Sequel SALAH NIKAH
Rico menikahi Layyana karena sebuah dendam.
Demi menuntaskan dendam yang sudah lama dia pendam, Riko rela menghabiskan sisa umurnya bersama wanita yang dia benci. Tujuannya satu, membalaskan dendam.
Layyana yang notabene adalah wanita kaya raya dan berpendidikan tinggi, selalu berpenampilan sederhana demi mencari cinta sejati yang mendekatinya bukan karena materi, melainkan karena cinta yang tulus. Sayangnya pria yang mengucap ijab qobul di sisinya pada hari pernikahan bukanlah Rendi, tapi sosok pria asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Yang Tak Pasti
Selama di perjalanan, aku merapal doa, berharap Rara akan baik-baik saja. Pangilanku yang berulang-ulang ke nomer rara tak kunjung dijawab.
Gemas dengan kecepatan mobil yang menurutku sedikit lebih lambat, aku sampai harus lompat ke kursi depan lalu mengambil alih kemudi dan menyuruh supir agar pindah ke belakang dengan cara membaringkan sandaran jok lalu melangkah mundur. Sedangkan aku gegas mengambil alih kemudia. Awalnya supir menolak, namun kupaksa. Dari pada rebutan setiran yang akhirnya malah membuat mobil oleng dan terjadi kecelakaan, maka supir pun terpaksa menurut. Dia geleng-geleng kepala melihatku menyetir seperti kesetanan.
Jangan kaget kalau aku malah lebih mirip seperti preman kesurupan. Ya beginilah keberanianku setelah di kampus dulu sering balapan gokart di sirkuit. Pokoknya kegiatan itu seperti candu bagiku. Akibatnya sangat mudah bagiku kebut-kebutan mengemudikan mobil di jalan begini. Semua orang yang mengenalku pasti sudah paham bagaimana sifatku ini, bandel, lincah, pecicilan, humoris, tapi aslinya baik loh, hanya agak nakal saja.
“Hati-hati, Mbak! Apa yang dikejar sih, Mbak?” Supir tampak ketakutan memegangi jok dengan keringat dingin mencuat ke permukaan wajahnya.
“Adik, Bang.” Kecepatan mobil semakin kutambah.
“Tapi jangan begini juga. Berhenti! Hentikan mobilnya!” pekik supir taksi kesal melihat mobil kusetir menyelip setiap kendaraan di depan. Untung saja abang supir masih muda, kalau sudah kakek-kakek, aku tidak menjamin akan bebas dari serangan jantung.
“Aman, Bang. Nanti kalau ada apa-apa sama mobilmu, aku pasti ganti kerugiannya,” jawabku enteng dengan tatapan fokus pada jalan di depan.
Sesampainya di tempat tujuan, aku meraih masker mulut dan memasangnya untuk menutupi separuh wajah. Tak lupa kuraih kerudung yang sengaja kubawa dan mengerudungkannya ke atas jilbabku, lalu mengalungkan kedua ujungnya ke leher dengan sedikit menutup muka.
Aku turun dari taksi sambil berkata, “Makasih, Bang. Ini uang lebihan untuk Abang.” Aku meletakkan selembar uang ke dashboard tanpa peduli pada si abang supir yang terkapar sambil memegangi dada.
Aku berlari mencari keberadaan Rara, aku tahu pasti tujuan Rara ke lokasi itu adalah untuk ke toko buku. Tidak ada tujuan lain selain toko buku, maka sekarang yang kutuju adalah lokasi sekitar toko buku. Sayangnya aku tidak mendapati apa pun di sana. Mataku terus mengawasi, kendaraan lalu lalang di sekitar sana. Situasi ramai membuatku kehilangan fokus. Aku benar-benar tidak bisa menemukan Rara di sekitar sana.
Sampai akhirnya aku mendengar suara hantaman keras yang bersumber dari jalan yang agak jauh dari toko buku dimana aku berada di dekat gedung itu sekarang. Aku menoleh ke sumber suara. Tampak beberapa mobil terguling-guling akibat tabrakan beruntun. Tabrakan itu juga tidak hanya mengorbankan sesama kendaraan, melainkan juga mengakibatkan sosok pejalan kaki terkapar setelah diterjang mobil.
Kejadian naas itu justru menjadi tontonan bagi orang-orang yang ada di sekitar sana. Mereka mendekat dan mengerumun, seakan hanya ingin menyaksikan atau sekedar memfoto kondisi korban dan mobil yang renyok menggunakan kamera ponsel.
Perasaanku mulai cemas, aku berlari menuju ke tempat kejadian. Tanganku menyingkirkan tubuh-tubuh yang mengerumun hingga mereka menyingkir untuk memberiku akses jalan. Kulihat tubuh korban wanita dalam keadaan menelungkup, bersimbah darah. Jika melihat tubuh dan pakaiannya, aku seperti mengenalnya.
Rara? Aku menghambur dan membalikkan tubuh wanita itu. jantungku yang berpacu cepat, langsung lega melihat wajah yang tak kukenal. Syukurlah. Bukan maksudku mensyukuri situasi itu, tapi lebih kepada merasa tenang karena bukan adikku yang menjadi korban.
Aku keluar dari kerumunan. Pandanganku mengedar mencari-cari, siapa tahu Rara ada di sekitar sana. Namun aku justru melihat mobil Rico bergerak meninggalkan lokasi.
Apa yang dilakukan Rico di tempat itu? Lalu dimana Rara sekarang?
Kembali kuraih ponsel dan menelepon Rara sambil berjalan menjauhi kerumunan, aku kembali ke dekat gedung toko buku. Sambungan teleponku dijawab. Hatiku lega sekali Rara menjawab teleponku.
“Halo, Kak! Ada apa? Ini Sasha, ponsel Kak Rara ketinggalan di rumah,” sahut Sasha, bungsuku.
“Ya ampun, jadi ponsel Rara bersamamu sekarang?” Jantungku mulai tidak nyaman lagi setelah hanya beberapa detik saja merasa tenang.
“Iya, Kak. Kak Rara pergi nggak bawa hp.”
“Ya sudah.” Aku langsung memutus sambungan telepon.
Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Aku bahkan tidak tahu dimana keberadaan Rara. Aku juga tidak tahu apakah orang suruhan Rico masih ada di sekitar sana atau tidak. Tiga puluh menit aku mengawasi di sekitar sana, tidak kudapati keberadaan Rara. Aku juga tidak mendapati kejanggalan selain kecelakaan maut yang terjadi tadi. Bahkan kulihat dari kejauhan, kondisi di sekitar kecelakaan sudah berubah. Polisi berdatangan. Setelah itu aku tidak tahu, aku tidak memperhatikan situasi itu lagi.
Ya ampun, dimana keberadaan Rara sekarang? Kudengar Rico tadi sempat bilang kalau Rara sudah berada dalam pantauan teman Rico.
TBC
selamat berkarya semoga sukses mencerdaskan anak2 bangsa melalui tulisan
bahaya niih