Merantau selama enam tahun di Kalimantan sebagai operator buldoser besar dan ekskavator pengeruk nikel—itulah profesi tangguh seorang Tara Pratiwi. Selama itu pula, ia bekerja keras menjadi "pesuruh" andalan bagi bos-bos asing bermata sipit di area pertambangan.
Tara pikir, saat ia pulang kampung nanti, semuanya akan tetap sama seperti saat ia tinggalkan dulu. Oh, tentu saja dugaan itu salah besar! Rupa-rupanya, kompleks perumahan tempat tinggal kedua orang tuanya kini sudah sangat padat, berimpitan dengan tetangga-tetangga baru di sisi kanan dan kiri rumah.
Hingga akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Cakrawala—seorang duda cerai mati dengan satu anak laki-laki super bandel yang siap mengusili hari-hari tenang Tara.
Tara mengacak rambutnya frustrasi. "Haduh, pusing, pusing! Alamat aku pergi nunggang ekskavator lagi ini mah kalau begini caranya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan ketoprak
"Eh Buk Sekdes' ndak loh buk... ini hanya cerita masalah gaji anak tambang" sahut buk Ratna ramah, mencairkan suasana agar Buk Hayati tidak salah paham.
Buk hayati mengangguk, sembari tersenyum memaklumi obrolan para tetangganya. "Oalah... tak kira gaji gede apa?." Sahut buk hayati sembari memilah-milih tempe di gerobak sayur.
"Buk! Perempuan itu anak sampean yo?" Tanya Nunung sembari menunjuk Tara, yang sedang duduk menunggu pesanan ketoprak di seberang jalan.
Buk hayati menoleh pada Tara, memandangi putri semata wayangnya dari kejauhan. "Iya! Anak perempuan satu-satunya." Jawab buk hayati tersenyum lembut, ada nada bangga dalam suaranya.
"O cantik yo, bersih, putih..." puji nunung tulus.
Buk hayati tersenyum kecil, lalu mendesah pelan. "Iya! Tapi sayang belum menikah... padahal umurnya sudah 26!" Sahut buk hayati mengungkapkan ganjalan di hatinya.
"Hah! Sudah 26?" Tanya mereka terkejut, tidak menyangka usia gadis berpenampilan modis itu sudah matang.
Buk hayati mengangguk yakin. "Iya! Ibuk-ibuk punya kenalan cowok nggak! Barangkali ada.... bisa dekati karo anakku., Mana tau jodoh." Ucap buk hayati membuka lowongan jodoh untuk sang anak.
Buk ratna menyela dengan semangat. "Eh! Karo anakku buk... Indra! Diakan se pt juga kerja karo Tara... yoo cocok toh, teman sekolah juga." Tawar Ratna antusias.
"Aahh iyo betu itu buk... karo indra aja... kalo aku keluargaku ndak ada yang jomblo, semua wes podo Merid... ndak ada stok." Jawab Nunung, di angguki yang lain menyetujui ide itu.
"Boleh! Indranya mana?" Tanya buk hayati tertarik.
"Indra belum pulang buk.... biasa dia akhir tahun. Yah 2 bulan lagi dari sekarang." Jawab buk Ratna.
Buk hayati mengangguk-angguk faham, tangannya sembari dengan teliti memilih Ayam, yang masih segar untuk lauk makan siang.
Di sisi lain, Tara yang sedang berdiri merasa jenuh menunggu antrean ketoprak yang tak kunjung usai. Cakra yang menyadari hal itu merasa kasihan melihat raut wajah Tara yang mulai lelah.
"Mas itu pesanan siapa ya?" Tanya cakra pada si penjual yang sedang membungkus pesanan ketoprak di depannya.
"Punya sampean mas..." jawab si penjual mengkonfirmasi bahwa itu pesanan Cakra yang sudah jadi.
"Mas! Aku gk papa nunggu... ini kasi Mbaknya saja." Ucap Cakra mengalah, mengalihkan bungkusannya untuk Tara.
Tara menoleh cepat, kaget dengan kebaikan mendadak dari tetangganya itu. "Loh! Nggak papa! Ndak usah, aku ndak pp nunggu lama kok." Ucap Tara merasa sungkan.
"Wess ndak popo, sekalian saya nitip punya candra yo." Ucap Pria itu beralasan.
Tara tersadar, itu menyakiti ego tingginya tapi juga heran dengan perhatian kecil itu.
'Tumben' batinnya berkata.
"Oh yaudah makasih." Ucap Tara pada akhirnya menerima tawaran itu.
Cakra mengangguk lega. Sementara si penjual yang melihat komunikasi hangat di antara mereka berdua, seketika merasa patah hati... Cakra dan Tara terlihat punya hubungan khusus!
'Yah gagal maning Son-son!' Batin si Soni penuh sesal meratapi nasib jomblonya.
Singkatnya tara sudah mendapatkan 2bungkus ketoprak, dia lalu membawanya kedalam rumah dengan langkah santai.
"Can!... Candra!" Panggil Tara mencari keberadaan anak itu.
"Di belakang mak! sama mbah..." jawab candra berteriak dari arah Dapur.
Tara melangkah kedalam menuju pinti dapur, dia melongokkan kepalanya ke area belakang. Rupanya Candra sedang bermain ayam, sedangkan ayahnya sedang menggendong-gendong si ayam jago kesayangannya.
"Can! Nih sarapan dari bapakmu." Ucap Tara menyodorkan bungkusan.
Candra menoleh, lalu segera lari mendekat dengan mata berbinar. "Sarapan opo mak?" Tanyanya mendekat.
"Ketoprak! Dari bapakmu." Ucap Tara.
Mendengar nama makanan itu, raut wajah Candra langsung berubah cemberut. "Huh bosen! Tiap pagi ketoprak terus." Ucap Candra memprotes menu sarapannya.
Tara menoleh, menatap bocah itu dengan pandangan menasihati. "Ndak boleh ngeluh, dimakan saja, sudah untung bapakmu mau belikan, kamu bisa makan, sarapan. Daripada nggak sama sekali." Sahut Tara tegas tapi lembut.
Candra mengangguk patuh, tanpa banyak bicara lagi, Candra segera mengambil piring lalu membuka bungkusan ketopraknya, dan melahapnya dengan cepat.
Tara hanya tersenyum tipis melihatnya, merasa hangat melihat bocah itu penurut di depannya.
sukses slalu y 🫶🫶🫶