NovelToon NovelToon
Menjadi Sepupu Tirimu

Menjadi Sepupu Tirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:642
Nilai: 5
Nama Author: arina_ar

Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alasan Satria

Dalam keheningan, mobil melaju kencang membelah malam. Deru mesin mobil beradu dengan denting jarum jam tangan Vivian. ia memejamkan mata, berpura-pura tidur demi menghindari percakapan dengan satria.

Hingga akhirnya mobil berhenti.

Tak ada guncangan, tak ada suara, tak ada pergerakan. Hanya keheningan yang membeku.

Berlalu waktu yang cukup lama, hingga Vivian perlahan membuka mata, dan mendapati Satria masih terpaku, menatapnya lekat sepanjang perhentian itu.

"Eh... sudah sampai rupanya," ucap Vivian, berlagak kaget.

Satria mengangguk pelan sekali, namun tatapannya tak sekalipun beralih. Saat tangan Vivian terulur meraba tuas pintu, gerakannya ditahan. Dengan lembut, jemari pria itu menuntun tangan sang gadis, menggenggamnya erat tepat di depan dadanya yang bergetar hebat.

"Vi... maafkan aku. Kumohon, apa pun kesalahanku, maafkanlah aku. Aku tak tahu apa yang membuatmu menjadi begitu dingin kepadaku. Tapi aku memohon... maafkan aku." Manik matanya menatap lembut, dan di sana, Vivian menangkap seberkas ketulusan yang terlihat begitu nyata.

"Apakah... karena aku terlalu sibuk akhir-akhir ini? Itu sebabnya kau bersikap dingin kepadaku?"

Satria menghela napas panjang, suaranya terdengar penuh penjelasan yang ia yakini jujur. "Bukankah sudah kukatakan sejak awal? Aku sedang sibuk bekerja. Ada peluang naik pangkat, itulah sebabnya aku jarang menghubungimu. Dan semua itu... demi kamu. Demi kelak aku bisa menikahi mu." Genggamannya kian erat, detak jantungnya terdengar makin cepat.

"Aku mohon... mengertilah, sayang. Tapi, siapa sangka, sekarang kita malah tinggal satu atap bersama. Lucu sekali, yah? Tiba-tiba kita menjadi sepupu. Namun tak apa, Vivian. Itu tak akan pernah menjadi penghalang bagiku untuk tetap bersamamu. Aku berjanji... walau harus menentang seluruh keluarga, yang penting aku bisa hidup bersamamu." Matanya mulai berkaca-kaca.

Namun di balik setiap kata manis yang terucap, yang dirasakan Vivian hanyalah rasa mual yang menjalar di sekujur tubuhnya.

Dengan sekuat tenaga, Vivian melepaskan genggaman tangan Satria. Menariknya kembali perlahan namun tegas.

"Sudah ngomongnya?" suara Vivian terdengar datar dan dingin, tanpa emosi sedikit pun.

"Sayang... Jangan siksa aku dengan keterdiamanmu, atau jangan-jangan kamu cemburu pada Renika? Wanita yang tadi bersamaku?"

Satria segera menyahut dengan nada buru-buru. "Dia itu atasan kerjaku. Aku harus bersikap baik padanya demi karier, agar aku bisa naik pangkat, Vivian. Walau perusahaan itu milik Paman Budi, tetap saja aku harus memulai dari bawah jika ingin meraih posisi yang layak. Hubunganku dengan Renika... murni hanya hubungan kerja, sayang." suaranya melemah di akhir kata.

"Kerja yang kamu maksud itu seperti apa, Satria?" batin Vivian mendesis geram, menahan amarah yang hampir meledak. "Bekerja meraih kenikmatan bersama wanita? Atau bekerja bersama hingga hendak menciptakan nyawa baru?"

Vivian tak lagi sanggup menahan diri. Ia menarik pintu mobil itu hingga terbuka lebar, lalu melangkah keluar meninggalkan Satria tanpa sepatah kata pun.

Tangannya mengepal erat, kuku menancap pelan di telapak tangan. Ia mendongak menatap langit malam yang kelabu, membiarkan rintik gerimis malam menyapu wajahnya, membasahi sisa-sisa kepedihan yang nyaris tumpah menjadi air mata.

Sesampainya di dalam rumah, keadaan seketika memaksanya menata kembali perasaannya yang berantakan.

Ribuan tanya menyeruak di kepala saat mendapati ibunya berdiri di tengah ruangan sambil menarik satu koper besar. Tak jauh di sana, sang ayah tampak menarik dua koper yang tak kalah besarnya.

"Ibu... Ayah... Kalian..."

"Vivin sudah pulang..." Ayah menoleh segera, raut wajahnya tampak khawatir. "Pulang sama siapa? Kok sendirian?"

Belum sempat Vivian menjawab, sosok Satria muncul tergopoh-gopoh dari belakangnya.

"Itu bersama Satria," sahut Ibu Dina dengan tenang. "Vivian mana mungkin berani pergi jauh sendirian. Dia memang harus selalu didampingi ke mana pun pergi. Bersyukurlah di sini ada kedua kakaknya yang senantiasa menjaganya."

Ayah Budi mengangguk kecil sambil menyunggingkan senyum tipis.

"Vivian... Ayah dan Ibu mau pergi berlibur. Ya... Namanya juga pengantin baru, sekalian bulan madu, begitulah," ucapnya sambil terkekeh geli sendiri. "Selama Ayah dan Ibu pergi, kamu baik-baik di rumah sama kedua kakakmu ya. Kalau butuh apa pun, jangan sungkan minta sama mereka. Dan kalau mereka berani jahati kamu... langsung saja lapor ke Ayah, putri kesayanganku." Tuturnya lembut, disertai senyum hangat yang begitu tulus.

Vivian terpaksa mengulas senyum tipis di bibirnya, meski suasana hatinya terasa tidak menentu.

Jadi... artinya ia akan semakin terjebak di sini. Tinggal serumah bersama Satria dan kakak tirinya, Raynor, pria dingin tapi perhatian.

Ayah Budi melirik jam di pergelangan tangannya, lalu menatap Vivian dengan senyum penuh kasih sayang.

"Kami berangkat besok pagi-pagi sekali, mungkin kalian masih tidur. Jadi malam ini kami harus beristirahat lebih awal." Ia menatap ke arah Satria sekilas, lalu kembali menatap putri tirinya. "Vivian, kamu juga sudah lelah seharian, Satria juga. Kalian berdua segera kembali ke kamar dan beristirahat. Jangan begadang, ya."

Ibu Dina ikut menimpali pelan. "Benar kata Ayah. Segera tidur. Besok pagi pun kalian tak perlu ikut bangun mengantar, biarkan kami berangkat tenang. Kalian cukup istirahat dan saling menjaga satu sama lain di rumah ini."

Vivian mengangguk pelan, menelan perasaan yang kembali berdesir tak tenang. Jadi mereka pergi besok pagi, dan mulai malam ini... ia harus tinggal di rumah yang tiba-tiba terasa begitu luas, sepi, dan hanya ada mereka berdua bersama Raynor. Tanpa orang tua yang menjadi penengah. Tanpa perlindungan yang terlihat jelas.

"Selamat malam, Ayah, Ibu..." ucapnya lirih, lalu berbalik perlahan menuju tangga, merasakan sepasang mata yang tak lepas dari punggungnya sepanjang langkahnya.

1
Allea
masih bodoh di bab ini
Allea
katanya jijik dipeluk diem bae munalah 🤭🤣😅
falea sezi
goblok jujur bodoh lu pergokin dia kmren😒 ehh maaf mc oon jd males Thor mau kasih hadiah sayang bgt vote buat novel kayak gini🤣🤣
falea sezi
cuma gt doank harusnya di sp karyawan mu pakk🤣 ceo bodoh
falea sezi
🤣🤣 satria bodoh
falea sezi
klo q jd vivian mending kos cari krja ngapain numpang di rmh ibumu saudara tiri uda ada pcr g bs di gebet🤣
falea sezi
🤣🤣lemah kok mau bales dendam bodoh
arina_ar
sabar kak, huhu.... author juga ikutan geregetan nih
kelinci kecil
greget banget sama stela, pengen ikutan Jambak rambutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!