NovelToon NovelToon
DUNIA X KEKACAUAN

DUNIA X KEKACAUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:582
Nilai: 5
Nama Author: YT FiksiChannel

Dien Moretz adalah sarjana pengangguran yang selalu gagal dalam wawancara kerja, karena memiliki kekurangan bibir sumbing yang menyebabkan komunikasinya tidak lancar dan dianggap sebuah beban. Suatu hari saat sedang mencari pekerjaan, tiba-tiba ada monster yang muncul dan memangsa orang-orang. Dien yang selamat akhirnya menyadari bahwa ada dunia lain, dunia yang berbeda dari yang dia jalankan selama ini. Dien yang tertarik dan tidak mendapatkan pekerjaan akhirnya memilih menjadi bagian dari dunia tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YT FiksiChannel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berburu

Kota Celes terbagi menjadi empat wilayah yang dipisahkan benteng pertahanan. Yaitu wilayah pelabuhan, wilayah pusat, wilayah dalam, dan wilayah luar. 

Wilayah pelabuhan berbatasan langsung dengan laut lepas. Diatasnya ada wilayah pusat yang merupakan wilayah pemukiman utama. Di atas wilayah pusat ada wilayah dalam yang merupakan wilayah pelatihan militer atau pasukan, serta pusat pemerintahan. Diatas wilayah dalam ada wilayah luar yang merupakan wilayah perang, karena berbatasan langsung dengan alam liar (pulau bagian dalam) yang dikuasai para monster. 

Alam liar adalah wilayah para monster, sekaligus tempat yang cocok untuk berburu monster sihir yang dibutuhkan para praktisi spiritual. 

Benteng pertahanan wilayah luar. 

Tim pemburu monster ke-15 kota Selabatu yang dipimpin Seta Huang berdiri di atas benteng pertahanan wilayah luar. Mereka memandang alam liar yang sangat kacau dan penuh dengan kejadian tak terduga, banyak monster berkeliaran di sekitar benteng pertahanan wilayah luar, bahkan banyak dari mereka menyerang benteng pertahanan dan mencoba masuk ke dalam benteng. 

"Kalian siap?" Tanya Seta menatap Dien dan Aamon.

Tiba-tiba sebuah lidah menjulur dan mengincar Dien yang lengah. Beruntungnya, prajurit yang menjaga benteng wilayah luar memanah lidah panjang tersebut, membuat sang pemilik yang merupakan seekor katak besar meringis kesakitan. 

Monster katak itu segera mengubah incarannya, kali ini yang diincar adalah Rudo yang berada sendirian di paling kanan. Katak itu segera menjulurkan lidah, mencoba menangkap Rudo yang lengah dan kurang waspada. 

Rudo langsung ditangkap lidah katak, dan ditarik paksa untuk terjun menuju mulut sang monster katak. Sayangnya, Rudo tidak bergerak dan malah mengalirkan listrik melalui lidah katak tersebut.

Monster katak berteriak kesakitan hingga mati terbakar dengan lidah hangus layaknya kesetrum listrik tegangan tinggi.

"Hanya monster brutal, berani-beraninya mencoba memakanku. Tidak sadar kemampuan sendiri, dasar bodoh!" Rudo mendengus hina, lalu menarik kembali percikan energi spiritual petir yang menyelimuti tubuhnya. 

Burung raksasa tiba-tiba meluncur jatuh!

Monster burung raksasa yang mencoba menerobos masuk benteng, dipanah jatuh oleh prajurit penjaga benteng. Monster itu menukik tajam menuju Seta dan yang lainnya yang sedang mengamati alam liar di luar benteng, padahal jarak mereka dan target sang monster cukup jauh. 

"Kita kejatuhan monster nyasar ya?" Seta melihat langit yang gelap, karena ditutupi monster burung raksasa. 

Tabrakan keras! 

Monster burung itu terlihat seperti menabrak penghalang tak terlihat, lalu jatuh di luar benteng wilayah luar. Seta dan yang lainnya melihat monster itu sekilas, lalu melihat ratusan prajurit penjaga yang sibuk melawan monster-monster lainnya. 

"Apalagi yang kalian tunggu? Jika ingin pergi ke luar benteng, maka pergilah! Jangan mengganggu pekerjaan kami. SIALAN!!!" Pekik panglima pasukan penjaga benteng wilayah luar sangat kesal karena Seta dan anggota timnya terus mengamati dari atas benteng. 

Kehadiran kelompok Seta diatas benteng, membuat pasukannya sulit menyerang monster yang mencoba menerobos masuk ke dalam benteng. Para prajurit takut serangan mereka nyasar dan melukai salah satu anggota pemburu monster tersebut. 

Selain itu, kehadiran kelompok Seta diatas benteng juga memancing lebih banyak monster untuk datang dan menyerang. 

Bola api! 

Tiba-tiba bola api nyasar ke tempat dimana kelompok Seta berdiri. Beruntungnya Syifa menciptakan pelindung energi untuk melindungi kelompok mereka dari serangan nyasar para prajurit penjaga benteng, maupun serangan nyasar para monster. 

Benteng pertahanan wilayah luar terlihat sangat kacau, banyak monster liar yang mencoba masuk atau memangsa manusia yang berdiri di atas benteng, dan banyak serangan yang dilepaskan oleh prajurit penjaga maupun monster sihir.

"Bagaimana kalian berdua? Apakah kalian siap berburu monster?" Seta kembali bertanya, mengabaikan kekacauan di atas benteng. 

"Aku siap. Mari kita mulai berburu monster!" Dien bersemangat dan menghindari anak panah yang nyasar ke arahnya.

"Aku selalu siap." Aamon tampak acuh. 

Seta tersenyum puas. 

"Ayo! Kita berburu MONSTER!" Pekik Seta melompat turun tanpa memberi aba-aba.

Rudo menarik Dien dan melompat menyusul Seta. Aamon dengan sendirinya melompat turun menyusul tiga orang tersebut, meninggalkan Syifa seorang diri di atas benteng yang sibuk menggumamkan mantra  sihir.

Empat orang itu langsung dikepung monster yang menunggu di bawah benteng. 

Syifa menyusul dengan tangan berselimut energi api.

"Lautan pembantaian api!" Syifa menyentuh tanah, melepaskan sihir berskala area luas.

Semua monster yang mengepung langsung terbakar api yang berasal dari Syifa. 

"Semoga Tuhan melindungi kita!" Seta mencabut pedangnya, lalu melancarkan tebasan energi membantai monster yang tersisa dalam satu ayunan. 

"Sobat, monster atribut apa yang kalian inginkan?" Tanya Rudo membunuh monster yang menyerang menggunakan listrik yang merambat, menyetrum semua monster hingga mati. 

"Nanti saja berbicara tentang monster. Sebaiknya kita menjauh dari tempat kacau ini." Ucap Syifa melihat belasan monster sihir tingkat 5-8 bermunculan, dan menuju ke arah mereka. 

"Jalan es surgawi!" Pekik Syifa menggunakan sihir es untuk membuka jalan.

Puluhan monster membeku seketika dan membuka jalan bagi kelompok Seta untuk menjauh dari benteng yang sangat kacau dan dipenuhi monster.

"Ayo! Menjauh dari tempat ini!" Seta berlari paling depan, memimpin anggota timnya untuk menjauh dari wilayah sekitar benteng yang kacau. 

Di sepanjang jalan, mereka berhadapan dengan berbagai monster yang menghadang langkah mereka untuk menjauh dari benteng.

Dien menciptakan tombak energi, lalu melemparnya untuk membunuh ular raksasa yang menghalangi jalannya. Dien menciptakan perisai energi untuk menahan semburan api dari kadal raksasa yang menyerang. 

Pukulan palu petir!

Rudo memukul ular raksasa yang mencoba menerkam Dien dari samping, lalu melepaskan bola petir untuk membunuh kadal raksasa yang menyemburkan api.

"Terimakasih!" Dien mengekor Rudo dari belakang. 

"Seharusnya kamu membawa senjata. Jika terlalu mengandalkan energi spiritual, kamu hanya menunggu waktu saja untuk kehabisan energi spiritual." Ucap Rudo menghancurkan rahang monster musang dengan palu petirnya. 

Dien hanya bisa mengangguk sembari menciptakan tombak energi, lalu menebas salah satu monster serigala yang sangat lincah. 

Ledakan! 

Syifa membantu Dien yang kesulitan dengan membakar monster serigala dengan sihir apinya yang sangat kuat. 

Lemparan tombak! 

Dien melempar tombak energinya untuk membunuh monster tikus yang muncul dari tanah di belakang Syifa. 

Tim pemburu monster ke-15 kota Selabatu itu saling bekerja sama melawan monster yang menyerang dari berbagai sisi. 

Para monster berhenti mengejar saat kelompok Seta masuk lebih dalam ke hutan, dan sangat jauh dari benteng pertahanan wilayah luar. 

Kelompok Seta terus berlari hingga akhirnya sampai di sebuah tempat yang merupakan pinggiran sungai besar. 

"Kita istirahat disini. Monster-monster itu tidak mengejar lagi, dan mungkin kembali berkerumun di benteng wilayah luar." Ucap Seta ngos-ngosan dengan pakaian yang penuh darah. 

Dien, Aamon, Rudo, dan Syifa juga basah oleh darah monster. 

Mereka melepas pakaian dan membersihkan diri dengan air sungai. Syifa sendiri menggunakan sihir memutar waktu untuk memperbaiki pakaian mereka yang rusak akibat melawan monster. Alhasil semua pakaian yang rusak, compang-camping, penuh darah, dan tidak layak pakai, kembali menjadi baru.

"Terimakasih. Selama ada kamu, kami tidak perlu khawatir akan telanjang." Ucap Seta memakai pakaian yang sudah diperbaiki, lalu menyimpan handuknya di dalam gulungan segel. 

Gulungan segel sendiri adalah alat sihir yang dapat menyimpan benda secara terbatas. Para praktisi biasanya menggunakan gulungan segel untuk menyimpan senjata, ramuan, alat-alat penting, dan beberapa lembar pakaian. 

Tanpa terasa hari sudah malam, kegelapan mulai menyelimuti hutan, dan menghalangi pandangan semua orang. 

Kelompok kecil itu berkumpul di sekitar api unggun untuk membicarakan beberapa hal tentang perburuan mereka, dan sedikit bersantai menikmati waktu luang di tengah-tengah hutan penuh monster.

Bersambung. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!