NovelToon NovelToon
ISTRI BERCADAR MAFIA

ISTRI BERCADAR MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

ISTRI BERCADAR MAFIA

​Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
​Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.

​Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.

​Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.

Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ISTRI BERCADAR MAFIA

​Bab 13: Gema di Lorong Hampa.

​Malam setelah perdebatan tentang bekal makanan itu, kediaman megah Alaska terasa lebih mencekam dari biasanya. Alaska berdiri di balkon kamarnya, memandangi lampu-lampu kota yang berkelap-kelip dari kejauhan. Di tangannya, sebatang cerutu yang sudah padam ia biarkan begitu saja. Kata-kata Sania,

"Anda cemburu pada diri Anda sendiri yang tidak berani melakukan apa yang mereka lakukan" terus terngiang seperti kaset rusak di kepalanya.

​Alaska adalah pria yang membangun imperiumnya di atas pondasi logika, ketakutan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, dunia adalah hitam dan putih; kau adalah pemangsa atau mangsa. Namun, Sania datang membawa spektrum warna yang tidak ia pahami. Sania tidak melawan dengan senjata, tapi dengan "ketidaktakutan".

​Sang Mafia yang Terusik.

​Keesokan harinya, Alaska memanggil Bara ke ruang kerjanya. Ruangan itu kedap suara, berbau kayu cendana dan kulit mahal.

​"Bara," suara Alaska berat dan rendah.

​"Iya, Tuan," jawab Bara, tetap dengan posisi tegak sempurna.

​"Apa yang kau rasakan saat memakan pemberiannya?" Alaska bertanya tanpa menoleh, matanya tertuju pada layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV halaman rumah.

​Bara terdiam sejenak. Ia adalah pria yang dilatih untuk mematikan rasa. Namun, pertanyaan itu menyentuh sisi manusiawi yang sudah lama ia kubur.

"Rasanya... berbeda, Tuan. Bukan hanya sekadar kenyang. Ada sesuatu yang... tenang."

​Alaska membalikkan badannya dengan cepat. Matanya menyipit tajam.

"Tenang? Kau dibayar untuk waspada, bukan untuk tenang! Ketenangan adalah racun bagi orang seperti kita, Bara. Ketenangan membuat refleksmu melambat. Ketenangan membuatmu ragu untuk menarik pelatuk!"

​"Maaf, Tuan. Saya tetap profesional," jawab Bara tegas.

​"Pergilah. Dan pastikan mulai hari ini, kau tidak menerima apa pun darinya. Satu biskuit pun, dan kau akan berakhir seperti Tino—dipecat dengan pesangon yang mungkin tidak akan bisa kau nikmati karena rasa bersalahmu sendiri!" ancam Alaska.

​Bara mengangguk dan keluar. Namun, di dalam hatinya, benih yang ditanam Sania mulai berkecambah. Ia mulai bertanya-tanya, Mengapa orang yang memiliki segalanya seperti Alaska justru terlihat paling gelisah?

​Perjalanan Menuju Cahaya.

​Siang itu, Sania meminta diantar ke panti asuhan di pinggiran kota. Ini adalah kegiatan rutin yang sebelumnya selalu ia lakukan dengan Kaito. Kini, Bara yang memegang kemudi. Sepanjang jalan, Sania tetap dengan sifatnya yang tenang, meskipun ia tahu Alaska sedang mengawasinya melalui GPS dan mungkin penyadap suara di mobil itu.

​"Bara," Sania memulai pembicaraan saat mobil terjebak macet.

​Bara tidak menjawab, teringat peringatan Alaska.

​"Saya tahu Tuan Alaska melarang Anda bicara dengan saya."

Sania tersenyum di balik cadarnya.

"Tapi ingatlah, manusia diciptakan dengan lisan untuk saling menyapa dan telinga untuk saling mendengar. Membungkam lisan adalah bentuk penjara bagi jiwa. Allah berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 13: 'Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.' Mengenal bukan hanya tahu nama, Bara, tapi mengenal rasa kemanusiaan."

​Bara masih diam, namun jemarinya yang menggenggam setir tampak memutih.

​"Dunia ini hanya persinggahan yang singkat, Bara. Kita semua sedang mengantre menuju satu pintu yang sama, kematian. Saat itu tiba, tidak ada Tuan Alaska yang bisa memberi perintah, dan tidak ada senjata yang bisa melindungi kita. Hanya amal yang kita bawa," lanjut Sania lembut.

​Tiba-tiba, sebuah mobil hitam memotong jalan mereka dengan kasar, memaksa Bara mengerem mendadak. Bara dengan sigap menurunkan tangan ke arah senjata di pinggangnya. Matanya liar mencari ancaman. Namun, yang terjadi hanyalah seorang pengendara motor yang terjatuh karena hampir tersenggol mobil tadi.

​Sania melihat kejadian itu.

"Lihatlah, Bara. Di saat darurat, yang pertama kali kau cari adalah alat untuk membunuh. Pernahkah kau terpikir untuk menjadi orang pertama yang turun untuk menolong?"

​Bara tertegun. Ia melihat pengendara motor itu meringis kesakitan. Orang-orang di sekitar hanya menonton.

​"Kekuatanmu adalah ujian," bisik Sania. "Gunakan untuk menolong, maka kau akan menemukan arti sejati dari keberanian."

​Tanpa sadar, Bara membuka pintu mobil. Ia turun, membantu pengendara motor itu berdiri, dan meminggirkan motornya. Tindakan sederhana itu mengundang decak kagum dari orang-orang sekitar. Saat kembali ke mobil, ada binar yang berbeda di mata Bara. Sebuah binar yang tidak pernah dilihat Alaska sebelumnya.

​Konfrontasi di Meja Makan.

​Malam harinya, suasana makan malam di rumah besar itu sangat sunyi. Alaska makan dengan kasar, sementara Sania makan dengan anggun dan sedikit.

​"Aku melihat apa yang dilakukan Bara siang tadi di jalanan," kata Alaska tiba-tiba, memecah kesunyian. "Kau mulai mengubah singaku menjadi kucing yang penyayang, Sania."

​Sania meletakkan sendoknya.

"Saya tidak mengubahnya menjadi kucing, Tuan. Saya sedang mengingatkannya bahwa dia adalah manusia, bukan mesin pembunuh. Apakah Anda begitu benci melihat kebaikan tumbuh di rumah ini?"

​"Kebaikan itu lemah!" bentak Alaska sambil memukul meja. "Di duniaku, kebaikan adalah celah. Celah yang akan digunakan musuhku untuk menghancurkanku!"

​Sania menatap mata Alaska dengan berani.

"Tuan, Anda salah memaknai kekuatan. Rasulullah SAW bersabda: 'Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.' (HR. Bukhari dan Muslim). Anda saat ini sedang kalah, Tuan. Anda kalah oleh kemarahan Anda sendiri. Anda takut karena Anda merasa kontrol Anda mulai goyah."

​"Diam!"

​"Kenapa saya harus diam? Karena kebenaran itu menyakitkan?" sindir Sania. "Anda membangun dinding tinggi di sekitar rumah ini, tapi Anda lupa membangun dinding untuk melindungi hati Anda dari kegelapan. Anda memelihara pengawal yang keras kepala, tapi Anda lupa bahwa Allah adalah sebaik-baik penjaga."

​Alaska berdiri, mendekati Sania hingga jarak mereka sangat dekat.

"Kau pikir kau siapa? Kau hanya istri yang kubeli dari takdir yang malang!"

​Sania tidak mundur setuju. "Saya adalah istri yang Allah pilihkan untuk Anda, untuk menjadi cermin bagi keburukan Anda agar Anda bisa berbenah. Anda bisa memecat Tino, menarik Kaito, atau mengancam Bara. Tapi Anda tidak bisa memecat takdir Allah yang ingin menarik Anda kembali ke jalan-Nya melalui saya."

​Alaska terdiam. Napasnya memburu. Ada keinginan besar untuk berteriak, tapi ada sesuatu di balik mata Sania—sebuah ketulusan yang murni—yang membuatnya merasa kecil.

​Bayangan Baru yang Mengintai.

​Di sisi lain, konflik ini tidak hanya terjadi di dalam mansion. Musuh-musuh bisnis Alaska mulai mencium kelemahan. Mereka mendengar bahwa 'Sang Predator' kini terganggu oleh seorang wanita bercadar.

​Di sebuah gedung tua, seorang pria dengan bekas luka di wajahnya menatap foto Sania yang diambil secara sembunyi-sembunyi saat ia turun dari mobil.

​"Jadi, ini kelemahan Alaska?" tanya pria itu dengan suara parau.

​"Bukan sekadar wanita, Bos. Dia adalah 'hati' Alaska sekarang. Jika kita menyentuhnya, Alaska akan hancur atau menjadi gila," jawab anak buahnya.

​Pria itu tersenyum licik. "Siapkan rencana. Jika Alaska tidak bisa dikalahkan dengan peluru, kita gunakan berliannya untuk menghancurkannya."

​Tanpa disadari oleh Alaska maupun Sania, sebuah jaring yang lebih berbahaya dari sekadar perbedaan prinsip mulai merapat.

Sebuah ujian yang akan membuktikan apakah iman Sania cukup kuat untuk menghadapi badai, dan apakah ego Alaska akan runtuh demi menyelamatkan satu-satunya cahaya yang tersisa di hidupnya.

​Sania kembali ke kamarnya, bersujud dalam tahajud yang panjang. Ia menangis, bukan karena takut pada Alaska, tapi karena merasa kasihan pada suaminya yang terkunci dalam penjara emas buatannya sendiri.

​"Ya Allah, lembutkanlah hati Alaska sebagaimana Engkau melembutkan besi untuk Nabi Daud..." doanya lirih di keheningan malam.

​Sementara itu, di ruang kerjanya, Alaska menatap botol wiski di mejanya, namun ia tidak menuangkannya. Ia justru teringat ucapan Sania tentang "mencuci tangan". Ia melihat tangannya sendiri, tangan yang berlumuran darah dan dosa. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sang Mafia itu merasa sangat... kesepian.

​__Kekuatan yang sejati tidak diukur dari seberapa banyak orang yang berlutut di hadapanmu karena takut, melainkan dari seberapa banyak jiwa yang bangkit karenamu dengan penuh cinta. Kebenaran mungkin sering diabaikan, namun ia seperti gema di lorong hampa; semakin keras kau menolaknya, semakin kuat ia memantul kembali ke dalam telingamu__

​Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!