Vixura Auristella Xavier adalah seorang putri konglomerat yang pintar di segala bidang, ia ditembak mati sang adik tiri yang selama hidup begitu disayanginya, serta mempunyai kekasih yang sangat ia cintai, tapi nyatanya keduanya begitu tega berkhianat demi bisa merebut kekayaannya.
Sedangkan, Quirin Zeline Alister adalah seorang gadis cantik yang diusir keluar rumah oleh ayah kandungnya sendiri demi membela sang adik yang berbeda ibu, hingga ia menyerah dalam hidup dan meninggalkan semua beban dunia dengan cara melompat dari gedung.
Sungguh tidak disangka, setelah terbangun jiwa Xura sudah berada didalam tubuh Quirin yang sedang terbaring lemah dirumah sakit.
Hari demi hari, satu persatu rahasia mulai terungkap, bahkan di tubuh yang sedang di tempatnya terdapat sesuatu yang mengerikan.
Akankah Xura mampu bertahan menjalani kehidupan Quirin dan membalaskan dendam mereka berdua?, ataukah Xura justru menyerah dengan banyaknya masalah yang tengah menimpanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aozyrin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemulihan
Malam itu, pancaran sinar rembulan dan pemandangan langit yang dihiasi taburan bintang terlihat sangat menawan dari kaca sebuah mobil yang sedang melaju
Suasana mobil yang berisikan orang-orang dingin itu, terlihat begitu hening, seakan semua orang telah terlelap akibat keheningan malam
Hal itu bisa terjadi karena orang yang biasanya sangat aktif berbicara, sedang berdiam diri sambil menatap gedung-gedung yang di lewatinya
AC mobil yang membuat suasana semakin dingin, kini mulai membuat semua orang gerah dan canggung
Vano mengemudikan mobil itu dengan kecepatan standar, ia ditemani Xia yang duduk di bangku depan, sedangkan Zee dan Quirin berada di kursi belakang pengemudi
Vano cukup santai ketika mengemudi dalam keadaan kesal, namun ia masih membuat wajah yang sangat masam, sedangkan Xia, terus memasang ekspresi wajah cemberut sepanjang perjalanan
Xia membuka kaca mobil dan melihat keluar, ia langsung meletakkan lengannya pada pintu mobil untuk menumpu dagunya, ia berusaha menghilangkan kekesalannya dengan menghela nafas beberapa kali
"Bukankah anginnya terlalu kencang?, tutup saja jendelanya, nanti kau bisa masuk angin" ucap Vano mencoba memulai pembicaraan dengan terus fokus melihat kedepan
"Hmm" jawab Xia tanpa menoleh, ia tidak berniat menjawab
"Disini sudah dingin, untuk apa membuka kaca lebar-lebar?" tanya Vano yang masih menatap lurus kedepan
"Sshhtt... jangan berisik, sahabatku sedang tidur!" ucap Xia ketus sambil memutar kepalanya sebentar untuk melihat Quirin lalu kembali melihat keluar dengan bersandar di bangku
"Setidaknya naikkan sedikit kacanya, jangan terlalu lebar" ucap Vano sedikit kesal menoleh sebentar kearah Xia
"Biarkan saja, jangan bertingkah seolah kau khawatir!" jawab Xia ketus dengan melirik pergelangan tangannya dan terus menatap keluar, ia membiarkan angin menerpa kulit dan rambutnya yang tergerai
"Ck, terserah... kalau kau sakit, jangan sampai merepotkan nona nanti"
"Diamlah!, aku tidak ingin bicara denganmu!, lagipula aku bisa mengurus diriku sendiri!"
"Haa... berhenti bersikap kekanak-kanakan, siapa tau suatu hari nanti, kau justru akan merepotkanku udang kecil"
Xia menatap tajam kearah Vano, lalu memutar kepalanya melihat keluar jendela tanpa menjawab ucapan Vano
Setelah 30 menit berlalu, Vano mulai kehilangan kesadarannya dan tanpa sengaja menginjak rem, mobil pun berhenti
Hal itu membuat Xia yang baru saja tertidur, mengerjabkan matanya karena tersentak, begitu pula dengan Zee yang sedari tadi berkutat dengan leptopnya
"Hey, hati-hati!" ucap Zee dingin menatap tajam Vano, sambil memegang dahi Quirin yang hampir terbentur bangku depan
"Maaf tuan muda" ucap Vano, ia mengusap matanya lalu meminum air putih yang terdapat di dalam mobil sebelum lanjut mengemudi
Zee kembali sibuk dengan leptopnya, sedangkan Vano berusaha tetap fokus, namun lama-kelamaan pandangannya mulai kabur, ia kemudian melihat ke arah Xia yang sedang tertidur, lalu mengguncang bahu Xia beberapa kali
"Hmm... ada apa?" tanya Xia setengah sadar sambil mengucek matanya
"Tolong tutup kacanya, kau membuatku mengantuk" ucap Vano yang terlihat menguap beberapa kali
"Tidak akan, dan kau... jangan coba-coba menutupnya" ucap Xia pada Vano setelah sepenuhnya sadar
Vano terdiam, suasana mulai hening kembali, hanya suara ketikan keyboard milik Zee yang terdengar dan suara kantuk Vano yang pelan
"Berhenti!" perintah Xia tiba-tiba
Vano pun menghentikan mobilnya "Ada apa?" tanya Vano
"Butuh toilet" ucap Xia singkat lalu keluar dari mobil dan berjalan ke caffe yang mereka lewati sedikit
7 menit berlalu, Xia kembali dengan membawa 1 paper bag, dan bergegas masuk ke mobil
"Ambillah" ucap Xia dengan menyodorkan 1 cup kopi kepada Vano, Vano sempat terpaku sejenak
"Tidak suka?" tanya Xia
"Terima kasih" ucap Vano, ia meraih kopi itu, namun tidak langsung meminumnya
"Ada apa?, kalau kau tidak suka buang saja!" ucap Xia kesal melihat Vano tidak langsung meminum pemberiannya
"Bukan, Em.. Tuan muda..."
"Tenang... aku juga membelikan satu untuknya" ucap Xia lalu memberikan 1 cup lagi kepada Zee, Zee juga hanya mengambil kopi itu, namun tidak meminumnya
"Kalian membuatku tersinggung, apa karena harganya?" tanya Xia sedih
"Bukan itu, aku tidak pernah makan atau minum di dalam mobil karena tuan muda melarangku" ucap Vano yang melirik Zee
"Apa?, cepat minum atau biarkan aku membuangnya" ucap Xia dengan suara ditinggikan hingga membuat Quirin terbangun
"Xia, kenapa lagi?, suaramu terlalu besar" ucap Quirin yang masih setengah sadar
"Quirin, akhirnya kau bangun... tidak ada apa-apa, aku baru saja membelikanmu jus, minumlah heheh" ucap Xia dengan tawa liciknya
Tanpa pikir panjang, Quirin mengambil jus itu dan langsung meminumnya, Zee pun menghentikan jarinya dan menatap ke arah Xia
"Nah, Quirin sudah meminumnya, sekarang giliran kita, yeyy" ucap Xia lalu meminum jusnya dengan santai
"Kau juga harus minum, jangan hanya diam" ucap Xia sambil memaksa memasukkan pipet ke mulut Vano
"Ck" decak Zee kesal melihat mereka meminum di dalam mobil miliknya
"Xia, kau tidak membelikan satu untuknya?" tanya Quirin melirik sebentar ke arah Zee karena tidak tau kejadian sebenarnya
"Sudah... tapi dia tidak meminumnya, coba kau bujuk heheh" ucap Xia terkekeh kecil sambil menikmati minumannya
"Minumlah, jarang-jarang dia berbuat baik" ucap Quirin pada Zee
"Quirin, kau... haa sudahlah, berkatmu kami bisa minum" ucap Xia sedikit kesal lalu mentralkan kekesalannya mengingat mereka semua bisa minum, semua berkat Quirin
"Maksudmu?" tanya Quirin heran
"Apa aku perlu memberitahunya?" tanya Xia pada Zee sambil menaikkan alisnya beberapa kali dengan senyum jail
"Ck" decak Zee lalu menyeruput sedikit kopi dan kembali mengetik
Setelah Vano selesai menghabiskan minumannya, ia mulai melajukan kembali mobilnya, kemudian menaikkan sedikit kaca mobil, namun Xia kali ini tidak protes, ia sibuk dengan minumannya
Zee yang sedang berkutat dengan laptop terkejut ketika kepala Quirin jatuh di bahunya, ia menatap wajah Quirin yang kembali tertidur pulas, ia tersenyum tipis lalu menyimpan laptopnya dan seketika ikut tertidur
Xia pun kembali tertidur setelah selesai meminum jusnya, Vano yang merasakan keheningan, melihat kesamping, ia terpana melihat kecantikan dan keimutan Xia saat tidur, lalu ia menutup kaca sepenuhnya
"Aku akan membuatmu menyukaiku dengan sendirinya" gumam Vano, ia menghentikan mobilnya sebentar, lalu menyelimuti tubuh Xia dengan jaz nya, dan kembali melajukan mobil
Vano kemudian melihat kaca, Zee dan Quirin sudah tertidur pulas "Semoga kebahagian tuan muda adalah berdiri di samping nona" gumam Vano lagi
****
Xura yang sudah pulih, di bawa pulang ke kediaman Alpha
Xura terkesan saat melihat kediaman itu, karena lebih besar dari kediamannya, ia merasa sangat takjub, bahkan di dalam mobil, Xura terus memandang dengan wajah kagum sambil tersenyum, ia membuat Alpha terheran-heran
"Ayo turun" ucap Alpha yang sudah keluar mobil, lalu membukakan pintu untuk Xura
Xura keluar dari mobil, ia melihat rumah yang sangat besar dan luas itu seperti istana, bahkan rumah itu di penuhi dengan bunga mawar yang sangat banyak, ia semakin tersenyum lebar karena menyukai suasana disana
"Wow, tempat ini indah sekali" gumam Xura
Alpha yang mendengar gumaman Xura hanya tersenyum
Pelayan yang menyambut di luar gerbang sangat terkejut melihat wanita yang keluar dari mobil Alpha, sangat mirip dengan mantan istri Alpha yang sudah meninggal
"Selamat datang tuan muda dan nyonya muda" ucap semua pelayan yang menyambut di depan pintu kediaman Alpha
"Terimakasih" ucap Xura sopan dan membungkuk sambil berjalan kedalam ruangan
lagi-lagi para pelayan sangat terkejut, kata-kata itu sangat mirip dengan mantan nyonya mereka
"Sangat mirip" gumam ketua pelayan
Alpha yang berjalan di depan Xura juga tidak menyangka, keramah tamahan Xura juga bisa sangat mirip
"Di dunia bisnis dia sangat dikenal dengan sifat yang dingin, mengapa dalam waktu satu bulan bisa berubah" batin Alpha yang tetap berjalan kedepan tanpa menoleh kebelakang
"Ada yang ingin aku bicarakan, tapi sebaiknya kita bicarakan di kamarmu saja" ucap Alpha yang menaiki anak tangga yang berputar, diikuti oleh Xura yang melihat kanan dan kiri
"Ini kamarmu" ucap Alpha, ia menunjukkan kamar dengan pintu berwarna coklat mempunyai gagang berwarna emas dan terkesan sangat elegan
Pintu dibuka Alpha dan memperlihatkan nuansa classic namun terlihat sangat nyaman untuk orang yang menyukai warna coklat dan putih
"Wahhh, sangat menakjubkan, terimakasih" ucap Xura yang terlihat sangat senang lalu duduk di tempat tidurnya
Alpha masuk kedalam kamar lalu duduk di sofa bulat berbulu berwarna cream yang berada dekat dengan tempat tidur Xura
"Perusahaanku meminjamkan modal kepada Xavier Corp" ucap Alpha secara langsung dengan wajah yang serius
Xura yang melihat-lihat menghentikan senyumnya lalu menatap Alpha dengan intens
Bersambung...
Para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak 👇
✓ Favorite
✓ Like
✓ Vote
✓ Gift
✓ Comment
✓ Rate
Author sangat berterimakasih 🙏