Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*
Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.
Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.
Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.
Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Setelah Malam Itu
Villa Uluwatu, Bali. Pukul 06.00 WITA. Hari ke-18 pernikahan mereka.
Sinar matahari Bali masuk tanpa permisi lewat dinding kaca villa yang memang tidak pakai gorden. Angin tebing dan suara ombak jadi alarm alami.
Alya terbangun duluan. Ia mengerjap, bingung beberapa detik.
Ia tidak tidur di sisi ranjangnya. Ia tidur di atas dada Rafael. Selimut tebal menutupi mereka berdua sampai bahu. Kemeja putih oversize milik Rafael yang kemarin ia pakai sebagai dress tidur, kini terlipat rapi di kursi dekat jendela - Rafael yang melipatnya entah kapan.
Rafael masih tidur. Tanpa kaos, napasnya teratur, satu tangannya memeluk pinggang Alya dengan sangat erat, seperti takut Alya hilang. Wajahnya yang biasanya dingin dan tegas, pagi ini terlihat damai sekali. Rambutnya berantakan.
Dan saat itu, semua memori semalam kembali.
Semalam, setelah makan malam lobster dan pasta di tepi infinity pool dengan lilin, angin Uluwatu tiba-tiba kencang. Rafael mengajak Alya masuk.
Di dalam kamar, hanya ada lampu tidur temaram warna kuning.
Rafael memeluk Alya dari belakang di depan kaca besar yang menghadap langsung ke laut.
"Alya," bisiknya pelan. Suaranya berat. "Hari ini hari ke-18."
"Iya," jawab Alya, jantungnya berdebar kencang.
"Kontrak kita disobek Mama di hari ke-9. Sejak itu, kita cuma tidur sepelukan. Belum pernah jadi suami istri beneran," Rafael membalikkan tubuh Alya pelan agar saling berhadapan. Matanya menatap mata Alya dengan serius. "Saya tidak mau buru-buru. Saya mau kamu siap dulu."
Alya menunduk malu, tapi ia mengerti. Selama 18 hari, Rafael selalu jaga jarak, selalu tanya izin bahkan untuk cium kening.
"Kalau... kalau malam ini..." Rafael berhenti, terlihat gugup untuk pertama kalinya. Seorang Rafael Virel yang menguasai 7 perusahaan, gugup. "Boleh?"
Satu kata itu. Bukan perintah. Bukan paksaan. Minta izin.
Alya yang sudah jatuh cinta, yang sudah nyaman selama 18 hari, yang sudah melihat Rafael panik belain dia dari rentenir, dari Sinta, dari Kevin, akhirnya mengangguk. Pelan sekali, tapi jelas.
Rafael tersenyum lega dan mematikan lampu temaram itu.
Setelah itu biarlah menjadi rahasia mereka berdua. Tidak ada deskripsi apa-apa. Hanya dua orang dewasa yang sudah sah menikah secara agama dan negara, yang saling mencintai, yang akhirnya menyempurnakan pernikahan mereka dengan penuh kasih sayang, lembut, dan saling menghormati. Tidak ada 2 Miliar, tidak ada pasal, hanya cinta.
Dan sekarang, pagi setelah malam itu...
Alya mencoba bergerak pelan untuk mengambil HP di nakas, tapi baru geser 1 cm, lengan Rafael langsung mengerat.
"Jangan kemana-mana," gumam Rafael dengan suara serak khas baru bangun tidur. Matanya masih terpejam rapat.
"Rafael... sudah pagi... jam 6," bisik Alya.
"Masih jam 6. Temenin 5 menit lagi," jawabnya manja, malah menarik Alya sampai dagu Alya menempel di dadanya.
Alya melongo. Ini bukan Rafael yang ia kenal.
Rafael Virel yang biasanya bangun jam 5 pagi, langsung mandi air dingin, langsung buka laptop cek saham Tokyo? Rafael yang kalau ngomong cuma 3 kata? Sekarang jadi manja seperti Bima kalau disuruh bangun pagi untuk sekolah?
"Rafael, kamu manja banget pagi ini," bisik Alya sambil mencoba menutupi wajahnya yang merah dengan selimut.
Rafael akhirnya membuka mata. Matanya masih ngantuk, rambutnya berantakan. Tapi ia tersenyum. Senyum tulus, puas, dan bahagia.
"Pagi, istri," sapanya.
"Pagi..." jawab Alya kecil.
Rafael menempelkan keningnya ke kening Alya. "Tidurnya gimana? Capek? Ada yang sakit?"
Alya menggeleng cepat di balik selimut. "Enggak... enak... nyaman..."
"Enak?" Rafael menggoda.
"Rafael! Jangan dibahas!" Alya langsung menutup mulut Rafael dengan tangannya.
Rafael tertawa pelan dan mencium telapak tangan Alya yang menutup mulutnya itu. Lama.
"Jangan malu. Semalam kamu cantik banget," bisiknya.
"Kamu mesum!" Alya memukul dadanya pelan.
"Bukan mesum. Ini hak suami. Saya bikin pasal baru ya," kata Rafael dengan muka serius dibuat-buat.
"Pasal baru apa lagi sih? Kamu hobi banget bikin pasal," Alya mendengus gemas.
Rafael menarik selimut lebih tinggi, berbisik tepat di telinga Alya, membuat Alya merinding.
"Pasal Baru: Pagi setelah malam pertama, istri dilarang bangun duluan. Wajib nemenin suami yang lagi manja seharian."
Alya tertawa ngakak sampai selimutnya hampir jatuh. "Seharian? Terus kerjaan di Jakarta gimana?"
"Biarin. Biar Hendra yang urus. Saya mau cuti lagi sehari. Di sini aja sama kamu."
Mereka akhirnya berbaring lagi. Tidak melakukan apa-apa. Hanya pelukan. Alya mendengarkan detak jantung Rafael yang tenang dan kuat. Rafael memainkan ujung rambut panjang Alya dengan jarinya. Suasana hening dan hangat.
10 menit kemudian...
Krucuk.
Perut Alya berbunyi keras.
Rafael langsung bangun, mode manja langsung hilang, berganti mode suami siaga level 100.
"Lapar?"
"Eh enggak, belum—"
Rafael sudah melompat dari ranjang, pakai celana pendek, jalan ke dapur mini villa dengan punggung lebarnya yang masih ada bekas luka lama tapi sudah sembuh.
Alya duduk di ranjang, memeluk selimut, menatap punggung Rafael dari belakang dengan senyum.
5 menit kemudian Rafael kembali dengan nampan kayu. Di atasnya ada dua mangkok bubur ayam berantakan, telur rebus yang keasinan, dan dua gelas teh hangat. Ia bikin sendiri. Chef villa sampai bingung dari dapur.
"Makan di ranjang hari ini. Kamu jangan turun dulu. Kamu capek semalam," kata Rafael sambil duduk di tepi ranjang dan menyodorkan sendok ke mulut Alya.
"Aku bisa makan sendiri tau..."
"Aa... buka mulut. Ini perintah suami manja."
Alya akhirnya nurut, disuapi bubur buatan Rafael yang rasanya aneh tapi jadi enak karena dibuat dengan cinta.
Setelah sarapan, Alya mandi duluan. Saat ia keluar dengan handuk, Rafael sudah berdiri rapi dengan kaos putih bersih dan celana pendek, sudah melipat selimut dan merapikan ranjang - hal yang tidak pernah ia lakukan seumur hidupnya.
Sebelum Rafael masuk kamar mandi, ia berhenti di depan Alya. Ia mencium kening Alya dengan lama, dalam, dan tulus.
"Terima kasih ya, untuk semalam," bisiknya. "Sudah percaya sama saya."
Alya mengangguk, matanya berkaca-kaca karena haru, wajahnya masih merah.
Siang itu, mereka tidak pergi kemana-mana. Mereka hanya duduk di tepi infinity pool, kaki dicelupkan ke air biru, Alya bersandar di bahu Rafael.
"Rafael," panggil Alya pelan. "Jadi sekarang kita suami istri beneran ya? Bukan karena kontrak lagi?"
Rafael merangkulnya lebih erat, mencium puncak kepala Alya.
"Dari hari pertama kamu tanda tangan kontrak 2 Miliar itu di KUA, kamu sudah istri beneran saya, Alya. Semalam kita cuma meresmikan aja. Meresmikan di hati."
Alya tersenyum puas, memeluk lengan Rafael.
Di hari ke-18 itu, di Villa Uluwatu, akhirnya tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi bantal di tengah, tidak ada lagi pasal-pasal. Yang ada hanya sepasang suami istri baru yang sedang menikmati pagi pertama mereka sebagai pasangan yang utuh, sebelum kembali ke Jakarta besok.
Bersambung...