Xuan Han terbangun di dalam gua sembari mengingat kalimat tentang cinta. Ia hanya tahu namanya, tidak ada yang lain, kecuali kalimat itu.
Berbekal rasa penasaran tentang identitasnya ia mulai menelusuri hutan, bertemu para kultivator, hewan-hewan buas dan berbagi hal unik di dunia itu.
Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih dan pada saat ia tahu jika kebenarannya menyakitkan, akankah ia mau menerimanya?
Ikuti perjalanannya yang memegangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktu berlalu
Dua hari berlalu dan selama itu tidak ada orang yang lewat. Selama itu Xuan Han merasakan banyak kaki pada tubuhnya dan itu beberapa kali terasa memanjang, menyedot apa pun di dalam tanah. Pada saat itu ia merasa jauh lebih baik dan bertenaga. Ia juga perlahan-lahan merasakan kulitnya yang keras dan kaku, sangat sulit digerakkan. Lalu waktu pun terus berlalu dan pada hari kesepuluh, ia perlahan-lahan terbiasa dengan tubuhnya. Beberapa ulat yang merangkak di tubuhnya terasa menggelikan, walau tidak menimbulkan gatal. Ketika siang hari atau menuju sore ketika matahari menyengat, Xuan Han memang merasa kepanasan, tapi mungkin karena akar-akarnya ada di dalam tanah, itu jadi tidak terlalu mengganggunya.
Tapi tidak ada bunga lagi di cabangnya dan daun-daun perlahan-lahan rontok. Xuan Han bisa memperhatikan daun-daun yang berguguran, dan ingin bercakap-cakap dengan beberapa serangga yang datang. Ia tidak mau berbicara dengan ulat; mereka semua hidup di daun-daunnya dan memakannya. Ketika Xuan Han melihatnya berjalan, ia sering mengumpat dan mengutuknya, walaupun tidak ada balasan atau ulat itu mau pergi. Betapa pun Xuan Han menggoyangkan tubuhnya, ulat itu tidak mau pergi. Ketika akhirnya kupu-kupu muncul, Xuan Han senang. Itu adalah keindahan yang menyegarkan.
Ia tidak tahan, lalu bertanya, “Kupu-kupu kecil, apa kamu menyukai daun-daunku?”
Tidak ada jawaban dan kupu-kupu itu terbang menjauh. Xuan Han berseru menyuruhnya untuk diam, tapi kupu-kupu itu tidak mempedulikannya. Mungkin saja ia datang mencari bunganya dan karena tidak menemukannya memilih pergi.
Lalu setelah dua puluh hari, ulat yang dibencinya menjadi kepompong kecil yang bergelantungan dan datang juga dua tawon yang suaranya berisik. Xuan Han mengernyitkan dahi, dan berharap dua tawon itu pergi, namun tawon itu berputar-putar, bersembunyi di antara dahan pohon, lalu sepertinya mereka membicarakan sesuatu yang tidak Xuan Han kenal. Mereka akhirnya pergi. Tapi kembali lagi membawa sesuatu di mulutnya.
Xuan Han berseru, “Hei, apa kalian akan membuat sarang? Itu tidak boleh!”
Xuan Han menggerakkan tubuhnya, hanya sedikit bergetar. Tapi tawon itu tetap sibuk membuat sarangnya.
Setelah dua puluh hari, akhirnya muncul sarang tawon yang kuat di dahannya. Selain itu, akhirnya kepompong yang selama ini diam mulai menetas dan melahirkan kupu-kupu kecil berwarna hitam. Xuan Han menikmati proses kelahirannya, akan tetapi kupu-kupu itu hanya diam beberapa saat sebelum akhirnya mulai mengepakkan sayapnya dan terbang menjauh, terus menjauh hingga akhirnya tidak terlihat lagi. Xuan Han mengumpat.
Waktu berlalu... Akhirnya tawon itu memiliki beberapa anak yang tumbuh besar. Xuan Han akhirnya menerima mereka dan menganggapnya hewan peliharaan dan penghilang rasa bosannya. Ia sering bertanya, bercakap-cakap, tapi tidak peduli, hanya suara dengungan yang didengarnya.
Pada suatu hari, angin kencang berhembus, daun-daun Xuan Han beterbangan dan sarang tawon itu bergoyang-goyang, lalu akhirnya diterbangkan angin. Seluruh keluarga itu disapu angin dan Xuan Han kembali kesepian. Ia melihat makam di depannya dan dua dahan yang sebelumnya dijadikan batu nisan sudah mengering dan hancur. Entah mengapa Xuan Han ingin menggerakkan akarnya ke sana. Akar-akarnya perlahan-lahan tumbuh memanjang. Lalu akhirnya ia dapat menghisap sisa-sisa mayat perempuan itu. Rasanya agak aneh dan menjijikkan, tapi itu adalah makanannya dan ia perlu untuk hidup dan terus tumbuh.
Musim semi berlalu, dan digantikan musim panas yang menyengat. Xuan Han sering berdoa agar hujan turun. Ia tidak mengeluh lagi tentang apakah ini ilusi atau bukan. Daun-daunnya menjadi layu dan ia berusaha mendapatkan air dari dalam tanah. Dengan cadangan air di tubuhnya, ia bisa bertahan lebih lama, tetapi tidak tahu sampai kapan. Akar-akarnya perlahan-lahan tumbuh ke bawah untuk mencari sumber air. Daun-daunnya pun mulai rontok dan angin menyapunya.
Suatu hari, beberapa orang datang menunggangi kuda. Mereka tampaknya para pengelana yang akan bepergian jauh. Xuan Han berseru meminta air, tapi tidak ada di antara mereka yang menoleh. Ketika melintasi pohon, mereka sekilas melihatnya lalu kembali melanjutkan perjalanan. Daun-daun pohonnya perlahan-lahan menghilang dan para pengelana itu tidak akan bisa beristirahat di sana.
Ia kembali kesepian. Tidak ada pohon di sekitarnya selain dirinya. Ia tidak tahu apa harus bersukacita karena tidak berebut makanan atau harus mengeluh.
...----------------...
Musim gugur akhirnya tiba dan daun-daun Xuan Han rontok. Baginya itu jauh lebih menyenangkan bisa memperhatikannya ketika angin bertiup. Tidak ada yang berkunjung, manusia, serangga, apa pun itu.
Puncak musim gugur, udaranya terasa dingin dan pada saat itu daun-daun Xuan Han sepenuhnya rontok. Cabang-cabangnya terlihat menyedihkan. Hamparan rumput yang sebelumnya hijau menjadi gersang. Sebuah kereta kuda akhirnya melintas. Xuan Han memperhatikannya, ia tidak peduli lagi tentang apakah dirinya sebelumnya adalah manusia atau bukan, ia hanya perlu hidup sebagaimana pohon melakukannya. Ada cahaya pada matanya kala kereta kuda mewah itu berhenti. Kuda-kudanya nampaknya hidup mewah dan menyenangkan, melihat dari penampilannya.
Sang kusir lalu turun dan membungkuk sembari berkata, “Nona.”
Gorden merah muda yang menutupi pintu perlahan-lahan dibuka. Dari sana seorang wanita bergaun kuning mewah keluar. Ia mendongak menatap pohon Xuan Han. Xuan Han menatapnya, begitu juga gadis itu. Saling menatap beberapa saat, akhirnya gadis itu turun lalu mulai melangkah mendekati pohon.
Angin musim gugur menerbangkan beberapa pakaiannya. Gadis itu terus berjalan mendekat. Ia berhenti mengamati kulit pohon sebentar.
“Sudah hilang?”
Ada sedikit keterkejutan di wajahnya. Lalu itu perlahan-lahan melunak. Dengan tangannya yang ramping ia mengusap beberapa kali kulit pohon itu. Gadis itu lalu duduk beberapa saat. Diam saja. Kemudian tuan kusir memintanya untuk kembali.
Ia kembali berdiri, menatap kulit pohon itu, lalu mengeluarkan sebuah koin dari lengan bajunya.
Perlahan-lahan mulai menulis dua aksara yang berarti angin malam. Setelahnya ia kembali ke kereta kuda, melihat sebentar pohon itu lalu keretanya mulai berjalan pergi.
Xuan Han tidak tahu apa artinya ini, ia juga tidak peduli perasaan gadis itu; yang ia pedulikan jangan menulis apa pun di dahinya, itu menggelikan.
Waktu berlalu dan musim dingin akhirnya tiba juga.