya.
Karena naluri dokternya sudah mode On, tanpa diminta pun dokter Richard menepikan mobilnya di sisi jalan, tepat di sebelah penjual sate.
"Loh dok, kok berhenti?" tanya Candy penasaran.
Padahal di dalam hatinya bersorak bahagia. Entah kenapa bayangan memakan satu porsi sate ayam plus bumbu kacang yang banyak begitu menggoda imannya.
GLEK! ...
"Maaf, aku lapar, jadi aku pengen makan sate sebentar boleh?"
"Eh, bo-boleh dok."
Wajah Candy pun tak bisa menutupi rasa kebahagaiannya. Ia begitu bahagia ketika rasa ngidamnya terpenuhi.
Dengan langkah bahagia, Candy melenggang menuju tukang sate tersebut dan memesan dua porsi sate ayam.
"Mang, pesen sate dua porsi ya, satu porsi bumbu kacangnya yang banyak ya mang, makasih."
Senyum Candy pun merekah sempurna ketika selesai memesan sate. Ia pun mendekati dokter Richard yang sudah memilih tempat duduk yang nyaman untuk mereka.
Deg ... Seketika rasa bersalah menghantui Candy.
Baginya ini adalah hal yang tabu, karena posisinya kini ia sudah bersuami dan sekarang ia malah makan malam bersama lelaki lain.
Wajah yang semula bahagia kini berganti sendu. Dokter Richard yang memang pada dasarnya mudah membaca ekspresi lawan bicaranya, sudah mengetahui jika Candy menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kamu kenapa? bukankah tadi bahagia, atau kamu keberatan menemaniku makan malam?"
Entah kenapa perkataan dokter Richard begitu mengena di hatinya. Tetapi Candy bingung harus mengatakan apa tentang hal itu.
Kegugupan tiba-tiba melandanya. Sedikit kain dari dressnya sudah ia remas-remas tidak karuan. Ingin tertawa tapi takut dosa, dokter Richard pun mengalihkan pandangannya dari Candy agar ia tidak menjadi gugup.
"Hmm, bu-bukan begitu dok. Hanya saja saya..."
"Syuttt ... tidak akan ada yang berprasangka buruk pada kita."
Belum sempat ia melanjutkan kata-katanya ibu pedagang sate sudah membawa nampan berisi dua porsi sate ayam plus nasi. Tak lupa dua gelas air putih hangat disana.
Mata Candy membola ketika melihat gelas itu berisi air putih bukannya air es teh seperti kesukaannya. Bibirnya pun mengerucut tanpa ia sadari.
"Beginikah kehidupan para dokter dan tenaga kesehatan, minum aja pake mikir, ya jelas lebih sehat air putih lah," batin Candy tidak terima.
"Ini pak, buk, satenya... silahkan dinikmati."
Setelah selesai bukannya pergi, ibu itu pakek bertanya berapa usia kandungan Candy.
"Eeh istrinya hamil berapa bulan pak?" tanya ibu itu kemudian.
"Hmm, tujuh bulan buk," jawab dokter Richard dengan tersenyum.
"Wah, bapak ibunya ganteng dan cantik, semoga kalau anaknya cowok ganteng kaya ayahnya dan kalau cewek juga cantik seperti ibunya."
"Aamiin..."
Sedangkan Candy merasa tidak nyaman dengan kondisi itu. Sampai ahirnya dokter Richard memberikan alasan yang masuk akal baginya dan sedikit menenangkan dirinya.
"Ma-maaf, jika aku memaksamu malam ini."
"Karena ke-egoisanku pula, kamu harus tertahan disini."
"Tidak apa-apa dokter, justru saya tidak enak hati pada dokter."
"Kenapa ...?"
"Karena saya, dokter dikira suami saya, sekali lagi saya minta maaf dok."
"Iya, saya juga minta maaf karena telah menjawab pertanyaan ibu itu tanpa persetujuan kamu."
"Iya dok, tidak apa-apa."
"Ya sudah, kita makan dulu, satenya gak enak kalau dingin."
"Eh iya ..." jawab Candy sedikit kikuk.
Candy pun mulai mengaduk sate dan bumbunya, lalu ia pun hampir menggigit daging sate tersebut langsung dari tusuk sate-nya.
"STOP ..."
"Permisi ..."
Gak ada angin gak ada hujan, dokter Richard pun mengambil satu tusuk sate tersebut dan mulai melepaskannya dari tusuknya. Lalu sesudahnya ia pun mengembalikan piring yang semua satenya sudah terlepas dari tusuknya.
Sedangkan Candy memandang heran apa yang dilakukan dokter Richard barusan.
"Maaf, kalau di daerah saya, wanita hamil tidak boleh makan sate langsung dari tusuknya, pamali."
"Kata orang tua saya, mereka harus melepaskan daging-dagingnya terlebih dahulu dan memisahkan dari tusuk satenya sebelum dimakan oleh wanita yang sedang hamil tersebut."
"Begitukah?"
"Iya, jadi saya minta maaf untuk hal itu."
"Oh, gak apa-apa dok, maaf saya gak tau," cicit Candy.
"Ya dah yuk makan, katanya pengen segera pulang."
"Iya dok."
Tak disangka begitu banyak perhatian yang diberikan dokter Richard untuk Candy. Sayangnya perhatian dan cintanya itu salah tempat. Harusnya dokter Richard mengubur perasaannya itu, tetapi nyatanya ia malah memupuknya agar semakin tumbuh subur.
"Oh ya dok, bolehkah saya bertanya?"
"Tanya saja Candy," ucap dokter Richard sambil memasukkan potongan daging itu ke dalam mulutnya.
"Kenapa dokter belum menikah?" tanya Candy dengan entengnya.
"Uhukkk ..."
Pertanyaan Candy barusan membuatnya kelabakan. Belum lagi ia baru saja memakan sate yang ada sambalnya hingga membuatnya tersedak.
"Uhukk ... uhuk ..."
Dokter Richard semakin terbatuk-batuk, hingga Candy segera menyodorkan air putih itu kepadanya. Setelah agak enakan, ia pun baru menjawabnya.
"Ehmm, itu anu ..."
"Kalau dokter tidak mau menjawabnya juga gak apa-apa kok dok, santai saja."
"Hhh ..." ahirnya ia pun bisa bernafas dengan sedikit lega.
Kalaupun ia harus menjawab, ia harus menjawab apa? Karena wanita pujaannya justru kini berada di hadapannya.
Setelah beberapa saat, mereka pun selesai makan malam. Lalu dokter Richard segera membayar semua tagihan mereka. Setelah itu mereka pun melanjutkan perjalanannya ke rumah.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
salam dari jodohku Cinta Pertamaku 🙏🙏🙏