NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Transmigrasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nyvara

Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

~​Jumat malam, pukul 23:00 WIB~

​SMA Garuda telah lama terlelap dalam kegelapan, Pak Yanto si penjaga sekolah sedang mendengkur di pos depan setelah meminum teh hangat yang (tanpa ia ketahui) telah ditambahkan obat tidur dosis ringan oleh Tono atas instruksi langsung dari Bella. ​Standard Operating Procedure (SOP) Manajemen Krisis mengharuskan eliminasi variabel sipil yang tidak terlatih. Jika Pak Yanto terbangun dan mencoba melawan belasan preman bersenjata, ia hanya akan menjadi korban luka yang akan menambah beban kompensasi dan liabilitas sekolah.

​Di ruang siaran radio sekolah (Ruang Public Address System) yang terletak di lantai dua, Bella Anastasia duduk di depan mikrofon konsol. Ruangan itu gelap gulita, ia hanya ditemani oleh cahaya redup dari layar laptop-nya yang menampilkan empat kotak rekaman CCTV internal sekolah. ​Di bawah atau lebih tepatnya di lantai dasar, Dion dan Rindi bersembunyi di balik pilar dekat lorong laboratorium kimia, memegang tongkat pemadam api (fire extinguisher) bukan sebagai senjata untuk memukul, melainkan sebagai alat Crowd Control (Pengendali Massa). Sedangkan Tono dan Bono berada di atap lantai satu, memegang selang air bertekanan tinggi yang terhubung ke hidran sekolah.

​"Tes komunikasi (Comm Check). Tim Lapangan, laporkan status visibilitas," suara Bella berbisik melalui earpiece (alat pendengar nirkabel murah yang biasa dipakai panitia Event Organizer) di telinga keempat anak buahnya.

​"Dion di sini, Bos. Posisi lorong lab aman. Titik masuk (Bottleneck) sudah disiapkan," lapor Dion dengan napas tertahan, adrenalinnya memompa kencang.

​"Tono dan Bono siap di atap, Bos. Katup hidran udah dibuka setengah, tinggal diputar full kalau ada aba-aba."

​"Diterima," jawab Bella. Matanya yang tajam menatap layar CCTV 1. "Target telah tiba di perimeter luar (Outer Perimeter). Jaga kedisiplinan emosi kalian, jangan ada yang mengambil tindakan sebelum instruksi eksekusi."

​Di luar gerbang samping sekolah, lima belas remaja dengan jaket denim yang dipimpin oleh Toni sedang mengendap-endap. Toni membawa sebotol bensin di tangannya dan sebuah linggis baja, dendam kesumat mengubahnya menjadi vandalis buta. Tujuannya malam ini adalah membakar Ruang OSIS, simbol kebanggaan Bella dan menghancurkan kaca-kaca kelas.

​"Gerbang sampingnya digembok dari dalam," bisik salah satu pengikut Toni.

​"Pecahin gemboknya pakai linggis," perintah Toni kasar. Namun saat pengikutnya itu menyentuh gembok kuningan tersebut, ia menyadari sesuatu.

​"Ton, gemboknya nggak kekunci rapet. Cuma dicantolin doang!" lapornya terkejut.

​Toni mengerutkan kening, tapi ego menutupi rasionalitasnya. "Bagus. Satpam goblok sekolah ini pasti lupa ngunci. Ayo masuk! Kita kasih pelajaran ke HRD palsu itu!"

​Mereka mendorong gerbang besi itu perlahan dan menyelinap masuk ke area sekolah. Untuk mencapai Ruang OSIS, mereka harus melewati sebuah lorong sempit yang diapit oleh dinding laboratorium kimia di sisi kiri dan pagar tembok tinggi di sisi kanan. Lorong ini panjangnya sekitar dua puluh meter dan hanya memiliki lebar dua meter. ​Dalam arsitektur keamanan, area seperti ini disebut sebagai Fatal Funnel atau Bottleneck (Titik Leher Botol), sebuah zona mematikan di mana keunggulan jumlah massa sama sekali tidak berguna karena mereka terpaksa berjalan berbaris dan kehilangan ruang gerak (Mobility). Saat kelima belas anggota pemberontak itu berada tepat di tengah lorong, terdengar bunyi 'KLIK' mekanis yang sangat keras dari belakang mereka. ​Toni menoleh dengan cepat, seseorang berpakaian hitam (Rindi) baru saja membanting gerbang samping hingga tertutup rapat dan memasang gembok besar yang menguncinya secara absolut.

​"Woy! Siapa itu?! Buka gerbangnya!" teriak Toni panik, menyadari mereka kini terkurung di dalam lorong sempit.

​Tiba-tiba, lampu sorot lapangan yang sangat terang menyala secara bersamaan, menyilaukan mata kelima belas preman tersebut. Mereka mengangkat tangan untuk menutupi wajah. Dan dari pengeras suara (Toa) yang terpasang di setiap sudut sekolah, terdengar sebuah suara perempuan yang sangat tenang, formal, dan sedingin es.

​"Selamat malam, tamu tak diundang. Anda telah memasuki properti pribadi SMA Garuda secara ilegal (Unauthorized Access)."

​Suara Bella bergema di seluruh penjuru lorong, terdengar seperti suara pengumuman bandara yang sedang mengabarkan pembatalan penerbangan secara permanen.

​"Bella!!" jerit Toni murka, mengacungkan linggisnya ke udara. "Keluar lo, pengecut! Jangan sembunyi di balik speaker! Gue bakar sekolah lo malam ini juga!"

​"Tindakan pembakaran fasilitas (Arson) adalah kejahatan korporasi tingkat tinggi dengan ancaman hukuman pidana maksimal 12 tahun penjara," balas Bella dari ruang siaran. "Sebagai Manajer Manajemen Krisis di institusi ini, saya tidak bisa menoleransi penyusutan aset (Asset Depreciation) yang diakibatkan oleh vandalisme. Oleh karena itu, saya akan melakukan prosedur Pemadaman Api Preventif."

​Di atap lantai satu, persis di atas lorong tersebut, Tono tersenyum lebar.

​"Laksanakan instruksi, Tono," perintah Bella melalui earpiece.

​Tono memutar katup hidran sekolah hingga batas maksimal. Air bertekanan luar biasa tinggi menyembur keluar dari selang pemadam kebakaran, menghantam langsung ke arah kelompok Toni di lorong sempit bawah.

​"BAAAANJIIIR!!" teriak para preman itu saat pilar air yang sangat deras menghantam mereka dari atas.

​Botol bensin di tangan Toni terlempar dan hancur. Tubuh mereka terpental menghantam dinding laboratorium, kemeja dan jaket denim mereka basah kuyup dalam hitungan detik. Beberapa dari mereka terjatuh di lantai beton yang kini tergenang air licin, saling bertabrakan satu sama lain akibat kepanikan massal (Mass Panic). Mereka tidak memiliki tempat untuk menghindar karena terjebak di bottleneck. ​Air dingin yang menyemprot di tengah malam itu tidak hanya menghancurkan mobilitas fisik mereka, tetapi juga meruntuhkan moral tempur mereka seketika.

​Toni mencoba berdiri, memaki-maki dengan bahasa kasar, namun semburan air yang diarahkan Budi tepat mengenai wajahnya, membuatnya tersedak dan kembali tersungkur.

​Dari pengeras suara, suara Bella kembali terdengar dengan intonasi datar yang menyiksa mental.

​"Toni. Evaluasi kinerja malam ini menunjukkan bahwa Anda gagal memimpin tim Anda. Anda mengabaikan manajemen risiko dasar dengan masuk ke dalam 'Blind Spot' musuh. Dan sekarang, dalam hitungan dua menit, dua unit mobil patroli Kepolisian Sektor setempat akan tiba di gerbang utama untuk menahan Anda. Rekaman kamera keamanan resolusi tinggi sudah mengamankan wajah kalian semua."

​Mendengar kata 'Polisi', sisa-sisa keberanian faksi radikal itu hancur lebur.

​"Polisi?! Ton, kita cabut Ton! Gue nggak mau dipenjara!" teriak salah satu anggota. Mereka mengabaikan Toni, memanjat pagar kawat berduri yang tinggi dengan sisa-sisa tenaga panik mereka, merobek celana dan jaket mereka dalam prosesnya, demi kabur dari lorong neraka tersebut. ​Toni tertinggal di belakang, basah kuyup, kedinginan, dan dihancurkan oleh rasa malu yang tak tertanggungkan. Ia menatap ke arah speaker di dinding dengan kebencian yang mendalam, ia telah ditundukkan tanpa ada satu pun anggota geng Bella yang menyentuhnya.

​"Gue bakal bunuh lo, Bella! Gue bakal bunuh lo!!" teriak Toni frustrasi, sebelum akhirnya ia pun terpaksa memanjat pagar tembok dan melarikan diri ke dalam kegelapan malam, takut tertangkap polisi.

​Di ruang kendali, Bella mematikan mikrofon. Ia tidak pernah menelepon polisi, dirinya hanya menggunakan Psychological Warfare (Perang Psikologis) dan gertakan korporat. Memanggil polisi hanya akan membuat sekolah ini diliput media massa sebagai 'Sekolah Rawan Tawuran', yang akan merusak Brand Image (Citra Merek) SMA Garuda.

​"Semua tim," ucap Bella melalui earpiece. "Ancaman telah dievakuasi (Threat Neutralized). Lakukan pembersihan area (Area Cleanup). Pastikan tidak ada genangan air yang tersisa esok pagi sebelum Pak Yanto terbangun. Lembur malam selesai."

​

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!