Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.
Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.
Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.
Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan
"Nggak," jawab Reynan tegas, tanpa sedikit pun keraguan dalam suaranya. "Reynan nggak akan putus sama Haruna, Pah."
Ruang tamu yang luas itu mendadak terasa begitu sesak. Bagas menatap putranya seolah tak percaya baru saja mendengar penolakan sekeras itu, urat di pelipisnya menegang, rahangnya mengeras hingga terlihat jelas dari kejauhan.
"Kamu berani nolak perintah Papa?" desisnya rendah, nada yang justru jauh lebih menakutkan daripada bentakan.
"Reynan bukan nolak Papa, tapi Reynan nggak bisa ninggalin Haruna," jawab Reynan, matanya menatap lurus ke mata ayahnya tanpa gentar. "Dulu, Reynan cuma anak yang jalanin hidup sesuai suruhan Papa, nggak punya tujuan, nggak punya semangat. Haruna yang bikin Reynan berubah. Nilai Reynan naik, kafe Reynan berkembang, semua karena dia."
"Omong kosong!" Bagas menggebrak meja marmer di hadapannya hingga gelas di atasnya bergetar. "Nilai kamu naik itu karena kamu memang harusnya begitu dari dulu! Kalau cuma soal belajar, Papa bisa cariin guru les paling berpengalaman di kota ini. Nggak perlu dibantu sama gadis cacat kayak dia!"
Kata cacat itu menghantam telinga Reynan bagai cambukan. Tangannya mengepal erat di atas pangkuan, dadanya naik turun menahan amarah yang mendidih.
"Jaga ucapan Papa," ucap Reynan pelan namun dingin. "Haruna bukan sekadar guru les buat Reynan. Reynan cuma mau dia, Reynan cinta dia. Bukan guru les manapun, bukan perempuan manapun pilihan Papa."
Larasati yang sejak tadi duduk tegang di samping suaminya akhirnya memberanikan diri bersuara. Dengan lembut ia menyentuh lengan Bagas. "Pah, tolong tenang dulu. Dengerin Reynan dulu, dia bukan bermaksud kurang ajar. Haruna itu anak baik, Pah. Mama sudah dengar banyak tentang dia, prestasinya luar biasa, dia juara olimpiade..."
"Diam kamu!" bentak Bagas, menepis tangan istrinya kasar, membuat Larasati tersentak kaget. "Jangan ikut campur! Justru karena kamu terlalu memanjakan anak ini, dia jadi berani melawan orangtuanya sendiri!"
Larasati terdiam, matanya berkaca-kaca, tangannya meremas ujung bajunya dengan gemetar.
Melihat ibunya ikut dimarahi hanya karena membelanya, sesuatu di dalam diri Reynan semakin mengeras.
"Pah, jangan bentak Mama. Ini urusan Reynan sama Papa," ucap Reynan, bangkit dari kursinya. "Keputusan Reynan udah bulat. Reynan mencintai Haruna dan akan menikahinya, dengan atau tanpa restu Papa."
"Reynan!" panggil Bagas ketika putranya berbalik melangkah pergi. "Papa belum selesai bicara! Reynan!"
Namun Reynan sama sekali tak menoleh. Langkahnya mantap menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua, mengabaikan teriakan sang ayah yang masih menggema memenuhi rumah.
Begitu pintu kamar tertutup, ia bersandar pada daun pintu, memejamkan mata, mencoba menenangkan napasnya yang memburu.
Di dalam kamar yang sunyi itu, pikiran Reynan bekerja dengan jernih untuk pertama kalinya sepanjang malam. Ia memandangi cincin yang melingkar di jari manisnya, cincin kembar milik Haruna yang tadi disematkan dengan tangan gemetar penuh bahagia.
Wajah Haruna yang menangis haru di tengah kafe kembali terbayang, dan dadanya seketika terasa hangat sekaligus perih.
"Aku nggak akan lepasin kamu, Har," bisiknya pada dirinya sendiri.
Ia sudah cukup lama hidup di bawah bayang-bayang kehendak ayahnya. Sekolah bisnis yang tak ia minati, guru les yang menyita masa remajanya, kehidupan yang selalu diatur sedemikian rupa demi menjaga nama besar keluarga. Semua itu ia jalani tanpa perlawanan berarti, sampai Haruna hadir dan menunjukkan padanya bahwa hidup bisa punya arti lebih dari sekadar patuh.
Malam itu, Reynan telah mengambil keputusan. Jika ayahnya tetap bersikeras memisahkan mereka, ia tak akan ragu untuk pergi dari rumah ini. Ia punya kafe, punya tabungan hasil jerih payahnya sendiri, dan yang terpenting, punya seseorang yang layak diperjuangkan.
Bagaimanapun sulitnya, ia yakin bisa menghidupi Haruna tanpa harus bergantung pada harta keluarga Wirasena.
Sementara itu di ruang tamu, keheningan yang menyesakkan menyelimuti sepeninggal Reynan. Larasati masih duduk membisu, tak berani menatap suaminya.
Sementara Bagas berdiri dengan bahu naik turun, sorot matanya yang tajam beralih pada istrinya.
"Puas kamu?" tanyanya dingin. "Inilah hasil didikan kamu selama ini. Anak yang seharusnya jadi penerus keluarga ini malah tergila-gila sama perempuan yang nggak jelas asal-usulnya."
"Pah, Reynan itu anak yang baik, dia cuma lagi jatuh cinta..." Larasati mencoba membela, suaranya bergetar.
"Jatuh cinta?" Bagas mendengus sinis. "Kalau kamu becus mendidik anak, dia nggak akan senekat itu. Kamu terlalu lembek, Laras! Setiap kali dia salah, kamu selalu membelanya, nggak pernah sekali pun tegas!"
Larasati tak sanggup membalas. Air matanya akhirnya menetes juga, mengalir pelan di pipinya, namun ia menahan isaknya agar tak terdengar.
Selama puluhan tahun pernikahan, ia selalu percaya bahwa suaminya adalah pria yang penuh tanggung jawab. Namun malam ini, ia melihat sisi lain dari Bagas yang begitu keras dan tak kenal kompromi, sisi yang membuat hatinya diliputi kegelisahan yang tak bisa ia jelaskan.
Bagas tak menunggu jawaban lebih lanjut. Ia berbalik dan melangkah cepat menuju ruang kerjanya di ujung lorong, membanting pintu hingga suaranya bergema ke seluruh rumah.
Di dalam ruangan itu, ia berdiri di depan jendela besar yang menghadap taman belakang, menatap kegelapan malam dengan tatapan yang tak lagi hanya berisi amarah.
Ada kegelisahan yang jauh lebih dalam bersembunyi di balik kemarahannya. Wajah Haruna yang ia lihat di video itu, wajah yang ia lihat sekilas di gerbang kampus beberapa bulan lalu, terus terbayang jelas dalam benaknya.
Mata gadis itu, senyumnya, bahkan kondisi kakinya yang tak sempurna, semuanya membangkitkan ingatan yang selama belasan tahun ia kubur dengan susah payah.
"Nggak mungkin," gumamnya untuk kesekian kalinya, mengusap wajahnya kasar. "Bayi itu pasti sudah mati."
Namun sekeras apa pun ia mencoba meyakinkan diri, keraguan itu terus menggerogoti pikirannya. Ia terlalu takut membayangkan kemungkinan bahwa anak yang dulu ia buang, kini justru berdiri di samping putranya sebagai calon menantu.
Dengan tangan sedikit gemetar, Bagas meraih ponselnya, menggulir daftar kontak hingga menemukan sebuah nama yang sudah lama tak ia hubungi. Seorang detektif swasta yang dulu sering ia andalkan untuk urusan-urusan yang tak boleh diketahui siapa pun.
Nada sambung terdengar dua kali sebelum suara berat menjawab di seberang sana. "Selamat malam, Pak Bagas. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya butuh kamu cari tahu tentang seseorang," ucap Bagas dengan suara rendah dan tegas. "Namanya Haruna, mahasiswi baru di universitas tempat anak saya kuliah. Saya mau semua informasi tentang dia, dari mana asalnya, siapa keluarganya, di mana dia dibesarkan, semuanya, sampai ke akar-akarnya."
"Baik, Pak. Kapan Bapak butuh hasilnya?"
Bagas terdiam sejenak, matanya menatap kosong ke arah bayangan dirinya sendiri di kaca jendela, wajah seorang pria yang tampak jauh lebih tua dan letih dari usianya yang sebenarnya.
"Secepat mungkin," jawabnya akhirnya, dingin dan tanpa ampun. "Dan pastikan tidak ada satu orang pun yang tahu soal ini, terutama anak dan istri saya."
Sambungan telepon terputus, meninggalkan keheningan yang mencekam di ruang kerja itu. Bagas berdiri mematung, tak menyadari bahwa di balik pintu yang tak tertutup rapat, sepasang mata yang basah oleh air mata sempat menangkap potongan percakapan itu dalam diam.
mungkin ni langkah yg bkal jlan km bisa lebih mudah ,,
jgn nangis kalo d tolak yx neng ,,
aq yg maluuu looo km bgtuuu😹😹😹🫣🫣🫣🫣🫣🫣
buktikan KLO km mampu melewati semua ujian hidup km meski d tengah keterbatasan fisik
meski berat km harus bisa jd support sistem ny Haruna ,,