Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.
Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.
Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.
Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.
Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balas Dendam dalam Diam
Pagi itu, Raka bangun lebih awal dari biasanya. Ia sudah mandi dan berpakaian rapi, mengenakan kemeja biru muda dan celana bahan hitam. Tas kerjanya sudah siap di sofa, berisi laptop dan dokumen-dokumen penting untuk meeting hari ini.
Ia berjalan ke dapur, menyiapkan sarapan untuk Nadira, roti panggang dengan selai strawberry dan segelas susu hangat. Ia menata semuanya di meja makan dengan rapi, lalu berjalan menuju kamar.
Raka mengetuk pintu dengan pelan. "Dira, aku masuk ya."
Tidak ada jawaban. Seperti biasa.
Raka membuka pintu perlahan dan melihat Nadira sudah bangun, duduk di pinggir ranjang dengan tatapan kosong menatap jendela.
"Pagi," sapa Raka dengan senyuman yang sudah menjadi rutinitas meski jarang mendapat balasan.
Nadira tidak menoleh. Tidak menjawab.
Raka menarik napas pelan, lalu melangkah masuk dan berdiri tidak jauh dari ranjang.
"Aku... harus keluar kota hari ini. Ada meeting penting di Surabaya," ucap Raka dengan nada hati-hati. "Tapi aku nggak akan menginap. Aku akan pulang malam ini juga. Paling malam jam sepuluh aku sudah sampai rumah."
Nadira tetap diam, tetap menatap jendela dengan tatapan yang tidak bisa dibaca.
Raka menunggu beberapa detik, berharap ada respons, berharap Nadira akan menoleh, atau setidaknya mengangguk.
Tapi tidak ada.
Hanya keheningan.
Raka merasakan dadanya sesak... sesak yang sudah familiar, tapi tetap menyakitkan setiap kali ia merasakannya.
"Sarapan sudah aku siapkan di meja makan. Jangan lupa makan ya," lanjut Raka dengan suara yang sedikit bergetar. "Dan... kalau ada apa-apa, telepon aku. Aku akan langsung pulang."
Nadira tetap diam.
Raka berdiri di sana beberapa detik lebih lama, menatap punggung Nadira dengan tatapan penuh kerinduan.
Lalu tiba-tiba kenangan menyeruak... kenangan dari masa lalu, saat Nadira masih mencintainya dengan sepenuh hati.
---
Flashback: Dua Tahun Lalu
"Raka, kamu benar-benar harus pergi?" tanya Nadira dengan nada yang sedikit cemberut. Ia berdiri di depan pintu apartemen, tangan memegang ujung kaus Raka seperti anak kecil yang tidak mau ditinggal.
Raka memutar bola matanya. "Iya, Dira. Aku harus pergi. Ini pekerjaan. Bukan main-main."
"Tapi kamu baru pulang dua hari yang lalu. Sekarang pergi lagi," ucap Nadira dengan bibir yang mengerucut. "Aku kangen..."
"Kamu lebay banget sih," ucap Raka dengan nada jenuh. "Aku cuma pergi dua hari. Nggak sampai seminggu. Kamu nggak usah manja kayak gini."
Nadira terdiam, senyumannya sedikit memudar. Tapi ia tetap mencoba.
"Oke... tapi janji ya pulangnya bawain oleh-oleh. Aku mau kue kering yang enak-enak," ucapnya sambil tersenyum, senyuman yang dipaksakan tapi tetap hangat.
Raka hanya mengangguk sekenanya. "Iya, iya. Aku pergi dulu."
Lalu ia pergi tanpa pelukan, tanpa kecupan perpisahan, bahkan tanpa menoleh ke belakang.
Meninggalkan Nadira yang berdiri di pintu dengan senyuman yang perlahan memudar.
---
Kembali ke Saat Ini
Raka mengepalkan tangannya erat, sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Kenangan itu menyakitkan. Sangat menyakitkan.
Dulu, Nadira selalu perhatian. Nadira selalu tidak mau ditinggal. Nadira selalu bilang "aku kangen" dengan mata yang berbinar.
Dan apa yang Raka lakukan?
Ia menganggap Nadira lebay. Manja. Menyebalkan.
Ia tidak pernah menghargai perhatian itu. Tidak pernah menghargai cinta itu.
Dan sekarang... sekarang saat Raka yang merindukan perhatian itu, yang merindukan tatapan itu, yang merindukan kata-kata itu... semuanya sudah tidak ada lagi.
Nadira tidak peduli apakah Raka pergi atau pulang.
Nadira tidak peduli apakah Raka di sampingnya atau jauh.
Nadira... sudah tidak mencintainya lagi.
Raka merasakan matanya memanas. Tapi ia menahannya. Ia tidak boleh menangis di depan Nadira lagi.
"Aku pergi dulu, Dira," ucapnya dengan suara yang hampir berbisik. "Aku... aku akan kembali. Aku janji."
Lalu ia berbalik dan keluar dari kamar dengan langkah berat.
Ia mengambil tasnya, melirik ke arah kamar sekali lagi, berharap Nadira akan keluar dan memanggil namanya.
Tapi tidak ada.
Raka membuka pintu apartemen dan keluar, menutup pintu dengan pelan.
Dan di dalam hatinya, ia bersumpah... bersumpah dengan sepenuh jiwa.
"Aku tidak akan pernah menyerah, Nadira. Tidak akan. Aku akan mendapatkan cintamu kembali. Apapun yang terjadi."
Di dalam kamar, Nadira masih duduk di pinggir ranjang, menatap jendela dengan tatapan yang sama.
Ia mendengar suara pintu apartemen tertutup. Mendengar langkah kaki Raka yang menjauh. Mendengar suara lift yang terbuka dan tertutup.
Raka sudah pergi.
Nadira perlahan berdiri, berjalan menuju cermin besar di sudut kamar.
Ia berdiri di depan cermin itu, menatap pantulan dirinya sendiri.
Wajah yang pucat. Mata yang sembab. Tubuh yang kurus.
Lalu perlahan... sangat perlahan ekspresinya berubah.
Tatapan kosong yang tadi ia tunjukkan pada Raka menghilang.
Digantikan dengan tatapan yang penuh amarah.
Amarah yang sangat mendalam.
"Kamu pikir aku akan mudah memaafkanmu, Raka?" bisiknya pada pantulan dirinya sendiri, suaranya dingin, penuh kebencian.
Tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya.
"Kamu pikir dengan bersikap baik, dengan merawatku, dengan menangis di depanku... aku akan langsung memaafkanmu?" lanjutnya dengan nada yang semakin keras. "Kamu salah. Kamu sangat salah."
Matanya menatap tajam pada pantulan dirinya, seperti sedang berbicara pada Raka yang tidak ada di sana.
"Tahun-tahun hidupku terbuang sia-sia karenamu," ucapnya dengan suara bergetar karena amarah. "Tiga tahun aku mencintaimu. Tiga tahun aku menunggu. Tiga tahun aku berharap kamu akan menikahiku. Dan apa yang kamu lakukan? Kamu memperlakukanku seperti sampah. Seperti pelacur gratisan."
Air matanya mulai jatuh, tapi bukan air mata kesedihan. Air mata kemarahan.
"Dan sekarang... sekarang kamu mau aku memaafkanmu begitu saja?" Nadira tertawa dengan tawa yang getir, yang menyakitkan. "Tidak. Aku tidak akan semudah itu memaafkanmu."
Ia mengusap air matanya dengan kasar.
"Aku akan membuatmu merasakan apa yang aku rasakan," bisiknya dengan nada yang sangat dingin. "Aku akan membuatmu mengemis. Aku akan membuatmu merangkak. Aku akan membuatmu merasakan sakit yang sama seperti yang aku rasakan."
Tangannya menyentuh perutnya yang rata, perutnya yang dulu membuncit dengan kehidupan.
"Kamu membunuh anakku, Raka," bisiknya dengan suara yang pecah. "Kamu membunuh bayiku. Dan untuk itu... kamu harus membayar. Satu per satu. Aku akan menagih semua hutangmu."
Ia menatap pantulan dirinya dengan tatapan yang penuh tekad... tekad yang gelap, yang dingin.
"Dan aku tidak akan meninggalkanmu," lanjutnya dengan senyuman yang mengerikan, senyuman yang tidak ada kehangatan di dalamnya. "Karena meninggalkanmu itu terlalu mudah. Terlalu ringan. Aku akan tetap di sini. Di sampingmu. Membuatmu menderita setiap hari. Membuatmu merasakan bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak mencintaimu balik."
Nadira tertawa lagi, tawa yang menyeramkan, yang tidak seperti dirinya.
"Selamat datang di nerakamu, Raka," bisiknya dengan suara yang sangat pelan, tapi penuh dengan kebencian yang mendalam. "Neraka yang akan aku ciptakan untukmu. Dan aku akan memastikan kamu menderita di dalamnya. Selamanya."
Ia menatap pantulan dirinya beberapa detik lebih lama, lalu berbalik dan berjalan keluar dari kamar dengan langkah yang tenang.
Ekspresinya kembali berubah... kembali menjadi tatapan kosong, tatapan datar yang selalu ia tunjukkan pada Raka.
Topeng yang sempurna.
Topeng yang akan ia pakai setiap hari, untuk menyembunyikan kebenciannya, untuk menyembunyikan rencananya, untuk membuat Raka menderita perlahan tanpa ia sadari.
Nadira duduk di meja makan, menatap sarapan yang sudah Raka siapkan.
Roti panggang dengan selai strawberry. Susu hangat.
Ia mengambil roti itu, menggigitnya dengan pelan sambil tersenyum tipis.
Senyuman yang dingin.
Senyuman seorang wanita yang sudah kehilangan segalanya... dan sekarang hanya punya satu tujuan.
Balas dendam.
---
Di jalan menuju bandara, Raka duduk di kursi belakang taksi dengan tatapan kosong menatap keluar jendela.
Pikirannya melayang pada Nadira, pada wajahnya yang datar, pada keheningannya yang menyakitkan.
Tapi ia tidak tahu... ia tidak tahu bahwa di balik keheningan itu, ada kebencian yang sangat mendalam.
Ia tidak tahu bahwa Nadira tidak menutup diri karena sakit hati.
Nadira menutup diri karena ia sedang merencanakan sesuatu.
Sesuatu yang akan membuat Raka menderita... perlahan, menyakitkan, dan panjang.
Dan Raka... yang penuh penyesalan, yang penuh cinta, yang penuh harap tidak akan pernah tahu.
Sampai semuanya terlambat.