Alina Maheswari percaya bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Lima tahun bersama Birendra Adhyaksa membuatnya yakin bahwa lelaki itu adalah rumah tempat dimana ia akan pulang selamanya.
Namun sebuah kecelakaan merenggut segalanya.
Ketika sang kakak—Keira Maheswari kehilangan suaminya, dan terjebak dalam trauma yang membuatnya mengira Birenda adalah lelaki yang telah tiada, Alina dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan yaitu mempertahankan cintanya atau merelakannya demi menyembuhkan satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Disaat pengorbanan mulai mengikis hatinya, masa lalu datang mengetuk, sementara rahasia demi rahasia perlahan mengubah arti cinta, kehilangan, dan kesetiaan. Sebab terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan seseorang yang namamu di mata yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 – Telepon yang Mengubah Segalanya
“Satu panggilan telepon mampu mengubah masa depan seseorang lebih cepat dari ribuan rencana yang telah disusun.”
--
Minggu pagi dihiasi dengan langit yang begitu cerah. Sinar matahari bersinar di antara dedaunan yang bergerak perlahan tertiup angin, memantulkan warna keemasan di halaman rumah keluarga Maheswari.
Udara terasa lebih segar dari biasanya, seolah dunia sedang memberi jeda kecil sebelum kembali sibuk pada hari berikutnya. Jalanan ibu kota pun sudah mulai dipenuhi kendaraan yang hendak kembali dari liburan singkat bersama keluarga mereka.
Bagi sebagian orang, hari itu hanyalah hari biasa. Hari yang akan digunakan untuk beristirahat, menikmati secangkir kopi lebih lama atau untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi awal pekan yang sibuk.
Alina menghabiskan pagi dengan membantu Hendra membersihkan halaman rumah. Rumah sederhana peninggalan mendiang ibunya selalu terasa hidup setiap akhir pekan. Pot-pot bunga yang memenuhi teras menjadi kesibukan kecil yang tak pernah dilewatkan Hendra.
“Melati ini mulai berbunga lagi.” Hendra tersenyum seraya menunjuk tanaman di sudut pagar. Alina mendekat, kelopak-kelopak putih kecil bermekaran di antara daun-daun hijau yang basah oleh embun.
“Ibu pasti senang kalau lihat ini.” Hendra mengangguk setuju.
“Tiap pagi, ibumu selalu memetik beberapa tangkai.” Alina tersenyum kecil. Ingatan tentang ibunya memang tak pernah benar-benar hilang, dan ada kalanya rasa rindu datang begitu saja, hanya karena melihat bunga melati atau mencium aromanya.
--
Di dalam mobil, Keira dan Raka dalam perjalanan pulang untuk kembali ke Jakarta. Suasana perjalanan berlangsung jauh lebih tenang dibanding saat mereka berangkat. Hujan yang sempat turun sejak pagi mulai membasahi kaca depan.
Wiper bergerak perlahan, menghapus titik-titik air yang terus berdatangan tanpa henti, Keira memiringkan kepalanya, memperhatikan tetesan hujan yang berlomba turun di balik kaca, sesekali ia menguap kecil.
“Aku ngantuk.” Raka melirik sekilas seraya tersenyum lembut.
“Kalau capek, tidur aja. Ini juga masih lumayan jauh.” Namun Keira langsung menggeleng cepat.
“Nanti aja.” Ia meraih botol air mineral di samping kursinya dan meneguk sedikit, lalu kembali menyandarkan tubuhnya. “Aneh.” Gumamnya lagi dan Raka kembali menoleh ke arahnya untuk sekilas.
“Kenapa?” Tanyanya lembut.
“Akhir-akhir ini aku gampang capek.” Raka terkekeh mendengar penuturan istrinya.
“Mungkin karena habis jalan-jalan terus.”
“Itu mungkin.” Keira ikut tertawa kecil. Ia sama sekali tidak memikirkan kemungkinan lain. Baginya, rasa lelah itu hanyalah akibat perjalanan beberapa hari terakhir bersama Raka.
--
Menjelang siang, Birendra berada dirumah keluarganya. Ibunya tampak sibuk memilih beberapa kotak hantaran yang akan dibawa saat keluarga mereka datang melamar Alina.
“Apa menurutmu warna biru terlalu gelap?” Tanya sang ibu. Birendra memperhatikan dua pilihan kotak di atas meja.
“Yang krem lebih cocok.”
“Kenapa?” Lagi, ibunya kembali bertanya.
“Alina suka warna-warna lembut.” Mendengar itu langsung membuat Dian tersenyum penuh arti.
“Kamu hafal sekali.” Birendra hanya tersenyum malu. Sudah bertahun-tahun ia membayangkan hari itu, kini semuanya tinggal menunggu waktu. Di dalam saku jas yang tergantung di ruang kerjanya, sebuah kotak beludru kecil telah siap dibawa.
--
Pukul dua siang, langit yang sejak pagi cerah perlahan berubah mendung. Awan kelabu mulai menghiasi langit, rintik hujan pun turun semakin deras, membuat pandangan dijalan tol perlahan memendek. Raka mengurangi kecepatan mobil, ia lebih memilih tiba sedikit terlambat dari pada harus mengambil resiko dijalan yang mulai licin.
Radio memutar lagu lama dengan volume rendah, Keira tampak sudah memejamkan kedua matanya, tapi bukan untuk tertidur, ia hanya beristirahat seraya menikmati suara hujan yang menenangkan. Sesekali, Raka akan melirik ke arahnya, sudut bibirnya membuat simpul senyum.
Di waktu yang bersamaan di rumah keluarga Maheswari, Alina sedang menyeduh teh ketika ponselnya bergetar. Nama Birendra muncul di layar, ia menerima panggilan itu seraya tersenyum.
“Halo?” Ucap Alina setelah panggilan terhubung.
“Lagi dirumah?” Tanya Birendra dari seberang sana, dan Alina hanya berdeham. “Nanti sore aku kesana.” Ucap Birendra lagi.
“Ada apa?”
“Ada sesuatu yang mau aku bicarain sama Ayah.”
“Tentang apa?” Pertanyaan Alina membuat Birendra tersebut di seberang sana.
“Nanti juga kamu tahu.” Alina tertawa kecil mendengar hal tersebut.
--
Menjelang sore, Birendra tiba di rumah Maheswari dengan membawa sekotak kue kesukaan Hendra. Hujan mulai turun lebih deras ketika mobilnya berhenti di depan pagar. Kemeja putih yang dikenakannya tampak rapi seperti biasa.
Begitu masuk ke dalam rumah, suasana hangat langsung menyambutnya. Aroma masakan rumahan memenuhi ruang makan, Hendra tampak lebih ceria dari biasanya, sementara Alina sibuk menata piring dan gelas di meja.
Tidak ada percakapan penting malam itu, mereka hanya berbicara tentang pekerjaan, rencana peluncuran koleksi Aurora, dan hal-hal kecil yang membuat rumah terasa hidup. Sesekali suara tawa terdengar memenuhi ruangan sekaligus memecah suara hujan di luar jendela.
Birendra beberapa kali memandang Alina diam-diam, dalam saku jas yang ia gantung di kursi ruang tamu, sebuah kotak bludru kecil tersimpan rapi. Malam itu sebenarnya ia ingin berbicara kepada Hendra tentang rencananya melamar Alina, ia bahkan sudah menyiapkan kata-kata sejak pagi.
Meski sudah dipersiapkan, entah kenapa Birendra memilih menunda beberapa menit lagi, ia ingin menikmati suasana hangat itu untuk sedikit lebih lama.
--
Pukul delapan malam, di jalan tol yang tengah diguyur hujan lebat, suara klakson panjang memecah kesunyian, sebuah truk yang melaju dari arah berlawanan kehilangan kendali setelah mencoba menghindari kendaraan di depannya.
Ban besar truk itu tergelincir di atas aspal yang licin, tubuh kendaraan tersebut oleng hingga menerobos pembatas jalan. Sorot mata Raka terbelalak melihat itu, secara refleks ia pun memutar kemudi sekuat tenaga ke arah kiri, berusaha untuk menjauhkan sisi tempat Keira duduk dari arah datangnya truk.
“Keira.”
Benturan keras terdengar, suara logam yang saling menghantam terdengar memekakkan telinga. Kaca-kaca pecah berhamburan, mobil berputar beberapa kali sebelum akhirnya menghantam pembatas jalan.
Di rumah Maheswari, ponsel Hendra berdering, nomor tak dikenal terlihat di layar ponselnya, dan entah kenapa dadanya tiba-tiba terasa sesak, lalu ia pun menerima panggilan itu secara perlahan.
“Selamat malam, Pak Hendra Maheswari?” suara di seberang sana terdengar tergesa-gesa dan juga tegang.
“Ya.. saya sendiri.” Jawab Hendra dengan nada yang terdengar ragu.
“Kami dari Rumah Sakit Harapan Mulia…” Kalimat berikutnya membuat wajah Hendra perlahan kehilangan warna. Cangkir teh yang diberikan oleh Alina sebelumnya terlepas dari tangannya hingga pecah berkeping-keping di lantai. Alina dan Birendra yang melihat itu pun langsung berdiri bersamaan.
“Ayah?”
Hendra tidak menjawab, tangannya gemetar hebat, dan ponsel yang masih menempel di telinga perlahan turun, sementara tatapannya kosong menembus udara, hal itu tentu saja membuat Alina dan juga Birendra merasa penasaran dengan asal telepon yang diterima oleh Hendra barusan.
“Keira… kecelakaan.” Ucapnya dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Dunia Alina seolah berhenti berputar, suara hujan mendadak terasa sangat jauh, jantungnya berdetak begitu cepat hingga terasa menyakitkan, dan dengan sigap Birendra menahan tubuh Alina yang hampir jatuh.
“Dimana rumah sakitnya?” Suara Birendra terdengar paling tenang di antara mereka bertiga. Hendra menyebut nama rumah sakit dengan bibir gemetar.
Tanpa banyak bicara, Birendra segera mengambil kunci mobil, Alina bahkan tidak sempat mengganti pakaiannya, ia hanya meraih tas dan mengikuti mereka keluar rumah, dan hujan langsung mengguyur tubuh mereka begitu pintu dibuka.
Perjalanan menuju rumah sakit terasa seperti mimpi buruk yang tak berujung, lampu-lampu kendaraan memantul di atas aspal basah, menciptakan garis-garis cahaya yang kabur. Tak ada percakapan di dalam mobil, hanya suara hujan dan wiper yang bergerak berulang kali.
Alina terus mencoba menghubungi Keira, namun nomornya tidak aktif, Raka juga tidak menjawab. Tangannya mulai gemetar, sedangkan Birendra yang tengah mengemudi itu tetap menggenggam jemari Alina dengan satu tangan lainnya, berharap bahwa pujaan hatinya bisa sedikit lebih tenang.
Ketika mereka tiba di Rumah Sakit Harapan Mulia, sebuah ambulans baru saja berhenti di depan instalasi gawat darurat, petugas medis pun berlarian membawa brankar. Alina mengenali sosok di atas brankar itu hanya dari rambut panjang yang basah oleh hujan.
“Kak Keira.” Ia hendak berlari, tetapi tubuhnya lemas. Birendra lebih dulu bergerak membantu petugas medis untuk memindahkan tubuh Keira, darah yang mengalir dari pelipis wanita itu mengenai lengan dan dada kemeja putihnya, namun ia sama sekali tidak menyadarinya.
Pintu IGD tertutup rapat beberapa detik kemudian, Alina terpaku di bawah lampu rumah sakit yang terlalu terang. Napasnya memburu, sementara pandangannya mencari satu sosok lain yang tidak ia temukan di mana pun.
“Kak Raka mana?” bisiknya lirih. Tidak ada yang menjawab pertanyaannya, hanya ada suara hujan yang masih turun tanpa henti, seolah langit ikut menangis bersama mereka malam itu.