NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Jas Putih

Cinta Di Balik Jas Putih

Status: tamat
Genre:Berondong / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: Quin

Sandra berjalan cepat ke arah IGD yang sudah tampak ramai, pemandangan wajah cemas dan juga tangis haru sudah menjadi gambaran di IGD kota kecil itu.

Di balik sikap profesionalnya, nyatanya Sandra menyimpan lukanya sendiri yang bahkan bertahun-tahun tak bisa dia sembuhkan.

Hingga akhirnya seseorang yang tak sengaja dia temui malah merubah seluruh dunia yang sudah membuatnya nyaman, memaksanya untuk kembali percaya akan cinta, tapi sayangnya jurang perbedaan mereka besar dan masa lalu yang mulai kembali menghantui Sandra.

Bisakah Sandra mengeluarkan diri dari traumannya dan menerima pria yang bahkan tak pernah dia bayangkan akan hadir dalam hidupnya? ataukah dia tetap tak bisa melupakan masa lalunya dan kembali menerimanya?

Pernyataan: Novel ini ditulis tidak untuk menyudutkan atau menjelekkan seseorang, kalangan tertentu, atau pun profesi tertentu, semua yang ditulis hanya untuk pengetahuan dan hiburan semata, cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Sandra memainkan bibirnya dan mengusap hidungnya yang tiba-tiba terasa asam, Devan hanya memandanginya sambil sedikit mengerutkan dahi.

Devan lalu kembali mengacak rambut Sandra pelan, membuat Sandra yang tadinya mengarahkan pandangannya keluar menjadi kembali ke Devan, untungnya mereka sedang berhenti di lampu merah.

"Kita kan beda, bedanya kamu cewek aku cowok, kalau ga beda gimana bisa bersama?" Ujar Devan dengan wajah tersenyum sedikit jahil karena bisa membuat Sandra menjadi berwajah masam.

Sandra mengerutkan dahinya lebih dalam, raut kesal langsung saja muncul di wajahnya. Selera candaan Devan menurutnya basi sekali.

"Apa-apaan sih? Ga lucu tahu bercandanya," ujar Sandra protes namun disambut tawa kecil dari Devan yang puas melihat wajah masam itu, menggemaskan sekali.

"Jangan cemberut gitu, sebentar lagi kita akan sampai, aku janji kejadian tadi ga akan terulang, jangan cemberut gitu, ok," kata Devan menatap Sandra sambil mulai melajukan mobilnya, sekali lagi mengusap rambut Sandra. Sandra tak menapisnya, Sandra hanya mengangguk, dalam hatinya cukup lega.

Entah kenapa sekarang perasaan hatinya berubah-ubah, sekejap bahagia, sekejap lagi hilang gairah, sejenak nyeri lalu hanya hitungan detik bisa begitu lega dan senang.

Devan membawa Sandra ke sebuah tempat yang cukup jauh meninggalkan hiruk pikuknya pusat kota, namun tetap dikawasan kota itu. Mobil mereka memasuki sebuah areal wisata dengan danau buatan yang indah, sebenarnya danau itu tak terlalu terlihat karena hari sudah berselimut malam, tapi karena suasana dan sorot lampu kuning yang menerobos masuk membuat sendu suasana di sana, apalagi alunan musik jazz zaman dulu yang dimainkan di dalam mobil, membuat suasana tenang seketika.

Sandra melirik ke arah luar, sebenarnya itu bukan daerah yang sepi, banyak orang dan juga penjual makanan di sekitar mereka tapi Devan memarkirkan mobilnya cukup jauh dari hiruk pikuk. Sandra pun tenang, jika tadi daerah ini sepi, Sandra pastinya panik di bawa ke daerah yang bahkan dia tak tahu apa namanya ini.

"Aku beli cemilan dulu," kaya Devan keluar begitu saja bahkan tak menunggu Sandra menjawab. Sandra hanya melihat sosok pria itu masuk ke salah satu minimarket yang ada di seberang tempat parkir itu.

Sandra hanya diam saja, cukup menikmati suasana yang sepi dan mengarah ke sendu itu. Tak lama Devan kembali dengan bungkusan cukup besar, dia lalu meletakkan makan-makan cemilan yang rata-rata adalah kesukaan Sandra.

Sandra menyambar sebuah makanan ringan kesukaannya lalu mengambil air mineral.

Sandra kembali melihat sekeliling sambil melihat Devan yang mengatur posisi kursinya, sejenak merebahkan tubuhnya, wajahnya tampak begitu sendu dibawah lampu kuning jalanan. Pasti pria ini cukup lelah, bolak balik harus mengantarkan dirinya.

"Kita di sini saja?" Tanya Sandra yang sekarang memecah sepi.

"Kalau ingin keluar jalan-jalan, ayo," kata Devan kembali menegakkan posisi duduknya, tangannya hendak mematikan radio yang memasang lagu jazz lawas, put your hand on my shoulder.

"Enggak ah, di sini saja," ujar Sandra yang terlanjur menikmati malam di sana.

"Baiklah," kata Devan setuju.

"Kau sering ke sini?"

"Tidak juga hanya sesekali, ini tempatku jika butuh ketenangan."

"Oh, aku kira ini tempatmu pacaran dulu," ujar Sandra ceplas ceplos saja, membuat Devan mengulas senyum tipis.

"Tidak, sebenarnya kamu wanita pertama yang aku bawa ke sini," kata Devan lagi menatap Sandra yang masih saja menikmati makanan kecilnya.

Sandra menatap pria yang sedang melihatnya, matanya menyipit curiga memandang wajah pria yang tampan dengan hidung mancung dan cendrung lancip, bibirnya merah dan kulitnya yang halus itu hanya diam, namun dari semua yang ditatap oleh Sandra, matanya lah yang paling menghanyutkan.

"Jangan ngegombal, lu pikir gua percaya, pasti ini tempat lu Pacaran dulu kan," Ulik Sandra, dia tak mau kege-eran digombali anak baru gede seperti Devan ini.

"Serius, aku tak pernah membawa wanita ke sini kecuali kamu," kata Devan menyakinkan.

"Haha, jangan bohong, mana mungkin pacaran 6 tahun ga pernah jalan kesini," kembali Sandra menegaskan, apa susahnya sih mengaku.

"6 tahun bukan berarti aku memberitahukan semua padanya, ada beberapa hal yang menurutku tak bisa aku bagi dengannya," kata Devan yang sedikit berwajah datar.

"Terus gua harus percaya, lu ga pernah bawa pacar lu yang 6 tahun sama lu ke sini, tapi bawa gua yang belum ada 2 bulan lu kenal?" Kata Sandra dengan senyuman tak percaya.

"Ya," singkat Devan.

"Jadi, kenapa lu bawa gua kesini?"

"Enggak tau, yakin aja mau bawa kamu ke sini," kata Devan tak lepas tatapannya memandangan Sandra setiap kali mereka bercerita, membuat Sandra merasa dihargai oleh sikap Devan.

"Ayolah, gombalnya receh amat, gua udah tua, ga pantes lu gombalin gua kayak gitu, lagian sebenarnya gua juga ga pantes lagi pacaran dan cinta-cintaan begini, kayak ABG," Ujar Sandra dengan nada Cuek.

"Jadi cocoknya apa? Mau langsung nikah aja?" Ujar Devan yang membuat Dia Sandra terbatuk, Devan sigap mengambil tisu dan menyerahkannya pada Sandra.

"Lu ngomongnya ngasal aja," ujar Sandra.

"Ga ngasal, aku serius," ujar Devan dengan wajahnya yang terkesan serius, Sandra mengerutkan dahinya, keseriusan tak bisa hanya dilihat dari wajah saja.

"Lucu sih."

"Apa yang lucu?" Tanya Devan.

"Ayolah, gua kayak dibuat bodoh Ama lu, lu tuh pria zaman sekarang, satahu gue ya, jangankan cowok, cewek zaman sekarang aja ga mau nikah diumur semuda lu, mereka sibuk ingin merasakan hidup, apalagi cowok kayak lu. Jangan asal ngomong ah."

Devan diam sejenak menatap Sandra, Sandra yang melihat Devan terdiam itu yakin akhirnya perkataannya menyadarkan pria ini.

"Kalau aku Serius mau nikah sama kamu, kamu bisa nikah sama aku?" Kata Devan tiba-tiba, Sandra yang sekarang diam, mencerna kata-kata Devan.

"Jangan gitu Dev, gua ga suka lu mainin kata-kata ajakan nikah begitu, ga lucu dan ga pantes," ujar Sandra yang malah sedikit ketus bicaranya.

"Gua ga main-main, pulang nanti gua bicara Ama ibu kamu untuk melamar, mau?" Tanya Devan.

Sandra mengamati wajah serius Devan yang terkena bayangan lampu, remang terlihat, menganalisa bagaimana mimik pria itu, nyatanya dia hanya menemukan keseriusan. Sandra tentu terkejut Devan mengatakan hal itu, tak seperti biasanya pria mengajak menjalin hubungan, pria ini langsung ingin menikah? Menikah dengan segala perbedaan mereka? Sandra tak ingin masuk ke dalam negeri awang-awang. Ini terlalu mimpi untuk dijadikan kenyataan.

Sandra menarik napasnya, masih tak masuk akalnya hal-hal ini.

"Udah ah, ga usah gitu, kita bicara yang lain aja," kata Sandra lagi ingin menyudahi pembicaraan ini.

1
Wangintowe Tundugi
asik omanya devan
Wangintowe Tundugi
alur cerita quen mmg demikian pasti ada yg maksa karena cinta inilah ke unikan mu quin gak ada yg bisa plagiat thebest
Wangintowe Tundugi
the best persahabatan bang josh dan sandra
Wangintowe Tundugi
🤣🤣
Wangintowe Tundugi
ah beneran si bang jos tuh dokter sandra lebih memilih batu bata dari permata 🤣🤣
Ersa
Luar biasa
bunga cinta
jeruk kok makan jeruk
bunga cinta
suka ide cerita nya, cerdas othornya
bunga cinta
Luar biasa
bunga cinta
banyak ilmu
Nurlaela
terbaik..
Mimilngemil
Keren... keren....
ah... akhirnya happy ending
😍😍😍
Mimilngemil
😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Mimilngemil
Biang keroknya Gladys /Hammer//Hammer//Hammer/
Mimilngemil
Nirmal sie...
aku juga gitu
wkwkwkwk
Mimilngemil
kaya punya sahabat kaya Jo... gak akan sedih 😂😂😂😅😆
Mimilngemil
😂😂😂😅
Jo... ica ae...
Mimilngemil
😂😂😅😆
Mimilngemil
uhuy....
Sandra...
Abang datang Neng...
Mimilngemil
Graciella dijepit pintu mobil
Devan kejepit pintu mobil
😂😅😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!