Devi Putri Maharani memilih bekerja sebagai buruh pabrik di desanya setelah lulus. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, hingga suatu malam, nasib sial mulai menghampirinya.
Devi harus lembur dan terpaksa pulang sendirian berjalan kaki di kegelapan malam karena sang kakak tak kunjung menjemput. Malapetaka kian terasa nyata saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, memaksa Devi berteduh di sebuah gubuk tua dan kosong di pinggir jalan.
Namun, gubuk senyap itu ternyata menyimpan kejutan. Seorang pemuda berpenampilan acak-acakan khas preman ikut berteduh di sana.
Sialnya beberapa warga desa yang melintas salah paham.
Tudingan miring tak bisa dihindari. Di tengah guyuran hujan dan kesalahpahaman yang makin memanas, warga menuntut satu hal: Devi dan sang "preman tengil" harus segera dinikahkan!
Mampukah Devi menerima takdir mewarnai hidupnya bersama pria asing yang tak pernah ia duga sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Devi putri Maharani (Awal cerita )
Devi Putri Maharani baru saja genap berusia sembilan belas tahun. Ia adalah lulusan SMA Negeri di desanya. Sebagai anak kedua dari dua bersaudara, Devi tumbuh bersama kakak laki-lakinya yang bernama Raka. Raka memang agak rewel dan senang sekali menggoda adiknya. Namun di balik sikapnya yang usil itu, Raka sangat menyayangi Devi.
Mereka tinggal di sebuah desa yang sederhana. Ayah mereka bekerja serabutan. Kadang menjadi buruh tani, kadang menjadi buruh bangunan, tergantung pekerjaan yang tersedia. Prinsip ayahnya sangat jelas: jangan malu dengan pekerjaan apa pun, yang penting halal. Sementara itu, ibu mereka adalah seorang ibu rumah tangga sejati. Ia mengurus suami, anak-anak, dan rumah tangga. Di sela-sela kesibukannya, ibu sering ngerumpi dengan tetangga. Maklumlah, itu sudah menjadi kebiasaan ibu-ibu di desa.
Kakak Devi, Raka, bekerja di sebuah bengkel motor kecil. Menurut Raka, tidak apa-apa bekerja di bengkel kecil. Yang penting dapat upah dan sekaligus bisa dianggap sebagai sekolah sekaligus mencari pengalaman. Uang yang didapat memang sedikit, tetapi lumayan untuk membeli rokok daripada menganggur di rumah.
Sebenarnya, Devi dan Raka pernah berniat untuk kuliah. Namun, apa daya? Biaya menjadi faktor utama yang menghalangi. Mereka berusaha menerima takdir itu. Mereka tidak ingin memaksa kedua orang tua untuk membiayai kuliah karena sudah mengerti betapa beratnya mencari uang. Ayah mereka tidak pernah kurang berusaha dan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sekeluarga. Alhamdulillah, setidaknya kedua orang tua mampu menyekolahkan mereka hingga tamat SMA.
Pagi itu, suasana di rumah Devi terasa hangat meski sederhana. Meja makan kayu yang sudah agak usang dipenuhi hidangan sarapan: nasi putih, tumis kangkung, telur dadar, dan sambal terasi. Aroma kopi dari cangkir ayah memenuhi ruangan.
“Devi, kamu sudah lulus SMA?” tanya ayah tiba-tiba ketika mereka sedang sarapan bersama.
Devi mengangkat wajahnya. “Kalau pengumuman kelulusan sudah keluar, Yah. Kemarin. Mungkin acara perpisahannya kurang lebih satu minggu lagi, menurut Bu Guru.”
Ayah mengangguk pelan. “Alhamdulillah. Kira-kira ijazah kamu keluarnya kapan, Nak?”
“Kurang tahu, Yah. Belum ada pengumuman. Mungkin setelah perpisahan baru bisa diambil.”
Devi menatap ayahnya dengan sedikit heran. “Emang kenapa, Yah?”
Ayah menghela napas panjang. Wajahnya terlihat sedih. “Begini … maaf. Ayah tidak bisa menguliahkan kamu seperti cita-cita kamu. Kamu tahu sendiri pekerjaan ayah. Ayah tidak sanggup memenuhi kebutuhan dan biaya selama kamu kuliah. Maaf ya, Nak.”
Devi tersenyum tipis, berusaha menenangkan ayahnya. “Tidak apa-apa, Yah. Aku senang sekali walaupun cuma sampai SMA. Setidaknya nanti saya bisa mencari pekerjaan yang lebih baik. Doakan Yah, supaya anakmu ini bisa dapat pekerjaan yang bagus. Sehingga ayah dan ibu tidak usah repot-repot bekerja. Kasihan ayah dan ibu kan sudah tua.”
Raka yang duduk di samping Devi segera menimpali. “Iya, Yah. Apa yang dikatakan adik benar. Kami sangat bangga mempunyai ayah dan ibu yang sudah bekerja keras untuk merawat dan mendidik kami hingga kami bisa bersekolah seperti sekarang ini.”
Ayah tersenyum lega. “Alhamdulillah. Kami bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena diberi dan dianugerahi putra-putri seperti kalian. Semoga kalian selalu diberkahi, diberi kemudahan, diberi pekerjaan yang mapan, sukses, dan menjadi orang yang sukses.”
“Aamiin … aamiin ya Rabbal alamin,” jawab mereka semua sambil menengadahkan tangan, lalu mengusap wajah. Doa ayah itu mereka aminkan bersama, semoga diijabah oleh Allah Swt.
Setelah doa, ayah kembali berbicara. “Oh ya, Nak. Sepertinya di pabrik di desa sebelah lagi buka lowongan pekerjaan, lho. Kenapa kamu tidak coba-coba melamar untuk bekerja di sana? Siapa tahu kamu diterima. Daripada tidak ada kegiatan di rumah.”
Ibu yang sedari tadi diam langsung menoleh. “Benaran, Yah? Ayah dengar dari siapa?”
“Benaran. Kemarin si Wito sama si Suto ngobrol. Ada bapak juga di sana. Katanya pabrik di desa sebelah lagi buka lowongan pekerja untuk bagian produksi,” jelas ayah.
Ibu tersenyum cerah. “Wah, kebetulan sekali itu, Nduk. Kalau benar ada lowongan pekerjaan di sana, kenapa kamu tidak mencobanya?”
Raka ikut menambahkan. “Wah, benar itu kata Ibu, Dek. Kenapa kamu tidak mencoba? Siapa tahu kamu diterima bekerja di sana. Daripada menganggur dan bingung mau ngapain di rumah, mending bekerja di pabrik. Toh pabriknya dekat, cuma di desa sebelah.”
Devi diam sejenak. Pikirannya berkecamuk. *Apa iya aku kerja di pabrik saja ya? Daripada aku bingung mau ngapain di rumah. Mungkin dengan bekerja aku bisa menabung dan mengumpulkan uang untuk mendaftar kuliah.*
“Gimana, Dek? Apa kamu mencoba mendaftar di pabrik itu? Siapa tahu kamu bisa diterima,” tanya Raka lagi.
Devi menatap kakaknya dengan mata memelas. “Boleh, Kak. Tapi kakak temenin aku mendaftar ke sana ya?”
Raka mengangguk. “Boleh, Dek. Nanti abang mau izin sama Bang Jali dulu. Kakak mau nganterin kamu melamar pekerjaan di pabrik itu.”
Devi tersenyum nakal. “Pasti boleh lah, Kak. Pasti Bang Jali mengizinkan. Kalau tidak, si Romlah, adik Bang Jali, bisa ngamuk-ngamuk kalau sampai abang tidak diizinkan dan dimarahi Bang Jali. Secara si Romlah naksir berat sama kakak, ha-ha-ha!”
Raka langsung mendelik. Mukanya ditekuk karena digoda di depan ayah dan ibu. Sementara ayah dan ibu hanya tersenyum-senyum mendengar candaan kedua anaknya.
“Sudah, sudah. Raka berangkat sana. Hari sudah mulai siang!” ucap ibu mengakhiri candaan mereka.
Raka berdiri, mencium tangan kedua orang tuanya. “Ya, Bu. Ayah. Raka pamit berangkat kerja dulu ya. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab mereka bersama.
Sepeninggal Raka, Devi menyelesaikan sarapannya lalu membantu ibu membereskan meja makan dan mencuci piring. Suasana rumah kembali tenang. Hanya terdengar suara air mengalir dari sumur belakang dan kicauan burung di luar.
Setelah selesai membantu, Devi mendekati ibu yang sedang menyapu halaman. “Ibu, aku mau main ke tempat Rani dulu ya. Kebetulan sekolah kan libur, Bu. Siapa tahu dia mau ikut mendaftar di pabrik bareng aku. Rani kan sahabat terbaikku semenjak kami masih TK.”
Ibu mengangguk. “Iya. Pulangnya jangan sore-sore. Nanti bantuin ibu memetik sayuran di kebun belakang. Cabe sama tomatnya sudah pada matang-matang.”
Ibu memang tidak pernah mau diam di waktu senggang. Ia selalu menanam sayuran di kebun belakang. Hasilnya lumayan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari supaya lebih menghemat pengeluaran.
“Iya, Bu. Nanti jam tiga aku sudah pulang. Nanti aku langsung ke kebun belakang bantu Ibu,” jawab Devi.
“Ya sudah. Bu, aku berangkat dulu. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” sahut ibu.
Devi lalu berjalan kaki menuju rumah Rani. Jarak rumah mereka kurang lebih dua puluh rumah. Ia memilih berjalan kaki, hitung-hitung sambil berolahraga dan melihat pemandangan kanan-kiri.
Di sepanjang jalan, Devi bertemu beberapa tetangga yang sedang menuju ladang, kebun, atau melakukan aktivitas lainnya. Di desanya, Devi memang dikenal ramah. Ia selalu menyapa siapa saja, bahkan orang yang tidak dikenal sekalipun.
“Mari, Pak Samin. Mau ke ladang?” sapa Devi kepada tetangganya.
Pak Samin tersenyum. “Oh iya, ini mau ke ladang. Mau nanam cabe. Devi mau ke mana?”
“Oh iya, Pak Samin. Ini mau ke tempatnya Rani. Duluan, Pak Samin.”
“Iya, silakan,” jawab Pak Samin sambil melanjutkan langkahnya.
Devi terus berjalan. Angin pagi yang sejuk menyapu wajahnya. Pohon-pohon di pinggir jalan masih basah oleh embun. Di kejauhan, ia bisa melihat sawah yang mulai menghijau. Dalam hati, ia mulai membayangkan bagaimana rasanya bekerja di pabrik. Apakah rekan-rekannya akan ramah? Apakah upahnya cukup untuk ditabung? Ataukah nanti ia akan menyesal karena meninggalkan cita-cita kuliahnya?
Namun, satu hal yang pasti: ia tidak ingin menjadi beban bagi kedua orang tuanya. Ia ingin membuktikan bahwa lulusan SMA pun bisa berjuang dan sukses.
Begitu tiba di depan rumah Rani, Devi berhenti sejenak. Rumah Rani tidak jauh berbeda dengan rumahnya—sederhana, dinding papan, halaman yang agak luas dengan beberapa pohon pisang. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pintu.
“Rani…!” panggilnya.
Dari dalam rumah terdengar suara langkah kaki. Pintu terbuka. Rani muncul dengan wajah masih mengantuk, rambutnya berantakan.
“Wah, Devi. Pagi-pagi begini sudah ke sini. Ada apa?” tanya Rani sambil mengucek mata.
Devi tersenyum lebar. “Aku mau ngajak kamu sesuatu. Mau dengar?”
Rani mengangguk, lalu mempersilakan Devi masuk. Mereka duduk di teras. Devi mulai menceritakan tentang lowongan pekerjaan di pabrik desa sebelah, tentang ajakan ayah, ibu, dan kakaknya, serta harapannya untuk menabung agar suatu hari bisa kuliah.
Rani mendengarkan dengan saksama. Wajahnya yang tadi mengantuk kini terlihat serius.
“Jadi… kamu mau aku ikut melamar juga?” tanya Rani akhirnya.
Devi mengangguk. “Iya. Kalau kamu mau. Nanti kita bareng. Kakakku juga mau nganter.”
Rani terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Boleh deh. Aku juga lagi bingung mau ngapain setelah lulus. Daripada di rumah saja.”
Devi merasa lega. Setidaknya, ia tidak akan sendirian menghadapi langkah baru itu.
Mereka terus mengobrol hingga hampir tengah hari. Devi menceritakan juga candaan tentang Romlah yang naksir Raka, membuat Rani tertawa terbahak-bahak. Waktu berlalu begitu cepat.
Ketika matahari sudah agak tinggi, Devi berdiri. “Aku pulang dulu ya. Janji sama Ibu mau bantu petik cabe sama tomat.”
“Iya. Nanti kabari aku kapan kita berangkat melamar,” kata Rani.
“Pasti.”
Devi pamit, lalu berjalan pulang dengan langkah lebih ringan. Di dalam hatinya, ada harapan baru yang mulai tumbuh. Meski belum pasti diterima, setidaknya ia sudah berani mencoba. Dan itu sudah cukup untuk membuat hari itu terasa lebih berarti.
waktu apalgi jika sudah ada tato,,
dari kecil otakku sudah di doktrin jika ada tato maka anak nakal😁😁
berarti masuk sekolah umur 9thn ya
di arak tanpa busana
dasar gila,, padahal hanya melihat berduaan
milih nikah aja