Mengandung adegan 21+
Bijaklah dalam memilih bacaan
Kisah cinta tiga pasangan yang harus kandas namun belum sepenuhnya usai.
Kisah cinta Regan dan Sarah sampai di pernikahan. Keduanya hidup bahagia sampai ujian datang menerpa rumah tangganya. Mereka terpaksa berpisah saat kehilangan anak tercinta dengan cara yang tragis.
Irzal dan Poppy dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Di saat cinta mulai tumbuh, masalah datang menerpa. Seseorang dari masa lalu memporak porandakan biduk rumah tangga yang baru seumur jagung.
Berawal dari sebuah permainan. Rasa cinta antara Ega dan Alea mulai tumbuh. Sejarah kelam dan permusuhan orang tua membuat keduanya harus terpisah.
Sekian lama berpisah, ketiga pasangan ini bertemu kembali. Takdir mempertemukan mereka semua terhubung dalam ikatan yang sulit dijelaskan. Akankah mereka dapat bersatu kembali dengan orang yang dicintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desperate Couple (5) Antara Ega, Alea dan Empang
Agustus 2013
Ega berkonsentrasi di depan laptopnya menyelesaikan tugas akhirnya. Tumpukan buku dan lembaran kertas memenuhi mejanya. Sudah dua hari ini dia berkutat dengan skripsinya. Keinginan mengejar wisuda di akhir tahun membuatnya harus mempercepat penyusunan hasil penelitiannya.
Adit masuk ke dalam kamar. Ega tak mendengar kedatangannya karena telinganya tertutup oleh earphone. Adit menghampiri kemudian mengetuk-ngetuk meja. Ega mengangkat wajahnya dan melihat Adit sudah berdiri di hadapannya. Dia melepas earphonenya.
“Ada apa kang?”
“Ayo.”
“Kemana?” tanya Ega bingung.
“Fitting baju buat acara nikahan Tombak. Lo ngga lupa kan bulan depan kakak lo nikah.”
Ega menghela nafas panjang. Sebenarnya dia malas dengan segala hal yang berkaitan dengan pernikahan Tombak.
“Dia yang nikah kenapa gue yang harus fitting baju?”
“Bukan lo aja keles.. Tombak sama Kania juga. Udah deh cepetan siap-siap.”
“Males ah.. lo aja yang gantiin gue fitting.”
“Ngga usah aneh-aneh deh, udah cepetan bangun.”
Ega mematikan laptopnya, dengan malas mengikuti Adit keluar kamar. Tombak sudah menunggu di ruang tamu.
“Kita pergi bareng dia?” tanya Ega dengan suara pelan. Adit hanya mengangguk.
Melihat Adit dan Ega, Tombak segera berdiri lalu berjalan keluar menuju mobilnya. Hari ini dia tidak didampingi Dima, asistennya. Sengaja pergi bersama Adit dan Ega. Adit duduk di belakang kemudi, Ega duduk di kursi sebelah sedangkan Tombak di belakang. Tak lama mobil melaju menuju butik.
Sesampainya di butik, Kania sudah menunggunya di sana. Ega melihat sekilas padanya, kemudian berjalan masuk ke dalam butik. Kania tersenyum pada Tombak, dia langsung memeluk lengannya dan masuk ke dalam diikuti Adit dari belakang. Anita, Manajer Butik menyambut kedatangan mereka, seorang pelayan segera menyiapkan minuman untuk mereka.
Anita mempersilahkan Tombak dan Kania mencoba pakaian terlebih dahulu, dan meminta Ega serta Adit menunggu. Tombak dan Kania mulai melakukan fitting. Ega duduk menunggu sambil berbicara dengan Adit.
“Kang.. rencana kita udah mulai dijalanin belum? Udah dua bulan nih gue pacaran sama Alea.”
Adit hanya menghela nafas. Sebenarnya dia sudah menyuruh seseorang untuk selalu mengikuti kemana pun Ega dan Alea pergi, mengambil foto kebersamaan mereka untuk nantinya diberikan kepada Willy Irawan. Sudah banyak hasil foto yang dicetak olehnya tapi dia masih belum bisa menunjukkannya.
“Ga.. mumpung belum terlambat, mending dipikirin lagi. Gue rasa ini bukan ide bagus. Gua janji bakal cari cara lain buat ngebantu elo.”
“Cara apa lagi kang? Akang tau gimana papa, ini jalan tercepat dan tingkat keberhasilannya tinggi.”
“Tapi bahaya Ga. Lo ngga tau kan gimana keluarga Alea nanti akan bereaksi. Gue takut lo kenapa-kenapa.”
“Apapun resikonya bakal gue tanggung. Lagian kasian Alea kalau kita batalin rencana ini. Gimana dengan impian dia nantinya.”
“Lo peduli banget sih.. atau jangan-jangan lo udah mulai suka ya sama dia?”
Adit mulai curiga pada Ega. Dipandanginya lekat-lekat. Ega tertawa melihat reaksi Adit.
“Kang.. gue peduli karena gue juga ngerasain apa yang dia rasain. Hidup terkekang tanpa bisa melakukan apa yang kita mau, itu ngga enak banget. Apalagi dia perempuan, pasti ngerasa kalau dirinya cuma barang yang bisa dijual untuk kelangsungan bisnis keluarganya.”
Percakapan mereka terhenti ketika Tombak dan Kania keluar dari ruang ganti. Untuk acara akad nikah mereka menggunakan busana bernuansa putih. Kebaya dengan sentuhan modern nan mewah tampak cocok dikenakan Kania. Model kebaya memperlihatkan bentuk tubuh Kania yang ramping menjadi lebih seksi. Sedang Tombak mengenakan setelan jas bewarna putih.
Kania bercermin ingin memastikan dirinya tampak sempurna dengan busana yang digunakan. Setelah dirasa cukup mereka kembali masuk ke dalam untuk mencoba busana kedua. Seorang pelayan menghampiri Ega.
“Pak Graha, bapak bisa mencoba pakaian sekarang.”
Ega berdiri dan segera mengikuti pelayan masuk ke ruangan. Di sana telah tergantung sebuah tuxedo berwarna hitam beserta kemeja berwarna putih tulang yang dipesan khusus oleh keluarganya. Dengan cepat Ega mencoba pakaiannya, seorang pelayan membantunya mengenakan jas.
Ega keluar dari ruangan. Dia terlihat tampan dan gagah. Saat yang bersamaan Kania dan Tombak juga keluar dengan menggunakan busana kedua yang akan dikenakan saat acara resepsi nanti. Tombak mengenakan tuxedo berwarna hitam, dan Kania mengenakan busana pengantin modern berwarna silver.
Ega melihat pakaian yang dikenakan Kania. Jika berada di posisi Tombak, dia tidak akan mengijinkan Kania mengenakan busana pengantin seperti itu. Sebuah gaun tanpa lengan yang mengekspos bagian leher hingga bahu, ditambah belahan dada yang dalam serta bagian punggung terbuka. Kania berjalan mendekati cermin, kakinya menginjak bagian gaun yang menjuntai panjang menutupi kakinya. Dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Adit spontan tersenyum namun senyumnya hilang berganti perasaan kikuk ketika melihat pakaian Kania melorot dan memperlihatkan bagian dadanya. Dia langsung memalingkan wajahnya.
Dengan cepat Ega melepas jasnya dan menutupi tubuh Kania dengan jasnya. Dua orang pelayan segera membantu Kania berdiri dan membawanya masuk. Ega melihat pada Tombak. Lelaki itu hanya diam dan bersikap acuh. Tombak melihat Ega sejenak, setelah itu dia masuk untuk berganti pakaian. Begitu pula dengan Ega.
Acara fitting baju selesai, Kania tak banyak bicara saat keluar dari butik. Supirnya segera membukakan pintu, dia masuk dan langsung menyuruh supir menjalankan mobil. Tak berniat menunggu Tombak. Kania tak percaya dengan kejadian yang menimpanya barusan. Bukan hanya menjadi bahan tertawaan, dia juga harus menahan malu karena bagian atas tubuhnya menjadi tontonan semua orang yang ada di ruangan. Dia menggigit bibirnya dengan kesal, terlebih mengingat sikap Tombak yang acuh. Kania memejamkan matanya, lalu teringat Ega menyelamatkan dirinya tadi. Sikap Ega walau hanya sesaat menunjukkan bahwa dia adalah lelaki yang baik dan tahu bagaimana menghormati wanita. Kania gelisah, dia mulai merasakan sesuatu yang lain. Bayang-bayang Ega terus terekam dalam ingatannya.
Ega keluar dari butik, mobil Kania sudah tidak ada. Dia berjalan menuju mobil, Adit dan Tombak sudah menunggu. Tak lama mereka pun meninggalkan butik.
“Anterin aku ke kantor aja Dit,” ucap Tombak.
Tanpa menjawab Adit segera mengarahkan kendaraan menuju Golden Tower. Ega melihat Tombak dari kaca spion, tampak sedang sibuk dengan ponselnya.
“Kak.. harusnya kakak ngga bersikap seperti tadi. Kania pasti malu,” Ega membuka suara.
“Itu resiko dia karena memilih pakaian seperti itu,” jawab Tombak tanpa melihat pada Ega.
“Kalau kejadian tadi terulang di acara resepsi, apa kakak akan tetap diam seperti tadi?”
“Mungkin.”
Ega langsung menoleh pada Tombak.
“Ngga usah kaget gitu. Kamu segitu pedulinya sama Kania. Kenapa ngga kamu aja yang menikah dengannya. Dengan senang hati aku akan mengalah.”
Ega memalingkan wajahnya sambil mendengus kesal. Dia memang tidak pernah bisa memahami jalan pikiran kakaknya. Adit memberi isyarat untuk tidak meneruskan perdebatan. Dia segera menyetel musik untuk meredakan suasana.
❤️❤️❤️
Ega baru saja selesai menunaikan shalat Jum’at. Lalu masuk ke dalam kamar, mengganti baju kokonya. Hari ini dia akan melakukan transaksi pembelian lahan untuk usaha ternak lelenya. Ega meletakkan semua berkas ke dalam tas ranselnya. Ponselnya bergetar, ada pesan masuk dari Adit. Setelah membaca pesan, Ega bergegas keluar kamar.
Adit berjalan di garasi, hari ini dia akan menggunakan Land Rover untuk mengantar Ega. Adit masuk ke dalam mobil dan menjalankannya keluar garasi. Dia menghentikan mobil di depan pintu, tak lama Ega keluar dan langsung masuk ke dalam mobil.
“Jemput Alea dulu kang di rumah bang Agi.”
“Oke.”
Adit segera mengarahkan mobil ke daerah Kuningan. Ega mengirim pesan pada Alea untuk bersiap-siap. Sejam kemudian mereka sampai. Ega dan Adit turun dari mobil. Mendengar suara mobil, Alea dan Agi keluar dari rumah.
“Bang Agi ikut?” tanya Ega.
“Ikut dong Ga. Gue juga pengen refreshing, masa ngulek ketoprak terus.”
Ega tersenyum, lalu dia mengambil kunci mobil dari Adit.
“Gue aja yang nyetir.”
“Ngga usah, biar gue aja.”
“Gua ngga mungkin biarin Alea duduk di belakang sama bang Agi, ngga cocok. Dia lebih cocok sama kang Adit, jadi biar gue yang nyetir. Alea duduk di depan.”
“Ah modus lo.”
Ega membukakan pintu untuk Alea, setelah itu segera naik. Suasana mobil riuh dengan pembicaraan dan tawa mereka. Tak terasa mereka sudah sampai di pasar Ciputat. Seperti biasa daerah ini selalu dilanda kemacetan. Setelah tertahan selama setengah jam, akhirnya mereka dapat berjalan lagi dengan lancar.
Ega menambah kecepatan mobil agar segera sampai. Tiba-tiba Alea berteriak ketika melihat seseorang perempuan muncul menyetop mobil. Ega mengerem mendadak. Perempuan itu segera menghampiri mobil dan mengetuk-ngetuk kaca mobil. Ega menurunkan kaca.
“Ya ampun mba jangan nongol mendadak gitu dong, kalau ketabrak gimana?” kesal Ega.
“Tolongin saya, kakak saya mau melahirkan. Tolong anterin ke klinik bersalin, tolong ya.”
Ega segera turun dari mobil diikuti Adit dan Agi. Mereka menghampiri seorang ibu yang sedang hamil besar tengah berdiri sambil menahan sakit. Adit dan Agi segera membawa ibu tersebut masuk ke dalam mobil. Dia duduk di tengah diapit oleh Adit dan Agi.
“Ikutin saya aja mas, saya naik motor sama temen saya.”
Perempuan itu segera naik ke motor. Ega bergegas ke mobilnya, menjalankan mobil mengikuti motor di depannya. Tiba-tiba ibu hamil itu menjerit. Dia merasakan kontraksi, refleks menjambak rambut Agi dan mencengkeram tangan Adit kuat-kuat. Alea melihat ke belakang, tampak ibu itu sedang kesakitan. Dia terus berteriak.
“Aaahh..!! sakit ya Allah, aaahhh..!!”
“Ga, cepetan,” ucap Alea.
Ibu itu kembali menjerit sambil menjambak Agi. Lelaki berambut kriwil itu ikut menjerit kesakitan. Jeritan Adit tak kalah kencang saat cubitan mendarat di tangannya. Suasana mobil menjadi riuh. Alea bingung harus berbuat apa. Ega menambah laju mobilnya. Akhirnya mereka tiba di klinik. Ega menghentikan mobilnya. Adit segera membuka pintu mobil, membantu ibu itu keluar mobil. Agi ikut turun, begitu juga Alea dan Ega. Bersama-sama mereka mengantar ibu itu masuk ke dalam klinik.
Bidan langsung membawa ibu ke kamar tindakan ditemani oleh adiknya. Agi mengelus-elus kepalanya yang terasa sakit. Adit pun mengusap tangannya yang terasa nyeri. Ega dan Alea tak bisa menahan tawa melihat kedua orang itu.
“Ketawa lo.. lo tuh ngga ngerasain sakitnya,” Adit sewot.
“Iya.. nih kepala gue bisa botak gara-gara dijambak ibu tadi. Buset dah tenaganya kuat banget.”
Tak lama terdengar suara tangis bayi. Mereka saling berpandangan dan bersama-sama mengucapkan hamdalah. Adik ibu hamil tadi keluar ruangan dan menghampiri mereka.
“Makasih ye, udah nolongin kite. Maaf kalo ngerepotin.”
“Ngga kok.. santai aja. Alhamdulillah ya, gimana bayinya sehat? Ibunya ga apa-apa?” tanya Ega.
“Alhamdulillah dua-duanya sehat. Anaknya laki-laki.”
“Syukur deh. Kalau gitu kita pamit dulu ya.”
“Sekali lagi makasih ye.”
Mereka berempat kembali masuk ke dalam mobil melanjutkan perjalanan yang tertunda. Ega langsung mengebut mobilnya karena sudah terlambat dari waktu yang dijanjikan.
❤️❤️❤️
Cholil mondar-mandir di depan rumah encang Salman, orang yang akan menjual empang ikannya. Ega sudah telat satu jam dari waktu yang dijanjikan. Encang Salman keluar dari rumah sambil membawa cangkir kopi.
“Udeh.. nanti juga dateng, paling kecegat macet.”
“Aduh maaf ya ncang.”
Cholil mengikuti encang Salman duduk di bale. Tak lama terdengar adzan ashar. Lelaki yang sudah berumur itu mengajak Cholil untuk sholat ashar di mushola dekat rumah. Selesai sholat mereka kembali duduk di bale menunggu Ega datang. Mereka berbincang tentang usaha ternak lele yang akan dikelola oleh Cholil. Encang Salman banyak memberi masukan pada Cholil, karena ternak ikan adalah hal yang telah digelutinya sejak lama.
Nampak sebuah Land Rover hitam memasuki pekarangan rumah encang Salman. Tak lama mereka berempat turun dari mobil. Cholil dan encang Salman langsung menyambut.
“Assalamu’alaikum,” ucap Adit.
“Waalaikumsalam,” jawab encang Salman.
“Aduh maaf ncang, tadi di jalan ada sedikit insiden jadi telat deh.”
“Kaga apa-apa.. ayo masuk.”
Mereka langsung menuju bale-bale.
“Udeh pade shalat ashar belon nih?”
“Belum ncang,” jawab Adit.
“Mending lo pade shalat dulu dah. Biar afdol nanti tanda tangan jual belinya.”
Ega tersenyum, bersama Adit dan Agi mereka berjalan menuju mushola.
“Lo kaga shalat neng?” tanya encang pada Alea.
“Hmm.. saya ngga bawa mukena ncang.”
“Tenang aje, ade di mushola. Udeh sana shalat dulu.”
Alea menuruti perkataan encang Salman. Dia berjalan menuju mushola. Setelah mengambil wudhu, Alea masuk ke dalam. Benar saja dia menemukan mukena sudah tersedia di sana. Dia segera memakainya dan menunaikan shalat ashar.
Sudah cukup lama dia tidak pernah melakukan kewajiban lima waktunya ini. Selesai shalat Alea tak lupa berdoa, ada perasaan nyaman dalam dirinya. Enggan untuk beranjak dari sajadahnya.
Ya Allah sudah berapa lama hamba tidak bersujud pada-Mu. Maafkan dosa-dosa hamba Ya Allah, berikanlah kemudahan untuk semua yang hamba lakukan saat ini.
Alea mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Saat sedang melipat sajadah, dia melihat Ega berjalan menuju pintu, wajahnya tampak segar dan bersih setelah terkena air wudhu. Ega menoleh ke arahnya, seketika jantung Alea berdegup kencang ketika beradu pandang dengannya. Gadis itu buru-buru memalingkan wajahnya.
Seusai shalat mereka kembali ke bale. Di sana sudah tersedia makanan. Adit dan Agi tampak senang, perut mereka memang sudah keroncongan. Ega berjalan perlahan menunggu Alea yang masih di belakangnya.
“Gimana nyokap udah sadar kalau kita pacaran?” tanya Ega begitu Alea sampai di dekatnya.
“Kayanya mama belum tau, kak Andra juga ngga ngomong apa-apa.”
“Bulan depan siap-siap ya. Gue bakal bawa lo ke nikahan kak Tombak.”
Alea terkejut, berada di tengah-tengah keluarga Ega yang jelas-jelas tak menyukainya merupakan hal yang tidak mudah.
“Lo kan pengen jadi artis, jadi pastiin akting lo nanti harus meyakinkan sebagai pacar gue.”
Ega tersenyum pada Alea. Entah mengapa hari ini Ega terlihat begitu menarik di matanya. Jantungnya kembali berdebar melihat senyuman Ega. Mereka sampai di bale, Adit dan Agi sudah lebih dulu makan. Ega mengajak Alea duduk di dekatnya.
“Ayo makan dulu. Ya beginilah selera kampong,” ucap encang Salman.
“Tapi yang begini bikin makan nambah terus ncang,” sahut Adit.
“Bener, ini jengkol sama sambelnya mantep abis,” Agi ikut berkomentar.
“Nah ini ikan mas hasil ternak gue. Gurih, baru ambil dari kolam.”
Ega tersenyum sambil mengambil dua piring, satu diberikannya pada Alea. Dia mengambil nasi juga ikan goreng dan sambalnya. Begitu juga Alea, dia hanya mengambil sedikit nasi juga ikan goreng dan sambal.
“Dikit amat makannya, lagi diet apa jaim?” tanya Ega menggoda. Alea hanya menjulurkan lidahnya pada Ega.
Setelah makan dan beristirahat sejenak, encang Salman membawa mereka ke kolam ikan yang akan dijualnya. Ada empat kolam yang tersedia. Sebagai bonus encang Salman memberikan bibit lele untuk dibudi dayakan. Ega begitu senang, dia antusias mendengar penjelasan encang Salman. Merasa puas dengan lahan yang akan dibelinya, Ega menawarkan untuk segera melakukan ijab kabul pembelian. Ega, encang Salman dan Cholil berjalan menuju pondok tak jauh dari kolam. Mereka berbicara serius. Cholil mengeluarkan dokumen yang akan ditanda tangani oleh kedua belah pihak.
Alea melihat dari kejauhan, dia cukup kagum dengan sikap Ega yang mandiri. Dia ingin maju tanpa mengandalkan warisan dari orang tua. Diam-diam Adit memperhatikan Alea yang tak melepaskan pandangannya dari Ega. Ada sedikit perasaan was-was dalam dirinya. Bagaimana jika mulai tumbuh benih-benih cinta di antara keduanya.
Ega dan encang Salman telah selesai melakukan transaksi jual beli. Kemudian encang Salman mengajak semuanya berjalan-jalan di kebunnya. Kebun miliknya terbilang luas.
“Nah ini kebon gue.”
“Mau dijual juga ncang?” tanya Adit.
“Kaga.. kalau ini dijual terus warisan buat anak gue apa? Jangan sampe dijual, ini warisan turun temurun. Kalau panen hasilnya lumayan buat dijual. Ini pohon rambutan, yang di sana pohon duren. Nah gue sekarang lagi coba nanem jeruk keprok, mudah-mudahan jadi.”
“Enak ya ncang adem di sini,” ucap Agi.
“Iya kalau siang, kalau malem.. hiii.. ogah gue disuruh ke sini sendirian,” timpal Adit.
Encang Salman hanya tertawa mendengarnya. Hari sudah semakin senja, matahari mulai tergelincir. Dia mengajak kembali ke rumahnya, sebentar lagi adzan maghrib. Ketika yang lain sudah mulai meninggalkan kebun, Ega masih berdiam diri. Dia masih menikmati ketenangan suasana di sini. Alea juga masih bersamanya.
“Hmm.. Ga, lusa bisa anter gue casting?”
“Lusa? Jam berapa?”
“Siang sih mulai castingnya, sekitar jam satuan. Kalau banyak yang ikut bisa sampe sore.”
“Hmm.. bisa kayanya. Tapi janjian di luar aja ya, kayanya ngga bisa jemput ke rumah.”
“Ngga pa pa, paginya gue ada bimbingan di kampus.”
“Ok.”
Mereka berjalan meninggalkan kebun. Tiba-tiba Alea memegang lengan Ega. Dengan suara setengah berbisik dia berkata.
“Ga.. itu yang deket pohon di belakang kita apa?”
❤️❤️❤️
**Kira-kira apa ya yang dilihat Alea? Ayo tebak-tebakan...
Jangan lupa like, comment n vote nya ya😉**