Luki Subroto— atau yang lebih dikenal dunia bawah tanah Jakarta sebagai "Tuan L" — adalah pemimpin sindikat paling ditakuti di Asia Tenggara. Di ruang rapat organisasinya, satu kata darinya bisa mengakhiri karier, bahkan nyawa. Di jalanan, namanya cukup diucapkan untuk membuat preman kelas kakap gemetar.
Tapi setiap pukul tujuh malam, pintu kamar bernuansa dinosaurus di lantai tiga penthouse-nya terbuka, dan sosok yang muncul bukan lagi Tuan L. Dialah "Ayah" bagi Indra — putranya yang berusia enam tahun dengan IQ yang bahkan membuat neurolog Singapura terheran-heran.
Indra bukan anak biasa. Di usia enam tahun ia sudah membaca jurnal fisika kuantum untuk hiburan, meretas firewall sekolahnya, dan yang paling berbahaya mulai bertanya-tanya kenapa banyak pria berjas hitam selalu mengawal rumah mereka, dan kenapa ada folder terenkripsi bernama "Operasi Elang" di laptop ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LORD KING, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karnaval
Karnaval tahunan Sekolah Cendekia Mulia adalah acara yang selalu dinanti Indra setiap tahun — deretan stan permainan, lomba melukis wajah, dan yang paling ia tunggu, kompetisi robotika antar kelas yang tahun ini ia ikuti dengan proyek yang sudah ia kerjakan berbulan-bulan bersama Alena.
Luki awalnya ragu mengizinkannya datang, mengingat semua yang terjadi bulan lalu. Tapi setelah percakapan panjang dengan Alena — dan, yang lebih penting, setelah mendengar langsung dari Indra sendiri betapa pentingnya acara ini baginya — ia akhirnya setuju, dengan syarat pengamanan diperketat berlipat ganda: enam orang berjaga di sekeliling area karnaval, Bram memimpin langsung, dan Luki sendiri hadir, sesuatu yang jarang sekali ia lakukan untuk acara sekolah.
"Lihat, Ayah! Robotnya jalan!" Indra berlari menghampiri Luki yang berdiri di dekat stan kompetisi, wajahnya bersinar dengan kebanggaan saat robot kecil buatannya berhasil menavigasi rintangan terakhir tanpa kesalahan.
"Bagus sekali, Bintang Kecil." Luki mengangkat anaknya, memutar tubuhnya sekali sebelum menurunkannya kembali, tawa keduanya membaur dengan riuh rendah karnaval di sekitar mereka. Untuk sesaat, di tengah keramaian penuh warna dan tawa anak-anak, dunia terasa normal — begitu jauh dari kegelapan yang biasa menyelimuti kehidupan mereka.
Alena berdiri tidak jauh, berbincang dengan salah satu guru sekolah, sesekali melirik ke arah Luki dan Indra dengan senyum yang tak bisa ia sembunyikan. Sejak malam itu, hubungan mereka bertiga sudah berkembang menjadi sesuatu yang terasa hampir seperti keluarga, meski tak satu pun dari mereka mengucapkannya secara terbuka.
Bram, yang berdiri di pos pengamatannya di sudut lapangan, memantau setiap sudut area dengan mata yang tidak pernah benar-benar rileks, meski suasana di sekitarnya begitu ceria.
"Semua aman, Tuan," laporannya lewat earpiece kepada Luki, yang mengangguk singkat sebagai balasan tanpa mengalihkan perhatiannya dari Indra yang kini menunjukkan robotnya kepada teman-teman sekelasnya.
Yang tidak diketahui siapa pun — bahkan Bram sekalipun — adalah bahwa Antasena sudah menyusup jauh lebih dalam dari yang mereka kira. Salah satu staf katering yang bekerja di karnaval hari itu, yang sudah diperiksa latar belakangnya dan dinyatakan bersih oleh tim keamanan Luki, sebenarnya sudah direkrut Antasena tiga bulan sebelumnya — jauh sebelum ancaman apa pun muncul, sebuah investasi jangka panjang yang baru sekarang dimanfaatkan.
Pada saat yang tepat, ketika perhatian sebagian besar penjaga teralihkan oleh kerumunan yang mulai memadati area pengumuman pemenang kompetisi robotika, staf katering itu — yang sebenarnya adalah anggota jaringan Antasena — menyelipkan sesuatu ke dalam minuman yang disajikan di stan konsumsi tempat Indra baru saja mengambil segelas jus jeruk sebelum lomba diumumkan.
Indra meminumnya tanpa curiga, terlalu sibuk dengan kegembiraan menunggu hasil kompetisi untuk memperhatikan rasa yang sedikit berbeda dari biasanya.
Sepuluh menit kemudian, saat namanya diumumkan sebagai juara pertama kompetisi robotika, Indra berjalan menuju panggung dengan langkah yang mulai goyah, kepalanya terasa berat, pandangannya mulai kabur.
"Indra?" Alena, yang berdiri paling dekat dengannya, langsung menyadari sesuatu tidak beres saat melihat anak itu tersandung di tengah jalan menuju panggung.
Indra jatuh tepat sebelum Alena sempat menangkapnya, tubuhnya lemas, matanya setengah tertutup tapi masih sadar, cukup untuk merasakan kepanikan yang mulai menyebar di sekitarnya.
"INDRA!" teriak Luki, mendorong kerumunan untuk sampai ke anaknya, tapi dalam kekacauan yang tiba-tiba pecah — orang tua panik, anak-anak menjerit, guru-guru berlarian mencari pertolongan pertama — sesuatu yang jauh lebih terencana sedang terjadi di tengah kerumunan itu.
Dua orang berpakaian petugas medis darurat, lengkap dengan seragam dan tanda pengenal palsu yang tampak meyakinkan, muncul dari kerumunan dengan tandu kecil, mendorong siapa pun yang menghalangi jalan mereka dengan alasan "memberikan pertolongan pertama secepat mungkin".
"Biarkan kami lewat! Kami tim medis!" teriak salah satu dari mereka, dan dalam kepanikan massal yang terjadi, tidak ada yang benar-benar mempertanyakan identitas mereka sebelum terlambat.
Bram, yang berlari secepat mungkin dari posnya, sampai tepat saat kedua "petugas medis" itu mengangkat Indra ke tandu mereka, bergerak dengan kecepatan yang terlalu terlatih untuk petugas medis sungguhan.
"BERHENTI!" Bram menerjang, tapi kerumunan yang panik menghalangi jalannya, membuatnya kehilangan beberapa detik krusial.
Luki tiba tepat saat tandu itu mulai bergerak menjauh menuju gerbang keluar karnaval, matanya yang biasanya terkendali kini dipenuhi kepanikan murni yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, bahkan di malam paling berbahaya sekalipun dalam kariernya.
"INDRA!" Ia berlari, mendorong siapa pun yang menghalangi jalannya tanpa peduli, tapi tandu itu sudah mencapai sebuah van putih yang menunggu di luar gerbang, pintu belakangnya terbuka lebar, siap menerima "pasien" mereka.
Luki hampir sampai — hanya beberapa meter lagi — ketika pintu van itu dibanting tertutup, dan kendaraan itu langsung melaju kencang, ban berdecit di aspal, menghilang ke dalam arus lalu lintas kota yang padat sebelum siapa pun sempat mencatat pelat nomornya dengan jelas.
Luki berhenti di tengah jalan, napasnya terengah-engah, matanya terpaku pada tempat van itu terakhir terlihat, ia merasakan sesuatu yang bahkan lebih menakutkan dari kematian ayahnya sendiri bertahun-tahun lalu — kehampaan total, kekosongan yang menganga di dadanya, tempat di mana seluruh dunianya baru saja direnggut dalam hitungan detik.
Alena berlari mendekatinya, wajahnya penuh air mata dan ketakutan yang sama, sementara Bram berteriak perintah ke earpiecenya, mengerahkan seluruh tim untuk melacak van itu.
"Luki," Alena meraih lengannya, suaranya bergetar hebat. "Luki, kita akan menemukannya. Kita akan—"
Tapi Luki tidak mendengarnya. Ia hanya berdiri di sana, mata kosong menatap jalan yang kini sepi, dan sesuatu di dalam dirinya — sesuatu yang selama bertahun-tahun ia jaga tetap terkendali, tetap terkubur di bawah kendali dingin Tuan L — akhirnya pecah sepenuhnya.