Dien Moretz adalah sarjana pengangguran yang selalu gagal dalam wawancara kerja, karena memiliki kekurangan bibir sumbing yang menyebabkan komunikasinya tidak lancar dan dianggap sebuah beban. Suatu hari saat sedang mencari pekerjaan, tiba-tiba ada monster yang muncul dan memangsa orang-orang. Dien yang selamat akhirnya menyadari bahwa ada dunia lain, dunia yang berbeda dari yang dia jalankan selama ini. Dien yang tertarik dan tidak mendapatkan pekerjaan akhirnya memilih menjadi bagian dari dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YT FiksiChannel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demma Situganga
Sebagai pemegang lentera ingatan, Freya diajarkan teknik sihir memutar waktu untuk memulihkan tempat kejadian perkara yang hancur akibat pertarungan. Wanita itu memejamkan mata dan mulai mengucapkan mantra sihir memutar waktu.
“Wahai waktu yang berputar abadi. Aliran waktu yang berjalan di atas dunia. Tidak ada apapun yang bisa melawanmu, kamu selalu melangkah maju dan meninggalkan masa lalu. Kamu adalah waktu yang berjalan tanpa melihat raja, berjalan dengan penuh kesombongan. Kamu adalah kekuatan yang tidak bisa disempurnakan manusia. Kekuatan yang melebihi hukum manusia! Manusia bisa meminjam kekuatanmu, namun tidak bisa mengendalikan atau meniru kemampuanmu dengan sempurna. Pinjamkan kekuatanmu, putaran waktu!” Freya membacakan mantra memutar waktu dan melepasnya.
Tiba-tiba tercipta lingkaran sihir berskala besar yang mencakup area sejauh 1 km lebih. Bangunan yang hancur di wilayah sekitar tiba-tiba menyusun dengan sendirinya, membuatnya kembali normal seperti semula. Tidak ada kerusakan, tidak ada kecacatan, dan tidak ada sesuatu yang ditambah atau dikurangi. Semua kembali seperti semula, namun yang berbeda hanyalah kehidupan di dalamnya.
Orang mati tidak bisa hidup kembali, dan itulah kekuatan waktu yang tidak bisa dicapai oleh manusia.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Freya menatap langit dimana Aamon dan Dien muncul di langit seperti pertama kali mereka di teleportasi ke perumahan pondok, bedanya Freya tidak ikut karena sihir memutar waktu tidak mempengaruhinya yang merupakan pengguna sihir tersebut.
Aamon dengan cepat mendarat, begitu juga Dien yang berada di belakangnya.
“Tugas kita sudah selesai, ayo kembali!” Freya berdiri di pinggir jalan dan berkata dengan santai.
Aamon dan Dien mengangguk mengerti.
13 menit kemudian taksi lewat, dan berhenti di depan mereka. Tiga orang itu segera naik untuk kembali ke markas tersembunyi pasukan malam dan melapor.
“Ke kantor kepolisian kota Selabatu.” Freya memberitahu tujuan mereka.
Sopir taksi mengerti dan segera menekan gas melajukan mobilnya. Taksi melaju dengan sangat kencang, melewati beberapa mobil yang terjebak kemacetan, dan beberapa kali hampir bertabrakan dengan kendaraan yang berada di lawan arah.
Dien, Aamon, dan Freya tampak santai di dalam mobil, mereka seakan-akan sudah terbiasa dengan cara pengemudi taksi melaju di jalan raya. Sopir taksi berbelok ke gang sempit, lalu keluar gang di sisi lainnya, menerobos lampu merah, dan berhenti di bundaran simpang lima tugu gajah putih.
Terdengar suara klakson bersahutan, karena taksi menghalangi jalan. Sopir taksi yang berambut keriting itu tersenyum kecil, dan meledakkan mobil dengan energi spiritualnya yang sangat kuat. Mobil taksi itu meledak dan menghancurkan kendaraan yang ada disekitarnya, membuat suasana jatuh dalam kepanikan dan ketakutan.
Orang-orang mulai berlari menjauh dengan panik.
Dien dan kedua rekannya berhasil menyelamatkan diri dengan melapisi tubuh mereka dengan energi spiritual. Mereka bertiga segera melihat ke segala arah mencari sopir taksi yang berusaha membunuh mereka bertiga.
Dien melihat sesosok manusia yang berdiri di tengah-tengah asap ledakan.
“Selamat datang di pertarungan antar praktisi spiritual para manusia awam sekalian. Kami akan menunjukkan dan memperkenalkan…” Ucap sopir taksi melepas topi dan dengan latar belakang masyarakat yang panik dan ketakutan.
Sopir taksi dengan cepat menarik perhatian semua orang.
Tebasan lurus ke leher!
Aamon tiba-tiba sudah berada di belakang dan melancarkan tebasan mematikan sebelum sopir taksi menyelesaikan kalimatnya. Sopir itu menunduk, dan menjauh dengan santai seakan-akan tidak menganggap serangan Aamon.
“Haha. Sabar saudaraku, mereka belum siap.” Ucap sopir taksi tersenyum, menunjuk para warga yang mulai merekam video.
Dien, Aamon, dan Freya mengerti maksud dan tujuan sang lawan. Tampaknya pria berambut keriting itu ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa ada praktisi spiritual yang melindungi dunia ini. Jika itu terjadi, maka berita tentang kemunculan monster yang susah payah ditutupi divisi komunikasi dan teknologi pasukan malam akan kembali mencuat dan dipertanyakan kebenarannya. Keberadaan dunia spiritual akan terekspos, dan akan menyebabkan kekacauan di masyarakat luas.
Freya mengeluarkan sebuah kertas gambar dan mulai melukis wajah pria itu. Dien dan Aamon mengamati, mencari kesempatan untuk menyerang.
“Saudara-saudara sekalian!” Pekik pria itu menarik perhatian warga yang panik karena ada ledakan dahsyat, takut melihat korban yang berserakan, dan penasaran apa yang dilakukan pria berambut keriting, Aamon, Freya, dan Dien.
“Perkenalkan, namaku Demma Situganga. Aku adalah seorang praktisi spiritual…” Demma memperkenalkan dirinya.
Tiba-tiba suasana bundaran simpang lima yang ramai berubah menjadi sangat sepi, jalanan aspal yang tampak bersih dan tertata rapi kini berubah menjadi jalan berlumut tanpa aspal, seakan-akan tidak pernah mengenal modernisasi perkotaan. Patung gajah putih yang berdiri dengan gagah kini berganti menjadi pepohonan besar. Tempat itu layaknya sebuah tempat yang masih belum tersentuh modernisasi dan masih berupa hutan.
Tempat itu adalah alam roh yang memang tidak pernah tersentuh teknologi dan modernisasi yang ada di dunia nyata. Jika ada modernisasi itu karena beberapa manusia yang membawanya ke alam roh dengan masuk paksa (tubuh fisik ikut masuk).
“Ya ampun, ya ampun, kau benar-benar menghancurkan acara megah yang memperkenalkan praktisi spiritual kepada dunia yang aku buat. Jika begini, kamu tidak akan bisa menjadi superstar loh.” Ucap Demma menatap Freya yang menggunakan senjata sihir pindahan dunia roh, sebuah senjata sihir berbentuk kertas gambar.
Senjata sihir pindahan dunia roh adalah sebuah senjata sihir yang memaksa tubuh fisik seseorang yang ditandai masuk ke dunia roh secara paksa. Penggunaannya cukup simpel dan mudah, yaitu melukis wajah target yang akan dipindahkan, atau lebih mudah tinggal menulis nama target di kertas gambar.
“Bagus Freya!” Ucap Dien, lalu melepaskan pukulan energi.
Pukulan energi itu ditepis dengan mudah oleh Demma. Disaat yang sama Aamon sudah berada di depannya, melancarkan tusukan ke jantung. Demma menangkap pedang Aamon dengan acuh, lalu menendang Aamon hingga terhempas.
“Batalkan senjata sihir itu saudariku. Jangan menutupi keberadaan kita dari seluruh Dunia! Dunia harus tahu bahwa kita, praktisi spiritual ada dan melindungi mereka dari monster pemangsa yang bersembunyi dibalik kegelapan. Mereka harus berterimakasih kepada kita yang mempertaruhkan nyawa demi kedamaian mereka. Manusia-manusia awam yang lemah dan tak berdaya itu harus tahu siapa kita.” Ujar Demma panjang lebar sembari menghindari setiap serangan Aamon dan Dien.
“Apa kau gila? Memberitahu dunia tentang monster adalah suatu kebodohan!” Aamon melepaskan tebasan energi.
“Saudariku cepat batalkan senjata itu.” Demma menghindar dan menatap Freya, mengabaikan keberadaan Aamon dan Dien.
Demma menendang Aamon, lalu melepaskan pukulan ke dada Dien. Serangan balik Demma membuat Dien dan Aamon terhempas jauh.
“Jadi kau tidak mau mendengarkanku ya?” Demma menatap Freya yang menolak membatalkan senjata sihir pindahan dunia roh.
Demma memfokuskan dan melepaskan bola energi dari ujung jarinya kepada Freya.
Pukulan!
Dien memukul bola energi itu, lalu menangkis serangan Demma yang tertuju kepada Freya dari belakang. Demma mengerutkan keningnya, bingung bagaimana bisa Dien menyadari serangannya. Demma menghindari tebasan energi Aamon, lalu menangkis tinju Dien yang sangat kuat, dan bergerak cepat menjauh menjaga jarak.
Dien dan Aamon mengejar dan melepaskan serangan bertubi-tubi. Demma dengan santai menanggapi serangan Aamon dan Dien, dan sesekali menyerang balik. Demma menjauh, lalu melepaskan bola energi yang langsung ditangkis oleh Dien.
Tebasan!
Tangan putus!
Setelah bertukar serangan cukup lama, Aamon akhirnya berhasil menebas tangan kiri Demma hingga putus.
Bersambung.