NovelToon NovelToon
Memendam Perasaanku Padanya

Memendam Perasaanku Padanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:474
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25

Setelah jamuan makan siang yang penuh tawa di meja marmer selesai, para orang tua memilih untuk melanjutkan obrolan santai mereka di ruang tengah, ditemani teh hangat dan kue sus buah buatan Mommy Zeline.

Bang Edward bangkit berdiri dari sofa, meregangkan tubuhnya sejenak, lalu melirik ke arah Aurel yang sedang merapikan beberapa piring kecil di dekat pantry. Senior itu berjalan menghampirinya dengan langkah santai, lalu mengetuk pelan meja konter dapur dengan jemarinya.

"Rel, gerah banget nih siang menuju sore gini. Yuk, ikut gue keluar sebentar ke minimarket depan kompleks," ajak Bang Edward dengan nada suara santai khasnya. "Gue pengen beli minuman dingin, sekalian entar gue beliin es krim rasa cookies and cream kesukaan lo. Gimana? Mau nggak?"

Mendengar ajakan spontan untuk pergi berdua saja dari mulut cowok yang dicintainya dalam diam itu, jantung Aurel seketika melompat dari ritme normalnya. Rasa bahagia yang manis langsung membuncah di dalam dadanya, memicu sensasi deg-degan yang bertalu-talu begitu keras.

Aurel berusaha sekuat tenaga menguasai ekspresi wajahnya agar tidak terlihat terlalu kegirangan di depan abangnya. "Wah, tumben kating siaga satu lagi baik banget mau neraktir es krim. Ya udah, ayo! Mumpung gratis nggak boleh ditolak," sahut Aurel dengan tawa renyah yang dibuat sealami mungkin, meskipun pipinya sudah mulai merona merah samar.

"Edward, bawa motornya hati-hati, ya. Jangan ngebut-ngebut, kasihan Aurel," teriak Mama Olivia dari ruang tengah, yang langsung dijawab dengan acungan jempol mantap oleh Bang Edward.

Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah berada di atas motor sport hitam milik Bang Edward. Deru mesin motor menderu halus membelah jalanan kompleks perumahan yang teduh dinaungi pepohonan rindang sore itu. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah Aurel, menerbangkan beberapa helai rambutnya.

Berada dalam jarak sedekat ini dengan Bang Edward kembali memicu debaran gila-gilaan di dalam rongga dada Aurel. Dengan sisa-sisa keberaniannya, ia perlahan mengulurkan kedua tangannya ke depan, memegang erat kedua sisi jaket katun yang dikenakan Bang Edward agar posisinya seimbang di jok belakang yang cukup tinggi.

Menyadari pegangan tangan adiknya, Bang Edward sedikit melirik dari kaca spion kanan. Ia tertawa pelan—sebuah suara tawa hangat yang selalu sukses membuat pertahanan hati Aurel runtuh. "Pegangan yang bener, Rel. Nanti kalau gue gas dadakan, lo bisa terjungkal ke belakang."

Begitu tiba di minimarket depan kompleks, Bang Edward langsung melangkah menuju barisan lemari pendingin besar di sudut ruangan. Tanpa perlu bertanya lagi, tangan kekarnya langsung membuka pintu kaca pembeku dan mengambil satu cup besar es krim rasa cookies and cream dengan taburan marshmallow di atasnya, lalu menyodorkannya ke arah Aurel.

"Nih, bener kan yang ini? Ingatan gue soal takaran manja lo dari kecil nggak pernah salah," ucap Bang Edward manis sembari mengulas sebuah senyuman lebar yang begitu tampan.

Perhatian-perhatian kecil dan manis yang selalu diberikan Bang Edward sepanjang sore itu benar-benar membuat Aurel hanyut dalam kebahagiaan yang semu. Saat mereka berjalan kembali menuju parkiran motor dengan es krim di genggaman tangan Aurel, rasa perih akibat cinta sepihak itu kembali menyengat pelan di hulu hatinya. Aurel sadar sepenuhnya, segala kenyamanan dan perlakuan istimewa ini murni karena Bang Edward sangat menyayanginya sebagai seorang adik kecil yang berharga. Ruang asmaranya selamanya tetap milik Kak Anita.

Namun di bawah langit sore yang mulai meredup menuju senja, Aurel memilih untuk egois sejenak menikmati debaran keras di dadanya. Ia tersenyum tulus menatap punggung tegap Bang Edward yang sedang bersiap menyalakan mesin motor, memilih untuk mendekap erat rahasia cinta sepihaknya yang getir namun teramat indah dalam lembaran hidupnya.

Sementara deru motor sport hitam Bang Edward perlahan menjauh meninggalkan area kompleks, suasana di dalam rumah mewah Aurel terbagi ke dalam dua ruang kehangatan yang berbeda.

Di dalam ruang kerja pribadi Daddy Wira yang bernuansa kayu mahoni klasik, kepulan asap cerutu tipis berbaur manis dengan aroma kopi ekspreso yang pekat. Di balik meja kerja marmer yang besar, Daddy Wira dan Papa Crish duduk berhadapan. Gurat wajah kedua pria paruh baya itu tampak begitu serius, sangat kontras dengan candaan jenaka mereka di meja makan tadi. Mereka sedang terlibat dalam diskusi mendalam mengenai ekspansi proyek bisnis properti bersama dan beberapa strategi penguatan saham korporasi yang akan mereka eksekusi di awal bulan depan.

"Kalau analisis pasarnya stabil seperti kuartal kemarin, proyek pengembangan di wilayah selatan ini fiks bisa kita mulai pasca-audit minggu depan, Crish," ujar Daddy Wira sembari mengetukkan bolpoinnya ke atas berkas dokumen kerja.

Papa Crish manggut-manggut takzim, melipat kedua tangannya di dada dengan pandangan mata seorang pengusaha senior yang matang. "Gue setuju, Wir. Yang penting perizinan AMDAL-nya kita kunci duluan, biar pergerakan kompetitor di sebelah nggak bisa memotong jalur kita gampang-gampang."

Di saat para suami sedang serius membedah urusan pekerjaan, atmosfer yang sepenuhnya berbeda justru tercipta di area ruang tengah. Di atas sofa panjang empuk bernuansa pastel, Mommy Zeline dan Mama Olivia sedang duduk berdampingan dengan secangkir teh kamomil hangat di genggaman masing-masing. Fokus obrolan dua wanita paruh baya anggun itu sore ini beralih sepenuhnya pada kabar bahagia dari keluarga sahabat putri mereka.

"Kamu sudah dengar kabar terbaru dari Zeline soal keluarganya Shirin, Liv?" tanya Mommy Zeline membuka obrolan dengan binar mata yang penuh rasa ingin tahu.

Mama Olivia meletakkan cangkir tehnya perlahan, lalu mengangguk dengan senyum lega yang mengembang sempurna di bibirnya. "Oh, yang soal kepulangan orang tua Shirin dari luar negeri itu, ya? Iya, Zel! Kemarin sore Edward sempat cerita kalau perusahaan keluarga mereka di sana sudah membaik total dan stabil lagi. Puji Tuhan, akhirnya badai di keluarga anak itu lewat juga."

"Iya, betul. Tadi malam Shirin juga sempat kirim foto keluarga besar mereka ke WhatsApp Aurel, kelihatan bahagia banget," timpal Mommy Zeline penuh kehangatan, ikut bersyukur atas berakhirnya masa-masa sulit sahabat putrinya itu. "Kasihan Shirin selama awal semester ini, dia kelihatan tertekan sekali memikirkan masalah bisnis orang tuanya di luar negeri sambil harus ngejar tugas kuliah Pak Baskoro yang berat itu. Untung sekarang semuanya sudah berkumpul lengkap lagi di rumah."

"Iya, Zel. Malah denger-denger dari Edward, sore kemarin pas penjemputan di bandara, Gavin sama istrinya yang namanya Febi itu juga ikutan konvoi jemput ke bandara internasional," lanjut Mama Olivia bersemangat, merapikan letak majalah di pangkuannya. "Baguslah kalau begitu. Keluarga mereka kan dari dulu memang kompak bener kalau urusan saling menjaga."

Di tengah riuhnya obrolan hangat mengenai kepulangan keluarga Shirin dan seriusnya diskusi bisnis para suami di ruang kerja, keheningan rumah megah itu perlahan dihangatkan oleh rasa kekeluargaan yang begitu kental. Mereka semua sibuk dengan dunianya masing-masing, tanpa pernah menyadari bahwa di luar sana, putri bungsu kesayangan mereka sedang berjuang keras menahan debaran jantung yang gila-gilaan di atas motor, mendekap erat rahasia cinta sepihaknya yang teramat indah bersama Bang Edward.

Bang Edward baru saja menstarter kembali mesin motor sport hitamnya setelah merapikan kembalian di saku celananya. Sebelum menarik gas untuk memutar balik ke arah kompleks perumahan, senior itu tiba-tiba melirik ke belakang dari kaca spion kanan. Ia menatap wajah Aurel yang saat itu sedang memeluk cup es krim cookies and cream-nya dengan binar mata yang masih berseri-seri.

"Rel," panggil Bang Edward, suaranya sedikit ditinggikan agar tidak teredam deru knalpot. "Mumpung sore ini langitnya lumayan cerah dan udara di luar sejuk habis hujan kemarin, lo mau kemana lagi? Ada tempat yang pengen lo tuju nggak buat jalan-jalan sore ini sebelum kita balik ke rumah?"

Mendengar pertanyaan tak terduga yang meluncur begitu saja dari mulut Bang Edward, jantung Aurel seketika melompat dari ritme normalnya. Rasa deg-degan gila-gilaan yang teramat keras kembali bergemuruh hebat di dalam rongga dadanya, membuat seluruh tubuhnya mendadak terasa hangat menahan salah tingkah.

Ajakan spontan untuk memperpanjang waktu jalan-jalan berdua saja sore ini benar-benar menjadi kejutan manis yang membuat Aurel kelu untuk sekadar menjawab. Lidahnya mendadak kaku, dan rona merah di pipinya langsung matang sempurna dalam hitungan detik.

"E-eh... mau kemana ya, Bang?" kilah Aurel terbata-bata, mencoba menetralkan suaranya yang sempat tercekat sembari menyembunyikan wajahnya di balik folder tugas tebalnya. "Gue... gue terserah lo aja, Bang. Kan lo yang pegang kendali setir motor."

Bang Edward terkekeh renyah—sebuah suara tawa yang begitu hangat dan selalu sukses membuat pertahanan hati Aurel runtuh berkeping-keping. "Dasar Bocil, ditanyain malah balik nanya. Ya udah, gimana kalau kita muter-muter bentar ke area taman danau buatan di ujung kompleks sebelah? Di sana anginnya sepoi-sepoi, pas banget buat lo nikmatin es krim lo itu biar nggak keburu cair."

"B-boleh, Bang Edward," sahut Aurel lirih dengan senyum manis yang terus mengembang lebar tanpa bisa ia tahan.

Aurel perlahan merapatkan kembali posisi duduknya di jok belakang, dan dengan sisa-sisa keberaniannya yang membuncah, ia kembali menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku jaket kulit tebal Bang Edward, mendekap pinggang tegap abangnya itu dengan lebih erat. Pelipisnya ia sandarkan dengan damai di punggung kokoh Bang Edward saat motor mulai melaju membelah angin sore kota yang menyejukkan.

Di balik luapan rasa bahagianya yang luar biasa sepanjang jalan menuju danau sore itu, denyut perih akibat cinta sepihak tetap menyengat samar di hulu hatinya. Aurel tahu betul, perlakuan manis dan tawaran jalan-jalan sore dari Bang Edward hari ini murni karena cowok itu memanjakannya sebagai seorang adik kecil yang sangat disayangi, bukan sebagai wanita pilihan hatinya. Ruang asmara senior itu sepenuhnya telah dikunci rapat oleh Kak Anita. Namun di bawah pendar langit senja yang mulai menguning indah, Aurel memilih untuk bersikap egois sejenak; membiarkan dirinya hanyut dalam debaran gila di dadanya dan mendekap erat rahasia cintanya yang getir namun teramat indah dalam lembaran hidupnya.

Motor sport hitam Bang Edward perlahan melambat, lalu berhenti dengan mulus di area parkir pinggir taman danau buatan. Tempat itu terasa sangat menenangkan; angin sore berembus sepoi-sepoi, menggoyangkan dedaunan pohon willow di tepi danau, sementara riak air memantulkan pendar langit senja yang mulai menguning indah.

"Nah, sampai. Udah nggak terlalu panas, kan?" ujar Bang Edward sembari mematikan mesin motor dan melepas helm fullface-nya.

Aurel turun dari jok belakang, merapikan sedikit dress kasualnya sembari memeluk cup es krim cookies and cream yang untungnya belum mencair. Mereka berdua berjalan santai menuju sebuah bangku kayu panjang yang menghadap langsung ke arah hamparan air danau yang tenang.

Begitu mereka duduk bersebelahan dengan jarak yang cukup dekat, jantung Aurel kembali melompat dari ritme normalnya. Rasa deg-degan yang teramat kencang seketika bergemuruh hebat di dalam rongga dadanya. Duduk berdua saja dengan Bang Edward di tempat se-estetik ini benar-benar terasa seperti mimpi manis yang tak ingin ia akhiri.

"Ayo dimakan es krimnya, malah dilamunin," tegur Bang Edward manis, menyenggol pelan lengan Aurel dengan sikunya.

Aurel tersentak pelan, wajahnya memerah padam. Ia buru-buru membuka tutup cup es krim dan menyuap sendokan pertama. "Enak banget, Bang. Makasih ya udah dituruti manjanya sore ini.

"Bang Edward terkekeh renyah—sebuah suara tawa hangat yang selalu sukses membuat pertahanan hati Aurel runtuh berkeping-keping. Senior itu menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku, menatap lurus ke arah riak danau dengan binar mata seorang kakak yang teramat menyayangi adiknya.

"Apa sih yang enggak buat lo, Rel. Dari kecil kan emang tugas gue buat mastiin lo dapet apa yang lo mau," ucap Bang Edward dengan nada suara yang melunak drastis. Ia menoleh, menatap lekat-lekat pada wajah Aurel, lalu mengulurkan tangan kekarnya untuk mengusap sisa noda es krim di sudut bibir Aurel menggunakan ibu jarinya dengan gerakan yang teramat lembut. "Makanya, kalau di kampus lo ada kesulitan, atau... kalau ada maba denim kayak si Reyhan yang macam-macam sama lo, langsung bilang gue. Jangan dipendem sendiri."

Sentuhan tak terduga di sudut bibirnya dan tatapan intens penuh perlindungan dari Bang Edward barusan benar-benar membuat seluruh tubuh Aurel membeku kaku. Jantungnya berdegup begitu keras, bertalu-talu hingga rasanya sesak.

Di balik luapan rasa bahagia dan atmosfer romantis yang menyelimuti mereka di tepi danau sore itu, denyut perih akibat cinta sepihak kembali mengiris hulu hatinya dengan telak. Aurel sadar sepenuhnya, segala perlakuan istimewa, tatapan hangat, dan usapan lembut dari Bang Edward hari ini murni karena cowok itu menjaganya sebagai seorang "Adik Kecil" yang paling berharga. Ruang asmara di hati senior itu telah dikunci rapat dan seutuhnya milik Kak Anita.

Aurel menelan ludahnya yang terasa tercekat, lalu memaksakan sebuah senyuman ceria yang paling manis demi menutupi salah tingkah gila-gilaannya. Ia mengangguk pelan sembari kembali menyuap es krimnya. Di bawah langit senja yang perlahan meredup menuju magrib, Aurel memilih untuk egois menikmati momen ini; menyimpan rapat rahasia cinta sepihaknya yang getir namun teramat indah dalam lembaran hidupnya yang terdalam.

Semburat jingga di langit barat perlahan meredup, berganti dengan pendar ungu keemasan yang menandakan waktu magrib hampir tiba. Suara deru motor sport hitam milik Bang Edward kembali terdengar memasuki pekarangan, memecah keheningan senja di depan rumah Aurel.

Begitu mesin motor mati, Aurel turun dari jok belakang dengan sisa-sisa binar bahagia yang belum luntur dari wajahnya. Ia merapikan sedikit dress pastelnya, sementara Bang Edward menyusul di belakang setelah mencopot helm fullface-nya.

Namun, begitu mereka berdua melangkah melewati pintu utama yang terbuka, dua sosok wanita paruh baya anggun sudah berdiri bersedekap dada di dekat koridor ruang tengah. Mommy Zeline dan Mama Olivia kompak memasang senyuman penuh arti, menatap kepulangan mereka dengan pandangan menggoda yang sangat kentara.

"Wah, wah... yang katanya cuma mau ke minimarket depan kompleks beli minuman dingin, kok baru pulang pas matahari sudah mau tenggelam begini?" celetuk Mommy Zeline membuka serangan godaan, matanya berkedip jenaka menatap sang putri bungsu.

"Iya, nih. Minimarket depan kompleks sekarang pindah ke luar kota ya, Edward?" timpal Mama Olivia ikut kompor, menyenggol pelan lengan sahabatnya sembari tertawa renyah. "Mama sampai curiga kalian berdua sengaja mampir tersesat ke mana dulu tadi. Lama bener, sampai teh kamomil Mama sama Tante Zeline sudah dingin dari dua jam yang lalu."

Mendengar rentetan kalimat sindiran manis yang meluncur kompak dari kedua ibu mereka, wajah Aurel dalam hitungan detik langsung berubah menjadi merah padam sempurna. Sifat aslinya yang gampang salah tingkah seketika meroket, membuat jemarinya kaku meremas cup es krim kosong di genggamannya.

"E-eh... enggak kok, Mommy, mama Olivia! Tadi itu... tadi di jalan kami sengaja muter bentar karena udaranya adem banget habis hujan kemarin. Enggak ada mampir yang aneh-aneh!" kilah Aurel terbata-bata dengan volume suara yang sedikit naik satu oktav demi menyembunyikan rasa gugupnya.

Bang Edward justru langsung menyengir tanpa beban, dengan santai merangkul pundak adiknya yang sudah kaku bak patung. "Aman, Ma, mom. Edward cuma menjalankan fungsi sosial sebagai abang yang baik, nemenin Bocil ini makan es krim kesukaannya di taman danau buatan dekat kompleks sebelah. Biar otaknya segar sebelum besok dihantam lagi sama variabel kuliah."

"Halah, alasan kamu saja, Edward. Bilang saja kamu yang betah berduaan jalan-jalan sama Aurel," goda Mama Olivia lagi, membuat Daddy Wira dan Papa Crish yang baru keluar dari ruang kerja ikut terkekeh mendengar riuhnya ruang tengah sore itu.

Aurel refleks menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap ujung sepatunya sendiri dengan jantung yang kembali berdegup begitu keras. Rasa deg-degan akibat rangkulan santai Bang Edward di pundaknya, berpadu dengan hebohnya godaan dari kedua orang tua mereka, menciptakan letupan rasa hangat sekaligus getir yang campur aduk di hulu hatinya.

Di dalam rumahnya yang riuh menjelang magrib itu, Aurel sadar sepenuhnya; semua orang begitu menyukai kedekatan mereka sejak kecil. Di mata keluarga besar ini, mereka adalah sepasang kakak-adik yang teramat manis dan kompak. Namun, di balik topeng tawa dan rona merahnya, Aurel memilih untuk egois mendekap erat rahasia cinta sepihaknya rapat-rapat. Ia tahu batas tak kasatmata itu tidak akan pernah bergeser, namun kehangatan rumah malam ini sudah lebih dari cukup untuk menidurkan lara hatinya.

Malam harinya, setelah makan malam keluarga selesai, suasana di kediaman Aurel berangsur tenang. Orang tua mereka masih asyik mengobrol di ruang tamu, sementara Aurel memilih duduk di sofa ruang tengah, berpura-pura sibuk membolak-balik halaman buku catatannya.

Tak jauh dari tempatnya duduk, Bang Edward sedang bersandar di dekat pilar pembatas ruangan. Senior itu memegang ponselnya yang menempel di telinga. Nada sambung yang terdengar beberapa saat lalu kini telah berubah menjadi sebuah suara di seberang sana yang seketika mengubah seluruh air muka Bang Edward.

"Halo, Sayang? Iya, ini aku baru selesai makan malam di rumah Aurel," ucap Bang Edward.

Suara beratnya yang biasanya terdengar lantang dan penuh perintah saat di kampus, kini mendadak melunak drastis. Ada nada manis, manja, dan kelembutan eksklusif yang mengalir begitu saja dari bibirnya—sebuah perlakuan istimewa yang hanya pernah ia tunjukkan pada satu wanita: Kak Anita.

"Kamu lagi apa? Udah makan belum? Jangan telat makan ya, nanti maag kamu kambuh lagi kayak minggu lalu," lanjut Bang Edward hangat, disusul sebuah tawa renyah yang terdengar begitu bahagia saat mendengarkan jawaban dari kekasihnya di telepon.

Mendengar bait demi bait kalimat penuh kasih sayang yang meluncur dalam jarak sedekat itu, jemari tangan Aurel yang sedang memegang pulpen seketika membeku kaku. Dada Aurel rasanya seperti dihantam oleh benda tumpul yang teramat berat. Rasa sesak yang luar biasa dan pusaran cemburu yang terpendam mendadak bergejolak hebat, merobek seluruh dinding kebahagiaan semu yang ia rasakan sejak sore tadi di tepi danau.

Aurel menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap kosong pada barisan tulisan di bukunya yang mendadak buram karena setitik air mata mulai mendesak di sudut kelopak matanya. Ia meremas ujung pulpennya dengan sangat erat di bawah meja demi menahan pasokan rasa sakit yang menusuk sampai ke hulu hati.

Kenapa setiap kali mendengar lo menyebut nama dia, rasanya sesakit ini, Bang? batin Aurel pilu, napasnya terasa tertahan di tenggorokan.

Segala perhatian manis, usapan lembut di kepalanya, hingga kehangatan saku jaket kulit Bang Edward sepanjang perjalanan sore tadi seolah menguap tak berbekas, digantikan oleh tamaran realitas yang teramat kejam. Aurel kembali disadarkan dengan paksa pada posisinya. Perlakuan istimewa Bang Edward kepadanya murni hanya sebatas rasa sayang seorang kakak kepada "Adik Kecil yang Berisik". Ruang asmara di hati senior itu seutuhnya telah dikunci rapat dan hanya milik Kak Anita.

"Iya, Sayang. Besok pagi aku jemput kamu ya, kita berangkat bareng ke kampus. Love you too," tutup Bang Edward manis sebelum akhirnya memutus sambungan telepon dengan senyum lebar yang masih terpatri di wajah tampannya.

Aurel buru-buru menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, berusaha keras menghapus sisa riak emosi di matanya sebelum Bang Edward berbalik dan menangkap basah luka hatinya. Di bawah pendar lampu ruang tengah yang temaram malam itu, rasa cemburu yang menyiksa membuat Aurel sadar; labirin buntu hatinya terlalu kokoh untuk diruntuhkan, dan ia harus kembali bersiap memakai topeng cerianya demi menjaga kenyamanan dinasti keluarga mereka.

Bang Edward baru saja menurunkan ponsel dari telinganya dengan sisa senyuman yang masih membekas di bibir. Namun, begitu ia memutar tubuhnya dan melangkah kembali ke arah ruang tengah, senyuman itu seketika sirna. Langkah kakinya terhenti. Sepasang mata elangnya menangkap sesuatu yang tidak beres pada sosok gadis yang duduk di sofa di depannya.

Aurel yang sedang menunduk dalam-dalam tidak menyadari bahwa topeng ketenangannya telah retak. Bahunya tampak sedikit tegang, jemarinya meremas pulpen dengan begitu kencang, dan yang paling membuat jantung Edward mencuat adalah gurat kesedihan mendalam serta setitik air mata yang tertangkap samar bergelang di sudut kelopak mata adiknya.

Sebagai orang yang sudah menjaga Aurel sejak balita, Bang Edward langsung menangkap ada yang salah. Radar protektifnya seketika menyala, namun kali ini bukan dalam mode jahil, melainkan dipenuhi rasa khawatir yang murni.

"Rel," panggil Bang Edward dengan nada suara yang melunak drastis, melangkah mendekat dan langsung berjongkok di samping sofa tempat Aurel duduk agar wajah mereka sejajar. "Muka lo kenapa mendadak ditekuk begitu? Tadi pas pulang dari danau masih senyam-senyum kesenangan. Kok sekarang wajah lo kayak habis nahan nangis?"

Pertanyaan tulus yang meluncur begitu dekat dari Bang Edward seketika membuat Aurel panik setengah mati. Jantungnya berdegup begitu keras dan bertalu-talu tak karuan. Ia buru-buru mengerjapkan matanya, berusaha menghalau air mata yang hampir jatuh, lalu memalingkan wajahnya yang memerah padam ke arah lain.

"E-eh... enggak apa-apa kok, Bang!" kilah Aurel terbata-bata, mencoba memasang tawa renyah yang sayangnya terdengar sangat parau di telinga Edward. "Ini... ini mata gue cuma agak perih aja karena kelamaan natap draf rumus bab empat di buku catatan dari tadi."

"Jangan bohong sama gue, Aurel," potong Bang Edward tegas namun lembut, sepasang matanya menatap lekat-lekat ke dalam manik mata adiknya, mencari kejujuran. "Gue tahu bedanya mata perih karena rumus sama muka orang yang lagi nahan sakit hati. Lo kenapa? Ada masalah di kampus yang belum lo ceritain ke gue? Atau... si Reyhan denim itu ada bikin lo sedih pas sidak lapangan kemarin?"

Mendengar nama Reyhan diseret ganti menjadi kambing hitam, rasa sesak di dada Aurel justru semakin menyiksa. Di hadapan Edward yang berada sedekat ini, dengan tatapan penuh perlindungan yang begitu nyata, Aurel merasa dunianya seolah sedang runtuh perlahan.

Bukan karena Reyhan, Bang... batin Aurel pilu, air matanya kini benar-benar tidak bisa dibendung lagi dan meluncur samar di pipinya yang menghangat. Gue kayak gini karena lo. Karena gue harus denger lo panggil perempuan lain dengan sebutan 'Sayang' dalam jarak sedekat ini, sementara gue selamanya cuma bisa jadi adik kecil lo.

Aurel buru-buru menyeka pipinya dengan punggung tangan, lalu memaksakan sebuah senyuman kaku demi meredakan kepanikan abangnya. Di bawah pendar lampu ruang tengah yang temaram malam itu, pusaran cemburu dan luka getir cinta sepihaknya kembali mengunci rapat rahasia hatinya, membiarkan Bang Edward tetap berada di luar labirin buntu yang ia bangun sendiri demi menjaga kedamaian dinasti keluarga besar mereka.

1
falea sezi
cewek gatel aurel🤣 kayak gka ada cwek. lain aja
falea sezi
aurel g tau malu🤣 di tolak lu ngarep move on neng maaf g suka cwek menye ngemis ngemis cinta😒
falea sezi
🤣🤣 Reyhan maju reyy q dukung jangan hiraukan Edward di vampir sok ngatur
falea sezi
🤣 Edward saudara bukan kok ngatur uda urus aja pcr tercinta lu ngapain. ngurus aurel😒 biar aurel pergi jauh aja minimal. keluar negri gt cwek. kok menye
falea sezi
kenapa malah bahas figuran peran utama siapa aneh author nya🤣
falea sezi
mending pindah tempat kuliah aja aurel yg jauh 😒 biar gk sakit hati
falea sezi
move on donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!