NovelToon NovelToon
Aku Masuk Ke Tubuh Villainess Yang Akan Dieksekusi

Aku Masuk Ke Tubuh Villainess Yang Akan Dieksekusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Menjadi NPC
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang ke Rumah yang Lebih Dingin dari Penjara

Kediaman Arvella jauh lebih indah daripada yang kubayangkan.

Gerbang besinya menjulang tinggi, dihiasi ukiran mawar berduri yang berkelindan seperti ular hitam. Di baliknya, halaman luas terbentang dengan rumput terpangkas rapi, pohon-pohon cemara tua, air mancur marmer, dan jalan berbatu yang berkilau seolah setiap butir debunya disuruh tunduk pada martabat keluarga bangsawan.

Bangunan utamanya berdiri angkuh di ujung halaman, besar, megah, dan dingin. Jendelanya tinggi. Pilar-pilarnya putih. Tangga depannya lebar. Tempat itu tampak seperti kediaman bangsawan yang setiap pagi sarapan dengan roti mahal, teh impor, dan masalah keluarga yang diwariskan turun-temurun.

Masalahnya, begitu keretaku berhenti di depan pintu utama, udara di sana terasa lebih dingin daripada ruang bawah tanah istana.

Bukan karena cuaca.

Karena tidak ada satu pun anggota keluarga yang menyambutku.

Tidak ada ayah yang menunggu di tangga. Tidak ada saudara yang pura-pura khawatir. Tidak ada pelukan dramatis seperti adegan keluarga bangsawan yang hampir kehilangan putrinya. Bahkan pelayan yang berbaris pun tidak ada. Hanya seorang kepala pelayan tua berdiri sendirian di depan pintu, memakai seragam hitam yang terlalu rapi dan wajah datar yang sudah pasti dilatih selama puluhan tahun.

Namanya Gilbert.

Ia membungkuk secukupnya, tidak terlalu rendah, tidak terlalu hangat. Gerakannya sopan, tetapi dingin. Seperti seseorang yang menghormati statusku, bukan kehadiranku.

“Selamat datang kembali, Lady Evangeline.”

Aku menatap pintu besar di belakangnya, lalu halaman yang terlalu sunyi.

“Meriah sekali penyambutannya,” kataku. “Aku hampir merasa dicintai.”

Gilbert tidak bereaksi. Itu mengagumkan. Pelayan biasa mungkin sudah berkedip. Gilbert hanya berdiri seperti patung yang pernah membaca etika bangsawan dan kehilangan kemampuan menikmati hidup.

Mira turun lebih dulu dari kereta. Ia membawa tas kecil, jubah cadangan, dua botol obat penenang, satu kotak perban, dan helm perang yang masih gagal kusembunyikan darinya sejak dari istana.

Aku menatap helm itu.

“Mira.”

“Nona hampir dieksekusi dua kali dalam satu minggu. Hamba membawa persiapan yang masuk akal.”

“Itu helm perang.”

“Persiapan yang sangat masuk akal.”

Aku turun dari kereta dengan tenang, meskipun lututku sebenarnya masih terasa lemah. Dua pengawal kerajaan berdiri beberapa langkah di belakangku. Mereka diperintahkan untuk mengawal penyelidikan, tetapi dari cara mereka melirik rumah ini, aku yakin mereka juga mulai menyesal menerima tugas.

Cassian turun dari kereta lain.

Tentu saja, pria itu turun seperti sedang menghadiri jamuan teh, bukan mengantar seorang tersangka pembunuhan pulang ke rumah keluarga yang kemungkinan besar penuh rahasia beracun. Jubah gelapnya jatuh rapi di bahu, rambut hitamnya tersibak angin, dan wajahnya tetap tenang. Terlalu tenang. Orang seperti Cassian membuat badai merasa kurang percaya diri.

Aku menoleh pada Gilbert.

“Di mana Marquess?”

“Tuan sedang di ruang kerja.”

“Tidak berniat menyambut putrinya yang hampir dieksekusi?”

Gilbert terdiam sesaat.

Sangat singkat. Tetapi cukup untuk memberitahuku bahwa ia tahu jawaban sebenarnya tidak pantas diucapkan.

“Tuan Marquess sangat sibuk.”

Aku tersenyum. “Tentu. Menjadi ayah yang tidak peduli pasti melelahkan.”

Mira tersedak.

Gilbert membeku.

Cassian menatapku dengan sudut bibir hampir naik. Hampir. Pria itu benar-benar pelit ekspresi, seolah senyum adalah pajak tambahan yang hanya ia bayar saat sangat terpaksa.

Kami masuk ke dalam.

Lorong kediaman Arvella tidak kalah megah dari luarnya. Lantai marmernya mengilap. Lampu kristalnya menggantung rendah. Dindingnya dipenuhi lukisan leluhur keluarga Arvella, semuanya menatap dengan wajah kaku, angkuh, dan seperti sedang menilai apakah caraku berjalan cukup bangsawan.

Aku melirik salah satu potret pria tua berjanggut putih.

Ia tampak sangat tidak menyukaiku.

Mira berbisik, “Nona, potret kakek buyut terlihat marah.”

“Dia sudah mati. Kalau masih sempat marah, berarti keluargaku punya masalah arwah.”

“Kita perlu pendeta?”

“Kita perlu keluarga normal.”

Mira tampak berpikir sebentar. “Pendeta mungkin lebih mudah ditemukan.”

Aku hampir tertawa.

Anehnya, setelah semua yang terjadi, tawa kecil Mira justru membuat lorong ini terasa sedikit kurang seperti makam. Tetapi rasa hangat itu hilang begitu kami sampai di depan pintu ruang kerja.

Pintu kayu mahoni itu terbuka sebelum Gilbert mengetuk.

Seolah orang di dalam sudah menunggu.

Seorang pria paruh baya berdiri di balik meja besar. Rambutnya merah gelap seperti Evangeline, disisir rapi ke belakang. Wajahnya tegas, tampan dengan cara yang dingin, dan matanya tajam seperti pisau yang disimpan terlalu lama di laci keluarga.

Marquess Arvella.

Ayahku di dunia ini.

Ia tidak memelukku. Tidak bertanya apakah aku baik-baik saja. Tidak menyebut namaku dengan lega. Tidak ada penyesalan, tidak ada rasa bersalah, tidak ada tanda bahwa putrinya baru saja nyaris dipenggal di depan umum.

Kalimat pertamanya adalah, “Kau membawa malu bagi keluarga.”

Ah.

Hangat sekali.

Aku menatapnya.

“Saya hampir kehilangan kepala, Ayah. Senang melihat prioritas Anda tetap reputasi.”

Wajah Marquess mengeras. “Jangan bersikap kurang ajar.”

“Maaf. Saya sedang belajar menjadi anak yang hampir mati dengan sopan.”

Mira berdiri di belakangku dengan wajah antara kagum dan siap pingsan. Aku tidak menyalahkannya. Mungkin Evangeline asli tidak pernah berbicara seperti ini. Mungkin Evangeline asli dulu hanya menunduk, menelan penghinaan, lalu kembali ke kamar untuk menangis.

Sayangnya bagi Marquess Arvella, Evangeline yang berdiri di depannya sekarang memiliki pengalaman mati, pindah tubuh, hampir dieksekusi, dan terlalu sedikit kesabaran untuk menjadi anak baik.

Marquess melirik Cassian.

“Duke North, saya tidak menyangka Anda ikut campur dalam urusan keluarga kami.”

Cassian menjawab ringan, “Saya juga tidak menyangka keluarga Anda membiarkan putrinya menghadapi eksekusi sendirian. Hidup penuh kejutan.”

Aku hampir bertepuk tangan.

Marquess menahan marah. Tangannya mengepal di atas meja, tetapi suaranya tetap tertahan.

“Apa tujuan kedatanganmu?”

Aku mengeluarkan kertas bersimbol gagak dengan mahkota patah. Kertas itu sudah kusimpan sejak dari istana, dilipat rapi di dalam sarung tanganku. Begitu simbol itu terlihat, pupil mata Marquess bergerak sedikit.

Sedikit saja.

Tapi cukup.

“Apa Ayah mengenal simbol ini?” tanyaku.

“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Aku tersenyum. “Kalau begitu, Ayah pasti tidak keberatan jika saya memeriksa arsip keluarga.”

“Kau tidak berhak.”

“Saya putri keluarga ini.”

“Kau tersangka kriminal.”

“Yang eksekusinya ditangguhkan karena bukti terhadap saya runtuh.”

“Kau masih membawa bahaya ke rumah ini.”

“Menarik. Jadi rumah ini hanya aman selama saya hampir mati di luar?”

Keheningan jatuh di antara kami.

Kami saling menatap. Untuk sesaat, ruang kerja itu terasa seperti arena duel. Bedanya, senjataku adalah mulut, dan senjata Marquess adalah aura ayah mengecewakan yang sudah diasah selama bertahun-tahun.

Cassian melangkah pelan ke sampingku.

“Atas perintah Putra Mahkota, Lady Evangeline berada dalam penyelidikan resmi. Menolak akses terhadap bukti yang berkaitan dengan kasus kerajaan dapat dianggap menghalangi proses hukum.”

Marquess menoleh tajam. “Anda mengancam saya?”

“Saya menjelaskan konsekuensi. Ancaman biasanya lebih puitis.”

Aku menahan tawa dengan susah payah.

Mira menunduk begitu dalam sampai aku khawatir lehernya terkunci.

Akhirnya Marquess memberi izin dengan wajah seperti baru menelan lemon busuk.

“Gilbert. Bawa mereka ke arsip.”

“Baik, Tuan.”

Gilbert memimpin kami melewati dua lorong panjang dan satu tangga sempit menuju sayap timur kediaman. Semakin jauh kami berjalan, semakin dingin udara di sekelilingku. Bukan dingin biasa. Ada sesuatu yang tua di sini. Sesuatu yang diam terlalu lama.

Ruang arsip keluarga Arvella berada di balik pintu besi dengan kunci berlapis tiga. Gilbert membukanya satu per satu. Begitu pintu terdorong, bau debu mahal menyambut kami.

Ruangan itu besar, penuh lemari kayu gelap, rak tinggi, kotak dokumen, dan tirai tebal yang menutup hampir seluruh jendela. Cahaya masuk dalam garis tipis, membuat debu beterbangan seperti abu halus.

Mira langsung bersin tiga kali.

“Nona,” katanya dengan suara sengau, “kalau hamba mati karena debu, tolong tulis di batu nisan: setia sampai bersin terakhir.”

“Kau belum mati, Mira.”

“Belum, Nona. Tapi tenggorokan hamba sudah merasa menjadi korban politik.”

Cassian mengambil sepasang sarung tangan dari meja arsip. “Kau selalu membawa pelayan yang berbicara sebanyak ini?”

“Aku membawa orang yang membuat hidup lebih mungkin ditertawakan.”

Mira mengangkat tangan lemah. “Hamba merasa itu pujian.”

“Itu memang pujian.”

Kami mulai mencari. Cassian memeriksa arsip dagang dan surat-surat lama yang berkaitan dengan istana. Aku memeriksa dokumen keluarga, catatan kelahiran, daftar tamu lama, dan korespondensi yang dikunci di peti kecil. Mira membuka laci sambil meminta maaf pada setiap laci yang ia ganggu.

“Maaf, Tuan Laci. Ini untuk penyelidikan. Jangan kutuk kami.”

“Laci tidak bisa mengutukmu,” kataku.

“Di rumah ini, hamba tidak yakin.”

Aku juga tidak yakin.

Hampir satu jam berlalu. Jari-jariku mulai berdebu, kepalaku mulai pusing, dan kesabaranku mulai menipis. Lalu aku menemukan lemari kecil di sudut belakang, tersembunyi di balik tirai tebal. Kuncinya sudah tua, tetapi tidak terkunci sempurna.

Aku membukanya.

Di dalamnya ada beberapa gulungan surat, satu kotak perhiasan kosong, dan sebuah buku catatan tua bersampul kulit retak.

Di halaman dalam, tertulis nama ibuku.

Lady Rosaline Arvella.

Tanganku berhenti.

Ibu Evangeline hampir tidak pernah disebut dalam novel. Hanya ada kalimat bahwa ia meninggal saat Evangeline kecil. Tidak ada detail. Tidak ada adegan. Tidak ada air mata. Ia hanya latar belakang menyedihkan untuk menjelaskan mengapa Evangeline tumbuh menjadi tokoh antagonis yang kesepian.

Tapi buku ini nyata.

Tanganku bergerak pelan membuka halaman pertama.

Tulisan tangan di dalamnya anggun, tetapi tergesa. Seolah penulisnya tahu ia tidak punya banyak waktu.

Jika suatu hari Evangeline menemukan catatan ini, jangan percaya pada mahkota yang tersenyum.

Aku merasa darahku berhenti.

“Mira,” panggilku pelan. “Kamu tahu ibuku menulis buku harian?”

Mira mendekat, lalu pucat.

“Nona... itu buku yang dulu dicari Tuan Marquess setelah Nyonya meninggal.”

“Kenapa?”

“Katanya berbahaya.”

Cassian menghampiri. Matanya menatap halaman itu dengan serius. Tidak ada canda di wajahnya sekarang.

Aku membuka halaman berikutnya.

Ada simbol yang sama.

Gagak membawa mahkota patah.

Di bawahnya tertulis:

Mereka bukan sekadar faksi. Mereka memilih ratu dari bayangan.

Udara di ruang arsip terasa menipis.

Aku membuka halaman lain, tetapi beberapa bagian sudah robek. Ada nama yang dicoret, tanggal yang dibakar, dan kalimat terputus tentang pesta istana, racun putih, serta seorang perempuan yang “tidak boleh naik takhta dengan nama sendiri”.

“Apa maksudnya memilih ratu dari bayangan?” bisikku.

Cassian mengambil buku itu tanpa merebutnya. Ia membaca satu baris, lalu rahangnya menegang.

“Ini bukan catatan keluarga biasa.”

“Tentu saja bukan. Di keluargaku, bahkan buku harian ibu saja harus punya konspirasi.”

Tiba-tiba pintu ruang arsip terbuka keras.

Marquess berdiri di sana.

Untuk pertama kalinya sejak aku melihatnya, wajahnya pucat.

“Tutup buku itu, Evangeline.”

Aku memegang buku itu lebih erat. “Kenapa?”

“Itu bukan urusanmu.”

“Segala sesuatu yang membuat saya hampir mati adalah urusan saya.”

Marquess melangkah maju. “Berikan padaku.”

Cassian berdiri di antara kami dengan tenang. Ia tidak menghunus pedang. Tidak perlu. Cara ia berdiri saja sudah seperti peringatan resmi dari neraka.

“Saya tidak menyarankan itu,” katanya.

Marquess menatapnya penuh kebencian. “Duke North, Anda tidak tahu apa yang sedang Anda sentuh.”

Cassian menjawab dingin, “Kalau begitu jelaskan.”

Hening.

Marquess tidak menjawab.

Aku tersenyum tipis, meskipun dadaku terasa sesak.

“Baiklah. Karena Ayah tidak ingin bicara, saya akan membaca sendiri.”

“Evangeline.”

Itu pertama kalinya ia menyebut namaku bukan sebagai tuduhan, melainkan sebagai peringatan.

Aneh.

Terlambat sekali untuk terdengar seperti ayah.

Aku membuka mulut untuk menjawab, tetapi dari luar jendela terdengar suara pecahan kaca.

Sebuah panah kecil melesat masuk dan menancap di rak buku tepat di sebelah kepalaku.

Mira menjerit sampai aku yakin potret leluhur di lorong ikut retak.

Cassian menarikku mundur begitu cepat sampai punggungku membentur dadanya. Satu tangannya menahan bahuku, tangan lainnya sudah memegang belati yang entah dari mana munculnya.

Dua pengawal kerajaan langsung masuk, pedang terhunus.

Gilbert berteriak memanggil penjaga.

Aku menatap panah itu dengan jantung berdebar keras. Ujungnya kecil, tipis, dan dilapisi cairan gelap. Racun, mungkin. Atau sekadar cara dramatis seseorang mengatakan selamat datang di rumah.

Di batang panah itu terikat secarik kertas.

Aku mengambilnya dengan tangan bergetar sebelum Cassian sempat mencegah.

Tulisannya singkat.

Buku itu seharusnya tetap terkubur bersama ibumu.

Aku menatap Marquess.

Untuk pertama kalinya, wajah ayahku tidak dingin.

Ia takut.

Bukan marah. Bukan tersinggung. Bukan malu.

Takut.

Dan entah kenapa, itu membuatku jauh lebih takut.

Sebab jika Marquess Arvella, pria yang bahkan tidak gemetar saat putrinya hampir dieksekusi, bisa terlihat setakut itu hanya karena buku harian lama...

Maka ibuku tidak meninggal karena nasib buruk.

Ia dibungkam.

Dan sekarang, orang yang membungkamnya tahu aku sudah mulai membaca.

1
E H Mukti
Lady evangeline 👌👌👌
Carina Yuda: hi kak, makasih udah mampir
total 1 replies
E H Mukti
😍😍😍👌
Carina Yuda: selamat membaca :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!