" Gadis kecil sebaiknya kamu tanda tangani saja surat itu "
Begitulah ucapan dari Hendra saputra pemilik perusahaan Jewelery yang terkenal di kota ini kepada seorang gadis bernama Yesa. Dia mengancam dengan sorot matanya. Dan akhirnya kerena tidak memiliki kekuasaan. Yesa menanda tangani surat itu.
Sesaat senyum puas penuh kemenangan muncul di bibir Hendra Saputra.
Cerita novel ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu hanyalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan
Nulis nya cuma iseng
Update na semau gue 😋
selamat membaca ^^,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ovhiie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGGELIKAN SEKALI
"Dia mengkhawatirkan istriku? Cih, menggelikan sekali." Arya mencibir sambil berjalan menuju teras rumah. Kini dia sudah ada di depan pintu lalu mengetuknya.
"Siapa?" Nenek bertanya dari dalam sana
"Ini, aku Nek." Sahut Arya dari luar pintu
"Oh, masuk saja pintunya tidak di kunci. Maaf Nenek sedang sibuk menghidangkan makan siang kita di meja makan."
Arya membuka pintu lalu duduk di sofa. Tidak betapa lama Yesa dan Dudi datang dari luar, Yesa mempersilahkan duduk Dudi dengan tangannya, baru ia duduk di samping Arya yang saling berhadapan dengan sahabatnya.
"Suamiku, kenapa wajahmu pucat? Apa kepala mu sedang sakit?" Yesa bertanya sambil meraba kening sekaligus memandang wajah suaminya dengan seksama. Sementara Arya hanya diam tidak menjawab.
"Yesa jadi kamu sudah menikah ya?"
Belum sempat Yesa mengenalkan suaminya, Dudi sudah lebih dulu memulai pembicaraan. Tidak perduli jika suami sahabatnya sudah memasang wajah masam.
"Iya." Yesa mengangguk
"Kenapa bisa? Kamu itu sangat jahil dan suka membuat membuat onar. Aku jadi bingung, kenapa suami mu mau menikah dengan mu?" Setelah bicara Dudi melirik wajah yang masih masam itu. Laki-laki yang dilirik malah semakin dingin tatapannya.
"Istriku, apa kamu tidak ingin mengenalkan
aku padanya?" Arya menjatuhkan dagu di bahu Yesa, dia sengaja mengalihkan topik dengan santai. Karena tidak ingin perjodohan tentangnya di umbar-umbar
"Benar juga, kalau begitu suamiku kenalkan ini adalah sahabat baik ku Dudi." Yesa memperkenalkan sahabatnya dengan sopan.
"Aku Dudi, senang berkenalan denganmu." Dudi mengulurkan tangannya. Laki-laki yang di depannya hanya menarik bibirnya dengan sinis.
Kenapa dia tidak ingin menjabat tangan ku
Gumam Dudi dalam hati sambil menarik
tangannya kembali
"Yesa, Nak Arya." Nenek memanggil sambil berjalan mendekati ruang tamu." Nak Dudi, akhirnya kamu datang juga." Katanya setelah
melihat Dudi sudah ada di sana. Laki-laki yang di sebut langsung bangun dari duduknya.
"Iya Nek terimakasih, Nenek maaf, aku pasti sudah merepotkan mu." Katanya setelah mencium tangan Nenek sahabatnya itu.
"Tentu saja tidak. Mari kita makan siang bersama. Nenek sudah siapkan di meja makan." Tawar Nenek dengan ramah.
Pasangan suami istri itupun bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti Dudi dan Nenek dari belakang menuju meja makan.
*****
Selama di meja makan Arya memajang
wajah masam. Sejak Nenek mengajak sahabat istrinya itu makan bersama.
"Waktu itu, selalu ada waktu dimana aku makan dan juga tidak mau makan." Kata Dudi menceritakan tentang kehidupannya di luar kota sambil menikmati makannya.
"Dudi, biar bagaimanapun manusia itu harus tetap makan" Kata Nenek cemas
"Dudi kau tahu? Aku juga sama denganmu waktu aku masih sendiri dulu. Aku juga keseringan makan mie instan demi menghemat uangku. Tapi sekarang aku tidak sendiri lagi, berkat bocah dingin.." Yesa berhenti, dia keceplosan
Sementara Nenek dan Dudi terkejut dengan kalimatnya barusan sedangkan Arya langsung memberinya isyarat mata, seperti mengatakan. Habis kau malam ini.
"Maksudku, berkat suamiku yang tampan ini selalu ada di rumah, sekarang aku menjadi semakin rajin memasak hehe." Yesa melanjutkan kalimatnya
Ciih sepertinya dia sudah kehilangan kendali
Gumam Arya dalam hati sambil melihat wajah istrinya dengan sinis.
"Yesa, apa kamu ingat? Sewaktu kita masih SMA, hari ku dan harimu selalu dipenuhi dengan makan-makan sambil berlibur saja kan?" Dudi bertanya dengan antusias.
"Yesa, Nenek jadi ingat waktu kamu libur sekolah dulu Nenek pernah memarahi mu. Sebab, kamu menginap semalaman di rumah
temanmu. Sampai sekarang Nenek masih penasaran sebenarnya kamu menginap dimana?"
Matilah aku! Kenapa Nenek masih ingat hari itu. Sebenarnya, aku hanya berlibur di taman fantasi.
Yesa langsung melirik wajah sahabat, seolah meminta pertolongan melalui sorot matanya. Dan sepertinya laki-laki itu menangkap maksudnya.
"Rumah teman?" Arya bertanya
Kenapa dia melihat ku seperti ini. Tatapannya sangat menakutkan.
"Kami mempunya teman, dia tinggal bersama ayahnya. Setiap tahun, dia selalu mengundang kami untuk merayakan tahun baru."
Kerena Dudi mencerna arti dari tatapan Yesa ia rela membantu menjelaskannya demi menutupi kebohongan.
"Begitu ya, dia pasti orang yang sangat baik." Nenek yang menjawab.
"Benar Nenek dia memang baik. Lagipula, selama berlibur kami hanya makan bersama dan bermain monopoli saja hehe.." Untung saja katanya dalam hati.
"Ciih." Arya memaki Dudi dengan tatapannya.
***
Malam hari
Setelah berbincang seharian bersama sahabat lamanya itu, akhirnya Dudi memutuskan untuk kembali pulang kerumahnya setelah berpamitan. Entah apa yang dipikirkannya, saat itu Arya sudah memasuki kamar istrinya lebih awal.
"Sayang, besok kamu dan suamimu akan segera pulang. Sebaiknya kamu tidurlah lebih awal menyusul suami mu."
"Baiklah Nek, selamat malam."
Yesa memeluk dan mencium pipi neneknya itu. Setelahnya dia berjalan memasuki kamar. Saat sudah masuk, dia di sambut dengan suaminya yang sedang duduk di bibir tempat tidur sambil melipatkan kedua tangannya di depan dada. Menunggu.
Melihat suaminya hanya diam membisu Yesa bergegas mengganti bajunya dengan baju tidur.
"Suamiku apa yang kamu pikirkan? " Yesa bertanya lantaran suaminya itu masih diam, wajahnya cemberut. Tidak seperti biasanya selalu menggoda istrinya jika sudah ada di dalam kamar.
"Aku tidak mengerti berapa banyak aku memikirkannya. Setelah kupikirkan kenapa kamu tidak menikah saja dengan sahabatmu? Kelihatanya bocah itu cukup tampan." Suara Arya terdengar kesal saa menyampaikannya.
"Suamiku, haruskah aku menikah dengan siapapun orang yang tampan dan juga
ramah?" Yesa bertanya sambil mengancingkan baju tidurnya
"Ciih, bahkan kamu memujinya ramah.
Padahal aku tidak bilang begitu." Sahut Arya
dengan suara rendah namun dingin terdengar lalu memalingkan wajahnya yang masam.
Eh reaksi itu.... apakah dia
"Suamiku, kamu cemburu?"
Arya terbelalak "Cih!" setelahnya ia melengos lagi karena malu dan marah bercampur.
Melihat suaminya yang masih berpaling Yesa tersenyum sambil berjalan sampai berdiri di depan Arya. Lalu membungkukkan badannya. Mensejajarkan wajahnya dengan wajah suaminya.
Arya menoleh melihat wajah istrinya yang nyaris berdekatan dengan hidungnya.
"Kenapa diam?" Ia bertanya nada suaranya masih terdengar dingin.
Tiba-tiba
Cup sebuah kecupan lembut mendarat mulus di bibirnya. Setelahnya gadis itu tersenyum dengan indahnya yang jarang terjadi. Dalam sekejap amarahnya tersingkirkan, hanya degupan jantungnya yang tersisa dengan kuat. Wajahnya dan telinganya memerah karena senang.
"Terimakasih, karena kamu cemburu padaku."
"Istriku, Kau! Apa kamu tahu dengan akibatnya jika kamu melakukan ini?" Arya bertanya, gadis yang ditanyai hanya menjawabnya dengan senyuman yang sangat indah lagi
Secepat kilat Arya mencium bibir tipis Yesa lalu menarik tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia mencium bibirnya dengan kasar. Dan nyaris membuat istrinya kehilangan nafasnya.
Istriku habis kamu malam ini. Beraninya kamu membuatku cemburu
Arya melepaskan baju tidur Yesa secara paksa dan melemparkannya ke sembarang tempat. Setelahnya ia mendaratkan bibirnya didada istrinya, memberinya kecupan keras hingga meninggalkan warna merah. Lalu terjadilah sesuatu yang seharusnya terjadi..
****
Di sebuah rumah ada sebuah mobil mewah yang baru saja tiba dari pemakaman, tepat di depan pintu masuk utama. Keadaan rumah itu sungguh sempurna. Interiornya hampir sama persis dengan rumah milik Hendra.
"Tuan kita sudah tiba."
"Ron, kau lihat gadis yang berjalan bersamanya di pemakaman tadi?" John bertanya sambil duduk bersandar kursi belakang, matanya terpejam
"Saya melihatnya Tuan."
"Apa kau melihat liontin yang menggantung
di lehernya?" John bertanya lagi
"Saya juga melihatnya Tuan."
"Liontin itu sama persis dengan milik ku"
"Anda benar Tuan."
"Ron, apa menurutmu gadis itu ada hubungannya denganku?" John masih bertanya dengan posisi tubuh yang sama.
Ron melirik John dari kaca spion, masih dalam keadaan posisi tubuh yang sama, ada sebuah benda yang sama persis dengan milik Yesa tergantung di lehernya.
"Saya tidak yakin Tuan."
John hanya diam menghela nafas panjang
sambil membuka matanya lalu dari mobil setelah Ron membukakan pintunya.
"Kau pulanglah Ron, aku hanya ingin sendiri malam ini."
"Baik Tuan." Sahut Ron setelah menutup pintu mobil
John memasuki rumahnya, keadaan di dalam rumah itu sungguh sempurna, dia berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai atas. Setibanya di kamar dia duduk dikursi lalu meraih sebuah foto diatas meja kerjanya. John memandang foto dengan penuh perhatian. Sebuah foto wanita cantik sedang tersenyum manis, hingga membuatnya meneteskan air mata.