Berhijrah terkadang bukan perkara yang mudah, apalagi bayang kelam masa lalu bak sebuah benalu yang menggerogoti hati. Tak jarang membuat keyakinan merosot kembali.
Keinginan untuk menjadi lebih baik, terkadang di bumbui sebuah kesempurnaan. Bak
setiap pria yang mendambakan seorang istri sempurna, pun seorang perempuan mendambakan seorang suami yang sempurna. Namun terkadang keduanya tidak menyadari kalau mereka di ciptakan untuk saling menyempurnakan.
Inilah sebuah kisah. Perjalanan penuh Lika liku, mendambakan sebuah kesempurnaan untuk mencapai sebuah kebahagiaan.
Tidak pernah menyadari, berdiam di Zona nyaman sebuah kesempurnaan dan kebahagiaan, membuat hati buta.
Telat menyadari kalau kebahagiaan bukan milik dia yang hebat dalam segalanya, namun bahagia, milik dia yang mampu temukan hal sederhana dalam hidupnya dan tetap bersyukur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Waktu shalat jum'at kini tiba. Para lelaki pergi ke mesjid untuk shalat Jum'at bersama. Sedangkan Zahra, Alika dan Ummie terlihat sibuk menata ruangan dan menyiapkan setiap jamuan untuk menyambut keluarga dari pihak laki laki yang akan datang setelah shalat Jum'at. Walau sedang berbadan tiga, Alika tetap ingin membantu Ummie walau yang ringan-ringan saja.
Di sudut lain di kamar Rani. Gadis itu terlihat sedang mempersiapkan diri untuk bertemu dengan seorang lelaki yang dari tadi terus di banggakan Ummie.
Walau canggung Rani akan berusaha menerima semua keputusan dari Abie dan Ummie. Meyakinkan kalau ini mungkin jalan dari Allah yang terbaik untuk nya.
Rani sesekali menengok pergerakan Afham. Bocah kecil itu terlihat sedang bermain sendiri dengan robot-robots mainannya. Zahra harus meninggalkan Afham sendiri, membiarkan anaknya bermain agar tidak mengganggunya bekerja.
Dan benar saja, saat Rani melihat keadaan Afham. Bocah kecil itu terlihat asyik dengan mainannya.
"Afham jangan ke mana-mana ya. Kak Rani tinggal mandi sebentar."
Rani melihat para lelaki yang sudah beres menjalankan shalat Jum'at. Terpaksa harus meninggalkan Afham sendiri untuk bersiap siap.
"Iya Unti."
Afham mengangguk. Dia benar-benar asyik sendiri, sampai menabrakkan satu robot dengan robot lain menghayati imajinasi.
"Anak pintar. Kak Rani ke kamar dulu ya."
...*...
Keadaan di mesjid.
Seperti biasa empat sekawan itu terlihat berkumpul bersama. Rutinitas setelah shalat Jum'at yang tidak boleh terlewat.
"Keduluan Rani loe Bro. Kalau sudah membuat keputusan memilih, kenapa gak langsung loe lamar aja Maura. Di ambil orang baru tau rasa."
David mengoceh. Dia sendiri terkejut saat tahu kabar perjodohan Rani.
Memang takdir yang luar biasa, tidak di beri jangka waktu lama. Rani akan di pertemukan dengan pasangannya.
"Ancang-ancang dulu lah. Masa main langsung lamar saja."
Iya itulah yang Alex pikirkan. Jika dia bergerak tiba-tiba. Takut Maura akan mengira dia hanya bercanda.
"Woi, tumben loe diam. Biasanya loe paling heboh kalau menyangkut masalah Gue."
Alex kembali bicara. Menepuk pundak Raka merasa heran melihat tingkah temannya yang biasanya menyebalkan.
"Membahas loe udah basi. Sekarang gue lebih penasaran sama laki yang akan di jodohkan dengan Rani. Seperti apa ya. Kok gue yang malah dag dig dug sendiri."
Heh.
Bukan Raka namanya kalau dia tidak bicara sesukanya.
Hatinya malah bergejolak penasaran ingin melihat sosok lelaki yang akan di jodohkan dengan wanita yang telah menjadi korban pelampiasan temannya.
"Iya. Gue juga penasaran."
Ansell kini menyahut. David dan Alex sampai refleks melihat reaksi Ansell. Tidak seperti biasanya Ansell akan sejalur dengan pemikiran Raka.
"Wah mantap Bos. Kita sekubu."
Raka antusias mengangkat telapak tangan untuk adu tos dengan Ansell.
Merasa bahagia baru kali ini Ansell mendukung pendapatnya.
Saat mereka berbincang, terlihat Gus Ali lewat. Dia baru saja keluar dari masjid bermaksud langsung pergi ke rumah Abie untuk menemui sang istri.
Namun langkahnya terhenti. Dia langsung berbalik saat Ansell memanggil dan meminta dia untuk bergabung bersama mereka.
Mau tidak mau Ali pun ikut bergabung dengan Ansell dan tiga kawannya.
"Maaf." Empat sekawan itu serempak mengucapkan kata maaf. Sontak membuat Ali gelagapan melihat tingkah mereka yang tiba-tiba.
"Ekh. Maaf untuk apa ya."
Ali bingung. Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kita telah melakukan kesalahan pada sodara Gus Ali."
Mereka lagi-lagi bicara kompak. Tidak terkecuali Ansell. Dia pun sama-sama minta maaf atas apa yang telah ia lakukan kepada adik iparnya.
"Tidak harus sampai seperti itu, santai saja."
Ali tersenyum. Dia benar benar terkejut.
Empat laki-laki yang selalu terlihat sangar jika mereka sudah bersama ternyata punya sisi lemah juga. Dia tidak mengira mereka sampai membungkukkan kepala untuk meminta maaf pada nya.
"Jadi Gus Ali tidak marah pada kita?"
Alex antusias. Melihat reaksi Ali, Dia serasa punya harapan tinggi untuk kembali berguru pada nya. Padahal awalnya dia sudah malu. Tidak punya keberanian diri untuk menemui Ali kembali.
"Tidak Tuan Alex. Tanpa di minta pun saya sudah memaafkan kalian. Seharusnya saya juga berterima kasih. Berkat kalian, Rani bisa sedikit lebih dewasa sekarang."
Iya, memang selalu ada hikmah di balik semua permasalahan. Dan itulah yang Ali rasakan. Rani yang dulu begitu kekanak-kanakan dan kampungan kini bisa dewasa, bisa memperbaiki sikap dan penampilan.
"Haha. Iya Gus. Berkat ledekan Alex yang selalu mengatainya Udik, Rani sekarang malah menjadi wanita yang cantik."
Katanya minta maaf. Tapi bibir Raka kembali ceplas-ceplos mengejek Rani di depan sodara nya.
"Woi. Gak usah di sebut lagi Udik nya napa. Kita kan sedang minta maaf, bodoh."
David sewot berbisik. Tidak habis pikir. Dengan cepat menyenggol badan Raka dengan sikutnya. Bisa-bisanya dia kembali mengucapkan kata Udik di depan Gus Ali tanpa meralat nya.
"Kan fakta Vid."
Lah. Masih saja gak peka.
"Parah, loe. Fakta si fakta. Tapi gak harus di ucapkan juga, Raka."
Emosi David tersulut. Lupa sudah kalau di depan mereka ada Gus Ali yang sudah cengengesan melihat tingkah mereka.
"Hehe. Jangan di hiraukan Gus. Mereka sudah biasa. Anggap saja tidak ada."
Ansell menggelengkan kepala. Malu sendiri. Bisa bisanya dua lelaki itu membuat dia malu di depan adik iparnya.
"Tidak apa-apa Bang."
Pembicaraan mereka yang awalnya bercanda kini berubah menjadi ketegangan. Mereka kaget melihat kedatangan Zahra yang berlari kecil dengan raut wajah gelisah.
"Habib." Nafas Zahra terlihat ngos-ngosan. Dia sampai tidak bisa mengatur nafas karena terlalu panik dan gelisah.
"Kenapa Dek?"
Ansell terkejut. Dengan cepat berdiri dan menghampiri sang istri.
"Ada apa? Kenapa sampai panik seperti ini?"
Belum juga Zahra bercerita Ansell sudah kalang kabut melihat reaksi Zahra.
"Apa Habib melihat Afham di sekitar sini? Afham menghilang Bib."
Zahra bicara dengan bibir bergetar. Sontak Ansell pun ikut tercengang mendengar perkataan Zahra.
"Afham hilang. Kenapa bisa Dek?"
Ansell begitu kaget. Dan bukan hanya Ansell saja. Ali dan tiga sekawan itu pun ikut terkejut mendengar kabar dari Zahra.
"Maaf Bib. Tadi aku meninggalkan Afham sendiri karena membantu Ummie. Saat aku kembali. Afham sudah tidak ada."
Badan Zahra begitu lemas, bagi tertumpuk bongkah batu. Dia telah melakukan kesalahan karena meninggalkan Afham.
"Astagfirullah...."
"Adek tenang. Kita cari Afham sama-sama. Dia pasti tidak akan jauh dari sekitar sini."
Ansell begitu gelisah. Namun dia harus berusaha baik-baik saja demi menguatkan istrinya.
Dia langsung memeluk erat tubuh Zahra. Meyakinkan Sang istri kalau putra mereka akan baik baik saja.
"Vid. Cari di sekitar sini. Jangan memakan waktu lama. Cepat temukan Afham dan pastikan dia baik baik saja."
Terdengar Ansell hanya memerintah David. Tapi dengan sadar diri Alex dan Raka mengerti kalau Ansell meminta bantuan mereka bersama. Bahkan jika Ansell tidak meminta. Mereka akan membantunya.
...*...
Di sisi lain di luar kompleks pesantren.
Sang bocah kecil yang di khawatirkan orang orang terlihat celingukan di tepi jalan. Karena keasikan mengejar buruannya, Afham sampai tidak sadar sudah jauh pergi meninggalkan area pesantren.
"Tangkap."
Dengan antusias Afham berjingkrak. Kedua telapak tangannya menangkap sebuah capung yang sedari tadi di buru nya.
"Jangan pelgi. Afham kasih Abie."
Afham mengoceh. Menggerutu sang capung, karena membuat dia harus berlari lari untuk memburunya.
"Afham belani."
Dia mengoceh lagi. Ternyata Afham sampai antusias menangkap capung untuk menunjukkan pada Sang Abie. Membuktikan bahwa dia laki laki yang berani.
Tidak lama, sebuah mobil yang lewat di sana langsung berhenti melihat anak kecil sendiri. Sang pengemudi langsung turun dan menghampiri.
"Adek. Kenapa di jalan sendiri Nak? Mana Ayah dan Ibu?"
Orang itu begitu terkejut. Tidak habis pikir kenapa ada anak kecil di tepi jalan tanpa ada orang yang menjaganya.
Afham kaget melihat orang asing itu. Karena takut dia langsung memundurkan tubuhnya.
"Adek jangan takut. Om tidak akan berbuat jahat sama Adek."
Laki laki itu tersenyum ramah. Meyakinkan Afham. Kalau dia tidak jahat seperti bayangan.
"Fahri. Ajak masuk mobil saja. Di luar panas. Kita tanya Ayah Ibunya di mana, dan bantu mencarinya."
Orang di dalam mobil memanggil anaknya.
Rupanya lelaki yang menghampiri Afham adalah Fahri. Kebetulan dia beserta keluarga sudah dekat di area pesantren dan bisa berpapasan dengan Afham.
"Bagaimana, Adek mau ikut bersama kita. Nanti Om bantu cari Ayah dan Ibu Adek."
Fahri mengulurkan tangan. Dia harus membawa Afham memastikan kalau anak itu akan baik baik saja.
"Tidak mau. Kata Abie, Afham tidak boyeh mau di ajak olang tidak kenal."
Afham menggelengkan kepala. Suara cadelnya sukses membuat Fahri tersenyum gemas melihat ekspresi nya.
"Anak pintar. Kalau begitu kita kenalan dulu. Nama Om, Fahri. Nama Adek Afham ya?"
Afham hanya menganggukkan kepala. Fahri pun kembali bertanya.
"Kenapa Afham bisa sendiri di sini? Orang tua Afham di mana?"
"Afham tangkap apung, uat Abie."
Afham mengacungkan tangannya. Fahri pun bisa dengan jelas melihat sosok capung yang mati tragis di tangan bocah kecil ini.
"Astagfirullah. Ini anak umur berapa ya. Sekecil ini sudah berani keluar sendiri. Untuk berburu capung pula. Menangkap capung kan susah."
Fahri menggelengkan kepala. Jika anaknya sudah seberani ini, Abie nya seperti apa.
Bisa bisanya keluar sendiri. Di tambah lagi setiap perkataan nya selalu berlandaskan nasehat Abie nya.
"Emang Abie Afham ada di mana?"
"Itu. Abie dan Ummie ada di Pecantlen. Di lumah Kakek aji."
Afham menjawab. Tangannya menunjuk arah pesantren yang tidak jauh dari lokasinya.
"Oh ya? Kalau begitu ayo ikut Om. Kita menemui Abie Afham bersama-sama, Om juga mau ke sana."
Akhirnya Fahri bernafas lega. Walau tidak mudah membujuk Afham. Tapi dia sudah tahu keberadaan orang tuanya.
"Afham bisa jalan cendili Om. Tidak auh kok. Kata Abie jangan menyucahkan olang."
Afham menolak. Lagi lagi membawa Sang Abie dalam perkataannya.
"Iya, sesuai namanya. Anak ini begitu pintar tidak seperti tampangnya yang terlihat menggemaskan."
Fahri angkat tangan. Dia sudah kehabisan Ide untuk mengajak Afham.
"Iya. Terserah Afham saja. Tapi hati-hati ya!"
Fahri pun beranjak berdiri. Meninggalkan Afham dan kembali ke mobilnya.
"Pa. Fahri mau berjalan saja menemani anak itu. Bapak yang bawa mobilnya ya."
Ternyata Fahri meninggalkan Afham bukan untuk meninggalkan nya.
Tapi meminta izin pada Sang Ayah untuk menemani bocah kecil yang sudah terlebih dulu berjalan meninggalkan nya.
"Iya. Bapak yang bawa. Cepat susul anak itu. Kecil kecil sudah berani jalan sendiri."
Ayah Fahri ikut tersenyum. Merasa kagum melihat sosok Afham yang kukuh dengan keinginannya.
Afham berjalan pelan. Di ikuti langkah Fahri yang mengimbangi langkah kaki nya.
Dia terkejut saat mendengar langkah kaki Fahri. Refleks langsung menoleh kebelakang.
"Om. Kenapa ikut Afham?"
"Tidak kok. Om sedang oleh raga."
Dengan santai Fahri menjawab, tidak mempedulikan ocehan anak kecil di depannya.
Langkah demi langkah mereka lewati. Tidak terasa Afham sudah di depan pintu gerbang Pesantren.
Perlahan masuk dan dengan jelas bisa melihat sosok Zahra yang sedang mondar mandir mencari keberadaan nya.
"Ummie..."
Afham sekencang mungkin memanggil Zahra. Sejujurnya Dia sudah begitu lelah dari tadi berlari sampai rasanya sudah begitu banyak mengeluarkan tenaga nya.
Hanya saja tidak mau menerima tawaran Fahri. Takut orang itu akan mencelakai nya.
"Afham."
Sontak Zahra langsung menengok ke sumber suara. Tanpa pikir panjang dan melihat suasana. Dengan cepat Zahra berlari menghampiri putra kecilnya.
Begitupun Ansell dan yang lainnya. Mereka sama sama melihat ke arah Afham.
"Astagfirullah Afham. Kamu dari mana saja Nak. Kamu tidak apa-apa kan sayang."
Dengan cepat Zahra langsung menekukkan lututnya. Berhambur memeluk Afham memastikan keadaan buah hatinya.
"Ummie angis? Afham baik. Afham angkap apung."
Afham mengelus punggung Zahra. Terkejut karena mendengar isakan Umie nya.
"Lain kali kalau mau kemana-mana bilang Umie dan Abie ya. Umie begitu khawatir, sayang."
"Afham tidak apa-apa Mie. Ada Om Fahli."
Walau tadi tidak mau menerima bantuan Fahri. Afham kini memanfaatkan Fahri untuk mengurangi kekhawatiran Umie nya.
Mendengar perkataan Afham sontak Zahra terkejut. Baru sadar kalau ada laki laki yang berdiri di belakang anaknya.
Zahra mengangkat kepala. Sampai dengan jelas melihat sosok Fahri yang berdiri di depan nya. Fahri sendiri bisa dengan jelas melihat sosok Zahra karena memang sedari tadi memperhatikan nya.
"Ustadz Fahri....?"
Zahra terkejut. Begitupun dengan Fahri yang tidak kalah terkejut.
"Ai.... Aisyah...?"
Pandangan mereka terpaku. Bibir mereka saling memanggil nama masing-masing.
Begitu terkejut dengan keadaan sekarang.
Bukan hanya Zahra dan Fahri yang terkejut. Ansell lebih terkejut lagi. Awalnya ingin menghampiri Zahra, tanpa sadar malah berdiri mematung. Tidak percaya kalau Sang istri bisa kenal dengan seorang lelaki yang terlihat datang bersama anaknya. Bahkan yang lebih membuatnya kaget, ada pandangan tidak biasa dari reaksi Zahra dan laki laki yang di panggil Sang istri dengan sebutan Ustadz Fahri.
Alih-alih bergerak dan bicara. Ansell malah terus mematung. Pada akhirnya Raka lah yang mewakili kepenasaranan nya.
"Mereka saling mengenal?"
"Sepertinya. Lihat saja! Nona Zahra sampai seperti itu melihatnya."
Alex menyahut. Perkataannya malah menjadi percikan api di hati Ansell.
"Siapa laki-laki itu? Lumayan tampan juga."
Dasar tidak mengerti situasi. Kali ini perkataan David bukan hanya menjadi percikan api. Tapi sudah seperti kobaran api yang menyulut hati Ansell.
"Itu Ustadz Fahri. Dia adalah guru ngaji Kak Zahra waktu SMP dan SMA."
Kini Ali yang menjawab. Sontak membuat empat laki-laki itu melebarkan mata terkejut mengetahui kebenarannya.
"Gus Ali juga mengenalnya?" Raka terlihat yang paling antusias di sana.
"Iya."
Ali memang mengenal Fahri, karena dulu mereka pernah sama sama mengaji di sini.
"Jangan bilang Ustadz Fahri cinta pertama Nona Zahra?
Wah bahaya. Ini ancaman Bos."
Yang cemburu siapa. Yang heboh siapa?
Raka malah yang kalang kabut sendiri melihat reaksi bos nya.
Kali ini sepertinya Ansell benar benar menunjukkan sikap asli cemburunya.
"Aisyah. Kau istri ku. Kau milikku. Kau Ibu dari anak ku. Aku tidak akan membiarkan ada laki laki lain yang melihat Mu. Apalagi sampai mengusik mu dari sisi ku."
Amarah Ansell sudah naik sampai ubun-ubun. Dengan cepat melangkahkan kaki untuk menghampiri Zahra.
"Wah gila. Jadi itu sikap asli si Ansell. Parah. Menyeramkan sekali."
Alex menggelengkan kepala.
Walau dia sering di peringatkan Ansell untuk tidak menggoda Zahra. Tapi kali ini dia bisa melihat amarah Ansell yang sebenarnya.
"Bang Ansell tidak akan memukul Ustadz Fahri kan?"
Ali ikut bersuara. Jika melihat kebiasaan Ansell. Pertanyaan itulah yang keluar dari mulut nya.
"Entahlah lah Gus. Kita doakan saja semoga Ustadz Fahri baik baik saja."
Dengan tersenyum kecil. Tiga laki-laki itu dengan serempak menjawab pertanyaan Ali.
Dalam kepala mereka sudah berkeliaran adegan apa yang akan terjadi selanjutnya.
.
.
.
.
nungguin lho bolak balik cek blm up jg
apalagi dengan tokoh zahra...
🙏🙏