Update setiap hari
Ketika pacarnya mengkhianatinya, cahaya kehidupan seolah musnah dalam kehidupan Anna. Untuk membalas dendam mantannya, gadis yang masih SMA itu rela mengorbankan diri menggantikan posisi Kakaknya yang menolak perjodohan ayahnya. Beberapa hari sebelum hari pengumuman kelulusan sekolah, Anna bahkan sudah menyandang status istri Allan, keturunan pengusaha sukses. Anna berpikir bahwa dia akan menemukan kebahagiaan dan dendamnya terbalaskan, namun ia tidak tahu rahasia yang suaminya simpan rapi. Anna butuh bukti akurat untuk memastikan bahwa kecurigaannya tentang suaminya adalah benar. Sayangnya tidak akan mungkin ada kata perceraian antara Anna dan Allan karena adanya kesepakatan hitam diatas putih sebelum pernikahan berlangsung, yang salah satunya menyatakan kalau Anna dilarang meminta cerai dari Allan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Cemas
“Maafin aku. Aku udah bikin acaramu kacau. Aku memang bodoh.” Air mata Anna kembali merembes deras. Rasa bersalah membuat air matanya tak henti mengalir. Ia benar-benar takut Alan akan marah.
“Ya sudahlah, semua udah terjadi.”
Jawaban itu membuat Anna mendongak, sontak mendapati mata gelap Alan yang tengah menatapnya.
“Kamu nggak marah?” tanya Anna sedikit girang.
“Kalaupun aku marah, itu nggak akan merubah keadaan. Tapi lain kali, kuminta jaga sikap.”
Anna mengesah. Baru sehari ia jalan bersama Alan, rasanya sudah bosan dituntut dengan segala kepura-puraan. Bagaimana jika seumur hidup? Akankah ia mampu bertahan? Anna lebih suka menjadi dirinya sendiri. Yang bebas menentukan sikap dan tingkah laku, bebas berekspresi, menjerit, tertawa dan melompat-lompat girang sesuka hati, tanpa harus menjaga image. Hidupnya pasti akan terasa sulit dan terkekang nantinya. Apakah Anna mundur saja dari perjodohan ini? Ah, tidak. Ayahnya akan menjadi taruhan jika ia mundur.
“Aku tadi malu-maluin, ya?” lirih Anna merasa menjadi orang paling bersalah di hidup Alan.
“Ya.”
Anna mendengus. “Tapi tadi kakiku kayak kena sesuatu sampe akhirnya jadi mau jatoh.”
“Jangan memanipulasi keadaan. Kenyataannya kamu tadi membuatku malu.”
“Maaf.” Anna mengingat-ingat peristiwa saat kakinya melangkah maju hendak meletakkan gelas, seperti ada sesuatu yang tersentuh kakinya, tapi sudahlah. Ia tidak mau memikirkannya lagi. Yang penting Alan tidak marah, itu sudah cukup menjadi penawar baginya.
“Ayo, kuantar kamu pulang. Ini udah hampir senja.” Alan berdiri.
“Ah, iya. Aku sampai lupa belum kasih tahu Kak Angel ataupun Ayah kalau hari ini aku telat pulang. Mereka pasti cemas. Ponselku ditinggal di tas, di dalam mobilmu. Pasti ada puluhan panggilan tak terjawab dari mereka karena mencemaskanku.” Anna mengikuti Alan berjalan menuju mobil. Cepat-cepat Anna membuka pintu saat Alan memencet remot mobil dari jarak agak jauh, ia masuk sebelum Alan sampai lebih dulu. Buru-buru ia mengambil ponsel di dalam tas dan melihat notifikasi.
“Nggak ada sms ataupun panggilan dari mereka.” Anna heran, baru kali ini Angel dan Herlambang tidak mengkhawatirkannya. Padahal sepulang sekolah ia tidak pulang ke rumah sampai hari hampir senja begini.
“Jangan cemaskan itu. Aku udah kabari Ayahmu,” tegas Alan yang sudah duduk di sisi Anna.
“Oh.”
***
“Ann, anak-anak pada heboh ngebahas topik baru, soal lo yang diajakin Alan jalan kemarin, loh,” ujar Arini antusias, matanya berbinar turut bahagia. “Lo ada hubungan apa sama Alan kok dia bisa sampe ngejemput lo ke sekolah? Sumpah kemarin itu so sweet banget. Ya ampuuun... Banyak yang ngiri, loh. Termasuk gue. Sejak kapan lo kenal sedekat itu sama Alan?”
Anna melipat tangan di dada. Haruskah ia bicara jujur pada Arini tentang hubungannya dengan Alan? Kalau sebenarnya Alan adalah calon suaminya? Ah, tabu sekali. Anak seusia mereka membicarakan persoalan nikah. Rasanya tidak wajar. Anna sendiri masih tidak yakin jika sebentar lagi ia akan melepas masa lajangnya dengan Alan, pria yang hidupnya penuh dengan aturan.
“Ann, ngomong, dong. Ada hubungan apa antara lo sama Alan? Gimana ceritanya lo bisa seakrab itu sama dia?” Arini mengejutkan Anna dengan senggolan tangannya.
“Rin, gue mau cerita sesuatu sama lo. Ini rahasia besar, dan cukup kita berdua doang yang tahu.”
“Rahasia besar? Apa?” Arini penasaran.
TBC