NovelToon NovelToon
Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Mata Nadya yang sembap kini berubah menjadi sangat dingin dan tajam.

Ia bukanlah wanita lemah yang bisa diperdaya dengan mudah.

Nadya tahu betul karakter Rian—menyerahkan lima puluh satu persen saham hanya akan menjadikan dirinya dan Armand mangsa yang tak lagi memiliki daya tawar.

Rian dan Sarah tidak akan pernah melepaskan Armand hidup-hidup setelah mendapatkan segalanya.

"Kalau dia ingin bermain gila, aku akan layani dengan cara yang tidak pernah dia bayangkan," desis Nadya penuh penekanan.

Tanpa ragu, Nadya memanfaatkan seluruh pengaruh bisnis, dana melimpah, dan jaringan koneksi finansial yang ia miliki.

Ia langsung mengerahkan tim keamanan pribadi tingkat tinggi yang terlatih dalam operasi taktis, menginstruksikan tim cyber khusus untuk meretas dan memantau lalu lintas jaringan komunikasi Rian, serta menggerakkan detektif swasta profesional secara masif.

Garis waktu bergerak cepat. Setiap detik terasa bagai hembusan napas yang berpacu dengan maut.

Hanya dalam hitungan jam, tim cyber dan detektif berhasil menembus enkripsi sinyal panggilan Rian.

Titik koordinat pengirim sinyal terkunci: sebuah area pabrik gula tua terbengkalai di kawasan terisolasi di luar kota.

Tempat yang luas, gelap, dan sangat strategis untuk tindakan kriminal.

"Bu Nadya, lokasi sudah terkonfirmasi," lapor kepala tim pengamanan taktis seraya membentangkan denah lokasi pabrik gula tua di atas kap mobil.

"Sinyal berada di bangunan utama bagian tengah. Waktu ultimatum tersisa kurang dari beberapa jam lagi."

Nadya menatap denah tersebut dengan pandangan tak tergoyahkan.

Ia menyambar rompi pelindung dan mengenakannya tanpa ragu.

"Kita berangkat sekarang," tegas Nadya dingin.

"Kita bawa suamiku pulang, dan pastikan Rian serta Sarah membayar mahal untuk setiap tetes darah Mas Armand."

Rasa sakit di jemarinya yang patah terasa membakar hingga ke dada, menyebarkan gelombang nyeri yang menusuk di setiap detak jantungnya.

Keringat dingin membasahi seluruh tubuh Armand, namun ia mengepalkan gigi rapat-rapat, fokus mempertahankan kesadarannya demi Nadya.

Ia menolak untuk pingsan; ia harus tetap bertahan hidup untuk wanita yang sangat dicintainya itu.

Saat Rian melangkah keluar untuk memeriksa situasi area luar pabrik gula tua tersebut, Sarah berjalan mendekat sendirian.

Langkah kaki tingginya berdentang nyaring di atas lantai semen yang kotor.

Ia berdiri di hadapan Armand, menatap mantan suaminya yang terkulai lemah bersimbah darah dengan pandangan yang bercampur antara rasa puas, benci, dan keraguan.

"Lihat dirimu sekarang, Armand," desis Sarah seraya menyilangkan tangan di dada, mencoba mencuci otak Armand.

"Kamu mempertaruhkan nyawamu demi wanita itu? Buka matamu! Nadya itu pengusaha, dia cuma memanfaatkan bakatmu! Mana mungkin dia mau mengorbankan lima puluh satu persen saham dan hartanya demi seorang penjahit miskin sepertimu? Di dunianya, uang adalah segalanya. Dia tidak akan pernah datang menyelamatkanmu."

Meski napasnya tersengal dan bibirnya pecah berdarah, Armand perlahan mendongakkan kepalanya.

Ada kilatan cahaya yang sangat jernih dan tak tergoyahkan di dalam matanya—sebuah ketenangan yang justru membuat Sarah merasa terancam.

Armand tertawa kecil, suara tawa yang serak namun sarat akan cemoohan.

"Kamu salah, Sarah." desis Armand pelan namun tegas.

"Kamu mengukur semua orang dengan standar diri kamu sendiri yang dangkal dan murahan."

Mata Sarah membelalak kaget saat mendengar perkataan dari mantan suaminya.

"Nadya tidak pernah melihatku dari harta atau status," lanjut Armand, membongkar borok Sarah dan Rian tanpa ampun.

"Dia menerimaku saat kamu menjualku seperti barang tidak berharga. Kamu dan Rian cuma dua orang serakah yang dibutakan dengki karena tidak pernah bisa merasakan apa itu cinta yang tulus. Cinta Nadya tidak bisa dinilai dengan uang, dan itulah hal yang tidak akan pernah bisa kamu miliki seumur hidupmu."

Kata-kata Armand menghantam tepat di pusat rasa mindernya yang paling dalam.

Sarah seketika terperanjat, napasnya memburu dan mukanya merah padam dihinggapi amarah yang membuncah.

"TUTUP MULUTMU! DIAM!" teriak Sarah histeris, kehilangan kendali dirinya.

Dengan mata membara, Sarah menyambar sebongkah kayu berliku di tanah dan mengacungkannya tinggi-tinggi, siap menghantamkan benda itu ke arah Armand yang hanya bisa menatapnya tanpa kedipan mata.

Namun, sebelum kayu itu sempat terayun turun, suara dentuman keras memecah keheningan pabrik tua tersebut—pintu besi utama digedor dan didobrak paksa dari luar!

Lokasi pabrik gula tua diguyur hujan deras dan badai dahsyat.

Angin kencang menghempas dinding-dinding seng tua, menyamarkan derap langkah kaki dari luar.

Dari dalam van komando yang terparkir tersamar di area hutan sekitar pabrik, Nadya memantau setiap sudut lokasi lewat monitor taktis.

Berbalut pakaian serba hitam dan jaket tebal, sorot matanya tajam tanpa ragu sedikit pun.

"Lakukan sekarang," perintah Nadya dingin melalui headset.

Atas instruksi tersebut, tim cyber dan keamanan pribadi Nadya segera memotong aliran listrik utama pabrik tua.

JEK!

Kegelapan total seketika mencekam seluruh area lokasi.

Suara jeritan kaget dan kepanikan langsung memuncak di pihak anak buah Rian.

Dalam kegelapan yang pekat, kontak fisik sengit pecah.

Tim pengawal tegap Nadya yang mengenakan kacamata night-vision bergerak cepat melumpuhkan preman-preman sewaan Rian satu per satu di lorong-lorong tua yang terbengkalai.

Rian yang panik menyadari posisinya telah terdesak.

Dengan napas memburu, ia menarik kasar tubuh Armand yang sudah lemas bersimbah darah dari kursi kayu, lalu menempelkan bilah pisau tajam tepat di urat leher Armand.

"Mundur! Jangan mendekat atau aku potong lehernya!" teriak Rian histeris di tengah remang cahaya senter dan kilatan petir di luar.

Di saat itulah, pintu besi ruang utama terdorong lebar.

Nadya melangkah masuk dengan tenang dan anggun, dikawal ketat oleh tim pengawal bersenjata yang membidikkan lampu ke arah Rian dan Sarah.

Sarah gemetar ketakutan, bersembunyi di belakang tubuh Rian.

Nadya berdiri tegak, menatap Rian tanpa rasa takut sedikit pun.

Ia mengangkat sebuah map tebal dari balik mantelnya.

"Kamu ingin sahamku, kan?" suara Nadya terdengar nyaring mengalahkan suara gemuruh petir.

Ia melempar map berisi dokumen penyerahan saham palsu itu ke lantai, tepat di hadapan Rian sebagai umpan.

"Lepaskan suamiku, dan ambil dokumen ini."

Perhatian Rian teralih sejenak. Sorot matanya yang serakah tertuju pada map di lantai.

Melihat Nadya melangkah terlalu dekat ke area berbahaya hanya demi menyelamatkannya, rasa cinta dan insting pelindung Armand bergejolak hebat.

Mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang tersisa di dalam tubuhnya yang hancur, Armand melakukan gerakan nekat.

Ia menghantamkan belakang kepalanya sekuat tenaga ke wajah Rian!

BUK!

"Hidungku!" jerit Rian kesakitan, pisaunya terlepas dari leher Armand.

Armand ambruk ke lantai, membebaskan dirinya dari cengkeraman Rian.

Namun, Rian yang sudah gelap mata dan gila dengan cepat merogoh senjata api yang ia sembunyikan di balik pinggang belakangnya.

Ia mengarahkan moncong pistol itu lurus ke arah Armand yang tak berdaya di lantai!

"Mati kau, Armand!" jerit Rian seraya menarik pelatuk.

"TIDAK!"

Melihat bahaya maut mengancam suaminya, Nadya berlari kencang dan menerjang maju.

Tanpa memikirkan keselamatannya sendiri, Nadya mendorong tubuh Armand ke samping dan menjadikan tubuhnya sendiri sebagai perisai!

DOR!!

Suara tembakan membahana, memecah kesunyian badai malam itu.

Waktu seakan berhenti berputar. Armand belalakkan matanya lebar-lebar dengan dadanya yang serasa hancur berkeping-keping.

Tepat di hadapan matanya, ia melihat tubuh istrinya terhuyung ke belakang. Timah panas itu menembus tubuh Nadya.

DOR! DOR!

Dua tembakan balasan meluncur dari tim polisi dan pengawal yang baru saja menembus masuk, menembak tepat di kedua kaki Rian hingga pria itu ambruk bersimbah darah seraya meraung kesakitan.

Sarah menjerit histeris saat polisi meringkus mereka berdua tanpa ampun.

Namun, Armand tidak peduli lagi pada Rian maupun Sarah.

Dunia di sekitarnya runtuh seketika saat tubuh Nadya perlahan jatuh meluncur ke pangkuannya.

"S-Sayang!" jerit Armand dengan suara parau yang menyayat hati, merengkuh tubuh Nadya dengan tangannya yang patah dan gemetar hebat.

"SAYANG! BUKA MATAMU, DEK! TOLONG!!" ucap Armand.

1
Muft Smoker
semoga semua bnr2 berakhir ,,
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
Wayan Suryani
gampang banget nyuliknya TDK masuk akal
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
konflik udh mulai kerasa nii ,,
Muft Smoker
itu laa kalo rasa dendam Dan iri udh berkerak di hati ,,
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,
makin penasaran ma kelanjutan ny
Muft Smoker
Sarah memilih lawan yg salah ,,
Muft Smoker
jgn sampai km terpengaruh arman ,, kalo gx nnti aq slepet km pake nuklir ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
Ceuk kuring mah Sarah geus meunang 2 milyar rupiah, mimitian usaha, ulah miceunan sagalana tanpa alesan, usahakeun ngatur hirup anjeun sangkan leuwih hade,
Muft Smoker
dulu Armand km tukar dg uang 2 miliar ,, skrang dg tdk tau malu ny km ingin mengambil ny kembali krn melihat Armand sudah berbeda ,,
Muft Smoker
mak ma ank sama aj ,,
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
Muft Smoker
awas aja nnti liat si Armand udh sukses ,, ente minta balik lgi ,,
,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!