Bagaimana jika tujuan yang harusnya sudah kamu tetapkan nyatanya harus berubah? Ya tentu saja bisa karena tujuan bukan berarti takdir, itu tidak bisa kita rubah.
Dan bagaimana jika takdir itu membawa kamu pada kehidupan kamu yang sebelumnya? Kehidupan yang ingin kamu tinggalkan, karena kamu merasa tak pantas dalam kehidupan seperti itu.
Tetapi nyatanya nasib baik selalu tetap milikmu. Seberapapun kamu merasa kurang pantas, tetapi takdir memang memantaskan kamu untuk itu.
Felisha Claire yang ingin membuang keberuntungan hidupnya namun terus saja mendapatkan keberuntungan yang lebih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Strawberry Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suka
Deg
Pandangan mata mereka saling bertemu dengan jarak yang semakin terkikis. Bentuk wajah sempurna idaman para wanita dengan rahang tegasnya tertangkap jelas oleh pandangan Feli. Pandangan yang mampu memperlihatkan sisi misterius dan juga aura menawan, dengan bulu mata lentik dan bentuk mata yang sedikit lebar mampu menyihir Alther untuk terus menatapnya.
Jantung Feli serasa berdebar semakin kencang, aroma wewangian yang di dapat dari iris, musk mallow dan pear seketika juga ikut tercium jelas di indra penciumannya. Wangi yang satu ini memang diciptakan untuk memberikan sedikit efek menenangkan bagi orang sekitar yang menciumnya.
"Uyyy jangan lama-lama kayak gitu, keasyikan deh," ucap Nata sedikit berteriak seketika menyadarkan dua manusia itu dari keterpesonaan yang sempat terlintas.
"Sorry," ucap Alther sembari menarik tangannya dari pinggang ramping milik Feli.
"Ehm, ehm ya terimakasih," ucap Feli salah tingkah dan langsung memposisikan diri dengan baik agar keseimbangan tubuhnya terjaga.
"Ada apa?" tanya Feli kemudian setelah berhasil membawa kembali kesadarannya yang sempat terhipnotis dengan aroma ketenangan dan tentunya ketampanan Alther yang tidak bisa dia pungkiri.
"Hanya ingin membantumu," ucap Alther tersenyum.
"Tidak perlu, ini bahkan sudah selesai,"
"Hmm begitu, kalau begitu ayo ikut bergabung dan sarapan dengan kami,"
"Ceh kalimatmu seperti kau yang tuan rumah dan aku yang datang untung menumpang sarapan," ucap Feli pelan tetapi masih bisa ditangkap oleh indra pendengaran Alther yang hanya membuatnya terkekeh pelan.
Feli berjalan ke meja makan dimana Mark dan Nata sudah selesai dengan sarapan mereka.
"Aku sarapan nanti saja," ucap Feli setelah selesai menyiapkan sarapan untuk Dea dan Daniel.
"Ya sebaiknya begitu," Nata menyetujui.
"Sebaiknya kau mandi dulu sekarang, karena semua orang disini sudah wangi dan rapih," ucap Nata cuek sembari mengarahkan pandangan matanya ke arah Dea dan Daniel yang juga sudah rapih dengan outfit masing-masing.
"Astagahhh, aku bahkan belum mandi, kanapa bisa lupa," Feli langsung berjalan cepat ke arah kamarnya mengabaikan perkataan Nata yang sudah menyadarkan dirinya kalau dia masih menggunakan piyama tidur dengan rambut diikat sedikit acak.
"Hahahaha dia pasti sedang malu sekarang," ucap Nata masih dengan tawanya memandang Feli yang baru saja menutup pintu kamarnya.
Alther hanya menatap dengan tetap tersenyum, entahlah mungkin senyumannya itu memang susah hilang dari raut wajah tampannya.
"Berhentilah tertawa nona, apa kau sendiri sudah mandi?"
"Tentu saja!" Nata menjawab dengan sewot pertanyaan Mark.
"Tidak terlihat seperti itu," ucap Mark sembari berjalan ke arah sofa meninggalkan Nata yang tercengang mendengar penuturan Mark.
"Dasar menyebalkan!" Nata mengumpat kesal tidak terima.
"Ntar jodoh loh," ucap Dea.
"Ogahhh, kamu ajah De," sungut Nata.
"Maaf aku udah punya," ucap Dea melirik Daniel.
Semalam mereka memang sudah menceritakan hubungan mereka setelah sebelumnya takut dan berjaga-jaga kalau Nata dan Feli tidak akan setuju dengan itu, tetapi ternyata mereka sangat mendukung. Feli juga sudah menceritakan semua yang dia lakukan di Swiss kepada sahabatnya, menepati janjinya pada Nata untuk bercerita. Jadilah tadi malam ada kebahagiaan dan juga kesedihan yang bisa mereka bagikan setelah sekian lama tidak berbagi cerita.
Sebenarnya masih banyak yang perlu mereka bagikan, kisah kehidupan mereka selama beberapa tahun terakhir setelah lulus sekolah menengah atas dan berpisah untuk pendidikan selanjutnya. Tetapi satu malam rasanya tidak akan cukup untuk itu semua.
**
"Yang benar saja, memalukan! Mereka sudah begitu rapih aahhhhh.." ucap Feli sembari menyiapkan pakaian yang akan dia pakai.
"Huhhhh Nata bahkan tidak mengingatkanku kalau aku masih dengan pakaian ini,"
'Setidaknya tidak masalah dengan pakaian tetapi aroma tubuhku bagaimana," Feli terus menggerutu sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
"Kau tetap terlihat cantik dengan apapun itu," suara dari pintu yang sedikit terbuka membuat mata Feli seketika melolot.
"Apa yang kau lakukan disana?"
"Tidak ada, tadi aku hanya akan lewat sebelum mendengar gerutuan-gerutuan dari kamar ini," ucap Alther yang masih berdiri didepan kamar Feli dengan santai.
"Dan kenapa masih disini!" Ucap Feli sembari menutup pintu dengan keras menudian menguncinya.
"Oh iyaa, aku suka aroma tubuhmu, tidak ada yang salah dengan itu," Alther masih berucap dari depan pintu kamar dan Feli dapat menangkap kekehan ringan diluar sana.
"Astagahh beberapa hari ini aku rasa tekanan darahku akan naik," Feli segera bergegas ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dengan wajah yang memerah entah karena marah atau tersipu.
...🍓🍓🍓🍓🍓...
mau minta THR udah telat ya..💃💃
met mlm ka bery sehat selalu dan makin sukses..cepetan up donggg kangen ma bang Althernya😘😘😘😘
Yuk mampir di novel perdanaku
" 100 hari pertama menjadi janda"
Kisah novel yang diadaptasi dari pengalaman pribadi. Perjuangan mempertahankan kewarasan dari cengkraman kesulitan ekonomi pasca diceraikan oleh suami. mendapatkan tekanan mental dari keluarga mantan dan masyarakat.
100 hari pertama harus dilalui seorang janda agar ia dapat benar-benar bangkit menjadi pribadi yang baru dan siap menjalani hari berikutnya.
Ikuti kisahnya ya🤗 jangan lupa like dan comment untuk mendukung penulis❤️ terimakasih