Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benang Merah
Suara alarm ponsel yang melengking, terasa seperti bor listrik yang menghujam langsung ke saraf pusat di otak Rangga Adiwilaga (26). Pria itu mengerang, kelopak matanya terasa seberat beton saat dipaksa terbuka. Cahaya lampu neon di ruangan itu menyambar kornea matanya, memicu rasa mual yang hebat di ulu hati.
Rangga tersentak. Ia menyadari dirinya meringkuk di lantai semen yang dingin, punggungnya bersandar pada pintu besi. Pakaiannya yang semalam rapi dengan setelan jas custom-made, kini kusut dan berantakan.
“Dimana nih?” gumamnya. Tenggorokannya terasa sangat kering.
Sambil duduk dan memejamkan matanya sejenak, berusaha untuk menelaah kondisi saat ini, akhirnya Rangga ingat kalau ia kini berada di dalam tangga darurat sebuah Hotel Bintang Lima.
Ia melirik arloji di pergelangan tangannya. Pukul 08.00 pagi.
"Haduuuuh," keluhnya lirih dengan suara serak.
Samar-samar, memori semalam berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Ia ingat terakhir berada di Oscar, club eksklusif di lantai atas hotel ini untuk menemui beberapa kolega bersama dengan kelima sekretarisnya. Namun, setelah tegukan ketiga dari gelas minumannya, dunianya mulai bergeser. Tubuhnya mendadak panas membara, detak jantungnya berpacu liar hingga ke telinga. Saat pandangannya mulai berkunang-kunang dan hampir gelap, instingnya menyadari ada sesuatu yang salah dengan dirinya.
Rangga tahu benar rasa ini karena bukan kali pertama ia mengalami. Ini bukan sekadar mabuk alkohol. Tubuhnya telah tercemar zat kimia yang tidak ia inginkan. Obat atau mungkin sesuatu yang lebih buruk yang sengaja dimasukkan untuk melumpuhkan akal sehatnya. Ia ingat bagaimana beberapa wanita—yang entah siapa—mencoba memapahnya ke arah kamar. Dan saat itu insting bertahan hidupnya malah bilang “lari! Berlagak kuat saja, terus lari!”
Dengan sisa tenaga yang ada, Rangga menepis tangan-tangan yang menggerayangi tubuhnya, izin ke kamar mandi. Ia ingat ada beberapa sosok yang mengikutinya, tapi ia segera berlari dan memilih pintu tangga darurat sebagai tempat persembunyian hingga ia kehilangan kesadaran di sana.
Suara-suara yang mencarinya, suara wanita. Jumlahnya banyak.
"Wanita... selalu saja wanita," geramnya dalam hati. Bayangan ibu kandungnya yang sering membawa laki-laki asing ke rumah saat ia kecil kembali muncul, memicu rasa muak yang lebih besar daripada rasa sakit kepalanya. Siapa bilang perempuan lebih suci dari laki-laki? Jaman sekarang semua sama saja. Kalau memang sudah setan ya setan saja, kejahatan tidak memandang gender.
Rangga mencoba bertumpu pada lututnya untuk berdiri. Namun, begitu tubuhnya terangkat beberapa inci, dunianya berputar hebat. Gravitasi seolah menariknya ke samping. Rasa nyeri menghujam dari belakang leher hingga ke puncak kepala, membuat pandangannya memutih sesaat. Perutnya bergejolak, rasa perih yang luar biasa menyerang lambungnya—efek samping dari obat kimia yang dikonsumsi saat perutnya kosong.
Ia jatuh terduduk kembali. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai membasahi pelipisnya. Ia ingat efek samping ini. “Ecstasy...” keluhnya mencoba menebak. Sekali lagi, ia sering dikerjai. Karena ia masih muda, posisinya krusial di perusahaan, dan ia tampan. Ketiganya adalah hal yang paling dibenci kebanyakan manusia di muka bumi. Jadi ia mengenal efek bermacam-macam zat kimia yang terjadi. Tapi pikirnya, masih mending ini lah daripada dulu pas dia diracun dan sempat koma.
Warga +62, selalu bilang “masih mending” ditengah situasi gawat.
Tunggu,
Rangga tertegun.
Jam berapa ini? Hari apa? Sepertinya ada rapat penting pagi ini...
Ah! iya... mega proyek itu!
"Jam sembilan... astagaaaaa!" bisiknya pada diri sendiri, mencoba memotivasi saraf-sarafnya yang mati rasa. “Yuk bisa yuk, Booossss... ayo berdiri dooong, ini bukan pertama kali lo diginiin...” keluhnya sambil merayu metabolisme tubuhnya sendiri.
Pagi ini bukan sekadar pertemuan bisnis biasa. Pukul 09.00 adalah pertaruhan hidupnya di depan dewan direksi dan investor besar. Mega Proyek Setting Studio seluas 15.000 hektar. Ini adalah ambisi terbesarnya untuk membuktikan pada dunia, terutama pada keluarga Ibu Pramudya Shinta, bahwa Rangga bukan sekadar "anak haram" atau "anak istri kedua" yang hanya bisa menumpang harta.
Rangga sangat menghormati Ibu Shinta. Di matanya, wanita itu adalah simbol martabat yang tidak pernah dimiliki ibu kandungnya. Namun, ia juga tahu keluarga Shinta memandangnya sebagai parasit yang mencoba mencuri warisan. Proyek triliunan ini adalah tiketnya untuk menunjukkan bahwa dia bisa melipatgandakan kejayaan Red-Desmont Investment hingga 300 kali lipat lebih baik daripada ayahnya dulu. Ia ingin Ibu Shinta mengakuinya. Bukan sebagai musuh, tapi sebagai pemimpin yang mumpuni.
Rangga memaksa dirinya berdiri lagi. Kali ini ia berpegangan erat pada railing besi tangga. Tangannya gemetar hebat. Setiap inci gerakannya memicu rasa sakit yang luar biasa. Perutnya terasa seperti diremas tangan besi, mualnya sudah sampai di kerongkongan.
"Ugh..." Rangga membekap mulutnya sendiri, berusaha menelan kembali rasa mual itu.
Ia tidak punya waktu untuk memeriksa CCTV sekarang. Ia tidak punya waktu untuk mencari tahu siapa wanita yang menaruh obat itu—meskipun instingnya sudah menunjuk pada satu nama: Bintang, sekretarisnya yang selalu bersikap terlalu manis. Tapi, prioritasnya sekarang hanyalah sampai di kantor dalam keadaan tegak.
“Iya Boss, Iya. Gue janji, habis ini istirahat yaaaa, tapi sekarang ayo kita paksakan diri dulu.” Boss yang dimaksud Rangga adalah sel-sel dalam tubuhnya yang kini bekerja sangat keras untuk membuatnya tetap sadar.
Dengan langkah gontai dan napas tersengal, Rangga keluar dari tangga darurat menuju parkiran VIP. Kepalanya berdenyut seirama dengan langkah kakinya. Pandangannya sesekali kabur, membuat objek di depannya nampak ganda. Rangga ingat dimana mobilnya diparkir, karena memang ia hapalkan tadi malam saat tahu asistennya kehilangan undangan dan tidak boleh masuk ke club. Pikirannya kala itu, ia harus pulang sendiri setelah acara, jadi konyol sekali kalau tak hafal letak parkir mobilnya.
Ia meraih kunci mobil di saku jasnya, lalu ingat kalau mobilnya cukup dibuka dengan sidik jari.
Setiap tarikan napasnya terasa panas. Ia merasa tubuhnya seperti mesin yang dipaksa bekerja saat olinya habis. Sakit kepalanya kini bertransformasi menjadi migrain hebat yang membuat setiap suara langkah kakinya sendiri terdengar seperti ledakan meriam.
Rangga masuk ke dalam BMW iX-nya, menyandarkan kepala sejenak di kemudi. Dinginnya kulit setir sedikit meredakan panas di keningnya, tapi tidak dengan rasa perih di lambung dan kekacauan di sarafnya.
"Satu jam lagi. Tahan ya Boss. Cuma sejam, habis ini kita tidur dua hari. Oke? Oke?" gumamnya dengan gigi gemeretak.
Ia menyalakan mesin. Suara raungan knalpot mobilnya yang biasanya terdengar merdu, kini justru terasa seperti pisau yang mengiris telinganya. Dengan sisa kesadaran yang terus menipis dan tubuh yang berontak hebat, Rangga menginjak gas. Ia sadar bahwa dalam kondisi "teler" dan kesakitan seperti ini, mengendarai sebuah mainan besi masuk ke jalan raya adalah kejahatan. Untung saja mobilnya ada fitur Driving Assistant, setidaknya akan membuatnya tetap pada jarak yang aman.
Mata Rangga mulai menyipit, keringat dingin terus mengucur, menutupi pandangannya saat mobilnya meluncur kencang membelah kemacetan pagi Jakarta menuju titik pertemuan maut itu.
Namun,
Waktu tak berpihak padanya.
Rangga menggeram, kepalanya terasa ingin pecah saat melihat deretan truk kontainer yang tak bergerak di depannya. Suara klakson bersahutan terdengar seperti dentuman meriam di telinganya. Layar lengkung BMW iX miliknya terus berkedip merah, sensor collision warning berbunyi tit-tit-tit tanpa henti karena jarak antar kendaraan yang terlalu rapat.
"Diam!" bentak Rangga pada dasbor mobilnya. Dengan tangan gemetar, ia menyentuh layar kontrol, mematikan seluruh sistem bantuan mengemudi. Ia tidak butuh komputer penakut ini sekarang. Ia butuh jalan keluar.
Di bawah pengaruh obat yang membakar sarafnya, Rangga melihat celah di jalur berlawanan. Tanpa berpikir panjang, ia menginjak pedal gas dalam-dalam. Motor listrik BMW iX yang punya torsi instan itu melesat seketika, membanting setir ke kanan untuk keluar dari antrean truk.
Di saat yang sama, dari arah berlawanan, Ary sedang memacu motornya, sedikit keluar jalur untuk menyalip truk gandeng di depannya.
Blind spot.
Rangga baru saja melewati badan truk di sisi kirinya saat ia melihat benda hitam menuju dengan cepat ke arah moncong mobilnya. Rangga mencoba menginjak rem, tapi kakinya terasa berat dan lambat. Sistem keamanan mobil yang sudah ia matikan secara manual, tidak memberikan intervensi.
BRAKKK!
Benturan itu tak terelakkan. Ary tidak punya waktu untuk menghindar, dan Rangga tidak punya kesempatan untuk berhenti.
Hai Madam....Alhamdulillah nongol lg....hbs liburan ya Madam 💖