Bunga Lestari bukan siapa-siapa.
Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.
Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.
Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.
"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.
Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?
🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 019
Tubuh yang Dijaga
Pagi berikutnya, Bunga datang ke rumah Melati dengan alasan paling aman yang bisa ia susun: ingin meminjam laptop sebentar.
Melati tidak bertanya banyak. Ia hanya membawa Bunga ke ruang keluarga kecil di lantai dua, menyiapkan teh, lalu meletakkan laptop di meja. Namun matanya tetap berkali-kali kembali ke wajah Bunga.
"Kamu kelihatan seperti orang yang tidur sambil dikejar debt collector," kata Melati.
"Mirip," jawab Bunga.
Di dalam kepala, Rangga berkata, "Jangan libatkan dia terlalu jauh."
"Aku tahu," balas Bunga dalam hati.
Ia membuka artikel lama tentang fasilitas neurologis yayasan Wicaksana. Di layar besar laptop, alamatnya lebih mudah dibaca. Gedung itu berada di kawasan tenang, tidak jauh dari pusat kota, tetapi cukup tersembunyi di balik kompleks perkantoran kesehatan privat.
Melati membaca sekilas sebelum Bunga sempat menutup tab. "Kamu cari fasilitas Wicaksana?"
Bunga membeku.
Melati duduk di sampingnya. "Bung, aku tidak akan tanya kalau kamu belum siap. Tapi kalau kamu mau pergi ke sana sendirian, itu ide buruk."
"Aku cuma mau lihat dari luar."
"Orang yang bilang cuma lihat dari luar biasanya sudah menyiapkan cara masuk."
Bunga menatap Melati.
Melati menghela napas. "Aku bisa antar sampai dekat. Setelah itu, kalau kamu mau melakukan hal bodoh, minimal aku tahu lokasinya."
Rangga langsung berkata, "Tidak."
Bunga menelan senyum pahit. "Dia lebih keras kepala dari aku."
"Siapa?"
"Nanti."
Melati tidak memaksa. Itu membuat Bunga merasa lebih bersalah.
Satu jam kemudian, mereka berhenti dua blok dari fasilitas itu. Bunga turun sendiri, membawa buket bunga murah yang ia beli di pinggir jalan. Melati menunggu di kafe kecil sesuai kesepakatan, ponsel aktif, lokasi dibagikan.
"Ini tetap buruk," kata Rangga.
"Tapi lebih baik daripada aku datang malam-malam panjat pagar."
"Kamu pernah melakukan itu?"
"Fokus, Mas Rangga."
Ia sengaja memakai `Mas Rangga` untuk pertama kalinya. Rangga terdiam setengah detik.
"Jangan gunakan panggilan baru untuk mengalihkan perhatian."
"Berhasil, kan?"
Fasilitas itu tidak terlihat seperti rumah sakit umum. Bangunannya rendah, putih, dengan taman rapi dan kaca gelap. Tidak ada papan antrean. Tidak ada keluarga pasien duduk di lantai. Yang ada hanya pos keamanan, pintu otomatis, dan suasana mahal yang membuat sakit pun tampak harus punya janji temu.
Bunga masuk ke lobby dengan langkah percaya diri yang dipinjam dari semua acara socialite.
Resepsionis menatap buketnya. "Ada janji, Mbak?"
"Saya hanya titip bunga untuk pasien keluarga Wicaksana," kata Bunga. "Tidak perlu bertemu."
"Nama pasien?"
Bunga merasakan Rangga menegang.
"Mas Rangga Wicaksana."
Nama itu keluar dari mulutnya dengan tenang, meski jantungnya seperti menendang tulang rusuk.
Wajah resepsionis langsung berubah lebih kaku. "Mohon tunggu."
Bunga duduk di sofa lobby. Sofa itu begitu empuk sampai ia merasa sedang ditelan. Ia meletakkan buket di pangkuan dan menunduk seperti orang yang sopan menunggu, padahal matanya memperhatikan semua: kamera di sudut, pintu lift dengan akses kartu, dua satpam, koridor samping yang sesekali dilewati perawat berseragam tanpa logo umum.
"Kamu lihat?" tanya Bunga dalam hati.
"Ya."
"Kamu merasakan sesuatu?"
"Terlalu banyak."
Bunga tidak bertanya lagi.
Lima menit kemudian, lift terbuka.
Seorang pria tinggi keluar dengan kemeja putih lengan digulung dan wajah yang tampak tidak tidur berhari-hari. Bunga langsung mengenalinya dari foto berita: Arjuna Wicaksana.
Rangga di dalam kepalanya seperti berhenti bernapas.
Arjuna berjalan ke meja resepsionis. "Siapa yang membawa bunga?"
Bunga menunduk sedikit. Resepsionis menunjuk ke arahnya.
Arjuna menatap Bunga. Tatapannya tajam, tetapi tidak kasar. Ia mendekat dua langkah.
"Dari siapa?"
Bunga sudah menyiapkan jawaban. "Dari seseorang yang pernah ditolong Mas Rangga."
Rangga berkata, "Bunga."
Namun kalimat itu sudah keluar.
Mata Arjuna berubah. Tidak banyak. Hanya cukup bagi Bunga untuk tahu bahwa nama adiknya masih bisa membuka sesuatu di wajah pria itu.
"Adik saya sedang tidak menerima tamu," kata Arjuna.
"Saya tahu. Saya hanya titip."
Arjuna melihat buket murah itu. Di tempat seperti ini, bunga itu tampak memalukan. Namun ia tidak mengejek. Ia justru mengambilnya sendiri.
"Terima kasih," katanya.
Rangga tidak bersuara.
Sebelum Arjuna kembali ke lift, seorang dokter keluar dari koridor samping membawa tablet. "Mas Arjuna, hasil observasi pagi stabil. Respons neurologis belum ada perubahan signifikan."
Arjuna mengangguk. "Tetap pantau. Tidak ada yang masuk tanpa izin saya."
"Termasuk tim legal Pak Prabu?"
Wajah Arjuna mengeras. "Terutama mereka."
Bunga menunduk lebih dalam untuk menyembunyikan matanya yang melebar.
Rangga di kepalanya sangat sunyi.
Arjuna membawa buket itu masuk ke lift. Pintu tertutup.
Bunga seharusnya pergi. Ia sudah mendapatkan cukup bukti: tubuh Rangga masih ada, stabil, belum sadar, Arjuna menjaga.
Namun saat ia berdiri, pintu lobby terbuka lagi.
Prabu Wicaksana masuk bersama dua pria berjas. Langkahnya tenang, wajahnya tidak menunjukkan cemas seperti orang tua yang anaknya koma. Ia berhenti di meja resepsionis.
"Arjuna di atas?" tanyanya.
"Iya, Pak."
"Suruh dia turun setelah selesai. Saya tidak punya waktu berdebat lama."
Salah satu pria berjas berkata pelan, tetapi lobby terlalu sunyi. "Pak, tanpa tanda tangan Mas Rangga, beberapa keputusan direksi tertahan. Kita bisa siapkan surat kuasa medis dan bisnis kalau keluarga menyetujui kondisi tidak cakap sementara."
Bunga merasakan hawa dingin menyapu punggungnya.
Prabu menjawab, "Siapkan opsinya. Saya butuh operasional berjalan."
Tidak ada kalimat tentang apakah Rangga kesakitan. Tidak ada pertanyaan apakah ia bisa mendengar. Tidak ada suara ayah yang takut kehilangan anak.
Hanya operasional.
Bunga menggenggam tali tasnya.
Rangga berkata sangat pelan, "Pergi."
Kali ini Bunga menurut.
Ia berjalan keluar dari lobby dengan langkah biasa, melewati taman rapi, melewati pos keamanan, sampai udara jalan raya yang panas dan kotor menyentuh wajahnya. Baru setelah berbelok ke gang kecil menuju kafe tempat Melati menunggu, ia berhenti dan bersandar pada dinding.
Dari balik kaca kafe, Melati langsung berdiri. Wajahnya panik, tetapi ia tidak berlari keluar. Ia hanya mengangkat ponsel, menunjukkan bahwa panggilan darurat sudah siap jika Bunga memberi tanda. Bunga mengangkat satu tangan kecil, isyarat bahwa ia masih bisa berdiri.
Melati mengangguk, tetap menunggu.
Bunga menutup mata sebentar. Punya seseorang yang menunggu di luar ternyata membuat napas lebih mudah masuk.
"Tubuhmu masih hidup," katanya.
Rangga tidak menjawab.
"Arjuna menjaga kamu."
Masih tidak ada jawaban.
"Ayahmu..." Bunga menelan rasa marah. "Ayahmu menunggu tanda tanganmu."
Di dalam kepalanya, Rangga akhirnya berkata, "Saya tahu."
Tiga kata itu tidak terdengar seperti pengetahuan.
Terdengar seperti luka lama yang baru saja dikonfirmasi.
Dan Bunga membenci Prabu untuknya, diam-diam, saat itu juga.