NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Sang CEO

Pernikahan Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: masadepan_

Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.

Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.

Awalnya hanya kontrak.

Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suasana di meja makan

Mereka sudah duduk di meja makan dan mulai menyantap hidangan. Aurelia duduk berdampingan dengan Nathaniel. Giovani berhadapan dengan Pradana, sedangkan Sarah, Lilia dan Valerian mengisi kursi lain yang kosong. Mereka sedari tadi asik mengobrol dan bercanda.

Valerian banyak menanyakan perihal pekerjaan Aurelia dan kegiatan yang biasa dia lakukan. Sampai akhirnya satu pertanyaan membuat Aurelia terdiam.

"Kalian sudah menentukan tanggal pernikahan. Lalu kapan menentukan gaun pengantin?" Valerian bertanya seraya memakan makanan yang berada di piringnya.

"Mungkin weekend nanti, tante." Ucap Aurelia, mengubah nama panggilan kepada Valerian atas perintah Valerian sendiri agar terdengar lebih natural.

"Bagus kalau begitu. Tante sudah pilihkan toko terbaik yang biasa tante kunjungi." Valerian berucap dengan begitu antusias.

Aurelia tersenyum lebar. kedua tangannya masih memegang sendok dan garpu tanpa berniat menyentuh makanannya.

"Aku akan mengikuti saran, tante." Timpal Aurelia kemudian melirik sekilas ke arah Sarah.

"Apa aku perlu mendampingi mereka, Ma? Aku takut yang mereka pilih adalah setelan jas dan dress rapat." Ucap Sarah disertai tawa menggelegar di susul semua orang.

"Aku rasa seleraku tidak begitu buruk, Sarah." Aurelia membela diri, ia tidak terima Sarah meledaknya begitu.

Sedangkan Sarah masih terkekeh, ia meminum air terlebih dahulu sebelum kembali berucap.

"Aku percaya seleramu. Tapi aku tidak percaya selera adikku." Ekor mata Sarah bergerak ke arah Nathaniel yang spontan menghentikan pergerakannya.

"Kakak meragukan seleraku?" Nathaniel mengerutkan kedua alisnya.

"Berhenti menggoda adikmu, Sarah." Valerian melerai dengan tangan yang bergerak mengambilkan lauk untuk Pradana.

"Apa kau tidak suka makanannya?" Nathaniel sedari tadi memperhatikan Aurelia yang tidak menyentuh makanannya sama sekali.

Wanita itu menoleh pada Nathaniel lalu beralih pada makanan di piring yang masih utuh. Kemudian menggelengkan kepalanya cepat.

"Aku terlalu terbawa suasana sampai lupa makan." Aurelia tersenyum kikuk kemudian menyuapkan makanan kedalam mulutnya.

Jantungnya berdetak lebih cepat. Nathaniel mulai menjalankan perannya sebagai calon suami. Tapi karena kontrak, bukan karena perasaan apapun.

Aurelia memotong daging menjadi beberapa bagian kecil.

Sarah memperhatikan interaksi mereka. Ia melihat bagaimana Nathaniel yang mulai terlihat perhatian. Meskipun ia masih ragu dengan Nathaniel, tapi apa salahnya ia percaya.

"Kalian terlihat serasi." Ucap Sarah asal.

Aurelia beralih menatapnya, bibirnya baru saja berucap untuk mengeluarkan suara, namun Nathaniel lebih dulu memotong.

"Kami sedang berusaha." Ucapnya tenang, tangannya bergerak mengambil gelas dan meminum airnya.

Aurelia melirik tajam padanya. Ia menggerutu dalam hati. Aktingnya cukup bagus memerankan perannya sebagai calon suami. Dan Aurelia akan melancarkan dramanya.

"Kami memang terlihat canggung. Tapi dibalik itu... Kami sedang berusaha agar saling melengkapi kekurangan satu sama lain." Kepalanya menoleh pada Nathaniel, tatapan matanya terlihat lekat dan penuh perasaan.

Detik berikutnya, Nathaniel membalas tatapan Aurelia. Bibirnya melengkungkan senyum tipis.

"Habiskan makananmu." Titahnya. Rautnya tidak dingin, memang terlihat datar, tapi ada sedikit lengkungan manis di bibirnya. Raut ini jarang sekali diperlihatkan.

Aurelia mengangguk pelan dan kembali menyantap makanannya. Tak lama Giovani berdehem dan bersuara.

"Hubungan ini akan semakin memperkuat dua nama keluarga besar." Ucapnya, tangannya bergerak mengambil tisu.

Pradana menoleh dan menganggukkan kepalanya kecil.

"Benar. Itu cukup memperkuat perusahaan kita." Timpal pria itu sambil terkekeh kecil.

Sedangkan Aurelia yang mendengarnya langsung terdiam. Sebelum pernikahan ini dimulai, mereka bahkan sudah membuat kesepakatan yang saling menguntungkan. Matanya menatap lurus pada piringnya yang tersisa makanan sedikit lagi.

Nathaniel melirik Aurelia.

"Jika sudah kenyang, kau bisa berhenti memakannya." Ucapnya datar.

Aurelia tersadar dari lamunannya. "Maaf. Aku terbiasa dengan porsi makan kecil." Ia tertawa canggung.

"Tidak apa-apa, sayang. Anak muda memang suka begitu." Valerian menatap satu persatu anggota keluarga dengan senyum merekah.

"Simpan makanannya, nak. Nanti ada yang membereskan." Pradana menyahuti, ia baru selesai menghabiskan makanannya.

Lilia masih sibuk dengan makanannya. Anak itu terlihat anteng sekali, biasanya dia banyak bicara, tapi di meja ini dia lebih memilih diam dan fokus makan. Usianya baru enam tahun, tapi dia sudah makan dengan tangannya sendiri bahkan tidak berantakan.

"Apa aku harus makan sedikit, bial bisa cantik kaya tante?" Pertanyaan itu terdengar begitu polos. Semua orang di meja makan tertawa.

"Kenapa harus mirip tante Aurelia? Kenapa tidak mau mirip Mama saja?" Sarah mencondongkan tubuhnya pada Lilia. Ia mengerutkan keningnya.

Lilia menurunkan bahunya disertai helaan napas berat. Ia mendorong piringnya ke tengah karena sudah bersih dari makanan.

"Kalau milip Mama, nanti aku suka ngomong telus. Tapi kalau milip tante Aulel. Nanti aku cantik dan nggak suka malah-malah." Ucap Lilia seraya memajukan bibir bawahnya.

"Emang kamu tahu tante Aurelia gak pernah marah?" Sarah terus meladeni ucapan putrinya.

Bukannya menjawab. Lilia malah turun dari kursinya dan berjalan ke arah Nathaniel.

"Tante Aulel suka malah ke om Nathan, gak?" Pertanyaan itu keluar dari Lilia, menjadikan suasana di meja makan jauh terasa lebih hidup.

Nathaniel melirik Aurelia sekilas. Kemudian mengangkat tubuh Lilia dan memangkunya.

"Tidak pernah. Tante Aurelia wanita yang lembut." Ucapnya dengan pandangan mata yang terus tertuju pada Aurelia.

Semua orang hanya bisa menahan senyum. Begitu juga dengan Sarah yang langsung memberikan deheman dengan sengaja.

"Baiklah, tuan Nathaniel. Calon istrimu memang sangat istimewa. Sekarang berhenti menatapnya dan jawab pertanyaanku." Sarah mulai menunjukkan senyum jahil.

Perasaan Nathaniel sedikit tidak enak.

"Kalian rencana memiliki anak berapa?"

Pupil Aurelia membesar, ia bahkan tersedak ludahnya sendiri hingga terbatuk kecil.

Nathaniel yang duduk di sampingnya langsung mengambil gelas air dan menyerahkannya.

"Minum."

Aurelia buru-buru menerima gelas tersebut.

"Terima kasih." Ia meneguk air beberapa kali, berusaha mengembalikan napasnya yang sempat berantakan.

Sementara itu, Sarah masih menunggu jawaban dengan senyum lebar.

"Aku hanya bertanya."

"Kakak tidak bisa bertanya sesuatu yang lebih sederhana?" Nathaniel menatap Sarah datar.

Sarah mengangkat kedua bahunya.

"Kenapa? Kalian kan akan menikah."

Nathaniel tidak menjawab.

Aurelia justru menundukkan wajahnya. Jemarinya memainkan ujung serbet yang berada di atas meja. Ia dan Nathaniel bahkan belum benar-benar membicarakan kehidupan setelah pernikahan. Mereka hanya memiliki beberapa aturan yang sudah disepakati.

"Sarah," Valerian menegur lembut. "Jangan membuat Aurelia tidak nyaman."

Sarah terkekeh.

"Baik, Ma. Aku hanya penasaran." Wanita itu tersenyum jahil kepada adik dan juga sahabatnya. Namun beberapa detik kemudian, dering ponsel mengalihkan perhatiannya.

Jacob tersayang.

Nama suaminya memenuhi layar ponsel. Sarah tersenyum lebar dan buru-buru mengambil ponselnya. Tapi sebelum itu, ia melirik pada Valerian dan Pradana.

"Jacob menelepon."

"Angkat saja." timpal mereka bersamaan.

"Hole! Papa menelepon!" Lilia bersuara antusias, ia buru-buru turun dari pangkuan Nathaniel dan menghampiri Sarah. Mereka memilih meninggalkan meja makan agar lebih leluasa mengobrol. Keduanya melangkah pergi setelah berpamitan pada semua orang.

Aurelia tersenyum melihat tingkah ibu dan anak itu. Ia baru ingat, Sarah pernah bercerita bahwa Jacob sangat sibuk dengan pekerjaannya. Jika Sarah berada di Indonesia, maka hanya akan bertemu Jacob satu tahun sekali. karena itu dua tahun lalu dia menyusul keluar negeri karena Lilia merindukan sosok Jacob.

"Dan, tuan Giovani."

Semua perhatian mereka tertuju pada Pradana yang baru saja mengeluarkan suara.

"Iya?" Giovani menjawab setelah mengelap tangannya.

"Kenapa aku melihat interaksi kau dan Aurelia seperti canggung sekali?"

1
Yayaa
seruu
Yayaa
lanjut ka
Lalapouu
dmi apaa makin seru
Lalapouu
siapa?
Lalapouu
betull ituuu
Yayaa
semangat
Yayaa
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!