Novel juara 3 Cerita Seram by Noveltoon.
⛔PLAGIAT pergi jauh, ya.⛔
Kemiskinan membuat Ningsih menjual jiwanya kepada iblis dengan tumbal orang-orang terdekat. Kini, Ningsih sudah tujuh kali menjanda. Berawal dari pertemuan secara nyata dengan Bima-Iblis yang menjeratnya, Ningsih mulai jatuh cinta.
Mampukah Ningsih lepas dari JERAT IBLIS? Ataukah semua pria yang menjadi suami Ningsih akan menjadi tumbal begitu saja?
Baca selengkapnya di sini^^
***
Sudah terbit cetak versi Novel by Noveltoon x AT Press. Bagi yang minat chat saja.
***
WAJIB baca Kekasihku Iblis setelah selesai baca ini^^ nanti anak-anak Bima ada kelanjutannya juga di sana. Thanks.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Suara hantaman bogem mentah yang diterima Reno menggema ke seluruh isi gudang. Lima preman kekar itu memukulinya bak samsak tinju.
"Dasar bocah ingusan! Coba-coba melawan, gua gorok lu!" Bang B mengancam dengan menunjukkan golok tajam.
"Ikat aja dah. Biar kagak ngganggu kita orang," ucap Bang A sambil tersenyum bermuka mesum melirik ke arah Santi.
"Sini talinya! D ayo iket bocah, nih." Bang E dan Bang C segera mengangkat tubuh reno ke kursi kayu untuk diikat.
Bang B berjalan menghampiri Santi yang ketakutan, "tenang, cantik. Kami tidak berniat jahat kok. Hanya ingin bermain."
Santi gemetar ketakutan melihat lima lelaki itu mendekat dan mengelilinginya, "J-jangan mendekat! Aku laporkan kalian ke polisi!"
"Hahaha, sana panggil polisi!"
"Teriak pun percuma, Neng. Sini aja ena-ena."
"Jangan buat dia takut, nanti kalau pingsan kan kurang sip."
"Kalian nanti ya, gue mau yang pertama."
Preman itu saling bersautan bagaikan serigala lapar melihat mangsa di depan mata. Santi ketakutan saat Bang B, kepala preman, memegang tubuhnya. "Kalo lu nurut, nggak bakal sakit. Kalo lu brontak mulu, gue jamin bakal sobek banyak!"
'Ya Allah, selamatkan hambaMu ini.' seru Santi di dalam hati.
Seketika pintu gudang terbuka lebar seperti di dobrak mobil. Hal itu membuat lima preman itu melihat dan mengeceknya. Gumpalan asap putih masuk ke dalam gudang.
"Sial! Apa-apaan ini! Kalian, waspada!" Bang B memegang golok dan melihat ke segala penjuru.
Santi memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan ikatan di tubuh Reno. "Diam saja, kita bisa lari jika asap ini semakin tebal." Santi menginstruksi adiknya yang lemas tak berdaya dengan luka lebam di sekujur tubuhnya.
"AAAaaa ...." suara teriakan preman di dalam kepulan asap.
Asap pun mulai menghilang perlahan. Terlihat lima tubuh kelar itu tergeletak dengan kondisi mengenaskan. Penuh koyakan, darah berceceran. Menjijikan!
"K-kak, kenapa bisa seperti itu?" ucap Reno gemetar ketakutan.
"Sudah, jangan dilihat. Bersyukur pada Allah telah menyelamatkan kita. Ayo kita pergi dari sini," sahut Santi sambil memapah Reno keluar dari gudang melewati mayat preman-preman itu.
Dari kejauhan, bulan bersinar terang, seorang perempuan berdiri di samping mobilnya. Melambaik ke arah Santi dan Reno. Semakin dekat jarak mereka, semakin jelas sosok itu.
"I-ibu?" Santi gugup melihat sosok itu.
"Kak, itu Mama, kak." Reno senang melihat Ratih dan terseok-seok bergegas menemuinya.
"SANTI, RENO, JAGA TUBUH IBUMU INI. SEGERA PERGI KE TEMPAT YANG AMAN SAMPAI NINGSIH MENGHUBUNGI KALIAN. JANGAN KEMBALI KE RUMAH ATAU KE KUDUS!" suara menggelegar itu pergi ditelan malam.
Tubuh Ratih pun lemas dan jatuh. Santi dan Reno menangkap ibunya. Bergegas Santi membawa Reno dan ibunya pergi dengan mobil itu.
"Kak, kita mau ke mana?" tanya Reno gelisah.
"Kamu jaga Ibu saja. Kakak baru mencari jalan keluar dari tempat ini. Tidak ada GPS dan handphone pula. Kita kembali ke rumah mengambil barang yang penting saja. Lalu pergi ke Salatiga. Sembunyi di sana tempat PakLek." jelas Santi sambil melajukan kendaraan roda empat itu.
Beberapa kali perempatan dilewati, akhirnya ada petunjuk jalan. Santi bergegas menuju ke kota.
'Ya Allah, terima kasih menyelamatkan hambaMu ini. Allah tolong lindungi Tante Ningsih dan Ibu yang masih pingsan. Meskipun aku yakin, makhluk tadi bukan malaikat, tetapi Allah pasti mengirimkannya untuk menyelamatkan kami, bukan?' batin Santi bergejolak.
Sepanjang jalan tak henti bersyukur dan berdoa. Hingga roda mobil berhenti di depan rumah Santi yang sepi, "Kamu di sini saja. Jaga Ibu. Kakak masuk ambil keperluan kita. Kunci mobilnya sampai kakak datang, oke?"
Reno hanya mengangguk perlahan. Menatap Santi keluar mobil dan diam-diam masuk ke rumah. Reno segera mengunci pintu mobil. Memandangi ibunya yang masih tak sadarkan diri.
"Ma, kenapa Mama pergi begitu lama? Reno kangen. Ma, please bangun." air mata menetes dari sudut mata Reno mengalir ke wajah Ratih dalam pangkuan Reno.
Ratih pun mulai sadarkan diri. Membuka kedua matanya dan terkejut melihat anak yang dicintai memeluknya.
"Reno? Ini benar anak mama?" Ratih berucap lirih.
"Ma, mama sudah bangun? Iya ini Reno."
Reno memeluk Ratih dengan erat. Santi pun datang mengetuk pintu mobil. Reno membuka pintu mobil dan Santi terkejut melihat ibunya sudah sadar.
"Ibu, syukurlah sudah sadar. Maaf aku bergegas membawa kita pergi terlebih dahulu." Santi menyalakan mesin dan menancap gas mobil segera.
"Reno, Santi, sebenarnya apa yang terjadi?" Ratih penuh tanda tanya.
"Ibu tidak ingat apa pun?" Santi kebingungan.
Memang Santi selalu memanggil Ratih dengan sebutan -Ibu- sedangkan Reno memanggil dengan sebutan -Mama- hal ini hanya karena faktor mendidik yang berbeda. Meskipun lelaki, Reno selalu dimanja dan mendapatkan apa pun yang dia inginkan dengan mudah. Sedangkan Santi, selalu berjuang meraih keinginannya dengan kerja keras.
Santi bergegas mengikuti arah GPS ke Salatiga, tempat PakLek Darjo tinggal. Satu-satunya tempat yang (mungkin) aman bagi mereka saat ini.
Bersambung....
***
Suka? Jangan lupa LIKE, SHARE, KOMENTAR, & VOTE ya guys ❤