Aku masih menunggu..
Saat dimana Tuhan mengaitkan jemariku dan jemarimu
Menjadi sebuah genggaman dalam keridhoan
Meski sangat sakit bagiku, aku harus menerima perjodohan yang tak pernah sekalipun terbayangkan dalam pikiranku.
Perjodohan yang di setujui kedua orang tuaku dan orang tuanya, namun tidak dengan kami. Aku dan dia yang tidak saling mencintai.
Perjodohan yang memisahkan antara aku dan cintaku, juga antara dia dan cintanya.
Yang akhirnya membawa kami ke sebuah persekongkolan. Kami berdua sangat berharap, persekongkolan ini akan membuahkan hasil.
Hasil yang akhirnya bisa kembali kepada cinta kami masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri syachid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemunya Adi dan Rio
Adi berjalan mengantar pulang gadis yang telah merampok habis toples nastar di rumahnya.
Cowok itu menyapa ramah Bima di halaman rumahnya. Nampak laki-laki yang usianya sebaya dengan Tejo itu tengah memanaskan mobilnya yang akan ia gunakan untuk pergi bekerja.
"Pagi Om, mau dibantuin nggak Om, ngelap mobilnya?" sapa Adi berjalan mendekati Bima kemudian mencium punggung tangan laki-laki itu.
"Ah, ndak usah. Kamu Adi, kan. Tinggi banget kamu sekarang, Di. Ganteng lho, nggak kalah sama Om," celoteh Bima yang membuat anak perempuannya merasa mual.
"Bisa aja si Om. Hari Minggu tetep kerja nih, Om?" lanjut Adi basa-basi.
"Om ada janji mau ketemu pelanggan lama."
"Iya deh, Om. Semoga lancar urusannya," jawab Adi disertai doa.
"Aamiin. Itu kamu bawa apa, Di, kayaknya berat?" tanya Bima melihat Adi yang menenteng tas kain berwarna pink di tangannya.
"Oh, ini kue buatan Mama. Buat Indy, Om."
"Ndy, udah bilang makasih belum sama Adi?" ujar Bima.
"Udah kok, Pak," jawab gadis itu malas.
"Gue masuk duluan deh, lo kayaknya mau ngobrol dulu sama Bapak gue," imbuhnya lagi.
"Ajak Adi masuk ke rumah, Ndy. Dia sudah repot-repot bawa kue untuk kamu. Masa kamu tinggalin dia sama Bapak, ndak sopan kamu," cercah Bima pada anak gadisnya.
"Hmm, yuk, masuk."
"Adi permisi ya, Om," pamitnya pada Bima.
Bima mengangguk dan tersenyum pada cowok yang tingginya sudah melebihi pucuk kepalanya.
"Assalamualaikum," ucap Indy saat masuk rumah yang kebetulan pintunya terbuka lebar.
"Wa'alaikumsalam," jawab dua orang anak manusia yang sedang duduk santai di depan TV.
"Di, duduk dulu gih. Gue mau panggil Mama."
Tanpa menunggu Adi benar-benar duduk di ruang tamu, gadis itu melesat cepat ke dalam rumahnya. Mencari sosok Mama yang pasti tengah berada di dapur.
Namun langkahnya harus berhenti paksa saat ia sampai di ruang TV. Raka mencegatnya dengan pertanyaan.
"Adi ke sini?" tanya cowok itu penasaran.
"Iya. Kenapa?"
"Mampus lo. Rio lagi ke sini,"
"Emang kenapa?" tanya gadis itu.
"Rio apa nggak cembokur lihat Adi?" sergah Raka.
"Cemburu kenapa? Gue nggak ada apa-apa sama mereka berdua, santai aja lo."
"Wah, lo nggak paham sih. Iya nggak, Bang?" lanjut Raka meminta pendapat Inu.
"Terserah Indy aja. Abang nggak ikut campur," jawab Inu nampak santai sebagai kakak pertama.
"Tuh, denger!" ucap gadis itu lalu meninggalkan kedua kakaknya.
Sekembalinya ia bersama dengan mamanya, Indy tidak lagi mendapati kedua kakaknya ada di ruang TV. Kemana perginya dua cowok itu?
Memasuki ruang tengah, suara gaduh mulai terdengar dan semakin jelas saat langkahnya mendekati ruang tamu.
Rio sudah duduk bersama Inu, dan Adi duduk satu deret dengan Raka. Ada dua kubu cowok ganteng di ruang tamu, dan Indy memilih duduk berdiri di samping mamanya yang duduk di single sofa.
"Kok bisa pada ngumpul begini, kebetulan atau sudah janjian?" tanya Rini yang melihat Rio juga Adi ada di rumahnya.
"Kebetulan, Tante," jawab Adi.
"Emangnya lo kenal, itu siapa?" tanya Indy pada Adi.
"Tadi udah kenalan," jawabnya lagi.
"Adi kapan pulang? Tante jarang lihat kamu di rumah, padahal tante suka ke rumah kamu buat minta pendapat Mama kamu soal kue yang Tante bikin," curhat Rini singkat.
"Kemarin sore, Te. Ini Adi juga bawa kue bikinan Mama, buat Tante."
"Bukannya itu kue buat gue?" sahut Indy.
"Buat Mama lo juga lah," tebas Adi.
"Terima kasih, repot-repot aja kamu, Di," ucap Rini.
"Sama-sama, Te."
"Rio kapan sampai?" tanya Rini bergantian.
"Barusan, Tante," jawab Rio.
"Ya sudah. Kalian silahkan ngobrol di sini, Tante siapin minum buat kalian, ya."
"Oke, Ma," jawab Indy dengan semangat dan langsung mengisi sofa yang di tinggalkan Rini.
"Lo nggak mandi dulu? Badan lo udah bau ****** gitu masih pede aja duduk di antara cowok ganteng," hina Raka pada adiknya.
"Bodo amat. Sini kue nastarnya, Di. Katanya buat gue, tapi lo kekepin aja," protesnya lalu merebut tas kain pink yang di pangku Adi sedari tadi.
"Adek lo, Bang. Mulutnya nggak sesuai visualnya," keluh Adi.
"Nggak usah heran, lo kan pawangnya dulu," imbuh Raka.
"Pawang?" tanya Rio tiba-tiba.
"Iya. Indy sama Adi kan kembar sial," timpa Raka lagi yang membuat mata adiknya melotot hampir keluar bijinya.
"Kalian sahabatan dari kecil?" tanya Rio lagi menggali informasi.
"Ya gitu deh," jawab Adi membuat Rio semakin penasaran.
"Tapi cuma sampe SD. Selebihnya nggak tau deh, nggak kenal lagi," sambung Indy.
"Kok, bisa?" lanjut Rio.
"Adi nerusin sekolahnya di kota. Sementara gue di sini-sini aja," jelas gadis itu yang mendapat anggukan dari Adi sebagai tanda pembenaran.
"Oh, lo sekolah di kota. Gue juga, sekarang lo di SMA mana?" tanya Rio berbalik pada Adi.
"SMA DIRGANTARA," jawab cowok itu singkat.
"Dirgantara terkenal sama kapten basketnya yang cool dan ganteng. Lo tau siapa dia?" lanjut Rio.
"Gue."
Indy yang tengah sibuk mengunyah sontak tersedak kue nastar yang ada di dalam mulutnya karena terkejut dengan jawaban Adi.
"Eh, Ndy, lo kenapa? Minum-minum," perintah Rio panik.
Sementara Adi tetap santai dan tidak bereaksi apapun melihat Indy yang terbatuk-batuk.
Beruntung Rini sudah mendaratkan sirup jeruk dingin di atas meja untuk menjamu tamu-tamunya. Gadis itu masih bisa mengulur nafasnya setelah menenggak habis segelas sirup jeruk miliknya.
"Hahaha," tawanya setelah terlepas dari maut.
"Lo, kapten basket? Hahaha," sambungnya lagi meledek Adi.
"Nggak percaya ya udah," jawab Adi santai.
"Asal lo tau, gue populer di sekolah. Banyak cewek-cewek pada ngejar-ngejar gue, bukan malah ngetawain gue kayak lo," ujar Adi.
"Gue yakin, cewek-cewek itu ngejar lo karena belom tahu aja, dulunya lo suka gigitin kaos dalem sampe basah kena jigong lo," sahut Indy lagi.
"Gue denger lo masih jomblo aja, Ndy. Gue yakin, itu karena lo dulu udah pernah mandi bareng gue. Jadi, cowok-cowok pada insecure sama gue, kan?" timpal Adi lagi yang membuat Indy semakin geram.
"Mulut lo kalo ngomong! Itu masih kecil, ya. Kita masih lima tahun," jawabnya geram.
"Mampus lo, Ndy. Gue nggak ikutan. Yok, Bang, masuk kamar aja. Udah mulai tercium bau-bau perang dunia," ajak Raka pada Inu yang kemudian keduanya meninggalkan ruang tamu.
Adi tertawa geli melihat Indy yang memasukkan kue nastar ke mulutnya dengan sewot.
"Lo nggak usah dengerin tuh cowok gila. Nanti lo ikutan gila kayak dia," kata Indy pada Rio yang sedari tadi hanya menyaksikan.
"Mandi dulu deh, Ndy," kata Rio.
"Iya, nanti."
"Lo pulang deh sana, rumah gue mendadak jadi kayak oven gara-gara lo di sini," usir Indy pada Adi yang langsung mendapat respon cepat.
"Bro, gue balik duluan. Udah di usir sama yang punya rumah. Lo baik-baik di sini, gue doain dari rumah biar lo bisa pulang dengan selamat," pungkasnya disertai candaan pada Rio.
Adi pergi tanpa pamit pada Rini dan kedua abang Indy. Cowok itu dengan mudah terusir begitu saja oleh Indy. Kini hanya ada Rio di ruang tamu. Gadis nakal itu tengah meninggalkannya untuk mandi.
#seperti sampah
#my husband is a Gay
mendukung terimakasih
Yey season 2 !!