NovelToon NovelToon
Gadis Dalam Lukisan

Gadis Dalam Lukisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Janda / Romansa
Popularitas:46.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hana Reeves

Alethea adalah seorang kurator museum yang bekerja di museum national gallery art di Washington. Dia sudah dua tahun ditingga! suaminya yang meninggal akibat kecelakaan ski. Suatu hari, dia mendapatkan kiriman lukisan wajahnya. Pengirimnya tertanda dari kota kecil di Irlandia. Alethea diutus oleh bossnya untuk mencari pelukisnya. Tidak mudah untuk mencari hingga dia tiba di desa kecil bernama Cedliff. Di sebuah hotel desa dia bertemu dengan Satoru Shinoda yang terkejut melihatnya. Tanpa Alethea tahu, Satoru adalah pelukisnya. Satu pertanyaan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya tapi bagaimana Satoru bisa melukis wajah Alethea?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bersama Erhan Tudor

Satoru memilih untuk duduk di sebuah coffee shop yang ada di museum daripada jadi nyamuk di ruang kerja Eléonore Gallagher. Pria itu lalu menghubungi sepupunya yang ada di London.

"Jadi dirimu manyun dikacangi cewekmu dan nyokap?" Tak lama Erhan tertawa terbahak-bahak.

Satoru menyipitkan matanya sambil memegang ponselnya. "Labubu, please deh. Bantu aku."

Erhan sedikit tersedak dan berdehem. "Oke deh. Aku agak lowong hari ini. Jadi, aku ke museum nyokap dan membawa minuman kesana. Oke?"

"Thanks Labubu."

***

Tak lama Erhan datang dengan membawa minuman ke Satoru yang duduk di area lukisan. Pria itu sedang memandang lukisan karya Alaska Al Jordan Shinoda dan Yuna Pratomo.

"Gimana? Mana nyokap gue?" tanya Erhan sambil duduk di samping Satoru.

"Masih bersama Thea."

Erhan menaikkan sebelah alisnya. "Tunangan kamu?"

Satoru mengangguk.

"Dia kurator juga kan?" tanya Erhan.

"Iya," jawab Satoru.

Erhan tertawa kecil. "Kamu juga yang salah. Sudah tahu Thea kurator, Mommy kurator. Ketemu satu server, ketemu barang seni. Bubar, Bro."

"Iya. Maksud aku sih cuma ajak kencan tempat yang dia suka. Tapi ternyata ....." Satoru menghela napas panjang.

Erhan menepuk bahu sepupunya. "Tabahkan hatimu wahai pelukis galau."

"Reseh lu!" Satoru melirik sebal.

Tak lama Eléonore dan Alethea datang menghampiri mereka berdua. Erhan melirik ke arah Satoru.

"Thea?" tanya Erhan.

"Alethea," jawab Satoru.

"Kirain namanya seperti nama Oma Thea," kekeh Erhan.

"Nggak, namanya Alethea."

Eléonore tersenyum ke arah Erhan. "Anak Lanang ... Ada dalam rangka datang kemari?" godanya.

"Ada yang manyun ditinggal diskusi seni," kekeh Erhan sambil memeluk Eléonore dan mencium pipinya.

"Oh kasihan," kekeh Eléonore. "Thea, ini putraku Erhan."

"Alethea," senyum Alethea sambil mengulurkan tangannya.

"Erhan Tudor," senyum Erhan.

"Tudor?" tanya Alethea.

"Erhan adalah putra suamiku yang pertama. Dia CEO Burberry," jawab Eléonore. "Suamiku yang pertama meninggal karena sakit."

"Oh, maaf." Alethea merasa tidak enak.

"Tidak apa-apa. So, kalian mau ada acara apa?" tanya Eléonore.

"Bagaimana kalau kita makan siang?" ajak Erhan. "Aku ajak makan enak."

Alethea menoleh ke Satoru. "Kita makan siang."

"Yuk. Kapan lagi ditraktir makan siang sama CEO Burberry," kekeh Satoru.

***

Restoran mewah di jantung London itu dipenuhi cahaya matahari yang menembus jendela-jendela tinggi, memantul di atas peralatan makan berlapis perak dan gelas kristal. Alunan piano yang lembut mengiringi percakapan para tamu yang menikmati makan siang mereka. Di salah satu meja terbaik dekat jendela, Alethea duduk berdampingan dengan Satoru, berhadapan dengan Eléonore dan putranya, Erhan, CEO Burberry yang dikenal berwibawa sekaligus memiliki selera humor yang cukup tajam.

“Jadi, Erhan, bagaimana rasanya menjadi CEO Burberry?” tanya Alethea sambil mengaduk minumannya.

“Penuh tantangan,” jawab Erhan tenang. “Terutama ketika Mommy menelepon pukul tujuh pagi hanya untuk memberitahuku bahwa dasi yang kupakai kemarin tidak cocok dengan jas.”

Eléonore mengangkat dagu dengan anggun. “Karena memang tidak cocok. Aku menyelamatkan reputasi perusahaan.”

“Terima kasih, Mommy. Seluruh perusahaan berutang budi pada pengorbanan dasimu.” Erhan mengucapkan dengan takzim.

Alethea langsung tertawa, nyaris tersedak minumannya. Satoru yang duduk di sampingnya segera menggeser gelas air ke hadapannya.

“Pelan-pelan. Kamu sedang makan siang, bukan mengikuti kompetisi tertawa," senyum pria itu.

“Aku tidak bisa menahannya!” Alethea menutup mulutnya, masih terkikik. “Mereka ternyata sama saja.”

“Maaf?” Satoru menoleh. “Kamu baru saja menyamakan keluarga aku dengan keluarga mereka?”

“Ya. Sama-sama menyebalkan kalau sudah mulai berbicara," kerling Alethea.

Erhan mengangguk penuh simpati. “Aku menyukai perempuan ini.”

“Jangan terlalu cepat menyukainya,” sela Satoru. “Dia bisa menghabiskan waktu tiga jam di museum, tetapi mengeluh kalau aku terlambat lima menit menjemputnya.”

“Itu karena museum memiliki karya seni yang bernilai tinggi,” balas Alethea. “Sedangkan kamu hanya punya mobil dan kebiasaan mengomel.”

Eléonore menahan senyum sambil mengambil garpunya. “Satoru, kalau kamu terus berbicara seperti itu, jangan heran jika suatu hari Alethea memilih menikahi seseorang yang lebih menyenangkan.”

Erhan langsung meletakkan garpunya. “Mom, apakah ini cara Mommy merekrut calon menantu potensial untukku?”

“Jangan bermimpi,” jawab Eléonore datar. “Aku sedang menguji kesabaran Satoru.”

“Syukurlah,” gumam Satoru. “Untuk sesaat aku mengira makan siang ini berubah menjadi rapat perekrutan keluarga.”

Alethea tertawa lagi, kali ini tanpa berusaha menyembunyikannya. Satoru hanya bisa menghela napas, meskipun sudut bibirnya ikut terangkat. Dia sebenarnya menyukai suasana seperti ini, melihat Alethea tertawa lepas, tanpa beban, di antara orang-orang yang bisa membuatnya merasa nyaman.

Ketika hidangan utama tiba, Erhan mulai bercerita tentang sebuah rapat penting di Burberry yang hampir berubah menjadi bencana hanya karena seorang eksekutif bersikeras bahwa warna cokelat tertentu tidak lagi pantas digunakan.

“Bayangkan,” katanya serius, “dua belas orang dewasa berpendidikan tinggi berdebat selama empat puluh menit tentang warna cokelat.”

“Setidaknya mereka tidak berdebat tentang warna merah muda,” sahut Eléonore. “Aku pernah menghadiri rapat tiga jam hanya karena seseorang menganggap merah muda pucat terlalu pucat.”

Alethea langsung menoleh dengan mata berbinar. “Tiga jam? Untuk satu warna?”

“Dua jam empat puluh menit,” koreksi Eléonore. “Sepuluh menit sisanya digunakan untuk memesan makan siang.”

Satoru menggeleng pelan. “Aku mulai memahami mengapa dunia mode begitu menakutkan.”

“Kamu tidak perlu takut,” kata Alethea manis. “Kamu tidak akan pernah diminta memutuskan warna kain.”

“Syukurlah. Aku hanya memikirkan warna cat minyak."

“Cat minyak?” Erhan mengangkat alis. “Kamu berkencan dengan Alethea. Menurutku, kata itu cukup membuat sebal."

Alethea menatap Erhan sambil tersenyum. “Akhirnya, seseorang memahami penderitaanku.”

“Pengkhianat!” seru Satoru, membuat Eléonore tertawa sampai harus meletakkan serbetnya.

Makan siang yang semula direncanakan sebagai pertemuan santai itu akhirnya berlangsung jauh lebih lama dari perkiraan. Percakapan mereka melompat dari dunia seni, mode, hingga kisah-kisah memalukan masa kecil Satoru yang dengan penuh semangat dibocorkan Eléonore.

Satoru bahkan mulai menyesali keputusannya datang.

Namun, ketika ia melihat Alethea dan Eléonore berbicara akrab sambil sesekali tertawa, penyesalan itu perlahan menghilang. Erhan pun tampak menikmati kebersamaan tersebut, meskipun beberapa kali dia harus menyelamatkan ibunya dari keinginan membahas pakaian yang dikenakan setiap orang di restoran.

“Ini menyenangkan,” ujar Alethea akhirnya, ketika pelayan datang membawa hidangan penutup. “Kita harus melakukannya lagi.”

“Tentu,” jawab Eléonore. “Minggu depan kita makan siang bersama.”

“Boleh,” kata Erhan. “Asalkan Mommy berjanji tidak mengkritik dasiku.”

“Aku tidak bisa menjanjikan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip hidupku," goda Eléonore.

Satoru menatap langit-langit sejenak, seolah memohon kesabaran kepada seluruh penghuni semesta.

Alethea menyenggol lengannya. “Kenapa?”

“Sedang memikirkan masa depanku.”

“Dan apa kesimpulannya?”

Satoru menatap kekasihnya, lalu Eléonore dan Erhan yang sudah kembali berdebat mengenai warna syal. “Apakah kamu bisa betah dengan keluarga aku?"

Alethea tersenyum lebar, lalu menggenggam tangannya di bawah meja. “Aku wanita tahan banting, Toru."

Erhan mengangkat gelasnya. “Untuk Satoru, pria yang baru saja menyadari bahwa cinta lebih rumit daripada mengelola perusahaan mode!”

“Dan lebih mahal daripada membeli seluruh koleksi Burberry,” tambah Eléonore.

Tawa mereka kembali memenuhi sudut restoran mewah itu, sementara Satoru hanya bisa menggeleng sambil menggenggam tangan Alethea lebih erat.

Sejujurnya, jika harus menjalani kekacauan kecil seperti ini sepanjang hidupnya, dia rasa ia tidak keberatan sama sekali.

***

Yuhuuu up Siang Yaaaaaa

Thank you for reading and support author

Don't forget to like vote and gift

Tararengkyu

1
Meeta Baggio
kompak bangett sama calan mertua,sama2 bisa masak sambil ngegosipp
INDRA
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻😍
Hana Reeves: mamaciih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Marsiyah Minardi
Asyiknya bisa ajak calon bumer ngeghibah ,mana sama sama bisa masak pula
Apa kabar aku yang ga pintar masak dan kalah enak sama masakan suami 😄
amilia amel
camer dan calon menantu ternyata sari vibes 😅😅😅
Teuing Saha🙃
Keputusan yg bijak,Toru
Meeta Baggio
Ga sia2 selamalaman ga bisa tudur, akhirnyaa menu solusi yg enak buat mereka , alhamdulillah
amilia amel
Alhamdulillah sudah ketemu solusinya
D_wiwied
setelah semalaman ga bisa tidur akhirnya ketemu jg solusinya ya Toru, sepakat buat beli apart sendiri terus Thea ttp bekerja n bahkan sdh planning punya anak.. smg dilancarkan semua urusannya dan segera melangkah ke jenjang pernikahan
D_wiwied
gausah kaget Thea, dibilang keluarga Toru macam mini PBB.. dr orang biasa (yg sbnrnya jg ga biasa2 aja sih), pengusaha, dokter, pembalap, etc bahkan raja dan sultan pun adaaa 😆😆😆
Teuing Saha🙃
Untuk sekarang, cuma tidur yg kamu butuhkan, Toru..
tan_wiedya
kalau kamu mau pindah washington, beli rumah/apt sendiri aja buat kalian toru. rumah yg sekarang ditempati thea dikontrakkan saja 😄
Marsiyah Minardi
Tinggal gantian tempat dulu ga papa Satoru antara New York vs Inggris ,sampai hati mantap memilih di mana akan menetap
Thea bukan tipe perempuan sat set sat set ,terlalu banyak pemikirannya
amilia amel
pindah ke London aja Toru
nantinya Thea bisa bekerja di museum yang sama dengan tante Elle kan😊😊
Teuing Saha🙃
Setidaknya hari ini, kamu berhasil membuat Thea bahagia dengan acara kencan kalian
D_wiwied
agak diluar prediksi ya Toru, lagian kamu yg ngajak2 sendiri eeh sendirinya jg yg cemburu sm aktornya 😆 yg penting pacar bahagia dan kencan hari ini bs dianggap sukses, wes gitu aja 🤣🤣
Marsiyah Minardi
Aku gemesss banget sama Satoru 🤣🤣
amilia amel
benar-benar kencan yang indah ya Toru
walaupun antimainstream tapi tetep asikk kan😅😅😅
Meeta Baggio
Akhirnyaa kencan yg bener1 kencan juga yaa🤭
Teuing Saha🙃
Aku selalu iri dengan kehangatan keluarga ini 🥰
amilia amel
keakraban yang saling menistakan adalah bahasa sayang khas keturunan Pratomo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!